NovelToon NovelToon
Takluk Oleh Kelembutannya

Takluk Oleh Kelembutannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Hasanah Yoyoh

Demi memenuhi permintaan kakeknya yang sekarat, kamilah menikah cepat dengan pria acak yang ternyata musuh kakaknya, begitu tuan rizky syah mendapatkan dirinya, ia tak melepaskannya diadaptasi dari master syah

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasanah Yoyoh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35: PAKU DIPANGGUNG DAN JATUHNYA SANG PERMAISURI

​Hari yang dinanti-nanti itu akhirnya tiba. Udara pagi di sekitar Gedung Kesenian Utama dipenuhi oleh antusiasme penonton dan deretan karangan bunga ucapan selamat yang berjejer rapi di halaman depan. Di dalam ruang rias khusus penampil, suasana terasa begitu sibuk dan mendebarkan.

​Kamila duduk di depan meja rias berlampu terang. Ia mengenakan gaun permaisuri berwarna putih bersih dengan lapisan kain rok yang panjang dan menjuntai anggun. Tangannya yang lentik dengan hati-hati merapikan pulasan riasan di wajahnya, memastikan semuanya tampak sempurna untuk pertunjukan hari ini.

​Bu Laila, sang instruktur tari, berdiri di sampingnya sambil mengawasi setiap detail persiapan dengan pandangan teliti.

​"Jangan gugup nanti di atas panggung, Kamila," kata Bu Laila dengan nada suara menenangkan, memperhatikan pantulan wajah Kamila di cermin. "Kamu sudah berlatih keras selama berbulan-bulan. Tunjukkan penampilan terbaikmu."

​Sebelum Kamila sempat membalas, pintu ruang rias mendadak terbuka lebar dengan tergesa-gesa. Elisa, rekan sesama penari, masuk dengan wajah pucat pasi dan napas terengah-engah.

​"Kamila, apa kamu sudah membawa sepatunya? Astaga, kenapa sepatunya tidak ada di sini? Bukankah seharusnya perlengkapan itu sudah diserahkan sejak tadi pagi di bagian pengelolaan kostum?" seru Elisa panik bukan kepalang.

​Kamila menghentikan kuas riasnya, menoleh dengan kening berkerut bingung. "Bukankah selama ini perlengkapan dan sepatu utama disimpan dan diurus langsung oleh bagian pengelolaan kostum sanggar?"

​"Gawat! Gawat! Gawat!" Elisa mondar-mandir sambil mencengkeram kepalanya sendiri. "Aku ingat betul sudah memeriksanya semalam! Tapi kenapa sekarang kotak sepatu di lokermu kosong melompong?!"

​Suasana di ruang rias mendadak tegang. Sebelum mereka sempat mencari tahu keberadaan sepatu tersebut, suara pengeras suara dari luar terdengar menggema ke seluruh ruangan, memecah kepanikan mereka.

​"Penampilan berikutnya... tarian solo klasik bertajuk 'Permaisuri Mabuk', akan segera dipersembahkan ke atas panggung. Kepada penari utama kita... dipersilakan kepada Kamila Ye!" suara MC terdengar jelas menggelegar sampai ke ruang rias.

​Jantung Kamila seketika berdegup kencang, menghantam dadanya dua kali lebih cepat. Waktunya sudah tiba, namun sepatu tarinya justru hilang secara misterius!

​"Bagaimana ini?!" cemas Elisa hampir menangis.

​Kamila menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan otaknya yang berputar cepat di bawah tekanan waktu. "Tidak ada waktu lagi untuk mencarinya. Aku punya banyak gerakan berputar dan melompat berurutan... Kalau sepatunya tidak ada, lebih baik aku menari tanpa alas kaki sama sekali!" keputusan Kamila bulat dan penuh tekad.

​Bu Laila mengangguk cepat memberikan dukungan. "Betul, Kamila! Rokmu panjang dan berlapis-lapis, penonton tidak akan begitu saja menyadarinya. Kamila, kamu pasti bisa, tetap semangat!" kata Bu Laila seraya hendak mengulurkan tangan untuk menggenggam tangan Kamila.

​Namun, entah mengapa ada kilatan rasa tidak nyaman atau refleks defensif yang melintas di benak Kamila. Saat Bu Laila hendak menyentuhnya, Kamila tanpa sengaja menepis tangan Bu Laila dengan gerakan cepat.

​Bu Laila tertegun sejenak, menatap tangannya yang tertepis dengan raut wajah kaget dan terluka tipis. Namun suara panggilan dari pengeras suara kembali mendesak.

​"Sekali lagi, dipersilakan kepada Kamila Ye naik ke atas panggung!"

​"Cepatlah, Kamila!" ujar Bu Laila menelan keheranannya, lalu melangkah ke depan pintu untuk mengumumkan sekali lagi di atas panggung.

​Kamila bangkit berdiri. Dengan gaun putih panjang yang menyapu lantai, ia berjalan keluar dari ruang rias menuju sisi panggung utama.

