"Cinta tidak pernah tentang siapa yang datang paling awal, melainkan tentang siapa yang bertahan hingga akhir. Dan untuk semua rasa nyaman serta bahagia yang ia cari selama ini, jawabannya cuma kamu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazry Fazriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. Elvan Jeremy Santoso
Langkah kaki Gisel terhenti seketika. Matanya membelalak menatap pria berkacamata yang kini balik menatapnya dengan senyum tipis yang amat dikenalinya.
"Mas Elvan?!" pekik Gisel, suaranya yang melengking memecah keheningan sudut kedai.
Pria berkacamata itu melipat laptopnya, berdiri anggun sembari mengancingkan kemeja putihnya yang tergulung rapi.
"Suaramu masih saja memekakkan telinga, Gisel. Tidak berubah sama sekali."
Bunda Heni yang berada di samping Gisel ikut terpaku, matanya membelalak tak percaya. "Elvan?! Kamu... Elvan Jeremy Susanto, kan? Ya Allah, Nak! Kapan kamu sampai di Jakarta?!"
Bunda Heni melangkah cepat dan langsung memeluk hangat adik bungsu suaminya itu. Elvan Jeremy Susanto, pria berusia 29 tahun itu, membalas pelukan sang kakak ipar dengan kekehan lembut.
"Baru dua hari yang lalu, Bunda," tutur Elvan dengan nada baritonnya yang tenang. "Sengaja tidak memberi kabar ke Bunda atau Mas Lazuardi. Masalah pekerjaan di Dubai sudah beres dua bulan lalu, jadi Elvan mau kasih kejutan aja."
"Kamu ini ya! Kontrak kerja di Dubai selesai dari dua bulan lalu, tapi baru muncul sekarang tanpa kabar. Mentang-mentang masih lajang, enak ya hidup mandiri... Mas Lazuardi pasti senang sekali kalau tahu kamu sudah pulang," gerutu Bunda Heni hangat, mengusap lengan Elvan penuh kasih sayang.
"Elvan cuma penasaran sama Kafe 55 ini, Bun. Sudah berdiri tiga tahun tapi Elvan belum pernah mampir karena sibuk di luar negeri. Ternyata tempatnya sangat nyaman," jawab Elvan santai, sebelum matanya tak sengaja menangkap sosok Zahira yang berdiri tegap di balik meja bar.
Zahira menunduk santun saat tatapan mata di balik kacamata tipis itu mengarah padanya. Elvan tersenyum tipis, teringat interaksi tak terduga di toko sepatu kemarin sore.
"Wah, kebetulan banget! Mas Elvan kan adik bontotnya Papi yang paling ganteng tapi dingin kayak es batu, kebetulan di sini juga ada temen Gisel!" cerocos Gisel heboh, menarik lengan Bunda Heni.
Melihat keponakannya yang super ceriwis dan manja itu mulai berceloteh panjang lebar, Bunda Heni hanya menggelengkan kepala.
Percakapan hangat keluarga itu pun bergulir seru di salah satu meja VIP. Gisel dengan gaya manjanya tak berhenti menginterogasi sang om tentang oleh-oleh dari Dubai dan pengalamannya di luar negeri, sampai-sampai ia hampir lupa pada tujuan utamanya datang ke kedai.
Zahira yang menyaksikan kehangatan keluarga itu dari kejauhan mengusap dadanya pelan, menyunggingkan senyum tulus sekaligus merasa tersentil akan kenangan keluarganya sendiri yang dingin dan penuh kepalsuan.
.
.
Waktu berputar cepat. Denting jarum jam dinding menunjukkan pukul 11.45 WIB. Suara azan Dzuhur berkumandang merdu dari masjid tak jauh dari lokasi kedai.
Zahira melepas apron kerjanya, berjalan mendekati Bunda Heni dan Gisel yang masih asyik mengobrol di area tengah.
"Bunda Heni, Gisel... maaf menyela. Zahira izin mau sholat Dzuhur sebentar ya di musala belakang," pamit Zahira dengan tutur kata yang sangat santun.
Gisel menepuk jidatnya sendiri. "Astaga, Ra! Aku sampai lupa! Padahal tadi mau bahas kapan kamu bisa pindah ke paviliun belakang rumahku!"
"Nanti kita bahas lagi setelah sholat ya, Sel. Kasihan Zahira, waktunya sholat dulu," potong Bunda Heni lembut. "Silakan, Zahira Sayang."
"Terima kasih, Bunda." Zahira tersenyum lega lalu melangkah menuju bangunan musala kecil yang berada di area belakang kafe.
Setelah mengambil wudu yang menyegarkan wajah pucatnya, Zahira melangkah masuk ke batas suci musala khusus wanita yang dibatasi tirai pembatas.
Di balik tirai pembatas area pria, beberapa karyawan pria Kafe 55 tampak sudah berkumpul, ada beberapa karyawan wanita juga bersiap untuk melaksanakan ibadah sholat berjamaah.
Di barisan paling depan, berdiri seorang pria bernyawa tenang yang sedang merapikan pecinya. Pria itu adalah Elvan. Tanpa banyak bicara, Elvan maju menjadi imam saat menyadari muazin telah selesai mengumandangkan iqamah.
.
.
Saat salam terakhir diucapkan, keheningan yang khusyuk melingkupi ruangan kecil itu.
Usai berdoa, para karyawan pria Kafe 55 berpamitan lebih dulu untuk kembali menempati pos tugas masing-masing.
Elvan masih terduduk di atas sajadahnya, merapikan peci hitam dan kacamatanya saat Zahira melangkah keluar dari batas suci mushala wanita sembari melipat mukena putihnya.
Langkah Zahira terhenti. Ia tak menyangka sang imam masih ada di sana.
