NovelToon NovelToon
Starfall: The Last Child From The Stars

Starfall: The Last Child From The Stars

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Akademi Sihir
Popularitas:531
Nilai: 5
Nama Author: Dorin

Pada malam ketika sebuah bintang jatuh menghantam bumi, takdir sebuah kerajaan berubah selamanya.

Ditemukan di dalam bola perak misterius dan dibesarkan sebagai pangeran, ia dianggap sebagai kegagalan karena tak memiliki mana di dunia yang menjadikan sihir sebagai segalanya.

Namun, di balik kelemahan itu tersembunyi kekuatan kosmik yang jauh melampaui sihir.

Kini, ia hanya ingin hidup normal sebagai siswa Akademi Sihir. Sayangnya, ketika kegelapan mengancam dunia yang telah menjadi rumahnya, pemuda dari bintang-bintang itu tak punya pilihan selain melepaskan kekuatan sejatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dorin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 – Bisikan dari Kedalaman Hutan.

Suara derap langkah sepasukan kuda perang menggetarkan tanah di sepanjang jalan utama menuju perbatasan hutan.

​Mereka adalah Jenderal Vermont beserta pasukan elite kesatrianya. Atas titah langsung dari Raja Nolan, mereka mengemban misi penting untuk menyelidiki keanehan yang mendadak terjadi di wilayah perbatasan antara Kerajaan Aureliania dan Hutan Runn.

​Sementara barisan zirah bergemerincing di atas tanah, di langit atas mereka—

​Wush—!

​Pangeran Edward tampak terbang dengan santai, meluncur seirama dengan kecepatan laju pasukan di bawahnya.

​Dan tentu saja, ia tidak sendiri. Ada Bernard yang ikut melayang di dalam cengkeramannya. Sudah bisa ditebak bagaimana ekspresi wajah sang pelayan tua saat ini, apalagi kecepatan terbang Edward kali ini... benar-benar jauh dari kata pelan maupun normal.

​“Kenapa kita harus terbang lagi, Tuan Muda?! Kenapa Anda tidak naik kuda saja seperti yang lainnya?!” teriak Bernard, suaranya parau melawan deru angin yang menusuk telinga.

​“Ayolah, Bernard. Ini tidak seburuk itu, kok,” sahut Edward kelewat santai. “Lagipula kau tahu sendiri, kan, kalau aku ini tidak pandai berkuda.”

​“Itu karena Anda terus-menerus melarikan diri setiap kali Tuan Duke Rohan ingin mengajari Anda!” balas Bernard jengkel. “Astaga... rasanya menu sarapan saya pagi ini akan keluar tidak lama lagi....”

​Edward melirik pelayannya, lalu menyunggingkan sebuah senyuman yang sebenarnya terasa sangat menjengkelkan.

​“Tenang saja, ini hanya sebentar. Lihat, hutannya juga sudah mulai kelihatan, kan? Jika urusan ini sudah selesai, kau bebas beristirahat sepuasnya.”

​“Saya benar-benar mulai mempertanyakan... kenapa saya harus ikut dalam ekspedisi hari ini,” gumam Bernard pasrah, meratapi nasibnya yang malang.

​Meninggalkan rasa penyesalan Bernard yang sudah tidak bisa ditarik kembali, para prajurit di bawah justru tampak sibuk dengan urusan lain.

​Sesekali, pandangan mata mereka melirik sinis ke arah angkasa. Tepat ke arah Edward yang sedang melayang bebas bersama pelayan kepercayaannya.

​Isi pembicaraan di antara barisan kesatria itu tidak lain hanyalah gunjingan dan sesumbar kosong yang mengkritik Edward. Terutama, mengenai kemampuannya yang sanggup terbang bebas tanpa menggunakan setetes Mana pun.

​“Kalian lihat itu? Tidak heran dia dijuluki sebagai Anak Terkutuk,” bisik salah seorang prajurit sambil memacu kudanya.

​“Ya. Bisa terbang tanpa menggunakan Mana... sudah pasti kekuatan anehnya itu berasal dari sesuatu yang melanggar kodrat. Sesuatu yang terlarang,” sahut prajurit di sebelahnya dengan nada muak.

​“Tapi, Yang Mulia Raja dan juga Ratu terlihat sangat peduli dan memanjakannya, bukan?”

​Prajurit pertama menyeringai licik. “Menurut kabar burung yang sempat kudengar, itu adalah salah satu kemampuan sesatnya.”

​“Maksudmu?”

