NovelToon NovelToon
Silent Serenade

Silent Serenade

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Dark Romance / Mafia / Identitas Tersembunyi
Popularitas:620
Nilai: 5
Nama Author: roster espe

Langit sore terlihat terlalu tenang untuk hari yang seharusnya dilupakan.
Jarinya membeku sesaat.
“Kalau mereka mulai menghubungimu langsung, berarti kita sudah terlambat.”
Dan mungkin memang sudah terlambat.
Di tempat lain, Han duduk di dalam mobil gelap, membongkar pistol dengan gerakan yang terlalu tenang untuk seseorang yang sedang diburu. Ponselnya bergetar.
48 jam!
Tidak ada nama. Tidak perlu.
Ia menatap kota di balik kaca depan. Lampu-lampu kota menyala seperti jebakan yang sengaja dibuat indah.
“Aku mau kamu ingat.”
Suara itu masih tertinggal di kepalanya.
Mereka tahu kebiasaannya. Pesanan kopinya. Jalur pulangnya. Bahkan ketakutan yang tidak pernah ia ucapkan.
“Kalau aku mundur sekarang, apa yang akan terjadi?”
“Mereka akan tetap datang.”
Karena sejak pesan pertama dikirim, semuanya sudah bergerak ke arah yang sama.
Dan beberapa pertemuan, tidak pernah dimaksudkan untuk menyelamatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roster espe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 5

Apartemen kecil itu semakin terasa sempit setelah percakapan tadi. Nara terdiam di sofa dengan pikiran kacau, sementara Arga mondar-mandir di depan meja komputer sambil mengacak rambutnya sendiri.

“Gue tahu malam ini bakal jelek,” gumamnya. “Tapi gue nggak nyangka bakal sampai level organisasi bayangan segala.”

Han berdiri dekat jendela, masih mengamati jalanan. Kebiasaan yang terasah cukup lama. Ia memastikan tidak ada orang yang berhenti terlalu lama. Tidak ada mobil asing yang lewat dua kali. Tidak ada bayangan yang mungkin salah posisi.

Nara memperhatikannya, pria itu hampir tidak bergerak. Persis seperti patung yang dipasang untuk berjaga-jaga.

“Apa mereka bakal datang ke sini?” tanyanya pelan.

Han tidak langsung menjawab.

“Mungkin.”

“Kalau begitu kenapa kita masih di sini?!”

“Karena kalau keluar sekarang, akan lebih berbahaya.”

Nara mengusap wajahnya dengan frustrasi. Semua jawaban Han selalu terdengar seperti pilihan buruk dari dua kemungkinan terburuk. Arga akhirnya berhenti mondar-mandir lalu duduk di depan komputernya.

“Oke. Gue akan coba cek sesuatu.”

Jarinya bergerak cepat di keyboard. Monitor tua itu memantulkan cahaya kebiruan ke wajahnya.

Nara menatap layar penuh angka dan folder yang tidak ia pahami.

“Kamu hacker?” tanya Nara.

Arga mendengus, “…gue lebih suka istilah ‘orang yang penasaran dengan internet’.”

“Dia pengangguran,” kata Han datar sambil tersenyum tipis.

“Diem lu!.”

Untuk pertama kalinya malam itu, suasana terasa sedikit normal. Arga membuka beberapa halaman dengan cepat,  lalu raut wajahnya berubah pelan.

“Hmm.”

Han langsung menoleh, “…kamu menemukan apa?”

“Solara Foundation.” Arga memperbesar tampilan layarnya. “Perusahaan ini bersih banget.”

“Bukannya itu bagus?” tanya Nara.

“Nggak ada perusahaan yang terlalu bersih,” jawab Arga cepat. “Apalagi untuk ukuran perusahaan besar,” sambil menujuk ke layar monitor

“Donasi social, rumah sakit, beasiswa, bantuan bencana.” Arga mendecakkan lidah. “Pencitraan kelas malaikat ini sih.”

Han berjalan mendekati Arga, “Ada koneksinya?”

“Masih nyari,” sahut Arga santai.

Arga membuka halaman lainnya. Ada beberapa nama yang muncul di layar. Direktur, investor,  yayasan partner. Lalu ia berhenti.

“Eh.”

Han menyipitkan matanya menatap layar yang di tunjuk Arga.

“Apa?”

Arga mengetuk monitornya pelan.

“Nama ini muncul lagi.”

“Siapa?”

Arga menoleh perlahan.

“Leonard Vey.”

Ruangan mendadak terasa sunyi. Nara melihat perubahan kecil di wajah Han tapi cukup jelas terlihat.

“Kamu kenal?” tanyanya.

