NovelToon NovelToon
Asmaradhana Putri Ningrat

Asmaradhana Putri Ningrat

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:328.8k
Nilai: 4.9
Nama Author: Kirana Pramudya

Dua tahun Sitha dan Danu berpacaran sebelum akhirnya pertunangan itu berlangsung. Banyak yang berkata status mereka lah yang menghubungkan dua sejoli itu, tapi Sitha tidak masalah karena Danu mencintainya.

Namun, apakah cinta dan status cukup untuk mempertahankan sebuah hubungan?

Mungkin dari awal Sitha sudah salah karena malam itu, pengkhianatan sang tunangan berlangsung di depan matanya. Saat itu, Sitha paham cinta dan status tidak cukup.

Komitmen dan ketulusan adalah fondasi terkuat dari sebuah hubungan dan Dharma, seorang pria biasalah yang mengajarkannya.

Akankah takdir akhirnya menyatukan sepasang pria dan wanita berbeda kasta ini? Antara harkat martabat dan kebahagiaan, bolehkah Sitha bebas memilih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Pramudya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kedekatan yang Terasa Janggal

Sitha memilih melanjutkan ke ruangannya. Ada beberapa hal yang harus dia cek untuk segera. Terkadang Sitha rindu bisa bekerja dengan kakak kandungnya yaitu Satria. Rama Bima sudah meminta Satria bergabung, tapi Satria masih menolak. Satria hanya mengatakan bahwa nanti ketika dia sudah siap, pastilah Satria akan bergabung kembali dengan Sido Mulyo.

"Kadang pengen kerja sama Mas Satria. Walau saat itu aku masih kecil dan sekolah, Rama selalu bilang bahwa Mas Satria memiliki etos kerja yang baik dan leadership yang baik juga. Sayangnya, Mas Satria belum tertarik."

Gumaman Sitha dibarengi dengan retina matanya yang melihat Danu dan Ambar masih berbicara berdua. Memang belum mulai jam aktif bekerja, tapi memang jika diamati bukankah memang terasa janggal?

"Apakah benar ucapan Mas Satria tempo hari? Bukankah untuk yang belum orang lain, keduanya terlihat akrab?"

Sitha akhirnya menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri. Setelahnya, dia memilih kembali bekerja. Mengecek beberapa laporan yang berada di satu divisi dengannya.

Sampai akhirnya, ada Staf Personalia bagian Payroll datang menemui Sitha.

"Permisi Bu Sitha," sapanya dengan mengetuk pintu.

"Ya, ada apa Mas?"

Begitulah uniknya Sitha, kepada para staf dan karyawan yang usianya jauh lebih tua darinya akan dia panggil Mas dan Mbak. Sementara jika seusia atau lebih muda, barulah Sitha akan memanggilnya dengan namanya. Walau Sitha adalah putri pemilik pabrik, tapi tetap dia menerapkan Unggah-Ungguh dan tidak haus dengan kekuasaan dan kehormatan. Bahkan dia tidak keberatan jika hanya dipanggil Mbak Sitha saja oleh karyawan yang lain.

"Dari bagian personalia meminta Bu Sitha untuk mengecek laporan ini dulu, sudah waktunya untuk segera menansfer gaji karyawan, Bu. Supaya saya bisa segera mengurus payroll untuk karyawan," katanya.

"Baik, Mas. Sebentar yah, aku akan cek dulu."

"Ya, makasih Bu Sitha."

"Oh, iya Mas ... satu setengah bulan lagi akan ada gathering untuk karyawan bagian perusahaan, bisa enggak Mas anterin saya survei ke lokasi?"

"Kapan kira-kira, Bu?"

"Akhir pekan bagaimana?"

"Baik, boleh Bu Sitha."

Pria itu kemudian undur diri dari ruangan Sitha, tapi langkahnya seolah tertahan. Kemudian pria itu berucap.

"Oh, iya ... ada sesuatu yang ingin saya sampaikan. Selamat untuk pertunangannya dengan Pak Wijaya Danu ya, Bu Sitha. Semoga lancar tidak ada halangan satu apa pun menuju akad nanti," ucapnya.

"Makasih, kok Mas bisa tahu?"

