Ken merasakan dunianya runtuh dan kebahagiaannya sirna ketika dengan mata kepalanya sendiri dia melihat seluruh keluarganya dibunuh dengan begitu sadisnya oleh sekelompok pria tak dikenal.
Ken adalah saksi bisu pembunuhan sadis yang menimpa seluruh keluarganya. Ayah, Ibu serta adiknya dibunuh tepat di depan matanya dengan sangat sadis. Tapi Ken tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis dan meratapi kematian mereka.
Ken ingin membalas dendam dan menghancurkan pria yang ia yakini sebagai dalang utama dibalik kematian keluarganya. Dan gadis bernama Shea Oliver-lah yang menjadi sasarannya.
Dan yang menjadi pertanyaannya, apakah benar-benar pria itu yang telah membunuh keluarganya?
Ken menculik dan menjadikan gadis tak berdosa itu sebagai sandera di mansion mewahnya. Memenjarakannya di sana dan mengikat paksa Shea dengan sebuah pernikahan.
Dan apakah Cintanya pada Shea mampu membuat Ken melupakan dendam kesumatnya pada keluarga Oliver? Apakah Ken mampu melepaskan dendamnya demi Shea?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lusica Jung 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sadis Dan Tidak Berperasaan
"Aku tidak ingin ada kegagalan lagi. Segera dapatkan barang itu atau kepala kalian yang akan menjadi gantinya!" kalinat mutlak itu meluncur begitu saja dari belahan bibir ranumnya.
Membuat beberapa pria yang tubuh dan wajahnya babak belur hanya bisa tertunduk dengan kaki sedikit gemetaran.
Takut?
Itulah yang dirasakan oleh mereka sekarang. Bagaimana tidak, saat ini ketiga pria itu harus berurusan dengan sosok kramat yang merupakan boss Mafia yang di kenal paling kejam dan tak berhati. Saking kejamnya, orang-orang memilih bunuh diri daripada harus berurusan dengannya.
"Ba-baik, Tuan. Ka-kami berjanji tidak akan mengecewakan Anda lagi," tersebut dengan kepala menunduk dalam.
Sebilah katana yang tampak berkiau di bawah cahaya lampu mengayun indah diudara bahkan suara dentingan kecil saat bilah katana yang runcing itu mengenai sudut meja, langsung membuat ngilu dan bulu kuduk ketiga itu merinding tanpa printah.
"Bagus, karna jika kalian sampai gagal lagi. Kalian harus siap saat tajamnya mata katana ini menebas leher kalian hingga putus!" Tegasnya lagi.
Lelaki rupawan itu memasukan bilah katanaya ke dalam sarung. Ia sangat puas melihat wajah ketakutan ketiga pria itu, sampai-sampai mereka nyaris terkencing di celana. Sebab, saking takutnya mendapat hadiah tebasan dari katana tajam yang di genggam tuannya tadi. Tapi tiba-tiba...
DOOOORRR!
Sayangnya tanpa diduga, tiba-tiba sebuah peluru timah panas menembus mulus telapak tangan salah satu dari ketiga pria itu, di susul dua tembakan lainnya.
"Hukuman itu pantas untuk kalian. Aku sudah terlalu muak dengan omong kosong kalian!"
"Argh!..." Rintih ketiga pria itu.
"KELUARRRRR!..." Ken berteriak tegas.
Dia tak mau ruangan pribadinya dikotori oleh bebauan amis cipratan darah menjijikan dari orang tidak berguna seperti mereka bertiga.
Beberapa pria langsung masuk keruangan Ken, dan mereka menyeret tubuh kesakitan ketiga pria itu yang menerima tembakan timah panas di tangan dan kakinya.
Tidak ada perasaan bersalah sedikit'pun dari dalam dirinya, setelah membuat ketiga pria terluka. Bagus Ken tidak langsung meledakkan kepala mereka.
