Medina Khaled, gadis cantik bermata Hazel dari Ghaza yang telah di adopsi oleh seorang dokter relawan bernama Yasmin Ameena, dan suaminya bernama Ardan Mahesa, memiliki putra tunggal Rendra Mahesa.
Dokter Yasmin menolong Medina di bawah reruntuhan bangunan. Gadis itu masih bisa di selamatkan.
Dokter Yasmin merasa iba pada Medina yang sebatang kara, ia membawa Medina pulang ke Indonesia dan menjadikan nya anak angkat.
Setelah dewasa, Medina menolak tawaran dokter Yasmin untuk melanjutkan studinya di Amerika menyusul Rendra yang sudah disana. Medina ingin bekerja, belajar mandiri. Dokter Yasmin tidak ingin kehilangan Medina. Akhirnya ia menyuruh Rendra untuk pulang, dan menikahi Medina. Mau tak mau, ke-duanya harus menuruti keinginan dokter Yasmin, walau Rendra sudah memiliki kekasih. Rendra menyayangi Medina, tapi ia punya selera di luar sana. Membuat Rendra bermain di belakang Medina.
Bagaimana kah kelanjutan Rumah Tangga nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosseroo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Rendra merebahkan tubuh Medina dengan lembut di atas ranjang. Perlahan, ia membuka hijab yang menutupi rambutnya. Semenjak menjadi istri, Medina memang sudah berani membuka hijabnya saat tidur bersama Rendra. Namun kini, giliran Rendra yang mencoba membuka penutup kepala wanita yang ada di hadapannya.
Tatapan tajam, namun lembut dan penuh kasih. Rendra menatap istrinya lekat, seolah ia akan menghafal setiap inchi garis wajah dan kulit tubuh sang istri. Rendra mengecup bibir Medina dengan lembut namun menuntut. Ia membuka perlahan kancing baju Medina satu persatu dan melemparkannya ke bawah ranjang.
Kecupan Rendra kini berubah menjadi hisapan, dan lumatan yang semakin bergairah. Rendra menggigit kecil bibir Medina agar terbuka sedikit, memberinya ruang masuk mengobrak-abrik di dalam sana. Desahan keluar tanpa bisa di tahan oleh Medina.
Rendra kembali melepas pengait bra milik Medina, 'klik' dan melemparnya lagi ke bawah. Rendra kembali mengendus dan menyesap leher jenjang Medina, hingga membuat beberapa tanda merah disana. Desahan kembali keluar dari mulut Medina.
Ciuman Rendra kembali turun, hingga di atas dada. Kedua tangan Medina sempat menutupi dua aset berharga nya, pipinya bersemu merah menahan malu.
"Jangan di tutupi sayang, ini sangat indah. Aku ingin merasakannya. " bisik Rendra di telinga, membuat tubuh Medina meremang.
Rendra menarik kedua tangan Medina di atas kepala, dan mencekalnya. Medina sudah tak bisa menutupi asetnya lagi. Rendra kembali mengecup, menghisap dan menggigit kedua aset yang sangat putih dan kenyal itu. Medina semakin menggeliat.
"Apa, aku sudah boleh mulai sayang? " tanya Rendra dengan nada tertahan.
"Me-memang sejak tadi, bukan mulai namanya? " Medina terheran, namun menahan malu.
Rendra tersenyum, rupanya istrinya memang sangat polos.
"Itu baru pemanasan sayang, kini aku ingin mulai yang sesungguhnya. Bolehkan? "
Medina mengangguk kikuk. "Ta-tapi, pelan-pelan. Ini pertama bagiku. "
"Tentu saja, aku akan pelan-pelan dan lembut, jika kamu merasa kesakitan. Kamu boleh mencakar punggung ku. Tapi, jangan minta berhenti ya? Karena, itu tidak mungkin. "
"Haaa? Apa, akan sangat sakit? "
"Cuma sebentar sayang, kata orang. Tapi nanti, kamu akan merasa senang setelahnya. "
"Aahhh....! "
Rendra kembali mencumbu istrinya, dan melakukan kegiatan panas itu dengan lembut. Karena ia tak mau menyakiti tubuh berharga Medina.
Esoknya, Medina terbangun dengan tubuh lemas dan terasa nyeri di bagian bawahnya. Namun saat melihat Rendra tertidur pulas di atas bantalnya dengan garis rahang y@ng tegas, kumis tipis, bibir seksi. Hatinya menjadi berdebar kencang. 'Hah perasaan apa ini. Apa rasa ini Cinta?' batinnya. Medina tersipu malu, kala mengingat kegiatan panasnya bersama Rendra malam tadi. Mereka hampir melakukannya hingga pagi buta.
