Merasakan jatuh cinta diusianya yang menginjak 17 tahun, adalah sesuatu yang wajar. Namun yang tidak wajar adalah jika lelaki yang ia cintai adalah ayah sahabatnya sendiri.
Akankah persahabatan antara Alena dan Angel hancur karena Alena mencintai ayah sahabatnya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon requeen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan siang 2
Disela kesibukannya mempersiapkan pernikahannya, Alena juga resmi menjadi designer tetap King's fashion.Untuk urusan butik, bunda tidak melepas tanggung jawab sepenuhnya, dibantu Dewi yang sudah semakin bisa diandalkan. Jadi Alena tidak merasa kesulitan mengerjakannya.
King's fashion adalah sebuah perusahaan tempat Alena magang waktu sekolah di Singapura. Pemiliknya adalah mr Kim,seorang pria melayu keturunan Cina, ia menikah dengan wanita asal Indonesia dan dikaruniai putri berumur 10 tahun bernama Pamela. Alena sudah mengenal dekat dengan keluarga itu, karena mereka juga yang mencarikan Alena tempat tinggal selama disana.
Alena baru saja menyelesaikan beberapa design untuk koleksi awal tahun dan langsung dikirimkan melalui email. Seharian ini ia sengaja mematikan ponselnya karena ingin pokus pada pekerjaannya.
Menjelang waktu makan siang, Alena baru mengaktifkan kembali ponselnya. Puluhan notifikasi pesan masuk, termasuk dari Doni. Lebih dari sepuluh kali Doni menghubunginya. Alena lupa tidak memberitahu Doni kalau ia akan mematikan ponselnya agar pokus pada pekerjaannya.
Alena pun menghubungi Doni namun tidak diangkat, setelah beberapa saat Alena kembali menghubungi Doni, tapi tetap tidak diangkat. Sepertinya Doni sedang sibuk pikir Alena, sama seperti dirinya.
Alena mengambil kunci mobilnya dan melajukan mobilnya menuju ke kantor Doni, dijalan ia mampir untuk membeli makan siang untuk dibawa kesana.
Sisil yang pernah bertemu dengan Alena di butik menyambut ramah kedatangan Alena.
"Pak Doni ada di ruangannya, masuk saja " Sisil menunjukkan ruangan Doni..
Alena mengetuk pintu, tak lama terdengar suara Doni yang menyuruhnya masuk. Alena pun masuk. Doni yang sedang pokus pada komputer lipatnya tidak menyadari kalau yang datang adalah calon istrinya.
Doni kaget ketika Alena sudah ada dihadapannya. Namun tiba-tiba wajah Doni menjadi dingin. Alena yang menyadari perubahan wajah Doni menjadi heran.
"Ada apa kamu kesini? " tanya Doni dingin.
"Aku bawa makan siang, tapi kalau papih lagi sibuk mendingan aku pulang " Alena langsung cemberut karena mendapat sambutan yang dingin dari Doni.
Alena meletakan papperbag berisi makan siang yang dibelinya diatas meja, kemudian ia meninggalkan ruangan Doni.
Alena tersenyum kepada Sisil kemudian melangkahkan kakinya menuju lift.Didepan lift tiba-tiba ada yang mencekal tangannya, ternyata Doni mengejarnya.
"Mau kemana? main pergi saja ? " tanya Doni
"Mau pulang " jawab Alena ketus, berusaha melepaskan tangannya dari pegangan tangan Doni.
Doni tau Alena marah,satu tangan Doni merangkul pundak Alena dan membawa gadis itu kembali keruangannya. Alena mengikuti langkah Doni dengan terpaksa.
Doni menekan bahu Alena agar duduk. Kemudian Doni pun duduk disebelahnya.
"Kamu bawa apa? kebetulan papih juga lagi lapar " tanya Doni.
"Tuh... buka saja sendiri " Alena menunjukan papperbag di atas meja.
"Kamu kan sebentar lagi jadi istri papih, masa begitu? " Doni protes karena Alena tidak mau melayaninya.
"Males " jawab Alena ketus "aku kesini juga papih kayak yang tidak suka "
Melihat Alena marah, Doni jadi tertawa. Padahal awalnya ia yang marah pada Alena karena tidak mengaktifkan ponselnya.
