Kisah seorang gadis yang baru saja lulus SMA, namanya Dinda Kirana. Dari kecil ia di besarkan oleh sang nenek, karena orangtuanya meninggal yang disebabkan oleh kecelakaan. Selain nenek, ia juga memiliki kakak angkat yang bernama Anton.
Mereka tinggal bertiga, karena orangtuanya Anton juga meninggal karena kecelakaan bersama orangtuanya Dinda. Karena sudah 10 tahun lebih mereka tinggal bersama, Anton dan Dinda sudah seperti saudara kandung.
Tetapi, tiba-tiba sang nenek menjodohkan mereka. Awalnya mereka menentang perjodohan itu, tetapi karena sang nenek jatuh sakit. Akhirnya pernikahan mereka pun terlaksana.
Seperti apa kelanjutan ceritanya? Ikuti terus update setiap dan dukung Author dengan menekan hati yang berwarna biru. Biar gak ketinggalan keseruan mereka!
Terima Kasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arry Hastanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak bisa tidur
Setelah selesai makan malam, Dinda menemani sang nenek di kamar. Sang nenek menasehatinya dan juga mengajarinya bagaimana sikap seorang istri terhadap suaminya. Juga sang nenek memberitahu, bahwa seorang istri harus menurut kepada suami, jika membangkang itu tandanya istri durhaka.
Banyak sekali yang di bicarakan sang nenek, hingga Dinda tertidur pulas. Karena Dinda sudah tidur, sang nenek pun memanggil Anton dan menyuruhnya untuk menggendong Dinda pergi ke kamarnya.
"Anton, gendong dia pergi ke kamar mu. Kamu kuat kan, badan Dinda kecil ini!" Suruh sang nenek.
"Baik nek, Tapi kecil-kecil begini juga berisi loh nek." Sahut Anton yang mulai membopong Dinda.
"Tadi dia udah Sholat kan?" Tanya sang nenek.
"Sudah nek, tadi kita Sholat berjamaah." Jawab Anton seraya berpamitan kepada neneknya.
Sampai di luar kamar Anton segera menurunkan Dinda yang masih tertidur, sehingga Dinda pun terbangun. Lalu Anton menarik tangan Dinda berjalan menaiki anak tangga.
Karena rasa kantuknya yang terasa berat, Dinda pun langsung ambruk di atas ranjang dengan posisi tengkurap. Anton yang tau jika Dinda belum gosok gigi, langsung di tariknya tangan Dinda agar dia bangun dan gosok gigi.
"Cepetan bangun! Ganti bajumu dan gosok gigi!" Suruh Anton sambil menarik tangan Dinda.
"Ih... ngantuk!" Tolak Dinda menepis tangan sang kakak.
Tak perduli seberapa ngantuk Dinda, Anton tetap membangunkannya dan menarik Dinda hingga ia berdiri. Di dorongnya tubuh Dinda memasuki kamar mandi, dengan malas Dinda duduk di pinggiran bathtub.
Anton membantu mengambilkan sikat gigi dan pasta gigi. Ketika Anton memberikan sikat gigi kepada Dinda, Dinda malah menunjukkan giginya supaya di sikat oleh sang kakak. Anton hanya bisa mendengus kesal sambil menggosok gigi Dinda.
Karena tidak merasa puas atas gosokan Anton pada giginya, Dinda pun segera berdiri dan menggosok giginya sendiri. Aktivitas menggosok gigi membuat mata yang terasa kantuk menjadi hilang seketika.
"Kakak keluar dulu, aku mau pipis!" Suruh Dinda kepada sang kakak.
Anton yang sedari tadi berdiri memperhatikan cara Dinda menggosok gigi pun terkejut ketika Dinda menyuruhnya untuk keluar. Tanpa Anton sadari ia memperhatikan wajah Dinda yang terlihat imut. Sebelumnya ia tidak pernah memperhatikan wajah Dinda, jadi ia baru menyadari bahwa adik angkatnya memiliki wajah imut dan cantik.
Dengan merasa malu, Anton pun langsung keluar dari kamar mandi. Entah kenapa semenjak sang nenek menjodohkannya dengan Dinda, ia memiliki perasaan yang sulit ia artikan. Perasaan itu berbeda dari sebelumnya, ada rasa yang membuatnya nyaman.
Setelah selesai menggosok gigi, Dinda berjalan keluar dari kamar mandi dan mengenakan baju tidur yang tadi siang ia pakai. Anton yang melihatnya pun langsung menyuruhnya untuk berganti pakaian.
"Apa kamu tidak punya baju lagi selain itu?" Tanya Anton tanpa melihat ke arah Dinda.
"Males ambil di kamarku. Lagian ini baju sangat nyaman buat tidur!" Jawab Dinda sambil mengambil remote TV.
Dinda rebahan di samping Anton dan menyalakan TV. Anton yang sudah bersiap untuk tidur pun merasa terganggu oleh suara dan cahaya dari TV. Kemudian Anton merebut remote dari tangan Dinda dan mematikan TV.
Seperti tak mau kalah, Dinda pun merebut balik remote TV dari tangan Anton. Tanpa berkata apa-apa, dia langsung menyalakan TV kembali.
"Ini sudah jam berapa? Matikan TV dan cepetan tidur!" Suruh Anton dengan nada kesal.
