membalas dendam atas kematian keluarga dari seorang penghianat.
bercerita tentang Kenzie Laurent dan Reinzie Laurent yang telah menjadi yatim piatu, dua sosok saudara yang memiliki sifat yang berbanding terbalik Kenzie memiliki selera humor yang teramat konyol dan santai sedangkan Reinzie memiliki sifat normal dan sangat serius.
mereka berdua melakukan petualangan di dunia. Kaka beradik ini ingin membalas nyawa pada seorang penghianat yang telah membunuh orang tua mereka.
dan keduanya diseguhkan oleh petualangan yang mengubah takdir dari yang konyol menjadi sosok yang sangat di hargai serta di agungkan dan yang satunya akan menjadi seorang pendekar hebat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanLan.CNL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 5
... 5: SISI LAIN ARVENDEL...
...****************...
Malam telah mencapai puncaknya. Kini gubuk telah selesai terbangun dengan sempurna, sekarang ini Kedua orang itu merasa lelah yang dibalut kantuk yang berat akhirnya menuntut haknya. mereka masuk di dalam gubuk kayu yang baru dibangun
Setelah beberapa menit kini Kenzie telah lama terlelap melepaskan penat dan lelah setelah ditipu sang guru menyeret batang pohon raksasa.
Namun, di ruang tengah gubuk, Arvendel sama sekali tidak tidur.
Pendekar agung itu hanya duduk bersila di atas lantai kayu yang dingin, menatap kosong ke arah cangkir berisi seduhan minuman arak legendaris di tangannya.
"Hari yang sangat hampa dan kurang menyenangkan... Seandainya rencanaku telah selesai sepenuhnya, kemungkinan hari-hari membosankan seperti ini tidak akan pernah ada dalam sejarah dalam hidupku," gumam Arvendel lirih sembari melemparkan pandangan keluar jendela yang memperlihatkan kegelapan langit.
Ia mengalihkan tatapannya, melirik dingin ke arah pintu kamar Kenzie yang tertutup rapat. "Aku harus segera menempa anak itu. Membuatnya tumbuh menjadi cukup kuat untuk memburu dan membasmi serpihan roh Zatrah Dvareht yang terpecah di empat benua."
Malam itu, Arvendel benar-benar tidak tenang. Pikirannya berkecamuk dan rasa kantuk menolak untuk menjemputnya. Demi mengusir rasa bosan yang menggerogoti warasnya, ia terus-menerus meneguk minuman dari guci magisnya yang seolah tidak kunjung habis.
Arvendel tampaknya berniat terus minum seperti itu hingga matahari terbit dari ufuk timur sekaligus, murni hanya karena ia tidak tahu harus berbuat apa lagi di tengah malam yang sunyi.
...----------------...
Beberapa jam berlalu, fajar pun menyingsing mengusir kegelapan malam. Dan benar saja, Arvendel masih duduk di posisi yang persis sama di tempat, dan ia terlihat kembali meneguk minumannya dengan ritme yang konstan.
Ketika Kenzie membuka pintu kamarnya di pagi hari, pemandangan pertama yang menyambutnya adalah sang Guru yang masih bersila dengan santai. Sikap acuh tak acuh dan ketidakpedulian Arvendel tetap sama persis seperti malam sebelumnya. Yang membuat Kenzie tambah heran adalah penampilan gurunya sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kelelahan atau mengantuk.
Bahkan yang dirasa semakin aneh oleh Kenzie adalah isi guci minuman di samping Arvendel; guci itu tetap penuh, tampak anggun dan sama sekali tidak berkurang seolah belum pernah disentuh sejak pertama kali dikeluarkan. Padahal Kenzie tahu betul gurunya sudah minum dari guci itu semalaman penuh tanpa adanya jeda.
"Master..." Kenzie memberanikan diri bertanya, menatap takjub sekaligus heran. "Apakah... tidak aneh bagi Anda minum semalaman tanpa henti, bahkan tanpa tidur sedikit pun hingga menjelang pagi?"
Arvendel menurunkan cangkirnya perlahan. Dengan mata yang terpejam menutup diri gaya khasnya yang selalu tampak tenang dan misterius—ia menjawab datar, "Kamu masih kecil. Mana paham dengan kebiasaan dan cara hidup seorang pria dewasa."
"Ah, sebelumnya maafkan kelancanganku, master," Kenzie menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, masih merasa sangat penasaran. "Tapi aku ingin tahu... apakah Anda benar-benar tidak membutuhkan istirahat seperti manusia pada umumnya?"
Uhuk! Uhuk!... Pertanyaan Kenzie yang terlampau jujur dan frontal itu telah menghantam pertahanan Arvendel. Sang Pendekar tersedak minumannya sendiri hingga terbatuk-batuk kecil. Kedok karismatiknya hampir saja runtuh.
