"Tenang saja sayang, dia akan buta selama-lamanya..." Arga membiarkan kekasihnya bermain main di pangkuannya. Dalam nafsu yang terbakar suara erangan terdengar.
Kiara yang sudah bisa melihat. Ia mendengar segalanya, meraba bagian bawah matanya sendiri. Wanita yang tidak dapat melihat karena ulah suaminya.
Air matanya mengalir, pria manipulatif yang ingin menguasai hartanya.
Tapi tidak, dalam tangisannya dirinya berucap pelan.
"Aku dapat membuatmu bergelimang harta, maka aku juga dapat menyeretmu ke neraka..."
Sebuah pembalasan dendam dimulai. Semua bagaikan papan catur yang dimainkan oleh sang wanita yang dibuat buta untuk membalas suaminya.
"Satu persatu hutangmu akan aku tagih..." Senyuman menyeringai mengerikan. Perlahan tertawa dibalik tangisannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB — 31
Sinar matahari pagi menembus celah tirai kamar utama, namun tidak ada sedikit pun kehangatan yang tersisa di ruangan itu.
Arga duduk di tepi ranjang dengan mata merah dan napas yang berat. Pria itu tidak tidur semalaman. Otaknya terus memutar berbagai skenario terburuk yang mungkin terjadi. Paranoia telah mengambil alih seluruh kewarasannya.
Di sebelahnya, Kirana perlahan membuka mata, berpura-pura baru saja terbangun dari tidur yang nyenyak. Ia meraba-raba sisi kasur yang kosong, lalu menyentuh punggung suaminya.
"Sayang? Kamu sudah bangun dari tadi?" sapa Kirana dengan suara lembut dan serak khas orang bangun tidur.
Arga menoleh, menatap istrinya dengan pandangan kosong. "Aku nggak bisa tidur semalaman, Sayang."
"Kenapa? Masalah di kantormu belum selesai juga?" Kirana beringsut mendekat, memeluk lengan suaminya dengan manja. "Kamu harus jaga kesehatan, Sayang. Jangan sampai kamu jatuh sakit. Kalau kamu sakit, siapa yang bakal jagain aku di rumah ini?"
"Aku nggak akan sakit, Kirana. Aku cuma lagi mikir cara buat nyingkirin hama-hama yang terus ganggu hidupku," jawab Arga dengan nada yang sangat dingin.
"Hama? Oh, tikus-tikus kecil yang kamu bilang semalam itu ya?" Kirana tersenyum polos, pandangannya sengaja dibuat tidak fokus ke arah Arga. "Tadi malam aku mimpi aneh banget, Sayang. Mungkin karena sebelum tidur kita bahas soal masalahmu."
Urat-urat di leher Arga seketika menegang. "Mimpi apa lagi kamu kali ini, Kirana?"
"Aku mimpi ketemu Dokter Alibie, Sayang. Aneh kan? Di mimpiku, Dokter Alibie datang ke rumah ini dengan wajah panik banget. Dia bilang dia lagi dikejar-kejar sama polisi karena menerima uang suap yang sangat banyak. Terus, dia minta tolong sama kamu buat nyembunyiin dia."
Arga tersentak hebat, tubuhnya menegang kaku seperti batu. "K-kamu ngomong apa barusan? Dokter Alibie?! Uang suap?!"
"Iya, Sayang. Di mimpiku dia nangis-nangis. Dia bilang dia mau bongkar semua rahasia pasiennya ke polisi kalau kamu nggak mau bantu dia. Seram banget, kan? Orang yang kelihatannya baik kayak Dokter Alibie ternyata bisa diancam masuk penjara juga," ucap Kirana dengan nada bercerita yang sangat ringan, seolah ia sedang menceritakan alur sebuah film.
Napas Arga memburu dengan sangat kencang. Keringat dingin sebesar biji jagung mulai bermunculan di dahinya. "Itu cuma mimpi, Kirana! Cuma bunga tidur! Jangan pernah bahas nama Dokter Alibie lagi di depanku!" bentak Arga, melepaskan pelukan istrinya dengan kasar dan langsung berdiri.
"Sayang? Kok kamu marah? Aku kan cuma cerita mimpiku..." lirih Kirana, memasang wajah sedih dan ketakutan.
"Aku mau pergi sekarang! Kamu diam di kamar, jangan berani-berani keluar!"
Tanpa memedulikan istrinya lagi, Arga menyambar jas dan kunci mobilnya, lalu berlari keluar kamar. Pintu dikunci dari luar dengan sangat terburu-buru.
Di atas ranjang, Kirana menurunkan bahunya yang tegang. Ia tersenyum sangat lebar hingga memperlihatkan deretan giginya. 'Waktunya sudah habis untuk dokter pengkhianat itu. Selamat jalan, Dokter Alibie.'
Di Rumah Sakit Medika, Dokter Alibie sedang merapikan berkas-berkas di meja kerjanya. Wajah dokter paruh baya itu terlihat sangat gelisah. Tadi malam, ia menerima panggilan telepon misterius dari seorang pengacara bernama Darmawan, yang menyebutkan nominal pasti uang suap yang ia terima dari Arga.
BRAK!
