NovelToon NovelToon
KETIKA ANGAN MENJADI NYATA

KETIKA ANGAN MENJADI NYATA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:231
Nilai: 5
Nama Author: Nura_thequeen

Bagi Shavia Aurelien (Via), dunia nyata adalah tempat yang abu-abu, bising, dan melelahkan. Itulah mengapa dia memilih menjadi arsitek di dalam kepalanya sendiri—menciptakan sebuah dunia khayalan yang sempurna. Di balik pelupuk mata yang terpejam, Via menganyam kisah cinta yang utuh bersama seorang pria tampan yang selalu dia panggil "Sayang". Sosok sempurna tanpa cela yang selalu memperlakukannya dengan penuh kehangatan.

Namun, dunia yang indah itu mendadak retak saat sang pria membawa Via masuk lebih jauh untuk menemui orang tuanya di alam mimpi. Sebuah penolakan dingin dari sang ibu seketika menghancurkan segalanya. Hubungan mereka tidak direstui karena adanya batas dimensi yang memisahkan. Sejak malam yang menyakitkan itu, sosok "Sayang" lenyap tanpa aba-aba, dan dunia khayalan Via perlahan mulai memudar kehilangan warnanya.

Disaat keputusaan itu melanda, jalan takdir mulai menunjukan arah warna nyata untuk hidup via, membuatnya beralih merangkai kisah indah di dunia nyata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nura_thequeen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Panggung Riuh dan Sorot Mata Tersembunyi

Ketika aku dan Rara masuk kedalam area GOR tempat pertandingan basket itu diadakan. Lautan manusia memenuhi area tribun penonton sampai hampir penuh, penonton yang mayoritas dari dua kampus besar itu tampak memenuhi seluruh kapasitas GOR Universitas Bakti Bangsa.

Pekikan yel-yel, bergemuruh kencang, tabuhan genderang, dan tiupan trompet saling bersahut-sahutan, menciptakan atmosfer pertandingan yang luar biasa panas. Aku dan Rara harus berulang kali menyelip di antara kerumunan penonton sebelum akhirnya beruntung mendapatkan tempat duduk di barisan ketiga dari tribun paling depan.

Begitu aku dan Rara duduk di kursi beton yang dingin, bunyi peluit panjang tanda babak pertama dimulai langsung melengking nyaring membelah GOR. Bola oranye dilemparkan tinggi-tinggi ke udara oleh wasit tengah. Pertandingan final penentu kasta tertinggi antara Universitas Bakti Bangsa melawan Universitas Pelita Bangsa resmi dimulai.

"Gila, Vi. Ramai banget!" seru Rara setengah berteriak di dekat telingaku demi mengalahkan gemuruh suara penonton di sekeliling kami.

"Untung kita dapet kursi di baris depan, kalau telat lima menit aja udah pasti, kita nonton bergelantungan di langit-langit GOR deh!"

Aku tidak menyahut kalimat Rara. fokusku seutuhnya sudah tersita oleh sosok tinggi profesional bernomor punggung 7 di bawah sana. Arga Wijaya. Di tengah lapangan yang riuh, dia tampak sangat berwibawa memimpin rekan-rekan setimnya. Namun, aku menyadari satu hal, fokus Arga seperti tidak berada seratus persen di lapangan pada menit-menit awal. Setiap kali dia berhasil merebut bola atau setelah melakukan transisi bertahan, mata tajamnya selalu bergerak liar menyisir satu per satu barisan padat di tribun penonton. Pria itu sedang seperti sedang mencari keberadaan ku.

Melihat dia yang tampak gelisah, aku tidak memikirkan gengsi lagi. Aku langsung bangkit berdiri dari kursi tribun, mengangkat kedua mengibaskan tanganku tinggi-tinggi ke udara dengan heboh. Aku menarik napas dalam, lalu berteriak dengan volume semaksimal mungkin, sekencang-kencangnya.

"ARGA!!! AKU DI SINI!!! SEMANGAT...!"

Suaraku yang melengking nyaring mendadak memotong riuh yel-yel di barisan tribun kami.

Beberapa mahasiswa di sekitar kami sempat menengok dengan pandangan heran, namun aku sama sekali tidak peduli. Mendengar pekikan suaraku yang sangat familier, langkah kaki Arga di lapangan bawah mendadak terkunci selama satu detik. Dia langsung menoleh ke atas tribun barat, dan begitu sepasang mata tajamnya mengunci menatap posisiku yang sedang melompat kecil, mendung gelisah di wajah tampannya seketika menguap tanpa sisa.

