NovelToon NovelToon
Cinta Tanpa Merek

Cinta Tanpa Merek

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan
Popularitas:19.4k
Nilai: 5
Nama Author: Net Profit

Hidup yang dijalaninya mungkin impian semua orang, tapi nyatanya bagi Ziano terasa membosankan. Hal itu membawanya pergi tanpa tujuan, berharap bisa hidup seperti orang lain. Alih-alih bahagia, dunianya malah jungkir balik terjungkal bahkan guling-guling karena bertemu Ara, gadis yang membuat hidupnya berubah total.

"Gue nggak mau makan beginian, bisa mati." Graziano Argantara Rahardian.

"Ya udah kalo gitu Aa mati aja, tinggal makan kok ribet." Elara Seraphi Nareswari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Net Profit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penipu

Tomat sudah tertata di keranjang, aneka sayur berjajar di barisan paling depan. Dari mulai kangkung, kacang panjang, pakis, sawi, wortel dan sayuran lain yang tak Ziano hafal. Barisan kedua diisi cabe rawit, bawang merah, bawang putih dan anek bumbu lain. Kini tugasnya beralih ke bagian timbang-menimbang. Ziano menghempaskan tangan berulang kali di depan wajah ketika satu karung tepung dibuka,butiran putih itu menyebar kemana-mana.

"Nggak gitu caranya Nono!" Teriak Abah Dikun yang sedang membereskan kardus-kardus bekas untuk di jual kembali saat tak sengaja melihat bagaimana cara Ziano membuka karung terigu.

Abah Dikun menghampirinya, "kalo kayak gini karungnya jadi kurang bagus."

"Aki, hoyong cengek saparapat." (Bah, beli cabe rawit seperempat) beruntung kedatangan konsumen menyelamatkan Ziano dari ceramah panjang lebar Abah Dikun. Sudah tak terhitung entah berapa kali dirinya menerima omelan pagi ini. Seolah semua yang dilakukannya tak pernah benar di mata aki-aki tua itu.

"Karyawan anyar, Ki?" (karyawan baru, Kek?) tanya salah seorang pembeli.

"Meuni kasep budak teh." (Ganteng banget orangnya) lanjutnya.

"Kasep tapi teu bisa gawe." (ganteng tapi nggak bisa kerja) jawab Aki Dikun.

"Dipapatahan atuh Ki teu bisaeun mah." (diajarin kalo nggak bisa)

"Geus tapi hese, teu bisa-bisa lah. Tuh tingal ngiloan tipung tarigu oge leuwih teuing diantep wae." (Udah diajaran tapi nggak bisa-bisa. Lihat tuh nimbangin tepung terigu lebih juga dibiarin)

"Teu jadi bati kieu carana mah." (nggak jadi untung kalo kayak gini caranya)

Aki Dikun menghampiri Ziano, "biar aki aja yang nimbang nanti, kamu beresin kardus di depan aja."

"Siap, Ki." balas Ziano.

Ziano melangkah keluar, mengambil satu persatu kardus. Membuka lakban yang menempel hinggal kardus-kardus itu bisa dilipat. Setidaknya pekerjaan ini lebih mudah dari pada nimbang tepung terigu. Sinar matahari yang mulai naik membuat Ziano menyeka keringat di keningnya, "kok gue berasa jadi tukang rongsok kayak gini sih." batinnya.

"Semangat damelna kasep." (semangat kerjanya ganteng) Ziano balas tersenyum ramah pada emak-emak yang baru saja keluar dari warung.

Warung dengan nama BERKAH SAYUR yang tertera di bawah plang bergambar salah satu merek rokok ternama itu menurut Ziano kurang cocok jika dibandingkan dengan isinya, karena warung si Aki lebih pantas disebut toserba. hampir semua kebutuhan sehari-hari ada di sana, tak hanya sayuran. Dari mulai persabunan, jajanan anak, kebutuhan dapur bahkan sampai bensin pun ada, minus pakaian aja yang nggak ada.

"Kasep ke beres damel mampir ka bumi bibi nya. Palih ditu..." (Ganteng, nanti selesai kerja mampir ke rumah bibi yah, sebelah sana) salah satu emak-emak yang baru saja selesai belanja menyapanya.