"Hahh aku malu sekaliii... " lirihnya, menutup wajah dengan kedua tangannya.
Saat Medina berusaha sekuat tenaga untuk turun dari ranjang, tangan kekar milik Rendra memeluknya dari belakang.
"Mau kemana sayang? "
"Euh, kamu sudah bangun? A-aku mau mandi. "
"Apa masih sakit, heum? " tanya Rendra, Medina hanya mengangguk menahan malu.
"Biar aku gendong ke kamar mandi ya? Pasti sakit buat berjalan. "
"Haa tapi.. "
"Ayo, aku gendong saja. " Rendra akhirnya menggendong Medina dan membawanya ke kamar mandi. Ia mendudukkan Medina di atas kloset, lalu Rendra menyiapkan air hangat di dalam bak mandi.
Rendra kembali menatap wajah istrinya yang masih menunduk malu.
"Maaf ya? " ucap Rendra lembut, membelai pipi Medina.
"Kamu gak perlu minta maaf mas. Ini sudah kewajiban ku. "
"Terimakasih sayang. "
Medina mengangguk. "Euh mas, biar aku mandi sendiri saja. "
"Kamu yakin? "
"Hm, iya. Mas tunggu di luar boleh? " ucap Medina, malu.
"Baiklah, mas tunggu di luar. Kalau butuh bantuan, panggil saja. "
Akhirnya Medina bisa bernafas lega, dan leluasa untuk melakukan ritual mandinya.
Sementara di atas ranjang, Rendra duduk dan fokus dengan ponselnya. Lima puluh panggilan tak terjawab dari Vanessa Queen.
Rendra menarik nafas panjang, dan menekan tombol hijau untuk melakukan panggilan.
"Ya Hallo.. "
"Vanessa, bagaimana kabarmu? "
"Tentu saja tidak baik! Kamu pikir, setelah aku mendengar kabar pernikahan mu aku bisa tersenyum? "
"Maaf."
"Cuma itu, kamu gak ada niat buat jelasin ke aku! "
"Ceritanya panjang, nanti saja kalau kita bertemu. "
"Aku ingin bertemu sekarang! Sekarang Rendra.. "
"Jangan bercanda, kau pikir perjalanan untuk ke Amerika bisa di tempuh dalam satu jam? "
"Kamu tega Rendra, tega! "
"Iya maafkan aku, kamu harus jaga diri dan makan dengan baik oke? "
"Gak mau, aku mau kamu! "
"Lusa, aku akan terbang ke Amerika. Tunggu aku ya? "
"Baiklah, pokoknya aku mau kamu habiskan waktu sepanjang hari dan malam sama aku! "
"Iya, ya sudah. Aku ada kerjaan. Nanti aku telfon lagi. Bye.. "
Rendra menutup panggilan teleponnya. Ia menoleh saat pintu kamar mandi terbuka, rupanya Medina sudah selesai.
Rendra tersenyum, dan membelai lembut puncak kepala istrinya yang masih setengah basah.
"Mau aku bantu keringkan? "
"Aku bisa sendiri mas. "
"Biar aku saja, nanti setelah sarapan. Kita akan jalan ke Sultan park. "
"Wah, seperti nya seru dan indah. "
"Tentu."
Dengan telaten Rendra menyisir dan mengeringkan rambut panjang Medina. Lalu ia mengecup kepala istrinya. Rendra kemudian pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Selesai mandi, mereka melaksanakan sholat subuh berjamaah setelah melakukan wudhu.
Sekitar jam sembilan pagi, Rendra mengajak Medina jalan-jalan ke Sultan park. Taman hijau yang tenang dan rindang. Memanjakan mata dan hati.
"Besok, kita akan pulang sayang. "
"Gak papa mas, mas kan memang sibuk. Aku udah cukup puas kok. "
"Kalau begitu, apa boleh malam nanti aku memintanya lagi. "
"Ah.. eumm.. " Medina hanya mengangguk malu, membuat Rendra gemas sendiri.
*****
Di sisi negara lain. Vanessa sudah bisa tersenyum, dan kini ia sedang menyisir rambutnya yang blonde di depan cermin. Lalu ia mengoleskan krim malam ke wajahnya. Malam ini ia akan tidur nyenyak. Ternyata Rendra memang tidak akan bisa melupakan dirinya.
"Aku akan menunggu mu Rendra sayang.. "
...----------------...