Rania selalu dihina dan direndahkan oleh mertuanya, dia mendapatkan caci makian itu dan suaminya hanya berdiam diri tanpa membelanya.
Ardi sang suami selalu beralasan jika ibunya sudah tua sehingga ingin melihatnya menjadi orang sukses sehingga dia menggunakan identitas Rania untuk membuat ibunya bahagia.
Cinta yang besar dimiliki Rania tidak mampu membuatnya berharga dan terlihat dimata keluarga suaminya, dia memutuskan untuk berhenti dan mengambil kembali semua miliknya.
Suaminya yang Menumpang tapi dirinya yang selalu dihina, dia membalas semua rasa sakit hatinya membuat suami dan keluarganya panik dan kalang kabut
Akankah, perjuangannya mendapatkan kebahagiaannya kembali
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35
Ardi kembali termenung di kamarnya tanpa memperdulikan ibunya yang akan marah karena sikapnya itu.
Sedangkan diluar ruangan, tangan Ningsih mengepal erat, dia harus memaksa anaknya untuk mengejar Yasmin karena Rania sudah tidak akan bisa dia harapkan.
Dia langsung masuk menyelondong kekamar sang anak karena kesal .
"Kamu ini Ardi, jangan keterlaluan, ibu ini sedang bicara dengan kamu, kamu itu harus menghormati ibu". Bentaknya kesal.
Mendengar perkataan ibunya Ardi menghela nafas kasar.
"Aku sedang ada pekerjaan Bu, tolong jangan ganggu aku, aku sedang pusing". Sungutnya jengkel.
Dia kembali keluar untuk mencari berkas yang ingin dia cari tadi, tapi saat mencarinya dia menemukan catatan kecil itu dan melupakan apa yang hendak dia cari.
Ningsih mengekori sang anak keluar karena dia belum selesai berbicara, Ardi harus menuruti keinginannya ini.
"Ibu belum selesai bicara Ardi, kamu ini semakin kurang ajar sama ibu setelah pisah dari Rania, menyebalkan sekali".
"Tapi aku memang sedang banyak pekerjaan Bu, Tidka bisakah ibu tidak menggangu aku sehari saja, biarkan aku tenang dulu, aku libur ingin menjernihkan pikiran yang ada semakin stres kalau ibu seperti ini terus".
Mata Ningsih melotot sempurna mendengar perkataan sang anak yang menyalahkannya padahal dia hanya ingin hidup enak.
"Ada apa sih Bu, kok ibu ribut-ribut seperti itu?". Tanya Adel yang hendak keluar kamarnya karena ingin pergi.
"Ini loh del, kakak kamu tidak mau menuruti perkataan ibu untuk mendekati Yasmin kan kita bisa hidup enak jika dia bisa mendapatkan Yasmin".
Adel menghela nafas mendengar perkataan ibunya, pandangannya kini beralih kepada sang kakak yang menatapnya tajam dan kesal karena mengira dia yang mengimpori sang ibu untuk menjodohkannya Dnegan bosnya itu.
"Ayolah kak, jika kaka bersama ibu Yasmin aku bisa mendapatkan pekerjaan dan jabatan yang kayak diperusahaan nanti, tolong adikmu ini, setidaknya jika kakak tidak mau dengannya".
Ardi menatap adiknya Tidka percaya, adiknya ini seorang perempuan, bagaimana dia bisa berkata seperti tidak peduli perasaan orang lain.
"Lagian yah kak, bos ku itu tidak ada kurangnya, dia cantik, pintar dan juga kaya, ditambah lagi dia dekat denganku, tidak ada salahnya kakak mencoba, kan kakak sudah bercerai dari kak Rania, pasti butuh pengganti". Ucapnya Dnegan enteng.
"Adel, kamu sadar apa yang kamu katakan itu?, kamu ini adalah perempuan, bagaimana bisa kamu berpikiran sangat jahat dan licik seperti itu, kamu bahkan lebih gila dari ibu". Bentaknya dengan emosi.
Mendengar bentakan sang kakak, Adel hanya menatapnya dengan santai.
"Aku butuh kepastian pekerjaan kak, setidaknya pekerjaan itu bisa mengurangi beban kakak dalam keuangan, kan kita bisa sama-sama berbagi beban untuk memberi uang kepada ibu untuk kebutuhan rumah, lagian yah, itu sudah bagus, Bu Yasmin adalah orang yang tepat apalagi dia juga belum menikah, cantik dan berpendidikan, Tidka ada yang kurang".
Dia melangkahkan kakinya keluar rumah tanpa mempedulikan amarah sang kakak, dia harus pergi berjalan-jalan sama temannya karena disana ada Yasmin sang bos, urusan kakaknya dia serahkan kepada sang ibu untuk mengurusnya.
