NovelToon NovelToon
Pendekar Elang Putih

Pendekar Elang Putih

Status: tamat
Genre:Action / Fantasi / Petualangan / Kultivasi / Wuxia / Fantasi Timur / Dan budidaya abadi / Budidaya dan Peningkatan / Epik Petualangan / Ahli Bela Diri Kuno / Tamat
Popularitas:5.4M
Nilai: 4.9
Nama Author: Adi Kusma

Terlahir dengan bakat bela diri di atas rata-rata. Membuat Mahesa menjadi pendekar dengan kemampuan olah kanuragan tak tertandingi diusia yang masih sangat muda.

Pembunuhan, fitnah, dan kekacauan terjadi di dunia persilatan. Menggerakkan hati Mahesa untuk mencari titik terang.

Hidup di antara daerah yang saling berperang, dengan asal usul yang belum jelas. Menempatkan Mahesa pada posisi yang sulit. Dia adalah pendekar dari Utara yang berdarah Selatan.

Mampukah Mahesa menciptakan perdamaian antara Utara dan Selatan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adi Kusma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Markas Penjahat Gunung

SUUUIIITTT !!! SUUUIIITTT !!!

Terdengar lengkingan siul mengalun keras di udara. Sekilas, suaranya mirip suara burung hutan.

Mahesa memperlambat laju kudanya. Citra Genjing mengikuti dari belakang. Keduanya meningkatkan kewaspadaan. Isyarat yang terdengar, menandakan kehadiran mereka telah diketahui oleh kelompok Konde Emas. Namun dalam perjalanan kali ini, Mahesa tidak perlu membagi konsentrasi sekedar memastikan keamanan rekannya. Citra Genjing bukan Puspita. Dia bisa menjaga diri dengan baik.

"Kakak angkat, kita telah memasuki wilayah kelompok Konde Emas. Tujuan saya hanya mencari seseorang. Saya akan langsung menyelinap masuk keruang tahanan."

"Adik Elang, apa kau yakin akan rencanamu?" tanya Citra Genjing.

Mahesa mengangguk. "Kalau harus bertarung, saya hanya akan memberi mereka satu pukulan. Tidak perduli, mereka hidup ataupun celaka."

Citra Genjing tidak membahas Pernyataan Mahesa. Dia bisa mengerti, alasan Mahesa dengan keputusannya. Entoh, jika satu pukulan Mahesa tidak bisa mencelakai pimpinan kelompok Konde Emas, Citra Genjing sanggup untuk memberikan bonus hingga beberapa pukulan. Lalu, keduanya meninggalkan kuda di kaki bukit dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Selain gerakan mereka tidak memancing reaksi musuh, keduanya juga memiliki ilmu meringankan tubuh yang cukup bagus.

Tidak butuh waktu lama untuk mereka bisa mencapai markas Kelompok Konde Emas.

°°

"Huh!! Kau ternyata. Mengapa bukan Lebur Saketi sendiri yang datang?" ucap Nyi Susur. Dia sudah berada di markas Penjahat Gunung.

"Hei, kau kira Ketua Lebur Saketi kerjanya hanya menjemput dan leha-leha?! Sebagai salah satu Ketua besar Aliansi Bunga Suci, kau bisa menebak betapa sibuknya beliau." Panca Kala terdengar begitu menekankan kata 'Aliansi Bunga Suci'.

Disebabkan ada urusan lain, Lebur Saketi batal datang. Dan mengutus Panca Kala untuk membawa Gadis Pheromone. Tentunya, Nyi Susur dan Topeng Besi diharuskan mengantar rombongan hingga tiba di Kota Lama. Perubahan kesepakatan itu membuat Nyi Susur kurang puas.

"Dalam pesan, Lebur Saketi berjanji akan menjemput sendiri Gadis Pheromone kesini. Dengan dalih kerahasiaan. Bukan aku tidak tahu, sebenarnya dia begitu merendahkan kemampuan yang aku miliki. Dia takut aku tidak bisa tiba di Kota Lama, membawa Gadis Pheromone dengan selamat. Meski demikian, aku masih memberi dia muka. Tapi sekarang ... Aku sungguh tidak habis pikir." Nyi Susur menggelengkan kepalanya.

"Nyi Susur, kau hanya perlu memutuskan. Iya atau tidak!" Topeng Besi menyela.

Nyi Susur melirik Topeng Besi. Pria paruh baya tersebut terlihat memiliki pemikiran yang sama dengannya. Mereka sangat keberatan. Bukan saja dikarenakan harus ikut mengawal, hal yang paling penting yaitu bayaran yang mereka terima baru sepertiga dari harga Gadis Pheromone. Belum lagi, resiko diperjalanan begitu besar. Banyak kelompok lain yang sudah mengendus kabar mengenai Gadis Pheromone.

