Cinta itu ada masa kedaluwarsanya, tapi hanya Tuhan yang tahu kapan cinta itu datang dan pergi.
Satya dibuat kesal karena kalah tender pembangunan mega proyek kilang minyak baru dan surat penalti yang dilayangkan perusahaan owner akibat kecerobohan karyawan baru yang salah dalam membuat project schedule. Alih-alih menerima konsekwensi pemecatan, Aritha malah memaksa Satya tetap mempekerjakan dirinya agar dapat bertanggung jawab atas kecerobohannya.
Tantangan diterima, namun bertemu pandang dengan mata biru elektrik perempuan itu membuat hatinya bergetar.
Bagaimana kisah selanjutnya? Apakah Aritha berhasil menyelesaikan kasusnya atau kecerobohannya semakin membuat bosnya emosional dan bangkrut?
Session 2 :
Tentang bagaimana Ritha berjuang mempertahankan pernikahannya dengan seorang petarung bisnis yang kehidupannya sangat berbeda dengan kehidupan impiannya yang sederhana.
Sanggupkah ia bertahan dengan cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya-senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Soto Gedung Sebelah
Pagi hari Ardi kembali ke kantor sementara Satya ditemani sekretarisnya Dion menemani Hasan, Raina dan tim dari Uni Emirat jalan-jalan di sekitar puncak yang pemandangan alamnya tidak ada di negeri mereka. Satya merasa beruntung dipercaya menemani rombongan tersebut, bahkan mereka berencana mengantar rombongan itu sampai ke bandara internasional Soekarno Hatta malam nanti. Lumayan, ada kesempatan untuk mengobrol banyak tentang peluang-peluang bisnis di sela perjalanan mereka. Tim Dubai memang mengambil penerbangan malam untuk kembali ke Dubai. Rekan lain sebenarnya juga menawarkan diri menemani rombongan itu selama di Indonesia namun Hasan dan Raina lebih merasa nyaman ditemani Satya.
Sesampainya di kantor Ardi sengaja mampir ke ruangan Ritha sebelum memasuki ruangannya sendiri. Sayang, sudah ada Rusdhi dalam ruangannya.
"Selamat pagi, pak Rusdhi. Boleh aku pinjam Ritha sebentar?" kata Ardi yang melongok ruangan Rusdhi sambil tersenyum.
"Ada urusan apa? Sudah hampir jam 8.30 nih. Nggak bisa ya kalau masalah pribadi diselesaikan di luar jam kerja, pas jam istirahat misalnya?" Rusdhi mengingatkan agar mereka lebih profesional tidak mencuri waktu kerja untuk urusan pribadi.
"Masalah pekerjaan, Pak. Diminta diskusi tentang pertemuan kemarin sama pak Satya." kilah Ardi cari alasan agar diijinkan bicara empat mata dengan Ritha. Ia sempat mengerdipkan mata pada Ritha sebagai isyarat agar rekannya bisa mendukungnya dengan improvisasi seandainya Rusdhi terlalu banyak bertanya.
"Oke, kalau begitu bicaralah di sini biar saya ikut mendengarkan. Waktumu 15 menit." balas Rusdhi membuat Ardi mati kutu. Sang direktur operasional keluar dari ruangannya lalu duduk di sofa. "Yuk, di sini aja." katanya lagi. Tangannya menepuk-nepuk sofa di sebelahnya.
Mendapat isyarat seperti itu, terpaksa Ardi harus duduk di sofa sebelah Rusdhi. Padahal dalam hati, yang ingin dibicarakan pagi ini justru masalah pribadi yang memang masih ada hubungannya dengan pertemuan kemarin. Bukan masalah pekerjaan yang pasti berkaitan dengan tugas Rusdhi nantinya.
"Kemarin itu intinya ada 3 kesempatan yang mungkin bisa diambil GNC, yaitu menanam modal sebagai bagian konsorsium perusahaan petrokimia itu, tender desain dan tender konstruksi. Untuk bergabung konsorsium, GNC butuh penanaman modal sekitar 3 triliun yang wujudnya dapat berupa setor dana atau hutang pekerjaan. Saya akan menyiapkan dokumen tender untuk desain yang diharapkan selesai dalam 10 hari ini. Sementara Ritha dan tim pak Rusdhi perlu menyiapkan dokumen tender konstruksi pabrik dan pergudangan dalam sebulan ini." jelas Ardi.
Penjelasan Ardi cukup singkat dan padat tapi telah mencakup seluruh komponen penting yang harus diketahui Rusdhi sebagai orang nomor dua di kantor ini.
"Ingat, kalian berdua yang akan bertanggung jawab untuk menyiapkan seluruh dokumen tender termasuk estimasi BQ dan RAB-nya." Rusdhi langsung beralih memandang Ritha. Ia menatap Ardi dan Ritha secara bergantian seperti mencari kebenaran dari bahasa tubuh kedua anak buahnya itu.
"Siap, pak," jawab Ritha singkat namun penuh percaya diri.
"Seluruh urusan tender proyek besar ini akan langsung ditangani pak Satya. Saya hanya memberi supervisi untuk pekerjaan kalian, jadi kalau di tengah perjalanan ada masalah penting yang perlu persetujuan prinsip silakan koordinasi langsung dengan pak Satya. Kalian boleh kasih catatan atau memberitahukan saya setelahnya." tegas Rusdhi diiringi tatapan mata tanya Yos dan Roy yang juga ikut mendengarkan pembicaraan mereka.
Yos dan Roy mungkin bertanya- tanya kenapa untuk urusan proyek besar itu harus Ritha dan Ardi yang ditunjuk sebagai penanggung jawab. Apalagi mereka diberi privilese untuk koordinasi langsung dengan pimpinan tertinggi perusahaan. Padahal mereka masih muda dan tergolong baru bergabung di GNC. Tentu saja dari segi pengetahuan dan pengalaman mereka tidak lebih baik dari Yos maupun Roy.
