😍Sedang dalam revisi, perbaikan tanda baca, narasi dan lainnya.😍
Season 1 & Season 2.
Warning!!!
kalau mau baca pliss dari episode awal karena kisah cinta Vino - Ran berawal dari Season 1.
Di season ke dua, author akan fokus pada kisah cinta Vino sang cassanova yang jatuh cinta pada saudara ipar sepupunya. Ran, begitu ia biasa memanggil gadis itu.
(Season 1 )
Adimas bramasta seorang duda kaya berumur 35 tahun,dia sudah dua kali gagal menikah dan kedua nya gagal di pertahankan karena ia selalu di selingkuhi. sehingga membuat nya trauma akan dunia percintaan.
setelah 8 tahun di luar Negeri, ia kembali ke Indonesia dan menggantikan posisi papa nya sebagai presdir perusahaan. lalu ia bertemu kembali dengan Fani yang dulu ia anggap sebagai keponakan nya,kini telah menjadi gadis dewasa berumur 20 tahun.
jangan luka like,vote, dan komennya ya beb😽💙 jangan lupa juga masukan nya.. biar lebih baik lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wulan_zai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 6 : Makan bersama
Jam 10:00
Setelah berbelanja selama 2 jam, sampai lah Dimas dan mama nya di depan rumah Fani.
Rianti terlihat sangat bersemangat dan ia langsung turun begitu Dimas menghentikan mobil nya. Sementara Dimas hanya geleng geleng kepala melihat tingkah mama nya itu.
"Selamat siang mbak..." sapa Rianti kepada Nita dengan dua kantong belanjaan di tangan nya.
"Siang bu.. mau cari siapa ya?" Nita terheran, karena selama ia berjualan tidak pernah ada wanita dengan tampilan modis begitu yang mau singgah di warung makan miliknya.
"Bu,, kenalkan ini mama saya." Sahut Dimas dari belakang Rianti.
"Ya ampun... ibu mama nya Dimas, pantesan wajah nya agak familiar gitu." Ujar Nita basa basi, sebenarnya ia sedikit takut dan berpikiran yang tidak-tidak karena baru kali ini Rianti datang kerumah nya. "ada apa kah gerangan" begitu kira-kira batin Nita.
"Ayo silahkan duduk, maklumin ya bu keadaan nya memang begini." Ujar Nita sembari menarik salah satu kursi.
"Aduh mbak, santai saja saya kesini cuma mau main." Rianti duduk di kursi yang dipersiapkan oleh Nita.
"Saya tu dari dulu pengen banget kenalan sama mbak, soal nya Dimas selalu cerita tentang mbak." ujar Rianti sambil tersenyum ramah kepada Nita.
"oh iya ini ada jajanan buat anak-anak mbak." sambung nya lagi,ia menyerahkan dua kantong belanja berukuran besar tersebut.
"waduh.. nggak usah repot-repot bu." ucap Nita terlihat sungkan.
"Saya nggak repot kok mbak," Rianti memegang tangan Nita dengan lembut.
Nita balas memenangi punggung tangan Rianti. "Terimakasih banyak ya bu. oh iya ibu mau makan?"
"Boleh deh, saya mau makan lauk favorit Dimas." Ujar Rianti sambil tertawa kecil.
"Sebentar ya bu." Nita pun segera menyiapkan hidangan yang di maksud Rianti.
Dimas sedari tadi hanya diam, sambil mata nya mencari cari keberadaan Fani.
Dan tak lama kemudian Fani datang dengan membawa sayuran yang baru ia beli dari pasar.
Seketika wajah Dimas menjadi sumringah ketika melihat kedatangan Fani.
"Om Dimas? " Fani sedikit terkejut melihat Dimas, yang tengah duduk menopang dagu melihat kearahnya.
"Kamu dari mana?" Tanya Dimas, membuat Fani kikuk.
"e... kenalin ini mama saya." Dimas segera mengubah topik nya sambil mengarahkan tangan kepada Rianti.
"Pagi bu..," Fani langsung bersalaman dengan Rianti.
"hai sayang.. kamu manis banget sih." Ujar Rianti gemas sambil memegang dagu Fani.
"hehe... Fani kebelakang dulu ya bu." Ia pun bergegas kebelakang dengan wajah tegang. Sejak kepulangannya kemarin, tak pernah jantungnya beristirahat gara-gara Dimas.