"Teu bisaeun sunda jigana bi Entin." (nggak bisa bahasa sunda kayaknya, bi Entin) sambung emak-emak yang lain.

"Mending main ke rumah bibi aja. Bibi punya anak perempuan cantik. Mau masak ayam juga nih." lanjutnya dengan bahasa indonesia sambil memamerkan ayam yang baru dibeli.

Ziano hanya tersenyum datar sambil terus melipat kardus.

"Naon atuh ibu-ibu geus rame wae isuk keneh." (Ada apa ibu-ibu udah rame aja sepagi ini) ucap Ambu Yayat yang baru nongol dari belakang.

"Ieu ambu, karyawan anyarna meuni kasep saur bi Entin hayang dijakeun mantu." (Karywan ambu ganteng banget, pengen dijadiin mantu sama bi Entin)

Ambu Yayat menyenggol lengan bi Entin, "teu kaop pisan ningal nu herang." (nggak bisa banget kalo lihat yang bening)

Setelah haha hihi nggak jelas para emak-emak yang menenteng kresek itu akhirnya bubar.

"Jangan dianggap serius emak-emak disini emang suka pada gitu." ucap Ambu Yayat.

"Iya, Ambu."

"Ambu udah selesai masak, Nono sarapan dulu sana sama Abah. Biar Ambu yang jaga warung sama Uci. Bentar lagi juga Yudi datang." ucap Ambu.

"Iya, Ambu." lagi-lagi hanya kata itu yang keluar dari bibir Ziano. Untung saja Ambu datang, kalo tidak pasti Aki Dikun akan langsung memberinya pekerjaan yang lain. Seumur hidupnya baru kali dia bekerja sebelum sarapan, mana baru jam 7 pula, tapi peluhnya sudah bercucuran.

"Hayu No, sasarap heula!" (ayo No, sarapan dulu) ajak Aki Dikun.

Ziano mengikuti Aki Dikun menuju rumah yang ada di belakang warung. Ia dibuat heran begitu masuk ke dalam rumah. Ruang tamunya hanya ada kursi dan meja jadul sisanya kosong, padahal areanya lumayan luas. Ada dua tiang besar di tengah-tengah rumah, aneh. Dan lebih aneh lagi saat ia menengadah, tak ada langit-langit, genteng langsung terekspos, bahkan ada bendera merah putih melingkar di salah satu kayu penyangganya.

"Bendera kok di langit-langit kayak zaman penjajahan aja." gumam Ziano.

"Ngomong apa kamu?"

"Nggak, Ki. Aku lagi ngamatin aja, rumah Aki unik." elaknya.

"Kenapa? nggak sebagus rumah kamu?"

Ziano mengangguk, "tapi ruang tamunya luas, mirip ukuran kamar aku."

Aki Dikun hanya tersenyum tak percaya, "udahan ngarangnya. Makan dulu." Aki memberikan piring.

Begitu tudung saji dibuka, Ziano menghela nafas panjang. "Katanya udah masak? tapi sayur yang di depannya ini sama persis dengan sayur yang semalam mereka buka di kereta." batinnya.

"Malah bengong! sini Aki ambilin! nggak usah sungkan." Dengan cepat Aki Dikun mengisi piring Ziano dengan nasi, tempe goreng dan ikan asin serta sedikit sambel terasi, tak lupa jengkol goreng juga diletakan disana.

"Jangan malu-malu, di makan. Kamu udah kerja dari tadi cape. Cepet makan, masih banyak kerjaan yang harus kita selesein." lanjutnya.

Meskipun lapar tapi makanan di depannya sama sekali tak menggungah selera Ziano. "Aki, aku boleh minta tolong nggak?"

"Apa?" jawab Aki namun tetap fokus menyantap sarapannya.

"Aku boleh pinjam uang nggak, Ki? dua juta aja buat beli tiket kereta pulang. Nanti langsung aku ganti sepuluh kali lipat deh."

Uhuk! Aki Dikun tersedak mendengarnya. Ziano dengan sigap menyodorkan gelas besar berisi teh tawar hangat.

"Mau ganti berapa lipat kamu?"