"Sudahlah, aku pergi dulu, coba kakak pikirkan lagi tawaranku, itu sudah sangat bagus untuk kakak, dan kepentingan kita semua".
"Kalian berdua ini sudah gila". Bentak Ardi dengan emosi
Ardi tidak menggubris keinginan ibunya untuk menjodohkannya dirinya dengan Yasmin, bos dari adiknya itu, dia masih mencintai Rania dan ingin memperjuangkan istrinya kembali.
"Jika sampai kamu kembali kepada Rania, jangan pernah menganggap ibu sebagai orangtuamu Ardi". Ancamnya.
Ardi menghela nafas kasar, dia menatap ibunya dengan gusar sekaligus amarah tertahan, ibunya sungguh egois dan hanya memikirkan dirinya sendiri.
"Tapi aku mencintai Rania dan aku baru sadar sekarang, aku ingin memperjuangkan cintaku kembali Bu, aku mohon jangan halangi aku".
Ningsih menggelengkan kepalanya dengan tegas, dia sudah tidak mau berurusan dengan Rania, dia hanya mau mencari perempuan lain yang bahkan jauh lebih baik dari Rania dan tentu saja harus kaya dan bisa dia manfaatkan.
"Ibu tetap pada keputusan ibu, kamu harus mengejar Yasmin, dia jauh lebih baik dari Rania, jangan membantah ibu, ibu tidak suka". Ketusnya.
Ardi mengepalkan tangannya dengan keras, dia melangkah kedalam kamarnya dengan penuh emosi, dia sudah kehilangan segalanya karena keluarganya sendiri jadi kini dia akan bertindak tegas.
Dia mengambil semua barangnya dikamarnya, dia hanya membawa barang berharganya dan pakaiannya, dia akan pergi dari rumah ini supaya ibunya merasakan hidup tanpa bantuannya .
Melihat anaknya masuk kedalam kamar Ningsih tersenyum penuh kemenangan, dia pikir Ardi akan mengalah dan mendengar apa yang dia katakan tapi nyatanya Ardi malah membawa koper keluar dari kamarnya.
Matanya melotot melihat itu, dia langsung mendekati Sang anak dengan wajah cemas, dia tidak menyangka jika Ardi akan bertindak seperti ini.
"Aku tidak akan menuruti ibu kali ini, aku sudah cukup berbakti sampai rumah tanggaku hancur karena ulah kalian, aku tidak akan tinggal diam dan membiarkan ibu mengatur hidupku lagi, cukup!!".
Ardi membawa kopernya keluar dari sana sedangkan Ningsih sang ibu langsung menahan koper itu.
" kamu keterlaluan Ardi kenapa kamu melakukan ini sama ibu, kamu mau jadi anak durhaka!!". Bentaknya ketakutan.
Dia terus menahan tangan Ardi yang hendak keluar dari rumah.
"Terserah ibu mau mencap aku apa, aku sudah lelah menuruti semua perkataan ibu, sekarang aku ingin menjalani hidupku sendiri, sekalipun harus dicap seperti itu".
Dia menyingkirkan tangan ibunya Dnegan kasar sehingga wanita parubayah itu tersungkur dan menaikkan kopernya itu keatas motornya.
"Ardi jangan pergi, ibu minta maaf, ibu tidak akan paksa kamu lagi untuk melakukan segala hal, lakukan apa yang kamu inginkan, tapi tolong jangan tinggalkan ibu". Teriaknya sambil memukul lantai Dnegan tangis.
Mendengar apa yang dikatakan ibunya Ardi mengalihkan pandangannya kepada sang ibu.
"Benar, ibu Tidka akan memaksakan apapun pada ku lagi?".
Ningsih mengangguk pelan, dia tidak tahu apa jadinya rumah ini tanpa bantuan Ardi, dia pasti akan kesulitan nanti.
Dia harus bisa membuat Ardi kembali bertekuk lutut dan menyerah kepadanya nanti tapi untuk sekarang dia harus bisa menahan Ardi sampai itu tiba
"Iya lakukan apapun itu, tapi kamu harus tetap dekati Yasmin untuk jadi cadangan, karena ibu yakin Rania tidak akan kembali padamu, ibu takut kamu terluka karenanya". ucapnya penuh penekanan .
Ardi menghela nafas kasar, dia mengepalkan tangannya melihat betapa ibunya kekeh ingin menjodohkan dirinya Dnegan perempuan pilihannya itu.
"baiklah, aku akan tetap mendekati Rania kembali, jika aku bisa kembali dengannya maka aku akan melepaskan Yasmin ,bagaimana?".
"Baiklah, lakukan keinginanmu itu".