" Fani, tolong ibu nak, bawakan ini ke depan ya." seru Nita dari dapur warung nya, ia menyisakan beberapa piring berisi lauk pauk yang akan di suguhkan untuk Dimas dan Mama nya.
"Iya bu..." sahut Fani.
"Menu nya seadanya bu." ujar Nita dengan suara lembut nya.
"Ini mah sudah lengkap banget bu." Lidah Rianti langsung tergugah, kala mencium aroma khas hidangan tersebut.
Setelah semua tersaji di meja, Fani dan Nita berniat untuk meninggalkan mereka berdua. Tetapi Rianti meminta mereka untuk makan bersama.
"Ayo lah mbak, kita makan sama sama. Tujuan Saya kesini ingin mendekatkan diri, jadi jangan anggap saya orang asing."
"Kami sudah makan bu, ibu nikmati saja makanan nya ya.." Jawab Nita sungkan, bagaimanapun Rianti adalah tamu disana.
"Ayo lah bu, saya rindu makan bersama dengan ibu." ujar Dimas memelas, padahal baru kemarin mereka makan bersama.
Setelah di bujuk oleh Rianti dan Dimas, Nita pun akhirnya mau makan bersama mereka. Fani pun terpaksa duduk disana karena permintaan Rianti.
"Fani sudah kerja? " Tanya Rianti sembari melahap makanan nya.
"Fani baru kena PHK bu..." Jawabnya lirih, ia sangat berhati-hati, entah itu sikap dan perkataan. Karena biasanya orang kaya akan memandang kepribadian seseorang di pertemuan pertama.
"Sudah ada rencana untuk kerja lagi?"
Tanya Rianti lagi.
"Fani sudah melamar ke banyak tempat bu,tapi belum ada panggilan." sahut Fani tersenyum sungkan.
"Gimana kalau kerja di kantor Dimas saja..."
Usulan Rianti itu bak mengejutkan semua orang disana.
"hah..? tapi Fani kan nggak punya pengalaman di bidang itu bu." Fani terlihat ragu, karena ia tahu perusahaan mereka bukanlah perusahaan kecil.
"Kalau kamu mau, saya akan langsung memberikan arahan untuk kamu " sahut Dimas tersenyum lebar.
"Nanti saya pikir-pikir lagi deh bu, om." Membayangkan sekantor dengan Dimas membuat bulu kuduk Fani merinding. Dimatanya Dimas bukan sekedar kerabat, melainkan pria dewasa yang terasa asing bagi nya. Ya, karena memang mereka benar-benar tak ada ikatan darah.
...~...
Keesokan harinya.
Tok tok tok tok...
Seseorang mengetuk pintu rumah Fani, Fani pun segera membuka pintu nya.
Hari ini mereka tidak berdagang,karena Nita sedang demam dan hanya bisa terbaring di dalam kamar.
"Ada apa ya pak?" Tanya Fani kepada dua orang pria memakai kemeja yang sangat rapi itu.
"Apa ibu nya ada di rumah?"
"Ibu saya lagi sakit pak, emang nya ada perlu apa ya? "
"Ini.. kami ingin menanyakan perihal pinjamannya ibu Nita, karena sudah nunggak selama 7 bulan. Jadi kami ingin memastikan apakah akan di lanjutkan, atau sesuai perjanjian sebelum nya tanah yang menjadi jaminan akan kami sita." Terang pria tersebut dengan lembut namun tegas.
Setahun yang lalu Nita meminjam uang sebesar 20 juta kepada rentenir, untuk biaya pendaftaran Dika. Memang Dika mendapatkan Beasiswa, namun tak sepenuhnya gratis. Ada beberapa hal yang harus di tangani sendiri, seperti peralatan kuliah, laptop, dan biaya lainnya.
Dengan jaminan surat tanah warisan dari kakek nya Fani, namun sudah selama 7 bulan ini Nita tidak membayar cicilan nya karena uang yang di hasilkan dari dagangan nya ternyata pas pasan untuk makan mereka sehari hari.
Fani sangat terkejut saat mendengar jumlah bunga beserta pokok nya yang masih tersisa 40 juta. bagaimana bisa ia membayar hutang ibu nya sementara saat ini dia tidak bekerja.
"Apa aku terima tawaran om Dimas ya .."
Gumam Fani sambil memandangi ibu nya yang tengah terbaring sakit.
...*********...