"Kalian berdua. Jangan karena Ketua Lebur Saketi tidak datang kalian bisa berlaku seenaknya. Atas nama Aliansi Bunga Suci, dalam misi ini aku memiliki wewenang yang setara dengan Ketua." Ekspresi wajah Panca Kala berubah masam.

Panca Kala sama sekali tidak gentar jika harus berhadapan dengan dua pendekar paruh baya dihadapannya, justru malah sebaliknya, dia penasaran ingin menjajal kehebatan pusaka milik Topeng Besi dan Nyi Susur yang konon terkenal itu.

"Jika tidak sedang dalam misi, aku jamin. Tempat ini, sudah rata dengan tanah" ucap Panca Kala seraya merapatkan gigi.

Topeng Besi lebih merasa tidak senang. Direndahkan di rumah sendiri, siapa orangnya yang akan berlapang dada. Muka Topeng Besi merah padam. "Jika kalian semua mati disini, lalu bagaimana Aliansi Bunga Suci yang kalian banggakan itu bisa tahu?" 

"Kep**at!! Beraninya kau bicara begitu kepada utusan resmi Aliansi Bunga Suci." Panca Kala berdiri dari duduknya.

"Tunggu!!! Hentikan!!! Apa-apaan ini. Apa kalian sudah tidak waras?!" teriak Nyi Susur menengahi. "Jika kalian berkelahi kemudian celaka, siapa yang dirugikan?"

Topeng Besi dan Panca Kala masih saling pandang penuh amarah.

"Sudahlah!! Kita bicara lagi nanti. Aku muak melihat wajah kalian." Nyi Susur bangkit dan bergegas pergi. Dia harus memastikan Gadis Pheromone masih aman dalam kendali.

Jika benar para Penjahat Gunung dan Panca Kala terlibat pertempuran, secepatnya Nyi Susur harus membawa Gadis Pheromone kabur. Bila perlu dia akan langsung mengantarkan Gadis itu pada Lebur Saketi seorang diri.

"Nyi Susur, tunggu!!" suara Panca Kala menghentikan.

Nyi Susur berhenti dan membalikkan badan. Dia melihat Panca Kala diikuti seorang pendekar bawahan berjalan mendekat.

"Apa lagi Panca Kala?! Kau masih ingin membahas hal tadi?" tanya Nyi Susur. Terpaksa Nyi Susur mengurungkan niatnya menjenguk Gadis Pheromone. Dia tidak mungkin memberi tahu letak ruang tahanan.

"Yah, kau sudah tahu niatku jauh-jauh datang kemari." Panca Kala tidak berbasa-basi lagi. Sejak awal, pihaknya bernegosiasi dengan Nyi Susur, bagi mereka, Topeng Besi tidak punya hak ikut campur.

"Apa tawaranmu menarik? Jika tidak, sebaiknya aku tidak perlu membuang banyak waktu." Nyi Susur menatap serius.

Panca Kala menghela napas sejenak. Hatinya sangat dongkol tidak di hormati sama sekali. Hampir tiap waktu Panca Kala melakukan bisnis dengan kelompok aliran sesat. Tidak banyak penjahat seperti Nyi Susur dan Topeng Besi. Kebanyakan penjahat masih memandang pada nama besar Aliansi Bunga Suci, selaku Aliansi terbesar kelompok Hitam di Selatan.

"Sebenarnya, aku sangat muak pada kalian. Memandang tugas yang saya emban, terpaksa kita harus kembali bernegosiasi," ucap Panca Kala.

"Hahaha ... Aku merasa lucu. Kalian begitu pandai memancing tawa. Katakan! Apa yang ingin kau sampaikan." Nyi Susur semakin merasa berada diatas angin.

Panca Kala cuma bisa menelan ludah. "Aku harus memastikan kalian benar memiliki Gadis Pheromone. Mana?! Aku harus lihat."

"Hahaha ... Ku lihat kau sangat yakin." Nyi Susur tertawa mencibir.

Topeng Besi muncul diikuti Cokro. Keduanya sudah siap bertarung. Panca Kala menyadari hal itu. Dia memberi isyarat pada seorang anak buahnya untuk pergi dan mengabarkan pada anggota lain. Sepertinya, keributan tidak akan bisa dihindari.

"Panca Kala, aku masih berusaha memberi kalian muka. Sebaiknya sekarang kalian tinggalkan markas kami. Siapkan uang seharga Gadis Pheromone.  Baru kembali untuk memulai transaksi," ucap Topeng Besi.

