Mengetahui suaminya berselingkuh, Raina memilih tidak menangis. Baginya, pengkhianatan harus dibalas dengan cara yang sama.
Nyawa bayar nyawa. Selingkuh balas selingkuh.
Target balas dendamnya adalah Hadiraksa Gautama... suami dari Monica, wanita yang merebut rumah tangganya.
Raina mendekati Hadi yang selama ini dianggap pria gagal oleh istrinya sendiri: miskin, tak punya masa depan, dan hidup dari belas kasihan keluarga. Namun siapa sangka, di balik penampilan sederhananya, Hadi menyimpan identitas sebagai pengusaha muda kaya raya yang sengaja menyembunyikan status demi menguji cinta Monica.
Saat permainan balas dendam dimulai, perasaan ikut berubah.
Robby mulai menyesali perselingkuhannya. Monica panik setelah mengetahui pria yang ia buang ternyata jauh lebih berharga dari yang ia kejar.
Mereka ingin kembali pada pasangan masing-masing.
Tapi terlambat...
Karena dua hati yang awalnya dipersatukan oleh luka, perlahan berubah menjadi candu dan saling cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lama hilang
Pukul lima kurang sepuluh, Raina mendengar suara motor Robby masuk ke halaman.
Robby pulang.
Jam lima sore.
Raina menatap jam dinding di atas kompor sebentar, kemudian kembali menumis. Di otaknya ia mencatat: terakhir kali Robby pulang sebelum maghrib adalah tiga bulan lalu, sebelum semua ini mulai.
Pintu depan terbuka.
"Rain?" panggil Robby seperti kebiasaannya dulu.
"Di dapur!" sahut Raina.
Suara langkah mendekat. Robby muncul di ambang pintu dapur, kemeja kotak-kotak yang tadi pagi Raina lihat dari seberang jalan.
Raina tidak menoleh dari wajan. "Tumben."
"Apa?" Robby pura-pura tidak tahu atau mungkin benar-benar tidak tahu.
"Tumben pulang cepat." Raina mengaduk tumisannya. "Biasanya jam segini belum pulang karena lembur."
Robby bersandar di kusen pintu, memasukkan tangannya ke saku celana. "Hari ini kerjaan kelar lebih cepat. Kebetulan."Ia berhenti sebentar. "Kangen juga sama kamu di rumah."
Raina menoleh, hanya kepalanya, sedikit, dengan senyum yang ia keluarkan dari tempat penyimpanannya yang sudah semakin dalam. Senyum yang tipis, senyum yang malu-malu, senyum perempuan yang tersipu mendengar suaminya bilang kangen.
Tapi di dalam dadanya ada sesuatu yang berbeda... bukan hangat, tidak pernah lagi hangat untuk kalimat-kalimat seperti itu. Tapi perutnya tidak bergolak marah seperti tadi pagi.
"Ya sudah, makan malam sebentar lagi selesai," kata Raina, membalik kembali ke wajannya. "Ganti baju dulu sana."
Robby tidak langsung ke kamar.
Ia masuk ke dapur, berdiri di belakang Raina, dan sebelum Raina sempat bergerak... dua tangan melingkari pinggangnya dari belakang. Dagu Robby bertumpu ringan di bahunya.
Raina mematikan api kompor.
Bukan karena momen itu, tapi karena tumisannya memang sudah matang dan ia tidak ingin gosong.
"Kangen," kata Robby lagi, kali ini lebih pelan, langsung ke telinga Raina.
Raina menaruh spatula di pinggir wajan.
Dan kemudian ia menciumnya... tidak disengaja, tidak dicari, tapi hidung manusia tidak bisa diperintah untuk tidak bekerja. Dari kerah kemeja Robby, dari jarak sempit antara bahu suaminya dan sisi kepalanya, mengalir sesuatu yang manis dan floral dan bukan miliknya.
Parfum yang sama.
Sama persis dengan yang ia cium dari kemeja putih di keranjang cucian dua hari lalu.
Raina diam dua detik. Kemudian:
"Bau apa ini?" tanya Raina.
Pelukan Robby tidak langsung mengendur, ada jedanya, sedetik, sebelum ia menjawab. "Mana?"
"Di bajumu." Raina sedikit memundurkan kepalanya. "Wangi. Bukan parfummu."
"Oh." Robby melepaskan pelukannya... pelan, wajar, tidak terburu-buru tapi cukup cepat. Ia mundur setengah langkah. "Tadi waktu makan siang ada sales parfum di mal. Ditawarin tester, ya aku coba-coba aja. Nggak taunya nempel." Ia mengedikkan bahu. "Harum ya?"
Raina menatapnya sebentar.
Kemudian tersenyum. "Iya. Harum."
Makan malam berjalan seperti makan malam biasa. Robby makan dengan lahap.
Percakapan yang aman. Percakapan yang tidak perlu dijawab dengan jujur.
Raina mengamati Robby dari seberang meja makan... cara ia makan, cara ia mengunyah, cara matanya sesekali melirik ke ponsel yang ia taruh terbalik di samping piring. Seseorang yang berusaha terlihat hadir tapi setengah pikirannya ada di tempat lain.
Ia menunggu sampai Robby selesai makan dan meletakkan sendoknya sebelum bicara.
"Rob." Raina memanggil setelah ia selesai makan.
