NovelToon NovelToon
Jadi Ibu Pengganti Demi Anak-anakku

Jadi Ibu Pengganti Demi Anak-anakku

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Pengganti / Suami Tak Berguna / Selingkuh
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Quoari

Hanis memiliki empat orang anak Yang masih kecil, namun suaminya sedang menganggur. Demi anak anaknya bisa makan dan bersekolah maka Hanis rela menjadi ibu pengganti. Ia menyewakan rahimnya pada Sean, seorang pria kaya yang istrinya divonis mandul. Namun, keajaiban terjadi, saat Hanis sudah positif mengandung anak Sean, sang istri sah juga dinyatakan hamil

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quoari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertemu Mantan Tetangga

Langkah kaki melangkah lambat menyusuri lorong dalam rumah sakit. Mata memindai poster-poster edukasi kesehatan yang tertempel di dinding. Sekadar mengisi waktu sembari menunggu panggilan dari loket farmasi.

“Hanis!”

Yang dipanggil sontak menoleh. Berpaling ke sumber suara. Di belakangnya, seorang ibu, tetangganya di kontrakan lama berdiri. Tampak sumringah melihat Hanis disana.

“Eh, Bu Pita!” 

“Ngapain kamu disini, Han? Ada yang sakit?”

Buru-buru Hanis menggeleng. “Nggak, Bu. Sehat semua…”

“Lha terus ngapain? Jangan bilang kamu hamil lagi, lho. Sudah empat, sudah ada anak perempuan, lengkap. Jangan banyak-banyak.”

“Iya, Bu. Hehehe…” Hanis tersenyum kaku. Jelas tidak mungkin mengaku ia tengah hamil anak kelima. Apalagi ini bukan anak Reno.

“Sama siapa kamu? Reno dimana?”

Buru-buru Hanis memutar otak, mencari alasan yang masuk akal agar tidak mencurigakan. Ketahuan menyewakan rahim untuk mengandung anak orang lain sungguh sangat memalukan dan dapat membuat nama baiknya sekeluarga hancur seketika.

“Mas Reno di rumah. Mas Reno ngurus anak-anak, si Seno sudah sekolah sekarang, Bu.”

“Lho… gimana, gimana? Kalian juga tiba-tiba pindah rumah. Nggak pakai pamit.” Pundak Hanis ditepuk dua kali oleh Bu Pita. “Reno udah kerja lagi?”

“Belum, Bu. Mas Reno belum kerja, makanya saya yang kerja ini,” bohong Hanis meski tidak sepenuhnya bohong. Memang benar kan ia bekerja. “Saya kerja ikut orang, ini nemenin majikan.”

“Oalah… gitu ya. Nggak apa-apa, Nis. Yang penting halal. Kerja yang baik ya,” ucap Bu Pita.

Hanis tersenyum dan mengangguk kecil. “Iya, Bu. Yang penting anak-anak bisa makan sama sekolah dulu.”

“Buat kontrakan, kenapa kamu pindah? Padahal kan sudah nyaman sama tetangga disitu?” Rupanya Bu Pita masih ingin mencari tahu lebih banyak, entah untuk mengobati rasa penasaran dirinya sendiri atau untuk dijadikan bahan gosip dengan ibu-ibu sekitaran rumah nanti.

“Kebetulan ini majikan ada rumah nggak kepake, jadi dikontrakan ke saya murah, bisa potong gaji,” bohong Hanis lagi.

Pasalnya, mengaku bahwa rumah secara cuma oleh orang yang mempekerjakannya akan mengundang kecurigaan dan pertanyaan besar. Jika nanti tetangga lain ikut diberi tahu oleh Bu Pita, mereka bisa saja justru mencari untuk minta pekerjaan serupa dan itu akan menimbulkan masalah baru. Jadi, Hanis memilih untuk memberikan alasan yang masuk akal saja.

“Oalah… baik banget majikanku. Kerjaannya ngapain aja emang?”

Hanis gelisah, ingin segera pergi namun Bu Pita tidak ada tanda-tanda akan mengakhiri obrolan dalam waktu dekat, malah sepertinya ingin berbincang lebih banyak lagi. Atau mungkin lebih tepatnya sesi tanya jawab ketimbang berbincang.

“Ya ngurus rumah tangga, masak, momong, biasa lah, Bu,” jawab Hanis dengan nada suara yang dibuat senatural mungkin. “Ya sepadan aja kerjaan sama dapatnya.”

Sebelum Bu Pita melontarkan pertanyaan yang lebih detail lagi, Hanis segera berpamitan, “ya sudah, Bu Pita. Saya balik dulu, takut dicari majikan saya.”

“Oh ya, Nis. Hati-hati. Jangan lupa kapan-kapan mampir.”

“Iya, Bu. Pasti.”

Segera Hanis memutar tubuh dan berjalan cepat meninggalkan wanita paruh baya itu. Ia tidak melewati jalan yang tadi, karena terlalu dekat dengan posisi berdiri Bu Pita. Hanis memutar, sedikit lebih jauh namun lebih aman dari mata mantan tetangganya yang terlalu kepo.

Ketika Hanis akhirnya duduk bersama Sean dan Jinny, ia segera mengeluarkan ponselnya. Memberi tahu Reno bahwa ia bertemu tetangga mereka dari rumah lama dan mengungkapkan kebohongannya. Tujuannya adalah agar Reno menjawab yang sama jika sewaktu-waktu secara tak sengaja bertemu salah satu tetangga lamanya.

“Nomor antrian farmasi dua puluh empat!” suara dari speaker loket farmasi terdengar nyaring.

Jinny langsung menegakkan kepalanya. Ia berjalan ke loket obat. Sendiri, tidak dengan Sean yang menunggu di bangkunya.

Hanis bersiap, nomor antrian pada kertas kecil di tangannya adalah dua puluh lima yang berarti tepat setelah ini. Ponselnya ia kunci layar dan kembali dimasukkan dalam tas.

“Nomor antrian farmasi dua puluh lima!”

Benar saja, sesaat setelah Jinny menjauh dari loket, nomor antrian Hanis langsung dipanggil.

...****************...

1
falea sezi
egois ini sean🤣 dan lu masih mau ma istri yg bekas di obok2 mantan pcrnya menjijikkan
falea sezi
🤣goblok istri bekas aja mau
Quoari: Terlalu baik sih 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!