"Kep**at!!! Satu langkah saja, aku tidak akan berhanjak. Kalian baru akan menyesal setelah menjadi arwah." Panca Kala mengeluarkan aura bertarung yang besar.

Sebaliknya, Topeng Besi memilih langsung melayangkan pukulan pada seorang anak buah Panca Kala yang paling dekat. Meski menghindar, pukulan Topeng Besi menyisakan luka parah pada tubuh anak buah Panca Kala.

"Kep**at kalian. Serang!!!" Panca Kala berteriak lantang. Dia memerintahkan anak buahnya menyerang Penjahat Gunung.

Pasukan Penjahat Gunung lebih siap. Dengan cepat, mereka mendahului menyerang pasukan yang dibawa Panca Kala. Markas Penjahat Gunung yang tenang mendadak berubah menjadi arena pertempuran.

Panca Kala membawa sekitar 50 0rang pasukan terlatih. Akan tetapi mereka bak bertarung dikandang serigala, dengan kalah jumlah, kalah pengenalan lokasi serta diserang secara mendadak. Membuat anak buah Panca Kala gelagapan. Satu persatu pasukan gugur. Penjahat Gunung melahap pasukan Panca Kala tidak ubahnya seperti ulat yang memakan habis pucuk sayuran.

Ditempat lain, Panca kala disibukkan oleh Topeng Besi dan pengawalnya. Sementara Nyi Susur setapak demi setapak meninggalkan medan laga. Dia menuju ruang tahanan untuk membawa kabur Gadis Pheromone.

°°°

Suara pertempuran terdengar jelas hingga ruang tahanan, dimana Puspita disekap. Mayang Sari dan beberapa orang gadis menghentikan percakapan mereka.

"Hmmm ... Siapa yang begitu bernyali menyerang Penjahat Gunung disiang hari seperti ini?" gumam Mayang dalam hati, "Aku harus bisa memanfaatkan keadaan. Aku akan berusaha untuk lolos."

Tiba-tiba, tiga orang penjaga tahanan roboh ke tanah. Perlahan, darah mengalir dari leher mereka. Pantas saja, ada pisau yang menancap disana.

Seorang wanita paruh baya berjalan mendekat. Rupanya Nyi Susur yang mencelakai penjaga tahanan. Tapi mengapa nenek jelek itu melakukannya? Puspita menoleh dan menatap Mayang Sari. Mayang mengangkat bahu.

Didepan pintu, Nyi Susur terlihat kebingungan memilih kunci. Sudah beberapa kunci yang dia coba tapi belum juga ada yang cocok.

"Kutu kupret!!! Menyusahkan saja!!!" Nyi Susur mengumpat. Berkali-kali dia menoleh kebelakang. Sepertinya, Nyi Susur takut ada yang mengetahui tindakannya.

Nyi Susur membanting segenggam anak kunci ditangannya. Wajah nampak sangat marah. Kemudian dia mundur beberapa tindak.

"Kakak, menjauh dari pintu!" Puspita mengingatkan pada gadis yang belum menyadari bahwa Nyi Susur akan menghancurkan Pintu menggunakan tenaga dalam.

"Hiyaaa ...." Nyi Susur menghentakkan kedua tangannya kedepan. Seketika muncul gelombang energi tenaga dalam menghantam daun pintu hingga hancur berantakan. Nyi Susur masuk dengan tergesa-gesa.

"Kelihatannya kau sangat buru-buru. Apa yang terjadi?" tanya Mayang Sari. Nyi Susur tidak menghiraukan pertanyaan Mayang. Dia menghampiri Puspita.

"Gadis Pheromone, Sebaiknya kau menurut agar nyawamu tidak terancam!" Ancam Nyi Susur.

Puspita hanya membuang muka. Percuma juga dia melawan. Beberapa hari ini dia terus melatih tenaga dalam. Akan tetapi, hasilnya tetap saja sama. Ramuan penghilang tenaga yang diberikan Nyi Susur sungguh dahsyat.

"Nenek, kau harus melepaskan aku juga. Kau yang menangkap ku, kau harus bertanggung menjawab membawaku pergi dari sini. aku tidak mau jadi tawaran Penjahat Gunung. Percayalah, aku tidak akan menyulitkanmu." Mayang terus mengoceh. 

"Diam!!!" bentak Nyi Susur.

"Baik. Aku pasti diam. Asal kau lepaskan ikatan ini. Aku akan menurut."

Nyi Susur akhirnya membuka ikatan rantai di tubuh Mayang Sari. "Jika kau ingkar, aku akan melenyapkan mu!"