"Hm?" jawab Robby hanya dengan gumaman. Karena mulutnya penuh dengan satu suapan terakhir.
"Belakangan ini kamu nggak pernah minta."
Robby mendongak dari piringnya. "Minta apa?"
Raina menatapnya datar. Tapi terus mengamati setiap reaksi yang ditimbulkan oleh suaminya. "Minta jatah."
Hening.
Bukan hening biasa. Matanya berkedip sekali. Bahunya sedikit menegang.
"Eh..." Robby meletakkan ponselnya pelan, terlalu hati-hati untuk gerakan yang seharusnya kasual. "Kenapa tiba-tiba nanya itu?"
"Karena biasanya dua hari aja kamu sudah uring-uringan." Raina menopang dagunya dengan satu tangan, santai. "Ini sudah berminggu-minggu. Aku jadi kepikiran."
Robby meraih gelas air putih di depannya. Minum satu tegukan panjang, seperti seseorang yang butuh waktu sebentar sebelum menjawab.
"Capek aja belakangan ini." Ia meletakkan gelasnya. "Kerjaan lagi banyak. Pulang udah ngantuk. Bukan apa-apa."
"Oh." Raina mengangguk. Pura-pura percaya padahal ia sudah tahu semuanya.
"Kenapa, kamu yang kangen?" Robby tersenyum, senyum yang dulu mungkin bisa membuat Raina kemerahan, senyum yang sekarang terasa seperti topeng di atas topeng.
"Nggak juga," jawab Raina ringan. "Cuma nanya aja."
Robby berdiri dari kursinya tiba-tiba, tanpa menunggu sahutan atau menunggu momen percakapan itu selesai dengan wajar. "Ya sudah, aku mandi dulu. Capek."
"Iya, sana."
Langkah Robby ke lorong kamar terdengar lebih cepat dari biasanya.
Raina duduk sendirian di meja makan yang masih berantakan.
Piring kotor. Gelas setengah isi. Sisa nasi di centong yang sudah mengering di pinggirannya.
Ia meraih kain lap di samping kompor, kain lap untuk mengelap meja, untuk mengelap tumpahan, untuk hal-hal kecil sehari-hari. Ia mengelap tangannya sendiri dengan kain itu, pelan, seperti membersihkan sesuatu yang tidak kasat mata. Bagian tangannya yang tadi sempat menyentuh lengan Robby saat mengambil piring... hanya sebentar, hanya tidak sengaja.
Tapi cukup untuk membuat kulitnya merasa perlu dibersihkan.
Raina melipat kain lap itu, meletakkannya kembali.
Di lorong kamar, suara air shower mulai mengalir.
Raina menatap ke arah sana, ke arah pintu kamar yang tertutup, ke arah suara air yang terdengar seperti seseorang yang sedang menghapus sesuatu... dan satu sisi bibirnya naik, bukan senyum tapi sesuatu yang lebih dekat ke senyum sinis yang tidak pernah ia tahu bisa ia buat sebelumnya.
"Capek karena kerjaan," katanya pelan... hanya untuk dirinya sendiri, hanya untuk dinding dapur yang sudah mendengar terlalu banyak hari ini. "Atau capek karena menggoyang istri tetangga?"
Kata-kata itu keluar lebih ringan dari yang ia sangka.
Tidak ada panas di dalamnya. Tidak ada getaran.
Hanya fakta yang diucapkan dengan nada yang salah, dan entah kenapa itu terasa lebih jujur dari semua kalimat yang keluar dari mulutnya sepanjang hari ini.
Raina mulai membereskan meja.
Mengangkat piring, memindahkan gelas, menyeka permukaan meja.
Ia pernah membayangkan momen ini. Ia pernah membayangkan dirinya akan menangis histeris, mungkin, menangis sampai tidak bisa berdiri, menangis yang membuktikan bahwa semua ini benar-benar menyakitinya.
Tapi yang terjadi adalah ini.
Ia membereskan meja makan. Tangannya tidak gemetar. Matanya kering. Di dadanya ada sesuatu yang berat tapi tidak meledak, seperti batu yang sudah lama tinggal di sana sampai tubuhnya belajar membawa beratnya.
Yang berubah bukan rasa sakitnya.
Yang berubah adalah pemahaman tentang sesuatu yang sudah lama ada tapi tidak pernah ia beri nama.
Raina berhenti di tengah meja, tangan masih memegang piring kotor, menatap kursi di seberang... kursi tempat Robby duduk tadi, kursi yang sudah menampung bertahun-tahun makan malam bersama, bertahun-tahun obrolan tentang hal-hal kecil yang terasa seperti keintiman tapi mungkin tidak pernah benar-benar itu.
Kapan terakhir kali ia benar-benar mengenal suaminya?
Bukan mengenal rutinitas, bukan mengenal kebiasaan, bukan mengenal cara ia makan atau cara ia tidur atau cara ia marah. Tapi mengenal... benar-benar tahu siapa yang ada di balik semua itu.
Raina tidak bisa mengingat.
Dan yang lebih mengejutkan dari semua yang terjadi hari ini...
Bahwa ia tidak bisa mengingat, dan itu tidak terasa seperti kehilangan baru.
Itu terasa seperti sesuatu yang sudah lama hilang, yang baru hari ini ia sadari sudah tidak ada.
Robby dan Monica mungkin akan kacau, karena Monika tahunya hanya menahan uang