Di bawah pendar lampu GOR yang terang, sebuah pemandangan langka terjadi. Arga mengulas sebuah senyuman tipis yang sangat tulus ke arahku, mengangguk kecil seolah ingin berbisik: 'Aku tahu kamu pasti datang.'

"Uhuy! Kapten dapet bensin tambahan nih dari bidadari tribun!" ledek Joni dari bangku cadangan bawah, yang langsung dihadiahi tatapan tajam nan jutek dari Arga, meski telinga sang kapten basket terlihat sedikit memerah padam.

Detik berikutnya, performa Arga berubah seratus delapan puluh derajat menjadi luar biasa mengerikan bagi tim lawan. Dia menggiring bola dengan sangat lihai, memutari pemain bertahan Universitas Pelita Bangsa menggunakan teknik crossover yang begitu cepat dan mematikan. Langkah kakinya begitu lincah membelah pertahanan bawah ring.

Pertandingan berjalan dengan sangat sengit dan menegangkan. Kedua tim saling kejar-mengejar angka tanpa ampun. Tembakan tiga angka dari tim Pelita Bangsa selalu berhasil dibalas dengan lay-up akrobatik yang mulus oleh Arga. Skor di papan digital terus bergerak seimbang, saling mengunci ketat hingga babak kedua berakhir dan wasit meniup peluit.

Prrreeettt!

"Waktu istirahat paruh babak, selama lima belas menit!" teriak komisioner tanding melalui pengeras suara.

Begitu melihat Arga berjalan lunglai menuju bangku cadangan timnya dengan tubuh yang dibanjiri keringat, aku tidak membuang waktu satu detik pun. Aku langsung menyambar tas kain besar di pangkuanku, mengabaikan tarikan tangan Rara, dan bergegas turun menyusuri anak tangga tribun penonton menuju ke pinggir lapangan utama tanpa rasa malu sedikit pun.

Aku tidak memedulikan tatapan selidik dari ratusan pasang mata mahasiswa dari dua universitas elit yang sedang menonton. Fokusku murni hanya tertuju pada pria pujaanku itu Arga Wijaya.

"Arga!" panggilku riang, memangkas jarak di antara kami, saat dia baru saja duduk di bangku sambil menumpuk napasnya yang memburu.

Arga mendongak, wajah tampannya tampak sangat lelah dengan beberapa tetes keringat yang mengalir melewati garis rahang tegasnya. Begitu dia melihatku berdiri di hadapannya sambil menyodorkan sebotol minuman isotonik dingin, dan selembar handuk kecil, sorot mata kaku pria itu langsung melunak seutuhnya.

"Shavia... kamu beneran turun ke sini, ngapain?" bisik Arga lirih, suara baritonnya yang berat terdengar agak serak karena kelelahan.

"Iya dong. Aku kan udah janji mau dukung kamu paling kencang, jadi biarkan aku memberikan kamu perhatian ya!" ujarku penuh semangat, langsung berlutut kecil di depan bangkunya agar posisiku lebih rendah.

Tanpa meminta izin terlebih dahulu, aku meraih handuk kecil yang ku bawa, lalu perlahan mulai mengelap sisa-sisa keringat yang membasahi pelipis dan leher kekarnya Arga dengan sangat lembut dan jeli.

"Sumpah ya, Arga... permainan kamu tadi keren banget. Apa lagi, pas bagian kamu lewatin dua pemain bertahan tadi, aku sama Rara sampai melongo di atas tribun. Kamu hebat banget!"

Mendengar rentetan pujianku yang menggebu, wajah Arga yang biasanya sedatar papan tulis seketika tersipu.

Pria itu memalingkan wajahnya sedikit ke arah lain dengan salah tingkah yang kentara, mencoba menyembunyikan rona merah yang mendadak terbit di kedua pipinya akibat perhatian manisku yang terlalu terang-terangan itu di depan umum.

"Biasa aja... itu cuma taktik dasar lapangan."

"Ih, kok biasa aja sih. Itu beneran hebat tahu!" belaku, tidak mau kalah.

Aku merogoh kembali tas kainku, mengeluarkan sebuah wadah kecil berisi potongan buah pisang dan cokelat energi yang sehat, yang telah kusiapkan dari rumah. Aku mengambil sepotong buah dengan garpu kecil, lalu menyodorkannya tepat di depan bibirnya Arga "Nih, buka mulut kamu. Harus dimakan sekarang ya, biar tenaga kamu pulih lagi buat babak selanjutnya. Ayo, buka!"