"Uhuk... Apa yang kamu tahu tentang dunia orang dewasa, hah?!" Arvendel buru-buru menguasai diri, memasang kembali ekspresi santainya sambil mempertahankan tampilan menutup mata. "Lihat baik-baik. Seperti inilah seorang pria dewasa sejati menjalani hidupnya dengan keteguhan batin. Apa kamu mengerti? Sekarang, jangan banyak tanya dan cepat lakukan sesuatu!"
"Baik, master... Kalau begitu, apa yang harus kulakukan di hari pertama latihanku ini?" tanya Kenzie antusias.
"Pergilah ke luar. Lakukan pemanasan di halaman."
"Baik, master. sesuai arahan aku segera pergi sekarang!" Kenzie membungkuk hormat lalu melangkah tegap keluar gubuk.
Tepat setelah pintu gubuk tertutup dan Kenzie dipastikan menghilang dari pandangan, Arvendel langsung membuka matanya lebar-lebar.
Seketika itu juga, citra pendekar agung yang berwibawa lenyap. Bola mata Arvendel tampak merah padam karena iritasi menahan kantuk. Lekuk di sekitar matanya berubah menjadi sangat berat dan layu, persis seperti orang yang dipaksa begadang tiga hari tiga malam.
Bocah sialan itu... Apakah dia benar-benar berpikir aku ini sejenis monster atau dewa yang tidak butuh tidur?! Berani sekali dia menanyakan keanehan itu tepat di depan wajahku! Apakah aku terlihat sekosong dan seaneh itu?! jerit Arvendel frustrasi di dalam benaknya.
Kalau saja semalam jiwaku bisa tenang dan tidur dengan nyenyak, aku pasti akan memilih mendengkur di atas kasur daripada harus kembung meminum cairan ini sampai pagi! Arvendel mendesis jengkel, meratapi harga dirinya yang terluka akibat gengsi.
Tatapan matanya mendadak berubah menjadi sangat kejam saat melihat ke arah pintu. "Bocah... tunggu dan nikmati saja apa yang akan menjumpaimu di luar sana. Sebentar lagi, aku akan menyiksamu habis-habisan dengan latihan paling tidak manusiawi," gumam Arvendel dengan senyum siasat licik yang terukir jelas di bibirnya.
Arvendel mencoba bangkit dari posisi duduk bersilanya. Namun, begitu ia meluruskan kakinya, seluruh persendian dan otot di tubuhnya mendadak kaku dan kram hebat. Karena semalaman penuh ia hanya duduk diam membatu sembari memegang cangkir, aliran darahnya sempat tersumbat dan tubuhnya terasa mati rasa.
"Agh!..." Arvendel meringis pelan tanpa suara. Ia mulai meregangkan otot-otot tubuhnya yang kaku. Setelah melakukan beberapa gerakan pemanasan kecil, ia menekuk tubuhnya ke depan sembari menarik napas dalam-dalam.
Fuuuuuh!.. Arvendel menghempaskan napasnya dengan satu sentakan yang teramat kencang. Embusan angin dari mulutnya bahkan terlihat berwarna kehitaman, membuang seluruh gas beracun dan sisa pembakaran energi yang mengendap di dalam dirinya akibat kelelahan batin dan mabuknya.
Seketika itu juga, kondisi fisik Arvendel kembali pulih ke bentuk prima. Matanya yang merah kembali jernih, dan auranya kembali terlihat megah seperti biasa.
"Ah... Hah... Segarnya," Arvendel meregangkan lehernya hingga berbunyi, krek... "Baiklah kalau begitu. Mari kita beri latihan 'ringan' pada bocah manja itu," seringai lebar penuh rencana jahat terukir di wajahnya saat ia melangkah keluar.
...----------------...
Di halaman luar yang berbatu, Kenzie sedang sibuk melakukan pemanasan tubuh demi menghindari terjadinya cedera otot saat berlatih nanti.
Pada saat ini arvendel keluar dari gubuk dengan gaya angkuh, bersiap untuk mengkritik atau menilai kedisiplinan muridnya. Namun, begitu matanya menangkap apa yang sedang dilakukan Kenzie, langkah kaki Arvendel mendadak terkunci di ambang pintu.
Ia disuguhi sebuah pemandangan yang sama sekali tidak pernah dilakukan oleh murid bela diri mana pun di seluruh dunia beladiri.
Kenzie memang sedang melakukan pemanasan tubuh. Namun, yang dilihat Arvendel bukanlah gerakan kuda-kuda atau peregangan fisik ala petarung, melainkan gerakan cacing tanah sembelit yang sangat lentur!
Di atas tanah yang berdebu, Kenzie dengan tingkat fokus yang luar biasa tinggi tengah menidurkan punggungnya, lalu menekuk pinggang dan mengangkat kakinya tinggi-tinggi melampaui kepala. Kenzie melakukan hal itu dengan sangat alami karena sudah terbiasa mengikuti instruksi ketat dari guru senam estetika istana Kekaisaran Laurent sejak kecil.
