"Wanita yang dulu kau buang seperti sampah, kini menjadi Ratu yang tak sanggup kau beli!"
Demi Fandi, Maya rela melepas statusnya sebagai supermodel ternama dan menjadi ibu rumah tangga biasa. Namun, pengorbanannya dibalas penghinaan. Begitu penampilannya tak lagi segar, Fandi menceraikannya demi wanita lain dan mengusirnya tanpa membawa apa pun.
Fandi mengira hidup Maya sudah hancur. Namun, ia salah besar.
Di balik kehancurannya, Maya bangkit merintis kembali kerajaannya. Ketika Maya berdiri di puncak kejayaan sebagai wanita paling berpengaruh, Fandi merangkak dalam penyesalan yang tak bertepi.
Sayangnya... Ratu yang dulu disia-siakannya kini melayang terlalu tinggi untuk kembali.
bagaimana ceritanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34. DSKKR
Fandi terpaku. Ponselnya masih menempel di telinga, padahal nada putus sambungan sudah berulang kali berbunyi. Dadanya serasa dihantam batu besar. Pekerjaan sebagai kuli bangunan yang baru dua hari ia jalani dan menjadi satu-satunya tumpuan hidup keluarga mereka kini melayang dalam sekejap.
"Fandi? Kenapa, Nak?" tanya Bu Ratna khawatir melihat wajah putranya mendadak pucat pasi.
"Fandi... dipecat, Bu," bisik Fandi lirih, menatap ibunya dengan pandangan kosong. "Mandor tau kalau Ibu sama Intan yang kemarin numpang di rumah terbengkalai itu."
"Kok bisa sih?" Tanya ibu.
"Enggak tau bu.. " Jawab Fandi yang masih terpaku.
Suasana kontrakan sempit itu langsung mendadak mencekam. Bu Ratna terduduk di tepi balai-balai, menutupi mukanya dengan kedua tangan. Pertanyaan besar yang berputar di kepala Fandi hanyalah satu: dari mana sang mandor tahu? Dan satu-satunya orang yang melihat ibunya tadi pagi dan tahu Fandi tinggal di pintu putih ini hanyalah Parman.
"Jangan-jangan parman yang kasih tau. Ibu kan kemarin keluar kontrakan manggil aku bu. Nah aku juga baru tau kalau parman tinggal sekitar sini juga."
"Parman? Siapa dia ndi?"
"Bu.. Kemarin orang yang kemarin aku tutupi biar engga lihat ibu loh."
"Ya ampun.. maaf ya ndi.. ibu enggak tau.. terus kamu mau kerja apalagi?"
"Engga tau bu.."
Setelah percakapan itu, malam harinya Fandi keluar rumah untuk membeli makanan matang. Tak sengaja dia lewat dan bertemu Parman, Indra dan Toji sedang tertawa di depan rumah parman.
"Yo.. ini Fandi nih.. Keluar juga ahaha.. yuh ngopi bareng ndi" Ajak Parman dengan senyum palsu.
"Ya ndi sini ngopi.. enak loh" timpa yang lain.
Fandi hanya bisa menolak lalu mengepalkan tangan nya. "Engga.. kalian aja" Jawab Fandi singkat lalu berjalan lagi.
Melihat pekerja lain disana juga, Fandi sudah tau bahwa parman yang memberitahu mandor hingga dia di pecat. Namun Fandi tidak bisa melakukan apapun.
**
Hari-hari berikutnya berubah menjadi mimpi buruk. Berbekal portofolio studio nya yang seadanya, Fandi kembali luntang-luntang menyusuri sudut kota mencari kerja apa saja. Dari ujung gang Sarangsari hingga ke area pertokoan jalan raya, ia mendatangi satu per satu tempat. Namun hasilnya nihil. Kakinya yang beralaskan sandal jepit murah makin menipis, seiring sisa uang di kantongnya yang kian menipis pula.
Tepat di hari kelima ia menganggur, Fandi sedang duduk beristirahat di warung kopi dekat simpang jalan. Saat itulah, ia tak sengaja mendengar percakapan dua buruh bangunan yang juga langganan di sana.
"Si Parman emang pinter carinya," cetus salah satu buruh sambil menyedot rokoknya. "Dia yang ngadu ke mandor kalau Bu Ratna itu ibunya si Fandi. Lumayan, dapet imbalan uang rokok dari mandor gara-gara berhasil bikin rumah terbengkalai itu dikosongin."
Fandi tertegun. Jarinya mencengkeram gelas plastik di tangannya hingga remuk. Rasa hangat sisa kopi menetes ke tangannya, tapi ia tak peduli. Ternyata dugaannya benar. Parman, tetangga sebelah yang berpura-pura baik, adalah orang yang menusuknya dari belakang.
Sore harinya, saat Fandi berjalan gontai memasuki lorong kontrakan Sarangsari, ia berpapasan langsung dengan Parman di depan pintu.
"Eh, Fandi! Baru pulang, Le?" sapa Parman dengan senyum lebar dan raut wajah penuh kepedulian. Muka dua yang luar biasa. "Gimana, udah dapet kerjaan baru belum? Sabar ya, namanya hidup pasti ada cobaan. Kalau butuh bantuan, bilang aja sama Paman."
