Clarissa Pratama, istri lemah dari Dominic sang pewaris klan elit, selalu menjadi korban fitnah kejam Helena yang mengincar posisinya. Namun, setelah insiden fatal yang hampir merenggut nyawanya, tubuh Clarissa tidak lagi sama. Jiwa Ratu Victoria, seorang penguasa tangguh dari masa lalu, terbangun di dalam dirinya. Bagi Victoria, intrik domestik klan Pratama hanyalah permainan amatir. Dengan kecerdasan tajam dan wibawa mutlak, Clarissa yang baru mulai membalikkan keadaan. Ia mematahkan setiap perangkap Helena secara elegan, membuat Dominic terpikat sekaligus curiga. Sang Ratu telah kembali, siap mempertahankan mahkotanya dan menghancurkan siapa pun yang berani mengusik ketenangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35. ULAR DIBALIK MAHKOTA
Penguasa Sebenarnya dan Pembagian Peran
Tiga hari berlalu dalam keheningan yang semu. Kota seolah berjalan seperti biasa, namun di balik kemewahan ruang rapat utama Mansion Klan Pratama, atmosfer pengambilalihan kekuasaan terasa begitu pekat.
Paman Felix berdiri di ujung meja panjang, mengenakan jas hitam mahal dengan tangan kiri yang masih terbalut perban tipis. Di hadapan para tetua klan dan jajaran dewan direksi, ia dengan mulus memenangkan voting RUPS luar biasa. Kepemimpinan klan Pratama secara resmi jatuh ke tangannya.
"Terima kasih atas kepercayaan Anda sekalian," ujar Felix dengan wajah syahdu yang dipaksakan. "Saya berjanji akan membawa klan Pratama melewati masa-masa kelam ini setelah kehilangan Kakak Silas, Dominic, dan Clarissa."
Tepuk tangan terdengar bergemuruh dari para pemegang saham yang telah dibeli kepatuhannya. Namun, saat rapat resmi dibubarkan dan ruang kerja Patriark dikosongkan, raut wajah lesu Felix seketika lenyap.
Ia berjalan menuju meja kerja peninggalan Kakek Silas, menduduki kursi kebesaran itu, dan menyandarkan tubuhnya seraya tertawa pelan. Kesombongan terpancar jelas dari garis wajahnya.
BZZZ... BZZZ...
Ponsel khusus bersaluran satelit yang tersimpan di dalam laci meja bergetar keras. Tawa Felix langsung terhenti. Raut wajahnya yang tadinya pongah seketika berubah tegang, diliputi rasa cemas dan ketakutan yang mendalam. Dengan tangan sedikit bergetar, Felix menggeser tombol hijau.
"Semua berjalan sesuai rencana Anda, Chairman," ucap Felix cepat dengan nada suaranya yang mendadak amat menghamba.
"Saya sudah resmi memegang kendali atas klan Pratama hari ini."
Dari seberang saluran, terdengar suara tawa dingin yang menggelegar—suara berat yang dalam dan dipenuhi dominasi mematikan milik Pemimpin Tertinggi Konsorsium Hitam.
"Kerja bagus, Felix," sahut suara di seberang dengan nada meremehkan. "Jangan biarkan mahkota sementara itu membuatmu lupa diri. Kau hanyalah tangan yang kugunakan untuk memegang pisau. Ingat posisi mu... boneka."
"T-Tentu, Tuan. Saya tidak akan pernah melupakan bantuan dan arahan Anda," sahut Felix gagap, menyapu keringat dingin di dahinya. "Seluruh aset dan jalur logistik klan Pratama di Sektor Barat akan segera saya serahkan sesuai kesepakatan kita."
"Bagus. Amankan arus kasnya. Jika ada satu celah saja yang bocor, nasibmu akan jauh lebih tragis daripada Silas."
KLIK.
Sambungan terputus. Felix mengembuskan napas lega yang berat, menyeruput wiski di mejanya tanpa menyadari bahwa setiap kata dalam percakapan rahasia itu telah terenkripsi dan terekam secara real-time.
Penthouse Vane Tower — Pukul 14.00 WIB.
Di dalam ruang komando yang serba gelap, rekaman suara percakapan telepon Felix terdengar jernih menggema melalui pengeras suara.
Victoria berdiri anggun di tengah ruangan, mengenakan gaun sutra hitam elegan yang mempertegas lekuk tubuhnya. Binar mata keemasannya memantulkan pendar layar digital di hadapannya.
"Seperti yang diduga," desis Victoria dingin, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman penuh keangkuhan. "Felix terlalu bodoh dan gegabah untuk menjadi dalang utama dari kudeta sesempurna ini. Dia hanyalah pion yang disetir oleh Konsorsium Hitam."
Julian Vane melangkah mendekat seraya menyerahkan berkas analisis frekuensi suara.
"Sinyal telepon rahasia itu ditransmisikan dari jaringan satelit khusus berenkripsi tingkat tinggi milik Konsorsium. Pria yang dipanggil 'Chairman' itu adalah otak sebenarnya yang merancang pembunuhan Kakek Silas dan kejatuhan klan Pratama."
Victoria mengusap permukaan meja kaca, menatap grafik jaringan Konsorsium Hitam yang kini mulai terbuka lebar di layarnya.
"Felix sengaja dipasang di depan untuk menjadi tameng," ujar Victoria tajam. "Jika terjadi masalah, Konsorsium Hitam hanya perlu membuang Felix dan cuci tangan. Tapi dengan membiarkan Felix merasa menang dan berkuasa, dia justru secara sukarela membuka pintu masuk bagi kita untuk melacak identitas Chairman."
"Bagaimana langkah kita selanjutnya, Nyonya Victoria?" tanya Julian sigap.
"Pemulihan Tuan Dominic di fasilitas medis Sektor Empat menunjukkan grafik yang sangat positif. Dokter memperkirakan beliau akan sadar dari koma medis dalam beberapa hari ke depan."
Victoria berpaling, menatap Julian dengan aura penguasa yang memikat sekaligus membekukan darah.
"Biarkan Paman Felix bertingkah seolah dia telah menaklukkan dunia," ucap Victoria penuh kalkulasi. "Setiap dokumen yang dia tandatangani untuk Konsorsium Hitam akan menjadi bukti eksekusi matinya sendiri. Kita biarkan sang boneka menari di atas panggung... sementara kita mengincar dalang yang memegang talinya."
disini memainkan strategi dan taktik
dan setiap chap pasti ada semua kalimat tsb🤦🏻♀️🤦🏻♀️🤦🏻♀️🤦🏻♀️
bisa di kurangi kah kalimat tsb???