NovelToon NovelToon
TAK SELAMANYA IBU TIRI KEJAM

TAK SELAMANYA IBU TIRI KEJAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Duda / Romansa Fantasi
Popularitas:10.5k
Nilai: 5
Nama Author: My_Sunshine

Demi memenuhi wasiat terakhir sahabatnya, Kinanti menikah dengan Keenan, seorang duda yang memiliki tiga anak. Namun pernikahan itu tidak membawa kebahagiaan seperti yang dibayangkan. Yudha, Tiara, dan Daffa menolak kehadirannya dan melakukan berbagai cara agar Kinanti pergi dari rumah mereka.

Bagi ketiga anak itu, tidak ada yang bisa menggantikan sosok ibu mereka yang telah tiada. Setiap kebaikan Kinanti dibalas dengan penolakan dan sikap menyakitkan. Meski begitu, ia memilih bertahan, menghadapi semuanya dengan kesabaran dan kasih sayang.

Mampukah ketulusan seorang ibu tiri meluluhkan hati yang penuh luka? Sebuah kisah mengharukan tentang kehilangan, pengorbanan, dan cinta yang membuktikan bahwa tak selamanya ibu tiri itu kejam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My_Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ada saat mereka butuh

Sepulang sekolah, Tiara melangkah masuk ke halaman rumah dengan perut yang masih terasa tidak nyaman.

Hari itu benar-benar melelahkan baginya. Belum lagi pengalaman mendapatkan haid pertama yang membuat emosinya semakin sensitif.

Saat melewati teras, langkahnya terhenti. Di sana, Daffa tampak duduk santai di kursi rotan sambil menikmati semangkuk puding cokelat. Bocah itu terlihat begitu lahap hingga sudut bibirnya sedikit belepotan.

Tanpa berkata apa-apa, ia menghampiri Daffa lalu merebut wadah puding dari tangan adiknya. Daffa yang sedang menyuap puding langsung terkejut.

"Mbak!"

Matanya membulat.

"Kenapa pudingnya diambil?"

Tiara menatap puding itu seolah benda tersebut adalah musuh besar.

"Siapa yang bikin puding ini?" tanyanya.

Daffa tampak ragu untuk menjawab.

"Ehm..."

"Perempuan asing itu ‘kan?"

Daffa menunduk lalu mengangguk pelan.

Tiara menghembuskan nafas kesal.

Ia lalu berjongkok di depan adiknya.

"Daffa, kamu lupa ya? Kita bertiga sudah sepakat membuat perempuan itu nggak betah tinggal di rumah ini."

"Kalau kamu terus menerima semua yang dia kasih, nanti dia bakal mengira kita menyukainya."

Bocah itu menatap kosong ke arah mangkuk puding di tangan kakaknya.

"Tapi..." suaranya lirih. "Pudingnya enak."

Tiara mendecak.

"Cuma puding seperti ini saja kok. Nanti Mbak belikan yang lebih enak."

"Tapi aku mau yang itu."

Daffa mengulurkan tangan hendak mengambil kembali pudingnya.

Sayangnya, Tiara bergerak lebih cepat.

Dengan langkah panjang, ia berjalan menuju tempat sampah di sudut teras.

"Mbak, jangan!"

Namun terlambat. Puding itu sudah meluncur masuk ke dalam tempat sampah. Daffa terpaku. Matanya mengikuti mangkuk puding yang kini tergeletak di antara tumpukan sampah. Bibirnya bergetar menahan kecewa.

Ia tidak menangis. Namun sorot matanya menunjukkan kesedihan yang jelas.

Sementara Tiara menghembuskan napas lega, merasa telah melakukan hal yang benar. Baginya, menerima pemberian Kinanti berarti mengkhianati kenangan tentang ibu mereka.

Sedangkan bagi Daffa, puding itu hanyalah puding yang rasanya sangat enak. Dan saat itu, ia hanya bisa memandangi tempat sampah dengan perasaan kecewa yang sulit dijelaskan.

"Tiara, kamu sudah pulang?" sapa Kinanti ramah saat melihat gadis itu berdiri di teras.

Tiara sama sekali tidak menjawab.

Ia hanya memandang Kinanti sekilas dengan wajah masam sebelum membuang muka.

Kinanti tidak ambil hati. Perhatiannya justru beralih kepada Daffa yang masih duduk di kursi teras.

"Daffa, pudingnya sudah habis?" tanyanya lembut. "Mana wadahnya? Biar Ibu cuci."

Daffa langsung kebingungan.

"Ehm..."

Bocah itu menoleh ke arah tempat sampah.

"Itu... di sana."

Kinanti mengikuti arah telunjuknya.

Keningnya sedikit berkerut.

"Di tempat sampah?"

Daffa mengangguk pelan.

"Kamu nggak suka puding buatan Ibu?" tanyanya hati-hati. "Kok dibuang?"

"Ehm..."

Daffa tampak serba salah.

