Hai kakak, ini kelanjutan kisah ara dan alex.
Ara yang dipaksa menikah dengan seorang duda muda, anak teman bisnis papanya untuk menyelematkan perusahaannya.
Beberapa part akan ditambah dengan momen manis mereka membesarkan si kembar dan bagaimana mereka melewati hidup tanpa alinya mereka.
ini season dua dari terpaksa menikah dengan duda muda. Silakan baca season satunya di profil aku kakak. Kisah cinta orang tua ara, diman dan lala.
terimakasih sudah mampir
jangan lupa tinggalkan jejak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon karmela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35 - ara gak mau hamil
"Kan udah dibilang. Ara gak mau hamil dulu, mas. Kenapa kamu bikin aku hamil." Ara
*Lah ra? mana alex tau kan rejeki ra.
*
Ara sibuk di kamar mandi, tak menghiraukan papa dan anaknya yang
sedang berdebat itu. Beberapa kali ara muntah, tapi tak ada apapun yang
keluar.
"Mama sakit ya pa?" tanya ali melihat mamanya yang berlari ke kamar mandi.
"gak tau li," alex menggeleng tak mengerti.
Alex dan ali menghampiri ara yang ada di kamar mandi. Baru saja alex
ingin mendekat, tangan ara langsung menahan alex mendekatinya.
"jangan deket-deket mas. Kamu bau tau gak? wangi banget. Gak enak.
Kamu pakai parfum apa numpahin parfum sih ke kemejanya. Bikin mual tau."
kata ara sambil membekap mulut dan hidungnya.
"aku pakai ya kayak biasa kalau aku kerja ra, gak banyak kok. Dikit
doang, kamu kenapa ra?" Alex kembali ingin mendekat, menepis tangan ara
dan mendekati ara.
huekkk...
Ara langsung kembali muntah. Ara memberi isyarat pada alex untuk
sedikit menjauh. Bibik yang mendengar ada keributan langsung menghampiri
ke kamar mandi.
"Non ara kenapa tuan?" tanya bibik, Alex langsung mundur dan meminta
bibik untuk membantu ara. Karena ara gak mau deket sama alex. Bibik
membantu memijat tengkuk leher ara. Sementara Alex mengambilkan air
hangat untuk ara.
"Li, kasihin ke mama." Alex meminta tolong ali untuk memberikannya pada ara. Mengingat ara makin mual kalau deket alex.
"ini ma, minum dulu." Ali memberikannya pada ara, bibik membantu ara memegangi gelasnya dan minum.
"mas anterin ali ke sekolah. Aku berangkat minta jemput riri aja. Kamu jangan deket-deket sama aku dulu, minimal satu meter."
Alex melongo mendengar itu, "yaahh, ra. Sampek segitunya." alex ingin mendekat lagi, tapi ara berteriak.
"Jangan deket-deket mas, lagian kamu pakai parfum apa sih coba. Gak
kayak biasanya, wangi banget bikin mual malahan. Udah sana anterin ali
ke sekolah, nanti telat." kata ara mengusir alex dari kamar mandi.
"Bik, alex gak wangi bengetkan? orang baunya biasa aja." Kata alex mencari pembelaan, alex menciumi jasnya sendiri.
"Iya, enggak sih non. Gak yang wangi banget kok. Biasa kayak tuan
alex kemarin-kemarin berangkat kerja gitu." Bibik juga heran menatap
ara. Apalagi ara, hidunya kenapa tiba-tiba sangat peka.
"Non, coba periksa. Mungkin non lagi ngisi, jadi lebih sensitif sama bau."
"maksdunya bik?" ara dan alex melotot menatap bibik.
"iya, mungkin non hamil."
"Ra, periksa ya nanti. Aku anter." tawar alex. Ara langsung menggeleng.
"Kenapa ra?"
"aku periksa sendiri aja kalau kamu masih pakai parfum itu. Nanti
kamu kirim supir sekalian jemput ali. Nanti aku sama ali aja." tegas
ara.
"ok."
Seperti permintaan ara, alex yang biasanya mengantar keduanya ke
sekolah kali ini mengantar ali saja ke sekolah, karena ara gak mau satu
mobil sama alex. Alex tak henti memikirkan ini sepanjang jalan, kalau
sampai sikap ara begini karena hamil, sampai kapan? Sampai melahirkan
kah?
"arghh... bisa mati gue jauh-jauh dari ara." pekiknya kesal, sedikit
memukul setir. Ali yang ada disamping sang paoa heran melihat papanya.
"pa kenapa?" tanya ali pada sang papa, alex langsung menggeleng.