Mayang Sari nyengir sambil mengangkat dua jari -peace- . Dia mengikuti langkah Nyi Susur yang membawa Puspita, pergi meninggalkan ruang tahanan Penjahat Gunung.

°°°

Pertempuran antara pengikut Panca Kala dan pasukan Penjahat Gunung mulai mereda. Hanya menyisakan beberapa titik. Penjahat Gunung berhasil menumpas perlawanan pasukan Aliansi Bunga Suci. Tidak ada yang mereka ampuni, melawan atau menyerah, semuanya di celakai. Kejam? Penjahat Gunung lebih dari yang kita bayangkan.

"Hahaha ... Tidak ku sangka, Aliansi Bunga Suci yang terkenal itu, ternyata hanya memelihara gentong-gentong nasi tidak berguna." Topeng Besi tertawa terbahak.

Membuat wajah Panca Kala menjadi merah padam. Panca Kala melihat sekeliling, semua anak buah yang dibawanya sudah tidak bersisa. Hanya dirinya yang masih hidup. Panca Kala berencana untuk kabur, dia tidak ingin terkubur di markas Penjahat Gunung.

"Hahaha ... Ingin kabur?! Jangan harap." Topeng Besi memejamkan matanya, saat kembali membuka mata, tangannya telah menggenggam cambuk pusaka, Cambuk Pusar Angin.

"Bukankah kau bilang ingin mencoba kehebatan pusaka Cambuk Pusar Angin milikku? Hahaha ... Sekarang, aku mengabulkan keinginanmu Panca Kala. Sekarang, bersiaplah!" Topeng Besi tidak memberi kesempatan lawannya untuk menjawab. Dia langsung mengarahkan cambuknya untuk membinasakan Panca Kala.

Panca Kala tergagap. Aura cambuk pusaka milik Topeng Besi terasa begitu aneh.

"Duuaarr ... !!!!"

1
Irwandy Kamal
𝚋𝚞𝚔𝚊 𝚜𝚊𝚓𝚊 𝚝𝚘𝚙𝚎𝚗𝚐𝚗𝚢𝚊 𝚔𝚊𝚗 𝚜𝚎𝚕𝚎𝚜𝚊𝚒 𝚖𝚊𝚜𝚊𝚕𝚊𝚑𝚗𝚢𝚊, 𝚕𝚊𝚐𝚒𝚊𝚗 𝚝𝚒𝚍𝚊𝚔 𝚊𝚍𝚊 𝚊𝚕𝚊𝚜𝚊𝚗 𝚔𝚞𝚊𝚝 𝚞𝚗𝚝𝚞𝚔 𝚖𝚎𝚗𝚢𝚎𝚖𝚋𝚞𝚗𝚢𝚒𝚔𝚊𝚗 𝚠𝚊𝚓𝚊𝚑𝚗𝚢𝚊 𝚔𝚊𝚗𝚗
Irwandy Kamal
𝚙𝚊𝚍𝚎𝚙𝚘𝚔𝚊𝚗𝚗𝚢𝚊 𝚛𝚊𝚓𝚊𝚠𝚊𝚕𝚒, 𝚓𝚞𝚛𝚞𝚜𝚗𝚢𝚊 𝚌𝚊𝚔𝚊𝚛 𝚎𝚕𝚊𝚗𝚐 🤔
merah putih
bagusss...thor....hanya sj msh terlalu banyak ungkapan2. kurangi ungkapan2 terutama saat bertarung.
Hamka Bahri
Luwuk Banggai Parigi Moutong 🤣🤣🤣🤣
Nggenk Topan
mahesa lebay...
Nggenk Topan
galih janda bahenol
Yuniar Hadi
iya
Nggenk Topan
kok bikin bingung...?
Nggenk Topan
tambah hebohhhhh
Mely Kanzafaiz
cerita yg ga jlas
Rivan Zuhri
jadi menikah dengan siapa saja
Rivan Zuhri
Luar biasa
Rizal Sude
Biasa
Yanah Tjan
Luar biasa
Tabri Bong Plaju
ceritanya bagus,typonya gak ada,mudah di ikuti jln ceritanya.... semangat terus tor...
@ ubaydah_*😄
harus kembaran Puspita cewek aja,biar ceritanya tambah seru
Adi Kusma: Mksh kk
total 1 replies
@ ubaydah_*😄
kenapa si Puspita GA bunuhdiri aja biar siluman jahatnya ikutan mati.
Denmas
agak rumit di pahammi
Irhakim
kak permisi mau promo dulu kak tentang fantasi constelasi
Thomas Andreas
ngeri julukannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!