Elvan menoleh, tatapan matanya yang teduh di balik bingkai kacamata tipis beradu pandang dengan netra Zahira yang masih menyisakan sisa kebasahan air wudum
"Mbak Zahira..." tegur Elvan halus, mengangguk sopan. "Terima kasih sudah memiilihkan sepatu kemarin."
Zahira tersenyum tipis, menundukkan pandangannya dengan santun. "Sama-sama, Mas Elvan. Saya cuma sekadar memberi saran."
Elvan berdiri, ada jeda sejenak sebelum pria itu kembali bersuara dengan nada yang terkesan kasual namun sarat akan kepekaan.
"Kamu sudah lama kerja di sini?"
"Dari awal kafe ini buka, mas. Bisa di bilang saya karyawan pertama kafe ini?"
Tutur Zahira dengan senyum tipis, mengingat bagaimana pertama kali Gisel menawarinya kerja paruh waktu membagi jam kuliah dan kerja.
Begitu kembali ke area kafe, Gisel langsung menghadang Zahira dan menariknya duduk di sudut meja VIP bersama Bunda Heni.
"Ra! Nggak ada tapi-tapian lagi ya!" cerocos Gisel heboh tanpa membiarkan Zahira membuka suara. "Pokoknya Sabtu ini aku dan para karyawan bakal bantu kamu pindahan ke paviliun belakang rumahku!"
Bunda Heni mengusap jemari Zahira dengan lembut. "Bunda sudah minta bi Jani buat bersihin paviliunnya, Ra. Di sana tenang, ada meja belajar besar yang cocok banget buat kamu fokus menyelesaikan naskah skripsi. Kamu nggak usah pikirkan biaya sewa. Anggap saja ini rumah keduamu."
Zahira tak sanggup lagi menahan haru. Di saat rumah mewahnya sendiri beraroma neraka, keluarga Gisel justru membentangkan pintu kehangatan. "Bunda... Gisel... Zahira benar-benar tidak tahu harus mengucapkan terima kasih seperti apa lagi."
"Nanti kalau sudah pindah, kamu bisa masak bareng Bunda," tambah Bunda Heni hangat.
Tak lama kemudian, Elvan melangkah mendekati meja mereka. Gisel langsung mendongak dengan cengiran manjanya. "Mas Elvan! Nanti hari Sabtu ikut bantu angkut barang-barang Zahira ya! Mas Elvan kan baru pulang dari Dubai, ototnya pasti masih kuat!"
Elvan memutar bola matanya pelan menatap keponakannya yang ceriwis itu, lalu melirik Zahira yang tampak canggung. "Memangnya Mbak Zahira mau pindahan ke mana?"
"Ke paviliun belakang rumah kita!" sahut Gisel mantap. "Zahira butuh tempat yang tenang buat persiapan sidang skripsi bulan depan."
Elvan manggut-manggut, lalu menatap Zahira dengan senyum tipis yang hangat. "Kalau butuh bantuan untuk angkut barang-barang yang berat, panggil saya saja. Saya siap membantu."
.
.
Sementara itu, di kediaman megah keluarga Sumargo, suasana sore itu kembali memanas.
Damian baru saja berangkat kembali ke luar kota untuk urusan bisnis mendadak. Begitu mobil sedan sang suami meluncur keluar dari gerbang, senyum manis Karlina seketika lenyap, berganti dengan raut wajah dingin yang memuakkan.
"Bi Jumi!" teriak Karlina dari ruang tengah.
Mbok Jumi berlari kecil dari arah dapur. "I-iya, Nyonya?"
"Mana anak tak tahu diri itu?! Jam segini belum pulang juga?! Apa dia pamer ke tetangga kalau dia kerja lembur lagi?!" cerca Karlina seraya mengibaskan kipas tangannya.
Bianka yang sedang bersandar di sofa sembari memoles kukunya ikut menimpalinya dengan tawa sengit.
"Mami kayak nggak tahu Zahira aja. Palingan lagi gatal cari perhatian Papi lewat cerita sedihnya di luar sana. Tadi pagi aja Papi sampai puji-puji dia."
"Awas saja kalau dia pulang nanti!" desis Karlina murka.
Namun, di kamar lantai atas, Vidi sedang memasukkan beberapa buku pelajarannya ke dalam tas. Dari balik jendela, ia menatap kebun belakang dengan raut wajah mantap.
Vidi sudah mendengar percakapan Kak Zahira semalam lewat telepon tentang rencana kepindahannya ke tempat Gisel.
Bagus, Kak... batin Vidi dengan senyum lega. Pergilah dari rumah beracun ini. Nanti Vidi yang bakal sering-sering menyusul ke tempat Kakak.
Malamnya, tepat pukul 20.00 WIB, Zahira melangkah masuk ke dalam rumah. Ia tidak membawa banyak beban di hatinya lagi. Keputusannya sudah bulat: Sabtu ini, ia akan lepas dari sangkar emas ini.
"Bagus! Baru pulang jam segini?!" bentak Karlina yang sudah berdiri di ujung ruang tamu, menyilangkan tangan di dada. "Kamu pikir rumah ini tempat penampungan gratis, hah?!"
Zahira menghentikan langkahnya. Kali ini, ia tidak menunduk ketakutan seperti biasanya. Zahira mendongak, menatap mata ibu tirinya dengan tenang dan penuh keyakinan.
"Maaf, Mami. Tapi Mami tidak perlu cemas lagi," ujar Zahira dengan suara yang stabil dan tenang. "Hari Sabtu ini... Zahira akan angkat kaki dan pindah dari rumah ini."
Karlina dan Bianka seketika melotot, terpaku tak percaya mendengarnya.