"Ohya, saya juga ijin keluar kantor pagi ini ke kantor notaris atas perintah pak Satya. Ada urusan legal beliau yang harus saya selesaikan."
"Oke. Pak Satya sudah mengabarkan soal itu. Kamu boleh pergi sendiri." Rusdhi jelas memperlihatkan wewenangnya tidak mengijinkan Ritha menemani Ardi keluar kantor.
"Siap, pak. Saya akan segera kembali ke ruangan." Ardi mengangkat pantatnya dari sofa. Setelah pamit dengan seluruh penghuni ruangan, ia pergi meninggalkan ruangan the dream team dengan sedikit kecewa.
Tak lama setelah itu ada pesan masuk diterima Ritha.
Ardi: Rith, nanti makan siang soto Surabaya di kantin gedung sebelah ya. Kita harus ngobrol berdua masalah misi yang kemarin dan keadaan bos Satya.
Ritha: okay
Gagal bertemu karena kedisiplinan Rusdhi, jam makan siang 2 makhluk moron itu bertemu di kantin gedung sebelah. Soto ayam ceker khas Surabaya cak Adi, itu satu tujuan favoritnya. Menu berkuah segar dengan koya gurih, suwiran daging ayam yang mendominasi dan beberapa buah ceker empuk yang menggoda. Saat kuah masih mengepul, diberi perasan jeruk nipis dan sambel cabe galak adalah saat dimana aroma soto Surabaya bisa membuat air liur menetes dan pikiran jadi segar sebagaimana segarnya aroma dan rasa kuah sotonya.
"Gimana semalam, bang?"
"Bos Satya mabuk. Untung ada Teguh yang selalu sigap." kata Ardi dengan wajah kecewa. Ia mengambil sesendok soto yang telah dicampur perasan jeruk nipis dan sambel cabe galak ke dalam nasi lalu menyuapkannya ke mulut sendiri dengan lahap seraya menceritakan dengan detail apa yang terjadi semalam tanpa kecuali.
Ritha menghela nafas setelah Ardi menyelesaikan ceritanya, "Itu mah murni keteledoran kamu, bang. Bos Satya jadi minum wiski mahal itu kan gara-gara botol bir pletoknya kamu hilangkan." Ritha bukannya simpati, malah ikut menyalahkannya.
"Gara-gara kamu juga pakai ada niat nyomblangin bos dengan Raina. Itu kan memicu jiwa isengku. Pas ada momen bagus jadi tergoda ambil gambar ala paparazi." Ardi mendengus menyesali keteledorannya sendiri.
Ritha hanya menarik bibirnya lalu kembali melanjutkan menyesap ceker yang mungkin bagi sebagian orang terlihat menjijikan namun tidak bagi Ritha. Ardi yang mengajarinya cara makan ceker pelengkap soto Surabaya agar lebih terasa nikmat, yaitu dengan cara disesap. Ardi memang penggemar aneka soto nusantara. Jika soto ada dalam pilihan menu, maka soto akan selalu jadi prioritas.
"Aku nggak setuju menjodohkan bos Satya dengan Raina. Setelah kupikir-pikir aku merasa lebih nyaman kalau bos Satya berjodoh dengan perempuan sholehah yang patuh dan berbakti pada suami dibandingkan perempuan cantik, cerdas dan kaya. Aku nggak suka perempuan yang terlalu moderat dan dominan seperti Raina. Keduanya pasti nggak bakal cocok sebagai pasangan karena sifatnya sama-sama dominan ingin menguasai. Kasihan hidup bos Satya nantinya."
Meski diam-diam Ritha membenarkan argumen Ardi, tapi ia tetap menampakan antusiasme seolah mendukung pasangan itu. "Yah, kita lihat saja nanti. Buktinya mereka sudah nempel tanpa kita comblangin. Who knows?" jawab Ritha sambil mengerdipkan mata dan mengangkat bahu.
"Sekarang lebih baik kita fokus dulu aja dengan upaya dan strategi memenangkan tender besar ini dengan cara fair, proposal bagus dan doa yang makbul." tambah Ritha mencoba mengalihkan topik pembicaraan dari hal yang tidak penting.
Ardi mengacungkan dua jempolnya.
"Soal Dave, ternyata kamu benar. Dia hanya korban konspirasi bisnis dan mafia. Tapi bos Satya tetap tidak membuka jalan buat hubungannya dengan Lily."
"Kenapa? Bos Satya itu nggak punya perasaan ya ternyata."
"Bukan begitu, Bos Satya mempertimbangkan kehidupan Lily yang bakal lebih sulit kalau melanjutkan hubungan dengan Dave. Lily itu kan sejak lahir menderita kelainan jantung bawaan, akan lebih baik buat kesehatannya apabila Lily hidup tanpa konflik. Lagipula kata bos Satya, Lily sudah move on."
"Eh... astagfirullah, sekarang kok kita berdua jadi suka ghibah ya. Sudah ah. Berhenti, berhenti, berhenti! Dosa tahu," akhirnya Ritha sadar telah terlampau jauh memikirkan masalah orang lain dan jadi berghibah pula.
Ardi tersenyum sambil mengucap kalimat istigfar dalam hati. Alhamdulillah memiliki teman yang masih saling mengingatkan ketika salah arah. Lupakan soal masalah pribadi Satya dan keluarganya. Karyawan itu tanggung jawabnya fokus kerja sebaik mungkin dan memberikan yang terbaik untuk kemajuan perusahaan. Jangan sampai tanggung jawab terlalaikan karena ghibah. Ardi menghirup sisa kuah sotonya. Mantap rasanya!!!