"Aku nggak buang pudingnya."

Tanpa sadar, matanya melirik ke arah Tiara. Hanya sesaat, tetapi cukup bagi Kinanti untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi. Namun alih-alih marah atau menegur, perempuan itu justru tersenyum. Ia berjalan menuju tempat sampah, melepaskan plastiknya, lalu mengambil wadah puding. Setelah itu, ia mengikat kembali plastik sampah tersebut.

Daffa memperhatikannya dengan bingung.

"Tante nggak marah?" tanyanya polos.

Kinanti menoleh sambil tersenyum.

"Kenapa harus marah?"

Kinanti mengangkat kantong sampah yang sudah diikat lalu berkata,

"Di dalam sini ada sisa puding yang rasanya manis. Kalau dibiarkan, semut akan berdatangan. Jadi sampahnya harus segera dibuang."

Daffa masih belum sepenuhnya mengerti, tetapi ia mengangguk-angguk saja.

Sementara itu, Tiara yang sedari tadi memperhatikan dari kejauhan justru merasa kesal. Ia berharap Kinanti marah. Atau setidaknya mengadukan perbuatannya kepada sang ayah, Namun perempuan itu malah bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.

Dengan langkah berat, Tiara masuk ke dalam rumah. Sesampainya di ruang tengah, Tiara langsung menjatuhkan tubuhnya ke sofa. Ia menghembuskan napas panjang. Sejak siang tadi, ia terus merasa tidak nyaman. Perutnya memang sudah tidak terlalu sakit, tetapi ada sensasi lembap yang

membuatnya gelisah.

Ia baru teringat bahwa pembalut yang dipakainya sejak di sekolah belum diganti.

"Aduh... aku lupa beli pembalut lagi."

Di saat yang sama, Daffa masuk ke ruang tengah. Bocah itu langsung mengambil remot lalu menyalakan televisi. Tak lama kemudian, suara kartun memenuhi ruangan. Tiara menggigit bibir. Ia sebenarnya ingin pergi sendiri ke kios depan rumah.

Namun rasa tidak nyaman itu membuatnya enggan keluar. Setelah ragu beberapa saat, akhirnya ia bersuara.

"Daffa."

"Hm?"

"Bisa tolong beliin sesuatu di kios depan nggak?"

"Nggak mau."

Jawabannya datang begitu cepat tanpa sedikit pun menoleh dari layar televisi.

"Aku lagi nonton kartun."

"Daffa, ayolah."

"Beli sendiri aja."

Tiara mendesah kesal.

"Perut Mbak lagi sakit."

Daffa akhirnya menoleh. Namun bukannya iba, ia justru menyipitkan mata.

"Kemarin waktu aku sakit tenggorokan, Mbak juga nggak mau nolong aku."

Tiara langsung terdiam. Ia tidak menyangka adiknya masih mengingat kejadian itu. Sementara Daffa kembali memusatkan perhatian pada televisi.

“Kamu sakit perut?" tanya Kinanti yang baru masuk kembali ke dalam rumah.

“Nggak!" sahut Tiara ketus.

“Barusan mbak Tiara minta tolong ke aku buat beliin dia sesuatu di kios depan, tapi film kartun nya lagi seru," ucap Daffa.

“Kalau kamu butuh obat sakit perut, ibu ada kok," ucap Kinanti.

“Aku nggak butuh apapun dari kamu!" desis Tiara lalu berjalan masuk ke dalam kamarnya. Kinanti hanya menghela nafas dengan sikap putri sambungnya itu.

Sesampainya di kamar, Tiara segera mengganti seragam sekolahnya.

Namun, saat hendak melepas rok, wajahnya langsung memucat.

"Aduh..."

Ia menatap celana dalamnya dengan panik. Darah haid ternyata sudah merembes dan menembus lapisan pembalut yang dipakainya sejak siang.

"Beneran tembus."

Tiara memejamkan mata sejenak.

"Gimana ini?"

Ia mulai mondar-mandir di dalam kamar. Darah haid masih terus keluar sementara ia tak memiliki persediaan pembalut. Kalau tidak segera diganti, darah itu bisa menembus pakaian yang lain.

Namun keluar rumah adalah hal yang ingin ia hindari saat ini.

Meminta bantuan Kinanti?

Tidak mungkin. Tiara langsung menggeleng keras. Lebih baik mencari cara lain. Dengan hati-hati, ia membuka sedikit pintu kamarnya.

Dari celah pintu, terlihat Daffa masih asyik menonton kartun di ruang tengah. Sementara Kinanti entah berada di mana.

Saat itulah suara pintu depan terdengar terbuka. Yudha baru pulang sekolah. Mata Tiara langsung berbinar.

"Mas! Mas!"

Yudha yang baru saja meletakkan tas menoleh.

"Apa?"

Tiara melirik ke kanan dan kiri untuk memastikan tidak ada orang lain yang mendengar.

"Ke sini bentar."