"nanti temenin mama ya ke dokter. Jagain mama. Kamu dengerin
dokternya bilang apa aja. Nanti bilang semuanya ke paoa. Oke jagoan?"
"ok." Alex mengajak ali tos.
Sesampainya di sekolah, ali langsung turun, mencium tangan sang papa
dan masuk ke sekolah. Alex hanya bisa langsung ke kantor. Bahkan dia
belum mendapatkan morning kissnya, hal yang biasa alex minta pada ara.
"arghh..." alex berteriak kesal mengingat pagi ini, menjauh minimal satu meter.
*
"kak, kakak gak berantem kan sama kak alex." tanya riri yang satu mobil sama ara.
Ara menelpon riri, ara yang akan ke sekolah meminta riri untuk
menjemputnya. Riri dan Ari yang diantar supir langsung menjemput
kakaknya itu. Jarang sekali dia minta jemput, senang, tapi juga
khawatir. Biasanya kan selalu diantar oleh alex.
"Kak alex ngapain kakak? dia selingkuh sama sekertarisnya apa? kayak
yang di tv itu. Bilang kak ke ari, biar ari kasih pelajaran." Ari yang
duduk disamping pak supir menoleh, ikut menyambung pembicaraan Riri.
Kalau sampai benar dugaanya. Habis alex sama ari.
"apaan sih. Enggak. Ngawur kalian." jawab ara tanpa sadar sejak tadi
mengusap perutnya. Ara masih memikirkan ucapan bibik, iya kah hamil.
Tapi kenapa bisa? selama ini dia melakukannya dengan alex, dan alex
selalu menggunakan pengaman. Ara makin sakit kepala ketika membayangkan
masa depannya.
Ujiannya masih cujup lama, setengah semester lagu, setengah semester
itu mungkin lima atau enam bulan keatas, bagaimana dia bisa berangkat
sekolah dengan keadaan hamil.. arghh... ingin rasanya ara teriak kesal.
Tapi juga takjub, kalau benar ada kehidupan diperutnya.
"kak." riri menepuk pundak sang kakak yang melamun sepanjang jalan ke sekolah.
Apa kalau hamil gugurin aja. Pikiran ara penuh dengan keputusan
seperti itu. Hanya itu keputusan yang tepat yang ara pikirkan saat ini,
demi masa depannya. Tapi haruskan membunuh bayinya?
"kak. Udah sampai, gak mau turun." kata riri lagi menepuk pundak sang kakak setelah dipanggil beberapa kali tapi tak menyahut.
"ahh... iya ri."
Ara turun, masuk ke sekolah. Riri masuk ke kelasnya, alex masuk ke
kelasnya. Niko dan Eki seperti biasa menyambut ara dengan heboh, tapi
yang disambut malah bengong.
"Ra, lo kenapa?" Niko.
"Lagi ada masalah sama alex. Mau gue kasih pelajaran alexnya?" Eki.
Keduanya menoleh dan bertanya pada ara yang duduk dibelakang mereka.
Bahkan senyuman pun tak terlihat sedikit dibibir merah cherrynya ara.
Biasanya ara akan selalu tersenyum menyapa keduanya, ini enggak sama
sekali.
"Ra," Eki menggoyangkan tangannya didepan wajah ara yang melamun.
"hah, gak apa-apa." ara tak ingin banyak cerira dulu, lagi pula
semuanya belum pasti. Ara hanya ingin cepat menenui tante dokter, tante
yang memeriksa mamanya ketika hamil dulu.
Iya ke tante dokter? siapa tau ara bisa mendapat jalan keluar lain.
*
Setelah bel berbunyi, pertanda pulang sekolah, supir alex datang
sesuai permintaan ara. Ali juga sudah ada disana untuk menjemput sang
mama.
"ma," ali turun dan menghampiri mamanya. Mencium tangan ara.
"wih, dijemput jagoannya nih." ari datang dan tos dengan ali.
"udah panggil mama kak?" riri melirik ara. Ara hanya tersenyum.
"ya udah yuk, sayang. Kita pulang." Ara menggandeng tangan ali untuk kembali masuk ke mobil.
Eki, niko, Ari dan Riri melambaikan tangan pada Ara yang masuk ke mobilnya. Ara meminta supir untuk segera ke rumah sakit.
*
to be continue....
Ara sudah berbaring diatas ranjang rumah sakit. Tante kinta mencoba
memeriksa ara, menyeka bajunya dan menunjukan perut rata ara.
"Tan, jangan bilang dulu ke orang lain ya." pinta ara pada sang tante yang menatap ara dengan senyum manis.
Nyimak dl thor!...
siapa tau bs dipahami alurnya....
bs jd tertarik dan menarik tu diteruskan mmbc nya...