Bahkan nampaknya seringai menyeramkan justru tercetak jelas di wajah tampannya saat ini. Bagi Ken memerintah, mengancam, melukai, dan membunuh adalah rutinitas wajib yang harus ia lakukan setiap hari.
Jangan harap kalian bisa bicara baik-baik dihadapan boss Mafia yang teramat sadis dan tak berperasaan ini.
Salah ucap satu kata saja, bisa berakibat sangat fatal. Nyawamu bisa melayang kapan saja, karena bagi Ken. Sudah merupakan kodrat lahir ke dunia dan takdirnya untuk membersihkan isi bumi dari manusia-manusia tak berguna yang membuat hidupnya susah.
"Key, siapkan mobilku,"
"Baik, Boss!!"
.
.
Tepat tengah hari, mobil mewah hitam mengkilap melewati jalanan kota yang tidak pernah sepi dari kendaraan umum maupun pribadi yang hilir mudik.
Di jok depan duduk seorang pria bersurai hitam mengemudikan mobil itu dengan tenang, di sampingnya tampak seorang pria berwajah kebaratan yang tengah sibuk dengan ponsel pintarnya. Dan di jok paling belakang, seorang pria duduk dengan tenang sambil menatap keluar jendela dari balik kaca mobilnya.
"Ken, ada pertemuan penting hari ini. Aku harap kau sendiri yang menemui mereka, aku tidak ingin jadi korban todongan senjata lagi karna sikap seenakmu itu!"
Ken diam dan tidak memberikan respon apa-apa. Bos Mafia itu menatap datar pria tersebut, seolah-olah berkata. 'Aku mengerti, tidak perlu kau katakan lagi!'
Cris mendesah panjang, berbicara dengan Ken yang super dingin memang membutukan kesabaran ekstra jika tidak ingin terkena setruk di usianya yang masih sangat muda.
"Oya, Boss. Setelah ini kau akan pergi kemana lagi?" tanya Key tanpa mengurangi fokusnya.
"Makam keluargaku!" jawabnya singkat. Key mengangguk paham.
Key menambah kecepatan mobilnya ketika merasa jika mereka sedang di ikuti.
Untuk kesekian kalinya Key melirik kaca spion dan mendapati dua sedang hitam masih melaju di belakang mobilnya.
Ketika Key menambah kecepatan mobilnya, dua mobil itu pun sama dan begitu pun ketika Key mengurangi kecepatannya. Cris yang melihat keresahan Key yang terbaca dari sikapnya segera menoleh kebelakang, pria itu menghela nafas panjang.
"Ken, sepertinya mobil kita sedang di ikuti!" ucap Cris.
Ken menoleh kebelakang dan mendapati dua sedan hitam berjalan di belakangnya dengan kecepatan tinggi. Pantas saja sejak tadi Ken merasa firasatnya tidak enak dan sejak tadi pula mobilnya di ikuti oleh orang yang tidak dikenal. Ken yakin, tidak hanya dua mobil itu saja karna Ia juga melihat beberapa mobil menjaga jarak dengan mobilnya. Ken yakin jika itu adalah ulah dari salah satu musuh besarnya.
"Ge, hubungi anak buahmu dan minta mereka untuk mengurus cacing-cacing itu!"
Cris mengeluarkan ponselnya dan menghubungi beberapa anak buahnya. Key tetap mengemudikan mobilnya dengan tenang, membanting setir dan memutar balik mobilnya.
Sedangkan mobil-mobil yang mengikuti mereka langsung di sambut oleh anak buah Cris. Key melirik spion belakang, semua teratasi dengan cepat. Dan yang perlu Ia lakukan sekarang adalah mengemudikan mobilnya dengan tenang menuju area pemakaman.
-
Shea dan Shilla telah bersiap untuk pergi mengunjungi makam Ibu mereka. Mereka terlihat anggun dan elegan dalam balutan pakaian serba hitam.
