Alethea adalah seorang kurator museum yang bekerja di museum national gallery art di Washington. Dia sudah dua tahun ditingga! suaminya yang meninggal akibat kecelakaan ski. Suatu hari, dia mendapatkan kiriman lukisan wajahnya. Pengirimnya tertanda dari kota kecil di Irlandia. Alethea diutus oleh bossnya untuk mencari pelukisnya. Tidak mudah untuk mencari hingga dia tiba di desa kecil bernama Cedliff. Di sebuah hotel desa dia bertemu dengan Satoru Shinoda yang terkejut melihatnya. Tanpa Alethea tahu, Satoru adalah pelukisnya. Satu pertanyaan. Mereka belum pernah bertemu sebelumnya tapi bagaimana Satoru bisa melukis wajah Alethea?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hana Reeves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bingung
Alethea dan Satoru kembali ke rumah keluarga Shinoda setelah menyaksikan pertunjukan teater. Satoru menawarkan tiket nonton Premier League Derby London tapi Alethea menolak.
"Satoru, aku bukan orang Inggris yang suka sepak bola. Sejujurnya aku juga tidak suka olah raga apapun meskipun aku orang Amerika. Maksud aku yang model Football, Baseball, Basketball ataupun sepakbola. Aku lebih suka pilates atau yoga," ucap Alethea.
"Serius nih kamu tidak mau nonton Arsenal lawan Chelsea? Mumpung kamu di London lho," tawar Satoru lagi.
"Memangnya kamu suka sepakbola?" tanya Alethea.
"Tidak juga. Cuma karena sepupuku pemain Manchester United, jadi mau nggak mau ya harus paham," cengir Satoru.
Alethea tertawa. "Kacau kamu."
Satoru tersenyum. "Thea, jika kita menikah ... kamu mau tetap tinggal di Washington atau ikut aku kemana-mana?"
Alethea tampak terdiam. "Aku belum tahu. Aku suka bekerja di museum dan kalau ikut kamu kemana-mana, aku merasa tidak bisa berkarya. Bukan uangnya, Toru, tapi rasa kebanggaan aku. Aku bisa bekerja, bisa mengamalkan ilmu aku."
"Sejujurnya Thea, aku tahu kamu sangat cinta pekerjaan kamu. Tapi aku merasa tidak nyaman jika tinggal di rumah kamu. Bukankah itu rumah yang dibeli kamu dan suamimu?" tanya Satoru.
"Benar. Aku juga bingung Toru. Aku bisa paham kamu merasa tidak nyaman di rumah aku ... apalagi masih ada beberapa barang milik Toshiro. Aku sudah bersama kamu tapi ... Bayang-bayang Toshiro belum bisa membuat aku meninggalkan semuanya," jawab Alethea. "Maafkan jawaban aku."
Satoru menggeleng. "Toshiro pasti pria baik bukan?"
"Iya. Kamu juga baik Toru, dan kalian berdua berbeda cara mencintai aku. Tapi aku bisa merasakan bagaimana tulusnya kalian. Well, meskipun kamu lebih suka membuat aku gemas dan kesal," kekeh Alethea.
Satoru meraih tangan Alethea dan mencium punggung tangannya. "Soal rumah, kita pikirkan nanti. Aset keluarga aku banyak jadi ... santai saja."
Alethea tersenyum. "Sultan bebas ya?"
"Inilah kenapa aku lahir di keluarga yang punya privilege tapi tetap harus tahu diri. Bukan apa-apa, semakin kamu kaya, semakin banyak orang tidak suka. Jadi tetap memegang adab, etika dan perilaku. Mau dibilang pencitraan tapi memang aturannya di keluarga aku begitu," ucap Satoru.
"Aku jadi tidak sabar bertemu dengan keluarga besar kamu. Mungkin karena aku anak tunggal jadi ingin punya keluarga yang banyak ... Sore de wa, aku jadi penasaran dengan keluarga kamu," ujar Alethea.
Satoru bergidik. "Aku tidak tanggung jawab kalau kamu kena julid dan pernistaan lho ya."
Alethea tertawa. "Kita lihat saja nanti."
Mobil Mini Cooper itu pun tiba di rumah keluarga Shinoda. Pelayan yang membukakan pintu dan tersenyum ke arah pasangan itu.
"Kok sudah sepi?" tanya Satoru.
"Master Satoru, Mr dan Mrs Shinoda sudah beristirahat di kamar. Ini sudah pukul dua belas malam dan katanya Mr Shinoda ada operasi besok pagi," jawab pelayan itu.
