Pernikahan yang diawali dengan perjodohan dan tak saling cinta, biasanya berakhir dengan sebuah cinta diantara keduanya. Namun ternyata apa yang Salma alami berbeda dengan kisah romansa pada umumnya.
Dua puluh tahun menikah dengan Aidil dan dikaruniai dua orang putra ternyata tak membuat Aidil bisa membuka hatinya untuk Salma. Hingga di suatu malam, akhirnya Salma mengetahui jika suaminya memiliki wanita idaman lain dalam pernikahan mereka.
Manakah yang akan Salma pilih? Bertahan demi anak-anaknya atau memilih berpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pinkanmiliar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Bekerja Bersama
Jihan harap-harap cemas menungu keputusan dari Aidil. Sedari tadi pria itu masih membaca kerangka cerita yang di kerjakan oleh Jihan.
Jihan menghela napas berulang kali. Rasanya jantungnya terus berdegup kencang karena menunggu keputusan Aidil.
"Kenapa wajahmu tegang begitu?" Aidil yang mengetahui gelagat aneh Jihan pun akhirnya menegur.
"Eh? Tidak, Pak. Saya hanya gugup kalau bapak tidak menolak kerangka dari saya."
Aidil memberikan senyumnya yang maskulin dan memikat hati.
"Kerangkamu tidak akan ditolak, Jihan. Tulisanmu sangat bagus. Aku menyukainya. Kuberi kau waktu satu bulan untuk menyelesaikan naskah lengkapnya."
Mata Jihan membola. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya .
"Sa-satu bulan?"
"Iya. Apa kau sanggup?"
Jihan memutar otaknya. Ia harus benar-benar membagi waktunya dengan baik.
"Baiklah, Pak. Saya sanggup melakukannya," jawab Jihan bersemangat.
"Good. Mulailah bekerja. Dan jangan kecewakan perusahaan. Aku sangat berharap padamu."
"Baik, Pak. Kalau begitu apa saya sudah boleh pergi?"
"Ya, silakan. Kau bisa mulai bekerja dari sekarang."
Dengan langkah penuh percaya diri, Jihan keluar dari ruangan Aidil. Wanita itu terus mengulum senyum kebahagiaan.
"Akhirnya aku menemukan pekerjaan yang bagus! Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Aku pasti bisa menjadi penulis terkenal suatu hari nanti," batin Jihan menari-nari gembira.
#
#
#
Satu bulan kemudian,
Jihan sudah menyerahkan naskahnya pada Aidil dan juga kru film yang akan syuting beberapa hari lagi. Ini adalah proyek film pertama Jihan. Jadi, ia ingin bekerja dengan sempurna.
Kini Jihan sedang berada di lokasi syuting bersama dengan para kru film. Jihan memperhatikan seperti apa proses syuting yang sedang berlangsung.
Emosi yang terjadi diantara para pemain sangat memukau hatinya. Jihan tersenyum dan sesekali tertawa jika pemain melakukan adegan yang salah dan harus diulang.
"Menyenangkan, bukan?" Sebuah suara datang dari samping Jihan.
"Pak Aidil?" Jihan terkejut karena Aidil tiba-tiba ada disana.
"Aku mampir hanya untuk melihat apakah proses syutingnya lancar."
"Rasanya sangat menyenangkan, Pak. Bisa melihat emosi yang terjadi diantara para pemain. Mereka juga dituntut untuk mengikuti naskah dengan sempurna."
"Terkadang hidup juga seperti bermain film, Jihan."
Jihan menoleh menatap Aidil yang berdiri di sampingnya. Baru pertama kali Jihan menatap Aidil dengan jarak sedekat ini. Kehangatan sikap Aidil sebagai pemimpin membuat banyak orang mengaguminya.
"Kita dituntut untuk menjadi sempurna di depan banyak orang. Dan mengeluarkan emosi yang diinginkan oleh sutradara kehidupan."
Kata-kata Aidil seakan memiliki makna yang dalam bagi Jihan. Hidup Jihan saat ini memang bagaikan dalam dunia fantasi. Berusaha tegar di depan semua orang meski hatinya rapuh. Berusaha berdiri sendiri meski sebenarnya kakinya pincang untuk berjalan.
#
#
#
Proses syuting hari itu telah usai. Para kru dan pemain satu persatu meninggalkan lokasi dan kembali lagi esok hari.
Langit yang tadinya cerah, tiba-tiba saja menjadi gelap dan menunjukkan tanda akan turun hujan. Jihan berlari secepat mungkin agar bisa mencapai halte bus dengan cepat.
Hujan pun akhirnya turun membasahi bumi. Jihan berlari kecil dengan menutupi kepalanya menggunakan tas slempangnya.
Ia tak bisa menunggu hujan reda, karena Keisya pasti sedang menunggunya di rumah. Jihan tiba di halte bus dan menunggu disana.