"Sepuluh, Aki. Kalo kurang aku ganti dua puluh kali lipat juga nggak apa-apa Aki. Yang penting aku bisa pulang."

Ziano bengong melihat Aki yang justru terbahak.

"Gimana Ki? bisa nggak?"

Aki Dikun meneguk teh hangatnya hingga tandas, kemudian pergi ke arah wastafel untuk mencuci tangan.

"Aki, bisa nggak?"

Aki Dikun berhenti di belakang Ziano yang belum menyentuh makanannya sama sekali. "Kamu mendingan abisin sarapannya dulu."

"Kamu ini masih muda, Aki nolong kamu karena kasihan. Masa kamu malah mau nipu Aki dua juta?" lanjutnya.

Ziano terperangah, "aku nggak nipu Aki. Aku bener-bener bakal balikin. Kalo Aki nggak percaya, aku pinjam HP Aki aja buat telpon orang tua aku. Mereka bisa transfer sekarang juga malahan."

"Keluarga aku aja punya bank, Ki. Masa aki malah nuduh aku penipu." jelas Ziano panjang lebar. Rasanya ia tak siap jika harus bak bik buk tiap hari, baru sekali aja tubuhnya sudah berasa remuk.

Aki Dikun menggelengkan kepala sembari menepuk bahu Ziano, kali ini lebih keras. "Kalo keluarga kamu punya bank, kamu nggak akan kayak sekarang."

"Habisin sarapannya, Aki tunggu di depan. Kerja sama Aki nanti Aki gaji kamu, jangan nipu!" lanjutnya seraya beranjak pergi.

Huh! Ziano menghembuskan nafas kasar. "Udah jadi kuli, sekarang malah dibilang penipu."

"Astaga, hancur banget harga diri gue." ucapnya lirih.

1
Rita
diihhh licik
Rita
🤣🤣🤣🤣🤣
Rita
ngga kebalik😂
Shee_👚
kamu yang punya perasaan dan merasa tersaingi kenapa harus bikin masalah dengan orang yang tak tau tentang perasaanmu. kalau kamu laki² tunjukin kamu itu lagi² tulen😏
Shee_👚: bisa jadi kak, gak laki² banget kelakuannya.
bilang gitu sama nono kalau dia suka ara, toh nono blm enggeh kalau udah terpesona
total 2 replies
Shee_👚
udah mau minggu🤔🤔

ini gimana kak?🙏
Shee_👚: di maklumi kak🤗
total 2 replies
Shee_👚
ck si marcel mulai ngedrama deh🙄
Shee_👚
meninggalkan jejak, jeli pasti langsung girang jingkrak²🤣🤣🤣
Shee_👚
di kira baju🤣🤣🤣🤣
Shee_👚
gak kangen katanya🤣🤣🤣
jeli gemes banget, kara plek keteplek🤣🤣
Shee_👚
tenang kak, aku setia nungguin🤭
Shee_👚
itu jaman kaka dulu SMP tidur depan tv yang biasanya tidur bareng mulai SMP di pisah karena dah besar
Shee_👚
bingung ya no🤭
titissusilo
idihhhhh jijay....blm tau sapa ziano...
Linda Ayu Tong-Tong
huh dasar jahat kamu cel..belum tau si razia itu anak horang kaya🤣🤣🤣
ryani yuliawati
ceritanya seru keren banget mksih ya thor tuk ceritanya 💜💜💜💜💜💜😘😘😘😘 suka karakter A ano & ara keselnya ama marcel
sikepang
cinta marcel ke ara buat dia gelap mata ne nama y😳
Esther
Siap2 saja kamu dibenci Ara kalau sampai dia tahu soal rencanamu Cel
RiriChiew🌺
ini nih yg gak disuka sama sifat Marcel tuh , yaa kalau suka Ara bilang bukannya membenci orang yg gak salah apa² . anehh bin repot
Febri Nayu
idihhh cemburu diaaa
diiih diih
Vike Kusumaningrum 💜
Jahat banget kamu Cel, masalah hati g ada yang bisa maksa euy. masih untung dibiarin ketemuan sm Ano g diaduin ke Aki, malah ngelunjak kamu.
Shee_👚: marcel dah di kasih susu malah balas tuba🙄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!