"Hah? Bukannya Otousan tidak ada jadwal operasi di London," gumam Satoru.
"Katanya Mrs Galena Darling kena flu berat jadi Mr Shinoda yang menggantikannya," jawab pelayan itu sambil berjalan bersama dengan Satoru dan Alethea.
"Eh? Tante Galena kena flu? Bisa sakit juga si Tante. Memang siapa pasiennya? Kok Otousan bisa jadi dokter penggantinya?" tanya Satoru.
"Prince Nicholas. Katanya usus buntu."
Satoru melongo. "Nico?"
"Toru, itu pangeran lho," bisik Alethea.
"Yang kebetulan sepupu jauh juga," kekeh Satoru.
"Hah?"
"Ya sudah. Terima kasih sudah menunggu kami. Kamu bisa beristirahat," senyum Satoru.
"Baik Master Satoru. Saya permisi dulu. Selamat malam," pamit pelayan itu.
"Selamat malam," balas Satoru dan Alethea bersamaan.
Setelahnya Satoru mengantarkan Alethea ke kamarnya. "Selamat beristirahat, Thea. Aku harap kamu senang hari ini."
Alethea tersenyum. "Senang sekali. Aku bertemu dengan Tante Elle dan Erhan, mendapatkan Burberry, jalan-jalan bersamamu, nonton teater ... sangat menyenangkan hari ini. Terima kasih."
Satoru mengangguk. "Aku lega kamu tidak kecewa hari ini. Maafkan aku kalau sering tidak jelas."
Alethea tertawa. Dia mengalungkan tangannya di leher Satoru. "Itu ciri khas kamu. Sering tidak jelas."
Satoru memeluk pinggang Alethea. "Apakah kamu senang dengan ketidakjelasan aku?"
"Bisa dibilang, aku semakin serius menyukai ketidakjelasan kamu," jawab Alethea.
Satoru mencium bibir Alethea. Awalnya hanya ciuman lembut tapi ciuman keduanya semakin panas. Alethea melepaskan bibirnya. Keduanya saling terengah..
"Sebaiknya ... Aku tidur," ucap Alethea dengan nada bergetar.
"Yup. Aku ... Takut bisa kebablasan dan besok bisa kena hajar Otousan," balas Satoru sembari berdehem.
"Goodnight Satoru."
"Goodnight Thea."
Alethea masuk ke dalam kamarnya dan menutup pintunya pelan di depan Satoru. Pria itu mengusap rambutnya.
"Benar Thea janda tapi nggak gitu juga ceritanya tidur bersama sebelum menikah," guma. Satoru sambil berjalan ke kamarnya.
***
Malam itu, Satoru sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Dia sudah berulang kali mengubah posisi tidurnya, menarik selimut hingga ke dada, kemudian membuangnya lagi. Namun, pikirannya terus berputar pada satu persoalan yang belum juga menemukan jawaban.
Di mana mereka akan tinggal setelah menikah nanti?
Satoru menatap langit-langit kamar dengan ekspresi serius. Sebagai seorang pria yang terbiasa menyelesaikan berbagai persoalan dengan perhitungan matang, urusan tempat tinggal justru membuatnya kebingungan.
Jika mereka tinggal di Washington, berarti ia harus menetap di rumah Alethea. Rumah itu merupakan hadiah dari mendiang suami Alethea. Satoru tidak ingin perempuan itu merasa seolah-olah dirinya sedang mengambil alih tempat yang menyimpan begitu banyak kenangan bersama seseorang yang pernah dicintainya.
Namun, membawa Alethea pindah dari Washington juga bukan pilihan yang mudah. Wanita itu sangat menyukai pekerjaannya di museum. Dia bisa menghabiskan berjam-jam di sana tanpa merasa bosan. Belum lagi berbagai koleksi, rekan kerja, dan aktivitas yang sudah menjadi bagian dari kehidupannya.
Satoru mengembuskan napas panjang. "Kalau aku membawanya ke London, dia pasti akan mengomel karena harus meninggalkan museum. Kalau aku tinggal di Washington, aku harus menyesuaikan seluruh kehidupanku di sana. Duh! Aku harus bagaimana?"
***
Yuhuuu up malam yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu
kalo yang lain pindah tidurnya di penjara, kalo pak akito pas nonton teater 🤭🤭🤭
nggak sabar pingin punya menantu ya😊😊
Apa kabar aku yang ga pintar masak dan kalah enak sama masakan suami 😄