Han tidak langsung menjawabnya tapi Arga justru lebih dulu bicara.

“Kalau benar Leonard Vey masih aktif…” Ia tertawa pendek tanpa humor. “Kita benar-benar masuk masalah.”

Nara mulai benci kalimat seperti itu.

“Bisa nggak kalian jelasin tanpa bikin aku makin bingung?”

Han menatap layar komputer beberapa detik sebelum akhirnya bicara.

“Leonard Vey bukan orang yang sering muncul di publik.”

“Dia mafia?”

“Lebih buruk,” gumam Arga.

Nara menunggu. Han menarik kursi lalu duduk dengan pelan.

“Beberapa tahun lalu,” katanya, “ada rumor tentang seseorang yang mengatur perekrutan aset untuk Helios.”

“Aset?” ulang Nara.

Han menatapnya sebentar.

“Orang.”

Nara diam. Ia mulai mengerti arah pembicaraan ini… dan ia tidak menyukainya.

“Anak jalanan, mantan tentara, orang hilang, orang yang dianggap nggak penting.” Han berbicara tenang, tapi terdengar lebih dingin dari biasanya. “Mereka dipilih, dilatih, lalu dipakai.”

Arga melirik Han, dan Nara menangkap tatapan itu, ada sesuatu yang terasa mengganjal. Perlahan ia menatap Han, “…kamu salah satunya ya?”

Han tidak menjawab. Dan itu sudah cukup, membuat napas Nara tertahan sesaat. Entah kenapa, mendengar langsung jauh lebih berat dibanding sekadar menduga.

“Kamu serius?”

Han tetap diam beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk kecil.

“Aku keluar.”

“Keluar?” Arga mendengus kecil. “Mereka nggak punya sistem resign, Han.”

Han mengabaikan ocehan Arga. Ia hanya diam saja.

Nara terdiam, otaknya mencoba memproses semuanya. Pria yang duduk di depannya, tenang, dingin, sulit ditebak yang dibentuk oleh organisasi yang saat ini sedang mengejarnya. Dan malam ini, pria itu juga datang untuk membunuhnya. Seharusnya Nara takut atau mungkin ia memang takut. Tapi yang lebih besar malah rasa tidak percaya.

“Kenapa kamu nolong aku?” tanyanya pelan.

Pertanyaan itu membuat ruangan hening lagi. Han terlihat berpikir cukup lama sebelum menjawab.

“Aku nggak tahu.”

Nara mengernyit. “Itu bukan jawaban.”

“Itu jawaban jujur.”

Arga bersandar di kursinya sambil menghela napas.

“Romantis sekali. Pembunuh bayaran sedang krisis identitas.”

“Diam.”

“Gue cuma bantu biar suasana nggak depresi.”

Nara hampir tersenyum kecil sebelum akhirnya sadar situasi mereka tetap buruk.

Mata Arga kembali fokus ke layar monitor, “Tunggu.”

Han langsung menoleh, “…ada apa lagi?”

Arga memperbesar salah satu halaman dengan cepat.

“Kayaknya kita telat.”

Detak jantung Nara terasa menurun.

“Apa?”

Arga memutar monitornya sedikit ke arah mereka. Sebuah berita lokal muncul. Judulnya cukup jelas terbaca.

KEBAKARAN DI GEDUNG ARSIP DIGITAL — SATU RUANG SERVER RUSAK BERAT

Nara langsung berdiri.

“Itu kantorku.”

Han membaca dengan cepat isi berita. Kebakaran terjadi sekitar satu jam lalu. Penyebab masih diselidiki. Tapi Han tidak perlu penyelidikan untuk tahu. Semua terlalu bertepatan waktunya.

“Mereka sedang membersihkan jejak,” katanya pelan.

Nara menatap layar dengan wajah pucat.

“Itu gara-gara aku?”

“Bukan.” Han berdiri perlahan. “Cepat atau lambat, mereka pasti akan melakukannya.”

“Tapi…”

Ponsel Nara tiba-tiba bergetar. Semua langsung terdiam. Nomor tidak dikenal yang menelpon. Nara menatap Han dengan wajah gugup. Han mengulurkan tangannya, menyentuh pundak Nara.

“Jangan angkat dulu.”

Ponsel itu terus bergetar, lalu berhenti dengan sendirinya. Ada pesan masuk sesaat kemudian. Hanya satu kalimat.

Kami hanya ingin berbicara.

Arga tertawa pendek, lalu meringis. “Nah lho…biasanya habis kalimat itu, targetnya pasti hilang.”

Nara menatap layar dengan tangan yang berkeringat dingin. Lalu ada pesan kedua yang masuk.

Kami tahu kau bersama Han.

1
roster espe
💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!