​Begitu tirai panggung dibuka separuh, sorot lampu putih yang sangat terik langsung menghantam wajahnya. Dari atas panggung, pandangan Kamila langsung menyapu jajaran bangku penonton VIP di barisan paling depan.

​Kening Kamila berkerut dalam. Di antara para tamu undangan elit, ia melihat sesosok pria berjas rapi dengan kacamata berbingkai tipis yang duduk dengan tenang—Rizky Syah.

​Orang sesibuk dia... bukankah baru-baru ini dikabarkan punya urusan bisnis yang pelik dengan Kakakku? Kenapa pria berbahaya itu bisa datang dan duduk di barisan penonton acara tari seperti ini? batin Kamila terkejut.

​Tak jauh dari kursi Rizky Syah, sang ikra pratama—duduk bersama keluarga besar. Melihat kehadiran adiknya di atas panggung, ikra pratama tersenyum lebar sambil melambaikan tangannya penuh bangga dan dukungan.

​Melihat lambaian tangan ikra pratama, senyum tipis terukir di bibir Kamila. Kegugupannya perlahan mereda. Alunan musik tradisional berpadu orkestra modern mulai mengalun lembut memenuhi gedung kesenian.

​Kamila mengambil posisi, menarik napas panjang, lalu mulai melangkah dan menarikan gerakan pembuka dengan anggun. Gaun putih panjangnya melayang indah mengikuti setiap liukan tubuhnya.

​Namun, di tengah-tengah gerakan tarinya, mata Kamila tanpa sengaja melirik ke arah balik tirai sisi kiri panggung. Jantungnya mendadak berdegup kencang bukan karena tarian, melainkan karena sosok yang dilihatnya di sana—Sanum Lin berdiri mengawasi dengan senyum seringai sinis dan tatapan mata yang dipenuhi kebencian pekat.

​Sanum tidak terdaftar tampil hari ini... Kenapa dia ada di belakang panggung dan menatapku dengan cara seperti itu? batin Kamila diliputi firasat buruk.

​Musik makin meninggi. Kamila harus melakukan serangkaian gerakan berputar cepat (spin) yang menjadi inti dari tarian permaisuri tersebut. Ia mengangkat sebelah kakinya dan mulai memutar tubuhnya dengan anggun di bawah sorotan lampu.

​ARGH!

​Tiba-tiba, rasa sakit yang teramat tajam menusuk telapak kaki kanannya!

​Wajah Kamila seketika memucat pasi. Keringat dingin langsung bercucuran di pelipisnya. Rasa sakit itu begitu membakar hingga membuat penglihatannya sempat berkunang-kunang.

​Ya Tuhan... sakit sekali! rintih Kamila di dalam hatinya dengan air mata yang hampir tumpah di sudut mata. Tapi... pertunjukan ini tidak boleh berhenti! Penonton sedang melihatku, keluarga dan Kakek sedang menaruh harapan besar padaku... Aku tidak boleh merusaknya!

​Meski menahan siksaan rasa sakit yang luar biasa di setiap injakannya, Kamila tetap memaksakan diri melanjutkan tarian. Ia mengabaikan darah segar yang mulai merembes keluar menodai lantai panggung putih bersih akibat menginjak sebuah paku tajam yang sengaja ditaruh seseorang di jalur penarinya!

​Pasti ini perbuatan Sanum! Dia yang membuat sepatuku hilang, dan dia juga yang menaruh paku di jalur panggungku! batin Kamila meraung penuh amarah dan rasa sakit.

​Namun, batas fisik manusia ada batasnya. Setelah memutar dua kali lagi dengan sisa-sisa tenaga, rasa sakit di telapak kakinya sudah tidak tertahankan lagi. Seluruh persendiannya lemas, dan pandangannya berubah gelap gulita.

​Bruk!

​Kamila kehilangan keseimbangan dan terjatuh terduduk di tengah panggung megah itu. Musik pengiring langsung terhenti mendadak. Seluruh penonton di dalam gedung terkesiap kaget bersorak cemas.

​Di barisan depan, Rizky Syah dan ikra pratama langsung bangkit berdiri secara bersamaan. Tanpa memedulikan aturan protokoler penonton, kedua pria itu berlari kencang menerobos lorong penonton dan langsung naik ke atas panggung!

​"Kamila!" seru ikra pratama panik luar biasa, berlari paling cepat mendekati adiknya.

​Rizky Syah menyusul tepat di belakangnya, tatapan mata pria itu berubah menjadi sangat dingin dan mematikan saat melihat darah segar di telapak kaki Kamila.

​Bu Laila dan panitia acara berlari panik menghampiri. "Ya ampun! Apa yang terjadi?!" seru Bu Laila histeris.

​Kamila meringis menahan sakit, air matanya menetes membasahi pipinya sambil menunjuk ke lantai panggung. "Kak... sepertinya... aku menginjak paku..." ucap Kamila terbata-bata sebelum akhirnya jatuh pingsan di dalam dekapan erat sang kakak.

1
Hasanah Yoyoh
bagus sekali
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!