Jihan mengusap-usap lengannya yang terasa dingin. Hujannya mulai lebat. Dan sepertinya tidak banyak bus yang beroperasi di hari hujan seperti ini.
Dengan keberuntungan yang Jihan miliki, tiba-tiba saja sebuah mobil berhenti tepat di depannya. Jihan mengenali mobil itu.
"Masuklah! Kau akan kedinginan jika terus berdiri disana!" teriak seseorang dari dalam mobil yang adalah Aidil.
Jihan bimbang. Tidak mungkin ia terus merepotkan bosnya yang baik hati itu.
"Umm, terima kasih, Pak. Saya akan menunggu bus saja disini!" jawab Jihan dengan berteriak juga karena suara tetesan air hujan yang cukup keras.
Tak tahan dengan sikap penolakan Jihan, Aidil pun memutuskan untuk turun dari mobilnya dan memakai payung. Jihan sangat terkejut karena Aidil menghampirinya.
"Pak Aidil?" Jihan membulatkan mata.
"Ayo masuk! Kau akan sakit jika terus berdiri disini. Hujannya belum akan reda. Sebaiknya turuti perintahku!"
Seolah mendengar perintah yang tak bisa dibantah, Jihan pun menurut. Jihan menganggukkan kepala tanda setuju.
Aidil membukakan pintu depan mobilnya. Jihan menolak dan ingin duduk di belakang saja.
"Aku bukan supirmu! Jadi tolong duduklah di depan!" ucap Aidil.
Jihan mengangguk patuh. Aidil masuk kembali masuk ke dalam mobil dan mulai melaju.
Selama perjalanan suasana didalam mobil hanya ada kesunyian saja. Aidil melihat jika Jihan mulai menggigil.
"Di dalam laci dashboard ada handuk. Kau bisa memakainya dulu. Jangan sampai kau sakit dan tidak bisa bekerja dengan baik."
Jihan menurut. Apapun yang dikatakan Aidil seakan perintah yang tak bisa dibantah.
Hingga akhirnya mereka berdua tiba di halalam depan apartemen Jihan dengan waktu yang lebih lama.
"Pak, apa bapak ingin mampir sebentar? Saya tidak enak hati karena terus merepotkan bapak. Anggap saja sebagai ucapan terima kasih saya kepada bapak."
Aidil berpikir sejenak kemudian mengiyakan undangan Jihan. Ya, dirinya juga kedinginan dan butuh minuman hangat untuk tubuhnya.
Aidil masuk ke dalam apartemen Jihan. Aidil melihat jika Jihan hidup dengan baik meski ia harus berjuang sendiri untuk dirinya dan juga putrinya.
"Bunda? Bunda sudah pulang?"
"Iya, Nak. Maaf ya bunda terlambat."
"Bunda, Om ini siapa?" tanya Keisya menunjuk Aidil.
"Ah, ini adalah bos bunda di kantor. Namanya Pak Aidil. Keisya beri salam sama Om!"
Gadis kecil itu mencium punggung tangan Aidil. Aidil mengucap lembut puncak kepala Keisya.
"Pak, silakan duduk. Saya akan buatkan teh dulu untuk bapak."
"Terima kasih." Aidil duduk di sofa ruang tamu yang tidak terlalu besar itu.
Apartemen milik Jihan termasuk tipe yang sederhana menurut Aidil, sesuai dengan gaya Jihan yang memang sederhana. Tak lama Jihan kembali ke sofa dengan membawa segelas cangkir teh.
"Silakan diminum, Pak. Ini teh jahe, bisa menghangatkan badan dan mencegah masuk angin."
"Terima kasih, Jihan." Aidil menyeruput sedikit demi sedikit teh jahe dalam cangkir.
#
#
#
Pukul sembilan malam, Aidil keluar dari apartemen Jihan dan kembali ke rumahnya. Selama perjalanan, Aidil mengibgat momen kebersamaan mereka yang terkesan hangat.
Jihan adalah wanita yang ceria. Ia selalu tertawa dan tersenyum untuk mencairkan suasana. Aidil menarik sudut bibirnya mengingat ekspresi wajah Jihan ketika menonton proses syuting film yang ditulisnya.
"Dia wanita yang menarik," gumam Aidil.
Tiba di rumahnya, Aidil pulang ke rumah dan disambut oleh Salma.
"Mas, kamu pulang terlambat."
"Iya. Aku sangat sibuk hari ini. Aku juga meninjau lokasi syuting film baru yang sedang diharap perusahaan."
"Kalau begitu aku akan memijatmu. Ayo!" Salma melingkarkan tangannya di lengan Aidil dan mereka berjalan bersama menuju kamar mereka.
dewasa banyak ilmu yg d dapat dr cerita ini tentang kesabaran kedewasaan dalam ambil sikap meski cerita nya sederhana
Tapi ya sudahlah jk mmg sdh hrs ending.Terima kasih utk ceritanya kak
Di tunggu next ceritanya..semangat