Dengan wajah bingung, Yudha mendekat.

"Ada apa sih?"

Tiara menunduk malu.

"Ehm... beliin aku pembalut."

"Apa?"

"Pembalut."

"Ikat rambut?"

"Bukan!" desis Tiara. "Pembalut."

Yudha langsung membelalakkan mata.

"Hah?!"

Wajahnya seketika berubah merah.

"Kamu nyuruh aku beli pembalut?"

Tiara mengangguk cepat.

"Mas, tolong, ya."

"Nggak mau!"

"Mas...pliisss"

"Nggak mau ah! Aku malu!"

"Ini sudah hampir tembus. Pliis …tolongin aku.”

Yudha langsung memalingkan wajah.

"Masa aku disuruh beli pembalut?!”

Tiara mendengus kesal.

"Terus aku harus gimana?"

Belum sempat Yudha menjawab, sebuah suara terdengar dari arah belakang.

"Tiara, kamu butuh pembalut?"

Keduanya menoleh bersamaan.

Kinanti berdiri beberapa langkah dari mereka. Entah sejak kapan perempuan itu berada di sana. Wajah Tiara langsung menegang.

Ia tidak mengangguk, tidak juga menggeleng. Namun ekspresinya sudah cukup untuk menjelaskan semuanya.

Kinanti tersenyum lembut.

"Kebetulan Ibu punya persediaan."

Yudha yang merasa canggung buru-buru masuk ke kamarnya sendiri.

Tak lama kemudian, Kinanti kembali dengan membawa satu bungkus pembalut yang masih baru.

Ia menyodorkannya kepada Tiara.

"Pakai saja."

Tiara menatap benda itu beberapa detik. Harga dirinya masih berusaha menolak. Namun keadaan memaksanya untuk menerima.

"Kalau perutmu masih sakit, Ibu juga punya obat pereda nyeri haid," lanjut Kinanti.

Tiara tetap diam.

Kinanti selalu seperti ini. Tidak membalas saat disakiti,tidak marah saat ditolak. Dan sekarang malah menolongnya.

Perlahan, Tiara meraih bungkus pembalut itu. Tanpa mengucapkan terima kasih, ia segera masuk ke dalam kamar lalu menutup pintu.

Pintu tertutup rapat. Namun Kinanti tidak tersinggung. Ia justru tersenyum tipis. Mungkin Tiara masih belum bisa menerimanya. Mungkin jalan menuju hati gadis itu masih panjang. Tetapi setidaknya, hari ini ia berhasil membantu Tiara pada saat yang benar-benar dibutuhkan. Dan bagi Kinanti, itu sudah lebih dari cukup.

1
partini
marah" Mulu tensi tinggi gampang Kena stroke
My_Sunshine: wkkkk. umur segitu kan lagi lucu-lucunya kak😄
total 1 replies
Agunk Setyawan
ibu egois
partini
ozi boleh bikin mereka mikir tapi jangan kriminal juga
Mahesa hemmmm ada something ini
Ifana
Aku padamu pak 👍 seolah Tiara pelaku kriminal pdhl dia korban kejahatan
partini
sekolah apan itu ,,berengsek sekali
Ifana
tau gtu bikin tu nenek lampir sekarat aja thor ini udh ditolongin tp gk tau terima kasih
partini
kalau sekarat baru lah dia sadar ,,aihh Thor kasih lagi lah yg instan juga lebih parah lagi macam stroke bibirnya gitu Biar ga nyrocos jahar
My_Sunshine: iya kak... nanti dapat karma kok dia😄
total 1 replies
partini
keren Thor karma instan semua 👍👍👍
My_Sunshine
Iya, Kak. Nanti aku bakalan bikin panjang ceritanya kalau banyak yang setia ngikutin 🤗
partini
biasanya kalau minta jangn tumbuh malah tumbuh kuat pula si jabang bayinya,
partini
gantian Yudha Thor
partini
maaf terlambat Tiara yg sangat berharga bagi wanita ya itu kehormatan mu tekah si renggut pasti trauma Shok berat merasa kotor dan satu lagi semoga dapat jodoh yg menarima kamu tulus so sad
partini
wow
Agunk Setyawan
enak Tiara jadi anak sombong blagu ya ini balasan lebih sakit kan
partini
jangan di di unboxing Thor ,,itu nanti trauma bisa gila di lecehkan saja udah bikin trauma apa lagi dengan bobol kejem sekaleeeeee harusnya Yogha yg paling parah ini kan ide dia
Agunk Setyawan
ben kapok tu si Tiara blagu amat Yudha juga Ben kapok
partini
ngeri di perkaos kah
Nelita Nopitasari
ih gilaaa nggk ada rasa bersalahnya bocah setan
partini
selamat yah berhasil rencana nya,, tapi kita lihat kedepan nya akan seperti apa
partini
masuk ke pondok pesantren aja lah pak biar. berjauhan dari ortu biar mikir mereka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!