"Baru juga jam sepuluh, Kakak kalau mau tidur ya tidur saja! Aku masih mau nonton TV!" Kata Dinda yang tidak mau mengalah.
"Tapi suara dan cahaya dari TV sangat menggangu, aku jadi gak bisa tidur!" Anton yang masih kesal.
Tanpa membalas perkataan Anton, Dinda langsung mematikan TV. Ia beranjak dari ranjang, berdiri berjalan menuju ke arah pintu.
Anton yang menyadari kalau Dinda akan keluar dari kamar, ia pun langsung mengejar Dinda dan meraih tangannya. Kamar Anton cukup luas, jadi butuh waktu untuk Dinda keluar. Tetapi belum sampai ia keluar, tangan Anton sudah meraih tangannya.
"Kamu mau kemana?" Tanya Anton.
"Aku mau tidur di kamarku saja! Di sini gak bebas, mau ini gak boleh, mau itu gak bole! Mending tidur sendiri bebas mau ngapa-ngapain." Jawab Dinda memprotes.
"Iya iya... Kamu boleh nonton TV, tapi suaranya jangan keras-keras." Rayu Anton kepada Dinda.
Bukan karena apa, hanya karena Anton tidak mau mengingkari janjinya kepada sang nenek untuk tidur satu kamar dengan Dinda. Ia pun sebisa mungkin mengalah dengan Dinda yang masih suka bersikap seperti anak kecil.
Senyum penuh kemenangan terukir jelas di wajah Dinda. Ia dengan nyaman merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil menonton TV. Sedangkan Anton hanya bisa menutup telinganya dengan bantal.
Terkadang Dinda tertawa keras karena ada adegan lucu. Hal itu membuat Anton tidak bisa tidur nyenyak, ia selalu terbangun tiap kali Dinda tertawa. Entah acara apa yang di tonton Dinda, hingga membuatnya tertawa seperti anak kecil.
"Ni bocah sebenarnya nonton apaan ya! Ngakak gak kelar-kelar. Bisa-bisa aku makin kurus kalau begini setiap hari!" Batin Anton yang tidak bisa tidur.
Gak sengaja ketika Dinda sedang tertawa terpingkal-pingkal, remote di tangannya terjatuh di kepala Anton. Tanpa bersalah, Dinda mengambil remote itu dari leher Anton.
Kali ini Anton benar-benar tidak bisa mengontrol dirinya. Ia kemudian bangun dalam posisi duduk, ia hendak marah sama Dinda, tapi melihat wajah Dinda yang terlihat senang, membuat Anton mengurungkan niatnya untuk memarahi Dinda.
"Kak Anton mau ke kamar mandi?" Tanya Dinda dengan polos.
"Sebenarnya gak pengen ke kamar mandi, tapi karena kamu menjatuhkan remote TV di kepalaku, hal itu membuatku ingin ke kamar mandi." Jawab Anton menyindir.
Namanya juga Dinda, di sindir macam apa juga gak peka. Dia tetap saja tertawa tiap kali ada adegan lucu. Sedangkan Anton pasrah, berjalan menuju ke kamar mandi, yang sebenarnya dia tidak ingin ke kamar mandi.
Anton duduk di kloset, ia mendengus kesal karena ia benar-benar tidak bisa tidur. Apalagi besok ia harus meeting dan malam itu sudah jam 12 lebih.
Sekitar sepuluh menitan Anton duduk di kamar mandi. Merasa dingin, ia pun segera keluar dari dalam kamar mandi. Di lihatnya Dinda yang sudah tertidur terlentang sambil memegang remote di tangannya.
"Hadehh.. Bukannya orang yang menonton TV, tapi TV yang menonton orang!" Gumam Anton lirih.
Setidaknya Anton merasa lega karena Dinda sudah tidur. Kemudian ia mematikan TV dan tidur di sebelah Dinda. Karena hembusan angin AC, Anton pun merasa kedinginan. Ia menarik selimut untuk dirinya dan Dinda.
Ketika Anton sedang menyelimuti tubuh Dinda, tiba-tiba Dinda bergerak dan merangkul pinggang dan kakinya menumpang ke kaki Anton. Dengan posisi seperti itu membuat Anton merasa aneh. Apalagi Dinda memakai baju super pendek dan juga tidak memakai dalaman.
Sebagai laki-laki normal, Anton pun merasa tubuhnya terasa panas. Dia menyadari kalau tubuhnya bereaksi ketika tubuh Dinda menempel ke tubuhnya. Dengan segera Anton merubah posisinya dengan membelakangi Dinda.
"Kak, aku haus mau minum." Kata Dinda tiba-tiba.
Rupanya Dinda terbangun saat Anton merubah posisinya. Lalu Anton mengambil air minum yang ia letakkan di nakas. Setelah minum, Dinda malah mendekatkan tubuhnya ke Anton.
Memang Dinda masih polos, jadi dia tidak ada pikiran ke arah sana. Baginya Anton adalah kakaknya, kalaupun mereka tidur berdua, tak jadi masalah bagi Dinda. Tapi tidak dengan Anton, laki-laki tetap laki-laki. Apalagi Dinda bukan adik kandungnya, perasaan ke arah sana tetap ada.
Bersambung....
sukses
semangat
mksh