Tindakan telatenku yang menyuapinya dengan penuh kasih sayang, persis seperti seorang ibu yang sedang memanjakan anak kesayangannya, langsung memicu kehebohan di area bangku cadangan tim basket Universitas Bakti Bangsa itu.

Danu yang sejak tadi sedang meneguk air mineral di sebelah Arga langsung tersedak hebat, wajahnya dipenuhi binar takjub sekaligus iri yang dibuat-buat.

"Wah, wah, parah sih ini!" seru Danu dengan suara keras sengaja agar didengar oleh pemain lain.

"Heh, anak-anak. Lihat tuh Kapten kita, Di lapangan garang kayak macan, begitu keluar lapangan mendadak jadi bayi gede yang minta disuapin buah. Sumpah, membuat gue yang jomblo merasa bergetar nih ginjal, saking irinya!"

"Uhuy! Asupan karbohidratnya beda ya. Soalnya pake asupan cinta!" timpal Joni heboh sambil bersiul jail, diikuti oleh tawa terbahak-bahak dari seluruh anggota tim basket yang lain.

Mendengar ejekan beruntun dari teman-teman tim Arga, aku tidak merasa malu sama sekali, justru aku malah senyam-senyum sendiri dengan perasaan kegirangan yang meluap di dada, merasa kalau ejekan mereka itu adalah pujian untukku.

Sementara itu, Arga langsung melotot tajam ke arah Danu dan Joni, membalas mereka dengan ekspresi wajah yang diusahakan tetap jutek dan kaku, meskipun rona merah di telinga dan pipinya sama sekali tidak bisa berbohong kalau dia sedang salah tingkah setengah mati.

"Berisik lu semua. Ambil makanan lu sendiri di sana, gak usah ngeliatin gue," sahut Arga ketus dengan suara baritonnya yang tertahan, namun mulutnya tetap terbuka patuh menerima suapan pisang berikutnya dari tanganku.

Namun, di tengah-tengah atmosfer di pinggir lapangan yang dipenuhi oleh kehangatan dan candaan manis itu, ada sepasang mata lain yang sejak tadi mengawasi gerak-gerik kami dari kejauhan.

Tepat di barisan kursi khusus tamu VIP seberang lapangan, duduk seorang gadis muda dengan blus tanpa lengan berwarna merah marun dan riasan wajah yang tebal nan tajam. Gadis modis yang tadi sempat bertabrakan denganku di koridor luar. Di sampingnya, kekasihnya yang memakai jaket bomber mewah ikut duduk menemani. Sepasang kekasih itu menatap lurus ke arah posisiku yang sedang menyuapi Arga dengan sorot mata yang dipenuhi oleh kombinasi rasa terkejut, tidak percaya, sekaligus kebencian yang teramat sangat mendalam.

Gadis modis itu meremas tali tas bermereknya dengan erat, hingga kuku-kukunya memutih. "Sayang... kamu lihat, itu cewek udik yang tadi nabrak aku di koridor kan?" bisik gadis itu dengan suara yang bergetar menahan amarah, menunjuk ke arahku dengan dagunya.

"Kenapa cewek murahan kayak dia bisa ada di dekat Arga Wijaya. Bahkan pakai acara suap-suapan didepan semua orang lagi. menjijikkan!"

Kekasihnya ikut menyipitkan mata, menatap Arga dengan kilatan rasa jengkel yang samar. "Wah... menarik banget ini. Seleranya Arga ternyata serendah itu sekarang, malu-maluin banget."

Gadis modis itu mengulas sebuah senyuman sinis yang sangat dingin di bibir tebalnya, tatapan matanya memancarkan sinyal bahaya yang sarat akan rencana licik untuk membalas dendam. "Bagus kalau gitu... tadinya gue bingung gimana cara membalas kelakuan kurang ajar dia yang udah berani mengabaikan gue di koridor tadi. Tapi sekarang... gue tahu harus bagaimana... gue bakal pastikan, hidup cewek itu tidak akan tenang lagi"

Prrreeettt!

Peluit panjang dari wasit tengah kembali melengking nyaring, menandakan waktu istirahat lima belas menit telah usai. Babak ketiga harus segera mulai dilanjutkan kembali.

"Aku balik ke lapangan dulu, Shavia," pamit Arga pelan, suara baritonnya melembut saat menatapku untuk yang terakhir kali.

Pria itu berdiri, merapikan jersei basketnya, lalu menepuk pucuk kepalaku singkat dengan gerakan yang penuh kehangatan tersembunyi.

"Masuk ke tribun lagi. Jangan berdiri di pinggir lapangan, bahaya banyak bola nyasar."