Dress hitam selutut membalut tubuh Shea dan rambut panjangnya di biarkan tergerai indah, sementara Shilla sendiri memakai celana panjang dan blus hitam dengan hiasan pita putih di bagian lehernya.
Rambut panjangnya di ikat ekor kuda, jika biasanya mereka selalu menggunakan mobil masing-masing ketika berpergian, tapi untuk hari ini tidak.
Mereka menggunakan supir pribadi, Shea dan Shilla duduk bersebelahan di jok belakang. Tak lupa mereka mampir ketoko bunga sebelum pergi kemakam, bunga lily putih menjadi pilihan Shea dan Shilla karna mereka tau jika Ibunya sangat menyukai bunga Lilly.
"Turunlah, aku akan menunggu di sini!" kata Shilla yang kemudian di balas anggukan oleh Shea.
Shea masuk kedalam toko bunga, perempuan itu mengedarkan pandangannya dan melihat bunga yang Ia cari berada tepat di sudut ruangan.
Shea tersenyum lebar, dengan tenang Shea melangkah menghampiri bunga itu. Dan ketika hendak mengambil bunga itu, tangannya juatru tidak sengja bersentuhan dengan seseorang. Shea dan orang itu sama-sama menolehkan kepalanya dan??
"Tuan..."
"Kau..."
Shea menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia merasa canggung, begitu pula dengan pria itu. "Kau juga ingin membeli bunga Lilly ini?" tanya Shea mengawali percakapan.
Ken diam menatap wajah gadis itu dengan wajah stoicnya. Karna tidak ada tanggapan dari Ken. Shea pun menjadi bingung dan kediaman Ken dia anggap sebagai jawaban.
"Baiklah, aku akan membeli bunga lain saja. Mungkin mawar," ucapnya dan berlalu dari hadapan Ken.
Baru satu langkah, tapi cengkraman pada pergelangan tangannya menghentikan langkah gadis itu. Shea berbalik dan menatap Ken bingung. "Kau saja yang ambil bunga ini!" kata Ken sambil meletakkan bunga lily itu di tangan Shea.
Gadis itu tersenyum tipis. "Terimakasih, Tuan," katanya tulus. Ken menatap mata itu sejenak sebelum berlalu dari hadapan gadis itu.
"Tuan tunggu," seru Shea membuat langkah Ken terhenti.
Dengan langkah 1000, Shea menghampiri pria itu. "Kita belum berkenalan, aku Shea. Jika boleh tau, nama Tuan siapa?" tanya Shea sambil mengulurkan tangannya. Ken menatap datar tangan Shea lalu beralih pada wajahnya.
Ken mengangkat tangannya membalas uluran tangan gadis itu, Ken mengerakkan bibirnya hendak mengucapkan sesuatu sebelum Ia merasakan tepukan pada bahunya.
"Boss, sebaiknya kau bergegas. Satu jam lagi kau ada pertemuan penting?" kata orang itu mengingatkan.
Ken diam dengan tatapan datarnya."Kau kembalilah kemarkas lebih dulu lalu urus mereka sampai aku kembali," perintah Ken.
Key mengangguk paham "Baik Boss," jawabnya.
Key berbalik kemudian meninggalkan Ken begitu saja. Pandangan Ken beralih pada Shea. "Aku harus pergi sekarang!" ucap Ken dan berlalu begitu saja, terlihat kekecewaan dari sorot mata Shea.
Gadis itu mendesah panjang, gagal lagi untuk mengetahui nama pria penolongnya. Shea kembali melangkahkan kakinya, dan membawa bunga itu menuju kasir. Shea tidak ingin membuat Shilla menunggu lalu mengomelinya habis-habisan karna kelamaan.
-
Bersambung.
n ini cuma bisa kirim sekuntum mawar untuk Thor seorang.
selalu ceria dalam berkarya,biar selalu indah n menyenangkan untuk d baca n d ikuti alurnya.
slalu bahagia....
moga hasilnya sama2 kembar jg
gak masalah n gak maku2in kok