​“Ya. Dia menanamkan sihir hitam atau sejenisnya untuk mencuci otak Yang Mulia Raja dan Ratu, hingga membuat mereka begitu memedulikan dirinya.”

​“Dia... bisa melakukan hal mengerikan seperti itu?! Pantas saja mereka berdua begitu buta dan selalu membela orang aneh itu di hadapan publik!”

​“Oi....”

​Tiba-tiba, sebuah aura menyesakkan menguar dari sang Sword of Aureliania. Hawa menekan itu seketika membuat seluruh prajurit tersentak kaget.

​“Apakah kalian sudah selesai berbicara?”

​Semua bungkam. Tidak ada satu pun yang berani mengeluarkan suara.

​Para prajurit menatap tegang ke arah sorot mata tajam yang melirik dari balik pundak tegap itu. Tatapan yang jelas-jelas memberi peringatan bahwa jika mereka tidak berhenti, kepala mereka akan terlepas dari tubuh masing-masing.

​Mata tajam sang Jenderal memeriksa bawahannya satu per satu. Tidak ada yang berani membuka mulut. Mereka diam seribu bahasa.

​Keringat dingin mengucur pelan, membasahi pelipis hingga menjalar ke seluruh tubuh mereka. Rasanya seolah-olah nyawa mereka bisa melayang saat itu juga.

​“Fokus....” ucap sang Jenderal lirih, sebelum akhirnya kembali menatap lurus ke depan.

​Sementara itu, dari atas tempat Edward berada, ada sepasang mata yang sedari tadi ikut mengawasi pasukan berkuda tersebut.

​Berbeda dengan sang Jenderal, mata itu tampak siap menerkam siapa saja andai prajurit yang mengoceh tadi tidak segera menutup mulutnya. Sungguh beruntung prajurit itu segera diam. Karena jika tidak, dia tidak hanya akan kehilangan nyawa, tetapi seluruh anggota tubuhnya pun pasti sudah hancur.

​Entah benar atau tidak, tampaknya sang Jenderal juga merasakan hawa mengerikan dari atas sana. Karena itulah, beliau segera menghentikan ocehan para bawahannya sebelum segalanya terlambat.

***

​“Mulai dari sini, kita berjalan kaki,” ucap sang Jenderal sembari turun dari tunggangannya.

​Ia menatap lurus ke arah pintu masuk hutan yang tampak gelap gulita dan memancarkan hawa yang sangat tidak menyenangkan. Seketika itu juga, sang Jenderal tersentak kaget.

​Miasmanya menyebar secara drastis?! pikirnya terkejut.

​Ia menoleh ke balik pundaknya. Banyak dari prajurit bawahannya yang mulai merasakan efek buruk dari miasma tersebut.

Di sisi lain, Bernard tampak masih bisa menahannya.

Sedangkan Edward... pemuda itu jangan ditanya lagi. Sedikit pun ia tidak merasakan apa-apa, bahkan terkesan sama sekali tidak peduli. Edward justru berjalan mendekat ke area hutan dan menatap sekeliling dengan santai.

​Namun, situasi ini sebenarnya tidak bagus untuk sang Jenderal.

Semakin lama berdiri di sana, ia sepertinya mulai ikut merasakan efek beracun tersebut. Kepalanya terasa pusing dan perutnya mendadak mual. Efek sekuat ini jika sampai mengenai warga biasa, sudah pasti mereka akan langsung mati keracunan di tempat.

​Beruntung, sang Jenderal masih memiliki rencana cadangan.

​Jenderal Vermont menancapkan pedang besarnya dalam-dalam ke tanah, lalu merapalkan beberapa bait mantra. Seketika itu juga, sebuah lingkaran sihir berukuran besar tercipta di bawah kaki mereka.

​Tubuh sang Jenderal beserta seluruh bawahannya mendadak berpendar keemasan. Tidak lama setelah cahaya itu meredup, efek miasma yang sempat membuat mereka tidak enak badan langsung menghilang begitu saja tanpa bekas.

​Ini adalah sihir perlindungan suci. Sihir kuno yang berfungsi untuk memberikan efek penguatan fisik, sekaligus perlindungan mutlak dari segala jenis energi negatif maupun sihir hitam. Namun tentu saja, sihir ini memiliki jangka waktu yang terbatas.

​“Aku sudah memberikan perlindungan sihir kepada kalian semua. Kita hanya punya waktu dua jam, jadi sebaiknya kita bergerak cepat.”