Fandi berhenti. Ia menatap lurus ke mata Parman. Ada dorongan kuat di dadanya untuk mendaratkan pukulan ke wajah penuh kepalsuan itu. Namun, Fandi mengepalkan tangannya rapat-rapat di dalam saku celana. Ia menahan gejolak amarahnya, hanya memberikan tatapan dingin yang tajam, lalu melangkah masuk ke rumah tanpa mengucap sepatah kata pun.
***
Satu Bulan Kemudian, Masalah belum selesai, justru malapetaka baru sedang mengintai.
Pagi itu, ketenangan di kontrakan sempit Sarangsari hancur berkeping-keping. Ponsel Fandi yang tergeletak di atas lantai bergetar hebat. Belum sempat ia menekan tombol jawab, ponsel Bu Ratna dan ponsel Intan ikut berdering bersahutan tanpa henti.
Fandi mengangkat salah satu panggilan dari nomor asing.
"Woi, Fandi! Mana bayaran utang lu?! Mau kabur lu ya?! Dasar keluarga miskin penipu!" teriakan penuh makian dari seberang telepon langsung menyambar telinga Fandi.
Fandi langsung mematikan telepon dengan tangan gemetar. Namun, ponselnya kembali berdering detik itu juga. Puluhan, bahkan ratusan panggilan dari nomor yang berbeda terus masuk.
Sebulan yang lalu, terdesak karena Fandi tak kunjung mendapat pekerjaan dan uang makan mulai menipis, Intan memberi ide nekat. Mereka bertiga mengajukan pinjaman ke aplikasi pinjaman online pinjol ilegal. Ide Intan sederhana: begitu uang cair ke rekening, mereka membuang nomor ponsel lama dan menggantinya dengan yang baru. Intan pikir, pihak *pinjol* tidak akan bisa melacak mereka lagi.
Mereka tidak pernah tahu bahwa saat mengunduh aplikasi laknat itu, mereka telah menyetujui akses ke seluruh data di ponsel termasuk seluruh daftar kontak, galeri foto, dan akun media sosial.
Kini, bom waktu itu meledak. Teror bukan cuma menyerang ponsel mereka. Pihak pinjol mulai meretas dan menghubungi seluruh kontak yang ada di ponsel Fandi, Bu Ratna, dan Intan.
Fandi membuka salah satu aplikasi media sosialnya. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Foto dirinya, Bu Ratna, dan Intan yang diambil secara diam-diam dari galeri ponsel mereka kini tersebar luas di grup-grup media sosial lokal. Foto-foto itu diedit dengan tulisan merah besar: "WASPADA! KELUARGA PENIPU & BURONAN PINJOL ILEGAL"
Dalam hitungan jam, postingan itu menjadi viral.
Dampaknya langsung terasa hari itu juga di kontrakan Sarangsari. Ketika Fandi berjalan keluar hendak membeli mie instan di warung depan gang, suasana mendadak hening. Ibu-ibu kontrakan yang biasanya sedang nongkrong langsung bubar. Mereka menatap Fandi dengan tatapan sinis, benci, dan penuh jijik.
"Jangan dekat-dekat sama orang itu," bisik salah satu tetangga agak keras sambil menarik tangan anaknya masuk ke rumah. "Nanti kita ikut-ikutan ditagih preman *pinjol*!"
Bahkan Parman, yang biasanya pura-pura ramah, kini berdiri di depan pintunya sambil bersedekap. Ia menatap Fandi dengan senyum cemooh yang terang-terangan.
Fandi melangkah cepat kembali ke dalam kontrakan dengan napas memburu. Ia memburu pintu dan menguncinya dari dalam. Di dalam ruangan sempit itu, Bu Ratna dan Intan sedang menangis terisak sambil memeluk lutut di pojokan.
Brak! Brak! Brak!
Tiba-tiba pintu kontrakan mereka digedor sangat kencang dari luar. Kaca jendela yang kusam sampai bergetar hebat.
"WOI! KELUAR LU SEMUA! JANGAN SOK MATI!" gertak suara berat beberapa pria asing dari balik pintu, disusul teriakan warga gang yang mulai memanas di luar.
Fandi, Bu Ratna, dan Intan saling pandang dengan wajah pucat pasi. Kepungan di luar baru saja dimulai.
Fandi melangkah cepat kembali ke dalam kontrakan dengan napas memburu. Ia memburu pintu dan menguncinya dari dalam. Di dalam ruangan sempit itu, Bu Ratna dan Intan sedang menangis terisak sambil memeluk lutut di pojokan.
Brak! Brak! Brak!
Tiba-tiba pintu kontrakan mereka digedor sangat kencang dari luar. Kaca jendela yang kusam sampai bergetar hebat.
"WOI! KELUAR LU SEMUA! KELUAR!" gertak suara berat beberapa pria bertato dari balik pintu, disusul teriakan warga gang Sarangsari yang mulai memanas di luar.
Fandi, Bu Ratna, dan Intan saling pandang dengan wajah pucat pasi. Pihak pinjol rupanya tak cuma menebar teror di alam maya, tapi juga menyewa preman lokal Sarangsari untuk mengintai mereka. Kepungan di luar baru saja dimulai.
"Keluar ga lu! Jangan sok mati di dalam!"
~Bersambung~