"Iya, Arga. Semangat ya! Bawa pulang piala juaranya buat aku ya!" jawabku riang dengan pose hormat yang mantap, sukses membuat seulas senyuman tipis kembali lolos dari sudut bibir tampan Arga, sebelum dia berlari lebar memasuki area tengah lapangan kembali bersama timnya.

Aku pun segera membalikkan badan, berjalan cepat menaiki anak tangga tribun untuk kembali duduk di samping Rara. Begitu aku mendudukkan diri, Rara langsung melipat kedua tangannya di dada, menatapku dengan gelengan kepala heran dan helaan napas panjang yang sarat akan ledekan tak berujung.

"Sumpah ya, Shavia Aurelien," cibir Rara tanpa ampun, memutar bola matanya malas.

"Kebucinan lo hari ini bener-bener udah stadium akhir dan gak tahu tempat tahu gak. Di depan ratusan penonton dari dua kampus elit, lo nekat turun ke pinggir lapangan, cuma buat ngelap keringat, sama nyuapin pisang ke si gunung es itu. Urat malu lo udah putus seutuhnya ya Vi, gara-gara cinta?"

Aku langsung tertawa renyah memeluk tas kain besarku yang sudah mulai lebih kosong, aku sama sekali tidak terganggu oleh ejekan sahabat terbaikku itu. Pandanganku kembali kujejakkan lurus ke depan lapangan bawah, menatap pergerakan agresif Arga yang kembali bertarung dengan sengit menembus pertahanan lawan.

"Biarin aja, Rara sayang. Yang penting realitas ku hari ini, jauh lebih indah dan manis daripada semua khayalan dan mimpi-mimpiku dulu!" jawabku penuh kemenangan, mengunci seutuhnya fokus duniaku pada sang pemilik hati di bawah sana.

Tanpa menyadari bahwa sebuah badai konflik besar dari kursi VIP seberang lapangan, kini sudah mulai bersiap untuk menerjang kehidupanku yang nyata.

...----------------...

...****************...

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

AUTHOR'S NOTE

Oh My God! Bab 35 bener-bener sukses bikin batin pembaca jungkir balik kegirangan sekaligus tegang gak sih! 😭🏀🔥

Aksi nekat Via yang turun ke pinggir lapangan buat ngelap keringat dan menyuapi Arga sukses bikin satu GOR heboh, terutama Danu dan anak-anak basket yang langsung menyeru iri. Arga yang biasanya sedingin es batu pun terbukti gak berkutik dan malah tersipu malu-malu kucing menerima perhatian manis Via.

Tapi taruhannya, aksi mereka berdua ternyata disaksikan oleh gadis modis yang saat di koridor tadi tidak sengaja Via tabrak, dia duduk di kursi VIP dengan tatapan penuh kebencian dan rencana balas dendam yang mengerikan.

Kira-kira, rencana licik apa ya yang bakal dilancarkan gadis modis itu untuk merusak kebahagiaan Via di bab selanjutnya?

Terus gimana jalannya babak penentu kemenangan basket Arga?

Jangan sampai kendor ya, untuk terus semangat membaca cerita Via ini!

Dan jangan lupa, tinggalkan jejak berupa bintang dan komentar paling baper kalian untuk bab ini, dan kita langsung meluncur bersama ke Bab 36! Happy reading, love you all! 💙✨

1
zru!
baguss kak
Nura_thequeen: terimakasih ♥️🙏
total 1 replies
falea sezi
q kirim bunga lagi🤭
falea sezi
lanjut q kirim bunga lagi 👍
falea sezi: siap thor🤭 rajin up nanti q rajin kasih hadiah
total 2 replies
falea sezi
😕 ga jangan sakitin. via atau php ya 😓bisa. gila anak orang ga
Nura_thequeen: iya ni. moga aja Arga gak gitu ya. bisa-bisa via balik lagi kesetelan halunya🤣
total 1 replies
falea sezi
moga aja Arga gk php ya🤣
falea sezi
🤣 sweet nya mas kulkas
falea sezi
akirnya rara jujur😕
falea sezi
👍 q kirim hdiah tp buat via jangan terlalu ngemis ya😓
Nura_thequeen: wihhh, terimakasih besti. gak kok tenang via gak ngemis. cuma agak cegil sedikit aja.... haha
total 1 replies
falea sezi
malu maluin mbk🤣 ngemis ngemis lu halu di bawa ke ngata
falea sezi
🤣🤣 kebanyakan halu ya gini
Nura_thequeen: begitulah🤣🤣🤣
total 1 replies
falea sezi
moga bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!