Pintu ruang praktiknya dibuka dengan sangat kasar. Arga melangkah masuk, langsung mengunci pintu dari dalam, dan menutup tirai jendela kaca di ruangan itu dengan cepat.
"Pak Arga?! Ada apa ini? Kenapa Bapak tiba-tiba datang tanpa jadwal?!" tanya Dokter Alibie dengan panik, berdiri dari kursinya.
Arga berjalan cepat menghampiri meja kerja sang dokter, matanya memancarkan niat membunuh yang sangat pekat. "Siapa yang sudah menghubungi kamu, Dok?! Jawab jujur, atau aku patahkan lehermu sekarang juga!"
"A-apa maksud Bapak?! Tidak ada yang menghubungi saya!" sangkal Dokter Alibie, melangkah mundur hingga punggungnya menabrak lemari obat.
Arga menerjang maju, mencengkeram kerah jas putih dokter itu dengan kedua tangannya. "Jangan berani berbohong padaku! Istriku tiba-tiba mengigau soal kamu dan uang suap itu pagi ini! Pasti ada orang yang membocorkannya! Apa pengacara tua bernama Darmawan itu mengancammu, hah?!"
Mendengar nama Darmawan disebut, pertahanan Dokter Alibie langsung runtuh. Tubuhnya gemetar hebat. "B-benar, Pak Arga! Semalam Pak Darmawan menelepon saya! Dia bilang dia punya bukti transfer rekening saya! Dia menyuruh saya untuk menyerahkan diri dan menjadi saksi di pengadilan, atau dia akan menghancurkan karir saya!"
"Dan kamu setuju untuk bersaksi melawan aku?!" bentak Arga, wajahnya merah padam.
"S-saya belum memberikan jawaban apa pun, Pak! Saya minta waktu untuk berpikir! Pak Arga, tolong saya... Saya tidak mau dipenjara! Kalau rahasia soal rekam medis palsu Nyonya Kirana itu terbongkar, lisensi kedokteran saya akan dicabut!" isak Dokter Alibie, memohon dengan sangat menyedihkan.
Arga melepaskan cengkeramannya. Pria itu mengusap wajahnya kasar, mencoba mengatur napasnya. "Tenang, Dok. Kamu nggak akan masuk penjara. Kita sudah sejauh ini, aku nggak akan biarkan satu pun orang merusak rencana kita."
"B-benarkah, Pak Arga? Bapak punya cara untuk membungkam pengacara itu?" tanya Dokter Alibie, sedikit merasa lega.
"Tentu saja. Tapi sebelum itu, aku butuh kamu melakukan satu hal untukku," ucap Arga dengan suara yang kembali lembut dan menenangkan.
"Apa itu, Pak? Saya akan lakukan apa saja."
Arga melirik ke arah meja troli medis di sudut ruangan. Ada beberapa ampul obat bius dan suntikan kosong di sana. "Aku butuh obat penenang dosis tinggi untuk istriku. Halusinasinya makin parah. Tolong siapkan suntikannya sekarang, Dok."
"Baik, Pak. Tentu saja," Dokter Alibie segera berbalik, mengambil sebuah suntikan, dan mulai memasukkan cairan bening dari dalam ampul. "Dosis ini cukup untuk membuatnya tertidur lelap selama dua belas jam penuh, Pak. Bapak bisa mencampurnya ke dalam..."
Belum sempat Dokter Alibie menyelesaikan kalimatnya, Arga menerkamnya dari belakang. Arga membekap mulut dokter itu dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya merebut jarum suntik yang sudah terisi penuh tersebut.
"Mmmmphh!!! Hmmmphhh!!!" Dokter Alibie meronta-ronta dengan sekuat tenaga, matanya membelalak ngeri melihat jarum suntik di tangan Arga.
"Maafkan aku, Dok. Tapi orang yang sedang ketakutan sepertimu sangat rentan untuk berkhianat," bisik Arga tepat di telinga dokter itu. "Dan aku tidak bisa mengambil risiko itu."
Jleb!
Arga menancapkan jarum suntik itu tepat ke pembuluh vena di leher Dokter Alibie, lalu menekan pendorongnya hingga seluruh cairan obat bius dosis tinggi itu masuk ke dalam aliran darah sang dokter.
Hanya butuh waktu beberapa detik, rontaan Dokter Alibie mulai melemah. Matanya kehilangan fokus, napasnya tersengal-sengal, hingga akhirnya tubuhnya lunglai sepenuhnya di pelukan Arga.
Arga merebahkan tubuh tak bernyawa itu ke atas lantai, meletakkan jarum suntik kosong itu kembali ke tangan Dokter Alibie, lalu merapikan jasnya.
"Selamat tidur panjang, Dokter. Laporan otopsi pasti akan menyebutkan bahwa kamu overdosis karena depresi berat," gumam Arga dingin.
Ia membuka pintu ruang praktik itu sedikit, memastikan lorong rumah sakit sedang sepi, lalu melangkah keluar dengan tenang seolah tidak terjadi apa-apa.
🤭🤭
udh kirana tuk sekarang km mending pura2 buta aj ,,
sambil mencari bukti kejahatan si agar2 ,,