"Saya mendengar waktu Bapak Bima menyampaikan bahwa Bu Sitha mau bertunangan. Sekali lagi selamat," katanya.

"Oh ... makasih, Mas."

Setelahnya pria itu benar-benar keluar dari ruangan Sitha. Sedangkan Sitha mengecek laporan yang akan diserahkan kembali ke bagian Payroll itu. Sitha berusaha menyelesaikannya, sampai dia tidak menyadari bahwa jam makan siang sudah tiba. Tepat pukul 12.00, ada ketukan di pintu ruangannya.

Tok ... Tok ...

"Diajeng Sitha serius banget to," katanya dengan memperlihatkan senyuman lebar. Ya, dia adalah Danu.

"Mas, kok ke sini?"

"Kan sudah waktunya makan siang. Aku mau ngajak tunanganku ini makan siang bersama. Sekaligus merayakan bahwa kita satu tempat bekerja. Yuk, kita makan siang bersama."

"Kayaknya aku enggak bisa deh, Mas. Aku harus mengecek laporan dari staf personalia untuk Payroll karyawan. Supaya para staf bisa segera gajian," kata Sitha.

"Kamu kok sibuk banget sih. Katanya mereka yang pacaran di tempat kerja bisa curi-curi waktu untuk pacaran. Sedangkan kamu kok sibuk banget," kata Danu.

"Baru banyak kerjaan kok, Mas. Memang ini perusahaan Rama, tapi sejak kecil, Rama mengajar kami ketika bekerja harus sungguh-sungguh karena ini menyangkut kehidupan orang banyak. Berapa banyak orang yang menggantungkan hidupnya kepada pabrik jamu ini," balas Sitha.

"Kamu profesional banget. Lalu, aku gimana dong. Makan siang sama siapa?" tanya Danu.

Sitha memperhatikan jam yang ada di meja kerjanya. Kemudian dia menyampaikan sesuatu. "Aku temenin sebentar bisa, Mas. Lima belas menit, setelahnya aku menyelesaikan pekerjaan lagi."

Danu mengangguk seraya tersenyum. "Baiklah. Makasih. Setidaknya hari pertama ada manis-manisnya."

Baru saja keluar dari ruangannya, ada Ambar yang turut bergabung. Wanita itu segera menggandeng tangan Sitha. "Makan siang yah? Ikutan yah."

"Kamu enggak duluan?" tanya Sitha.

"Masak aku sendirian. Aku enggak menjadi orang ketiga di sini kan?" tanyanya.

Sitha hanya tersenyum dan terus berjalan. Tempat yang mereka tuju adalah Warung Soto yang berada tidak jauh dari depan pabrik.

"Makan Soto yah?" tanya Ambar.

"Iya, yang deket aja," jawab Sitha.

"Hm, padahal bisa makan yang enak. Kapan lagi mumpung Mas Danu hari pertama kerja, biar ditraktir. Kan ada Selat Solo, Sup Manten, Nasi Manten, Nasi Langgi. Yah, lagi-lagi Soto Ayam," keluh Ambar.

"Nanti lain kali aku traktir. Soalnya kerjaan Sitha baru banyak," ucap Danu.

"Serius? Janji loh, Mas. Sesekali perbaikan gizi gitu loh."

Danu memesan tiga mangkok Soto Ayam. Selain itu dia juga memesan minuman. Dua Es Teh dan satu teh hangat. Baru saja minuman disajikan, Ambar sudah menyambar Teh hangat padahal Sitha yang meminum Teh hangat itu.

"Itu milikku," kata Sitha.

"Tenggorokanku kurang enak, jadi aku enggak minum es," balas Ambar. Bahkan dia terkekeh dan tidak menunjukkan perasaan bersalah sama sekali.

"Aku pesankan lagi yah?" tawar Danu.

Sitha kemudian menggelengkan kepala. "Enggak, aku minum air mineral saja. Tunggu sebentar ya, Mas. Aku beli air mineral di warung sebelah."

Sitha segera berdiri dan berjalan hanya beberapa meter ke warung sebelah. Seorang staf kembali menyapanya. "Beli apa Bu Sitha?"

"Oh, ini ... mau beli air mineral saja."