Melihat pangeran muda itu meliuk-liuk seperti cacing di atas tanah dalam balutan latihan bela diri, Arvendel seketika memukul jidatnya sendiri dengan keras sembari menggeleng-gelengkan kepalanya pasrah. Di mata seorang praktisi aliran keras seperti Arvendel, gerakan itu tampak luar biasa absurd dan tidak masuk akal.
Arvendel melangkah mendekat, lalu berdiri tepat di atas kepala Kenzie yang sedang terbalik. "Hei, Bocah... Apa-apaan ini! Apa yang sedang kamu lakukan di atas tanah itu?"
Kenzie menghentikan gerakannya, lalu mengembalikan posisi tubuhnya menjadi duduk. Ia mendongak dengan raut wajah yang luar biasa polos tanpa dosa. "Hah?!" wajah Kenzie mendongak heran, "Aku sedang melakukan pemanasan, Guru!"
Arvendel memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri. "Apa gerakan meliuk seperti itu yang kamu sebut dengan pemanasan?! Bagaimana bisa seorang calon pembela diri tingkat tinggi melakukan gerakan cacing sembelit seperti itu untuk bertarung?!" tegurnya dengan nada suara yang meninggi, sarat akan tekanan mental.
"Tapi aku!..."
"Hentikan kekonyolan ini sekarang juga! Lakukan pemanasan dengan benar!" potong Arvendel mutlak. "Sekarang, berdiri dan ikuti setiap gerakanku."
"Baik, Guru!"
"Perhatikan dan amati dengan seksama. Jangan sampai ada satu jengkal pun gerakan yang luput dari matamu," titah Arvendel.
Arvendel mulai mencontohkan gerakan peregangan yang sesungguhnya. Dimulai dari penarikan lengan tangan yang tegas, teknik berdiri seimbang dengan satu kaki untuk mengunci titik berat tubuh, hingga gerakan melompat tinggi lalu mendarat dengan posisi berjongkok penuh tenaga secara bertubi-tubi, sebuah gerakan squat jump versi ekstrem yang mengutamakan keseimbangan. Kenzie dengan patuh mengikuti setiap gerakan itu meskipun napasnya mulai memburu.
Setelah beberapa waktu menghabiskan energi hanya untuk pemanasan, Arvendel melangkah mundur, melipat kedua tangannya di dada sembari menatap lereng gunung yang terjal.
"Sekarang, saatnya latihan pertamamu," ucap Arvendel dingin. "Caranya sangat sederhana. Kamu hanya perlu berlari menaiki puncak gunung ini, lalu berlari turun kembali ke titik ini. Lakukan hal itu secara terus-menerus tanpa jeda sampai matahari tepat berada di atas kepala!" tunjuk arvendel kearah jalur gunung dan memberi keputusan
Arvendel menatap tajam mata Kenzie. "Ingat, jangan pernah berpikir untuk berhenti sedetik pun sebelum waktu yang kutentukan habis. Jika aku melihat kamu mencuri waktu untuk duduk, aku pastikan kamu tidak akan mendapatkan waktu istirahat dan makan siang!"
Perkataan Arvendel terdengar sangat kejam, lebih mirip sebuah hukuman berat daripada sebuah latihan dasar bagi anak usia lima belas tahun. Namun, Kenzie yang sudah membulatkan tekadnya sama sekali tidak melayangkan keluhan. Tidak ada satu pun bantahan yang keluar dari bibirnya.
"Baik, Guru! Akan kulakukan sekarang juga!" seru Kenzie patuh.
Kenzie membalikkan tubuhnya dan langsung melesat kencang, mulai mendaki jalur berbatu gunung yang terjal dengan sekuat tenaga.
Jika diperhatikan secara objektif, menu latihan yang diberikan Arvendel memang tampak seperti ajang balas dendam pribadi karena ia kesal karena pertanyaan Kenzie sebelumnya. Namun di balik sifat usil dan menyebalkannya itu, Arvendel sebenarnya telah memperhitungkan segalanya dengan sangat matang. Ia tahu, untuk membentuk fondasi tubuh yang mampu menampung teknik tingkat tinggi, Kenzie harus ditempa dengan cara yang ekstrim dalam kurun waktu enam sampai delapan tahun ke depan.
Sebab, latihan yang singkat dan instan tidak akan pernah memberikan hasil yang memuaskan. Di dunia ini, seorang murid bela diri sejati umumnya harus menghabiskan waktu minimal sepuluh tahun masa pelatihan sejak usia sepuluh atau dua belas tahun.
Mereka baru akan memanen hasilnya saat menginjak usia dua puluh atau dua puluh tiga tahun, sebuah usia emas di mana mereka siap mengembangkan kemampuan ke tingkatan yang jauh lebih tinggi lagi, hingga kehebatan mereka bertambah secara signifikan dan mampu mengguncang dunia beladiri.
...****************...
setiap bab yang kalian baca berikan tanggapan kalian agar author tau apa yang kurang dari novelnya /Grievance//Whimper//Whimper/
jadi ingat untuk memberi like yaa😄..