​Jenderal Vermont kemudian menoleh ke arah Edward dan sedikit menundukkan kepalanya. “Pangeran, bisakah Anda mengawasi area dari atas langit sementara kami menyisir dari bawah?”

​Edward mengangguk paham. “Tentu saja,” jawabnya, lalu segera melesat terbang ke angkasa.

​“Tuan Bernard, Anda bisa menunggu di sini. Sisanya, biar kami yang maju,” ujar sang Jenderal lagi kepada sang pelayan tua.

​“B-baiklah,” sahut Bernard patuh.

​Tanpa membuang waktu lagi, kelompok prajurit itu segera melangkah masuk menembus keheningan Hutan Runn.

​Dari atas angkasa, Edward dengan sangat teliti mengawasi setiap sudut dan celah hutan di bawahnya.

​Kadang kala ia berhenti melayang sejenak, memejamkan mata untuk mendengarkan setiap jengkal suara yang menggema di dalam sana.

​Sejak kekuatan fisiknya bangkit secara misterius di umur delapan tahun, Edward memang bisa mendengar berbagai jenis suara dalam radius yang sangat luas. Tidak peduli sekecil apa pun sumber suaranya, telinganya pasti bisa menangkapnya dengan jelas.

​Pernah suatu waktu, ia bahkan bisa mendengar suara kepakan ekor seekor paus yang sedang melompat ke permukaan laut. Padahal, jarak antara tempatnya berdiri dan lautan luas tempat hewan itu berada terpaut hingga ribuan kilometer jauhnya.

​“Akhirnya sudah tiba....”

​Sebuah suara bisikan lirih tiba-tiba tertangkap oleh telinga sang Pangeran.

​“... dengan begini, orang-orang itu tidak akan bisa menghentikanku lagi....”

​Set!

​Edward dengan cepat membuka kedua matanya. Tatapannya menatap tajam ke arah bagian terdalam hutan, mengunci satu titik koordinat di bawah sana yang menjadi sumber suara misterius tersebut.

​Ia memicingkan mata. Penglihatannya seketika terfokus tajam. Jarak pandangannya mendadak bergeser maju, semakin dekat dan dekat dengan kecepatan ekstrem, layaknya seseorang yang sedang memperbesar sebuah gambar di layar digital.

​Kini, ia bahkan bisa melihat bagian terdalam hutan yang tertutup rimbunnya pepohonan dengan sangat jelas.

Ada sebuah gua yang tersembunyi di sana. Kondisinya terlihat begitu mencurigakan. Terutama, fakta bahwa ada banyak sekali tulang belulang hewan dan monster yang berserakan di depan mulut gua tersebut.

​Edward segera menonaktifkan kekuatannya. Tubuhnya meluncur turun ke bawah, menuju posisi kelompok Jenderal Vermont berada.

​Wush!

​Kedatangannya yang tiba-tiba dari langit sempat membuat Jenderal Vermont dan seluruh anak buahnya tersentak terkejut. Mereka refleks bersiaga sebelum menyadari bahwa itu adalah Edward.

​“Aku sudah memeriksanya. Ada sebuah gua yang terletak tak jauh dari sini,” jelas Edward tanpa basa-basi.

Secepat itu!? Batin Jendral Vermont.

“Aku mendengar suara aneh seseorang dari sana, dan situasinya sangat mencurigakan. Lebih baik kita segera pergi memeriksanya.”

Ini bahkan lebih cepat dari Penyihir lingkaran 4. Benar-benar mengagumkan, Batin sang Jendral lagi.

​Jendral Vermont kemudian mengangguk tegas. “Kerja bagus, Yang Mulia. Terima kasih atas informasinya.”

​Ia lalu membalikkan badan, menatap tajam ke arah anak buahnya. “Kalian semua sudah mendengarnya sendiri, kan? Ayo, segera bergerak!”

​““Ya!”” seru para prajurit itu serempak dengan nada patuh.

Mereka semua berlari cepat, mengikuti pergerakan Edward yang melayang terbang memandu di depan.

1
Dorona
Cerita bagus bgt. aku suka alurnya. sering2 up 👍👍
Dorin: Terima kasih kak sudah mampir 😍😍😍. siap laksanakeun 🤣🤭💪💪
total 1 replies
SilentNovels
lumayan ni alurnya
Jangan lupa ke naskah aku juga ya
Dorin: Terima kasih kak sudah mampir 😁😄. semoga enjoy dengan ceritanya 🥰😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!