"Keliatannya semua air mineral yang tersisa yang dingin deh, Bu. Hm, ini punya saya untuk Bu Sitha. Masih baru kok, belum saya buka."

"Aku ganti yah?"

"Gak usah. Hanya sekadar air kok. Mari, Bu. Nanti laporan tadi saya tunggu yah?"

"Iya, Mas. Nanti yah. Makasih banget."

Kemudian Sitha kembali ke warung Soto, tapi di sana lagi-lagi dia melihat Danu dan Ambar yang bercakap-cakap dengan hangat. Sitha mengamati botol air mineral yang kini berada di tangannya. Gadis itu pun bergumam.

"Benar yang Mas Satria katakan sebelumnya, seolah tidak ada inisiatif dari Mas Danu. Berbahagialah mereka yang memiliki pasangan yang peka. Mungkin aku belum diizinkan."

Namun, beberapa saat demikian Danu mengambilkan Sambal, Kecap dan Irisan jeruk nipis untuk Ambar. Terkesan simpel dan sepele, tapi tidak pernah pria itu mengambilkan sesuatu untuknya.

"Sudah?" tanya Danu.

"Iya."

"Ayo, buruan dimakan sudah mulai dingin."

Sitha mengangguk pelan. Sedangkan Ambar bergerak-gerak dan menyentuh tangan Sitha. "Buruan, Sis. Panas, aku gak tahan."

"Hm, iya."

Sitha semakin merasa aneh, kedekatan sahabatnya dan tunangannya terasa aneh dan tidak lazim. Mulai Sitha merasakan sesuatu yang janggal di antara sahabatnya dan tunangannya.

1
Yuni Martopo
Luar biasa
tina vio
kak aplikasi oranye nya apa nyari ga ktm2😣
Kirana Pramudya: Halo Kak..
Nama penanya sama, Kak.
Kirana Pramudya🙏🏻
total 1 replies
jhon teyeng
memang banyak penulis yg kesaldan kecewa sama nT bahkan mgkn sdh banyak yg tdk selesai karyanya sebab nT bikin aturan yg membingungkan. kalau memang nT sdh tdk sanggup ya sdh tutup saja kasihan pemula yg semangat hrs down hanya karena aturan yg tdk jelas standartnya.
Lisa
koq g ada kelanjutannya ?
Afternoon Honey
jadi ini dianggap tamat ya author Kirana 🤔
WaTea Sp
semangat danu....
WaTea Sp
astagfirulloh.....
WaTea Sp
bener tuh si ambar kurang bersyukur......nyesel baru rass lo mbar
WaTea Sp
ambar ambar sadar sedikit knapa, wong asalmu jg bukan orkay kok
WaTea Sp
ambar maaih aja sombong gak ada berubahnya....twpok jidat
Windy Veriyanti
semoga Author berkenan meneruskan cerita yang apik dan indah ini 🙏🌹
tetap semangat ✊
Gusti Allah tansah mberkahi 🍀🌸❤🌸🍀
Windy Veriyanti
si Ambar uni kudu dipentokkin tiang dulu kayaknya, biar pikirannya jadi lempeng...
Windy Veriyanti
senang sekali jika ada seseorang yang memahami sejarah dan budaya daerahnya, serta mampu menceriterakan dengan begitu baik...seperti Shita
Windy Veriyanti
step by step, Mas Dharma...
disyukuri walaupun hanya ada selintas ingatan yang masih samar di benak Shita
Windy Veriyanti
si Ambar ini berasa nyaman banget jadi manusia antogonis 😆😁
jhon teyeng
aku sdh tahu ternyata itu ya orange juice nya aku smpt lht tp ragu dg nama yg takutnya sama
jhon teyeng
orange bisa disebutkan nggak
Windy Veriyanti
Kisah hidup seseorang dari kalangan ningrat atau bangsawan, selalu memiliki daya tarik tersendiri untuk disimak.
Terlebih didalamnya banyak terdapat sentuhan wawasan Budaya Jawa yang tentunya akan memperkaya pengetahuan si pembaca.
Saestu...sae sanget 👍
Roma Pasaribu
Tasya apa Sitha, Thor 😁
Enisensi Klara
Kirain mas Dharma mau susu yg lain 🤣🤣🤣🤣🤣🤣ntar lain cerita itu mah 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!