"Bukan tidak suka kamu datang, tadi papih cuma kesel karena dari pagi kamu susah dihubungi" Doni mencoba menjelaskan.
"Tadi aku sibuk, jadi sengaja hapenya aku matiin " ucap Alena. Doni pun tidak berniat memperpanjang masalah. Dengan datang ke kantornya saja, kekesalan Doni langsung hilang
"Sekarang papih lapar, mana makan siangnya? " tanya Doni.
Alena mengambil papperbag yang dibawanya dan menyiapkannya dimeja sambil menggerutu.
"Belajar melayani suami dengan iklas, bukan manyun begini " Doni mencomot bibir Alena yang mengerucut. Alena memutar matanya sebal.
"Suapin " titah Doni ketika Alena memberikan kotak makan siang padanya
"Manja " cibir Alena sambil mulai menyuapi Doni sambil bergantian dengan dirinya.
Setelah menghabiskan makan siangnya, Alena kembali membereskan bekas makan mereka.
"Aku kembali ke butik ya pih " Alena bangkit dari duduknya dan mengambil tasnya yang berada diatas meja. Namun Doni menahan tangan Alena dan menariknya agar Alena kembali duduk disampingnya.
"Jangan dulu pulang, papih masih kangen "
"Sekarang bilang kangen, tadi cuek " cibir Alena. Doni terkekeh. Melihat Alena mencibir membuat Doni gemas.
Doni bersandar pada sopa,tangan kanannya merengkuh kepala Alena untuk bersandar di bahunya, Alena melingkarkan tangannya dipinggang Doni. Keduanya saling memejamkan mata menikmati kebersamaan tanpa ada yang mengeluarkan suara.
Doni membuka matanya ketika tangan Alena berpindah dari pinggangnya beralih mempermainkan bulu halus didagunya.
"Berapa hari ga cukuran pih? " tanya Alena.
"Papih ga akan cukuran sampai hari pernikahan kita " jawab Doni kembali memejamkan matanya menikmati sentuhan jemari lentik Alena didagunya.
"Serius pih? " tanya Alena, dijawab anggukan oleh Doni. Alena tertawa membayangkan Doni yang mempunyai brewok karena hari pernikahan masih satu bulan setengah lagi.
"Kalau brewokan papih jangan cium-cium aku " ucap Alena terkekeh.
"Kenapa? " tanya Doni sambil membuka matanya
"ya geli lah " jawab Alena tertawa.
"Kalau sekarang boleh? " tanya Doni mulai mengendus leher Alena. Hembusan napasnya menyentuh kulit leher Alena membuat gadis itu meremang. Alena mendorong kepala Doni ketika bibir Doni bukan hanya sekedar mengendus, tapi mulai mengecap dan menghisap leher gadis itu.
Suara ketukan pintu memaksa Doni melepaskan Alena. Sisil masuk, wanita itu meletakan beberapa berkas di atas meja kerja Doni.
"Meeting divisi pemasaran sudah siap pak " ucap Sisil sebelum keluar dari ruangan Doni.
"Papih meeting dulu, kamu tunggu disini " Doni siap-siap menuju ruangan meeting.
"Aku kembali ke butik saja pih, masih ada pekerjaan " Alena bangkit dan mengambil tas nya.
"Ya sudah hati-hati " Doni menyarangkan kecupan singkat dibibir Alena.
Doni dan Alena berjalan berdampingan keluar dari ruang kerja Doni. Doni mengantar Alena sampai pintu lift sebelum ia menuju meeting room.
Alena melajukan mobilnya membelah kemacetan kota Jakarta menuju butik nya. Sesampainya di butik, Alena kembali mengerjakan beberapa design pelanggan butiknya yang belum selesai. Alena ingin menjelang hari pernikahannya semua pekerjaannya beres, sehingga ia bisa pokus pada pernikahan nya yang hanya tinggal menghitung hari
Author sengaja nulis cerita ini tanpa ada konflik yang berat.. biar author semangat nulisnya mangga ditunggu vote, komen atau like nya
Happy reading 😘😘😘