Seina adalah gadis cantik yang bercita-cita menjadi aktris terkenal. Setelah lulus sekolah, hidupnya terasa sempurna ketika dia berhasil debut di dunia hiburan. Namun, kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Di puncak awal kariernya, Seina justru dibunuh oleh seorang haters yang iri padanya.
Saat membuka mata, Seina tidak lagi berada di tubuhnya sendiri. Dia terbangun di tubuh Serina Elvano, seorang wanita egois yang dibenci banyak orang. Lebih mengejutkannya lagi, dia berpindah tubuh saat Serina sedang berjuang melahirkan anaknya.
Serina harus menjalani kehidupan baru sebagai istri Cristian Elvano, pria dingin dan berkuasa yang sama sekali tidak mencintai istrinya. Tidak hanya diabaikan oleh sang suami, Serina juga diperlakukan rendah oleh keluarga Elvano karena sikap buruknya di masa lalu.
Dia bertekad mengubah hidupnya, merebut kembali harga dirinya, dan membuat semua orang yang meremehkannya menyesal, terutama Cristian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Cristian mengendarai mobilnya menyusuri jalan raya. Sudah hampir setengah jam berlalu, tetapi dia belum juga menemukan sosok istrinya yang menghilang tanpa jejak.
"Ke mana wanita itu pergi?" gumamnya pelan.
Satu tangannya tetap menggenggam setir, sementara tangan yang lain menyisir rambut hitamnya ke belakang dengan gelisah.
Sejak menikah, Serina memang sering bertindak di luar dugaan. Namun, wanita itu tidak pernah pergi tanpa memberi tahu dirinya. Terlebih kali ini Serina keluar tanpa membawa ponsel.
Cristian mengembuskan napas panjang. Entah sejak kapan pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan buruk, padahal sebelumnya dia sama sekali tidak pernah bertindak seperti ini jika menyangkut wanita itu.
Semenjak perubahan istrinya yang terus bertambah setiap harinya membuat Cristian mau tak mau mulai memperhatikan Serina, segala gerak gerik wanita selalu menyita perhatiannya tanpa sadar.
"Apa dia tersesat? Atau... terjadi sesuatu?"
Kalimat itu keluar begitu saja dari bibirnya. Tanpa sadar, kakinya semakin dalam menginjak pedal gas. Sesaat kemudian, matanya menangkap sosok yang sangat dikenalnya.
Di depan sebuah kafe, Serina baru saja keluar sambil menggendong Arcelio. Tampak wanita itu sedang tersenyum, senyum yang tidak pernah Cristian lihat sebelumnya. Di sampingnya berjalan seorang wanita muda yang sepertinya adalah sahabatnya.
Cristian langsung membelokkan mobil ke tepi jalan, mobil hitam itu berhenti tepat di depan kedua wanita itu sedang berdiri.
Serina dan Olivia menoleh bersamaan. Begitu melihat siapa yang turun dari mobil, Olivia refleks menegakkan tubuh.
"Itu suamimu?" bisiknya pada Serina.
Dia sedikit lupa dengan wajah Cristian, sebab dulu dia hanya mendengar perihal pernikahan dadakan Serina dan pria itu tanpa melihatnya secara langsung. Dan dia tidak mau tahu tentang Serina lagi setelah wanita itu meninggalkannya.
Serina mengangguk kecil. "Iya."
Cristian melangkah mendekat dengan wajah datar seperti biasanya. Namun, langkahnya lebih cepat dari biasanya.
Tatapannya langsung tertuju pada Arcelio lebih dulu. Melihat bayi itu tertidur pulas di pelukan Serina, bahunya sedikit mengendur.
Baru setelah memastikan putranya baik-baik saja, pandangannya beralih kepada Serina.
"Kamu sedang apa di sini?" Tanya Cristian.
Nada suaranya terdengar datar, nyaris tanpa emosi.
Namun, Serina cukup mengenal pria itu untuk mengetahui bahwa Cristian sedang berusaha menahan sesuatu.
"Aku bertemu teman lama."
Cristian mengangguk singkat."Lalu kenapa tidak membawa ponsel? Dan kenapa kamu pergi melalui jendela?"
Serina berkedip. "Tadi terburu-buru, dan aku tidak mau mengganggu pertemuanmu dengan wanita itu."
Cristian mengernyitkan dahi. "Maksudmu Gladis?"
"Tentu saja, siapa lagi wanita yang mau kamu jadikan istri kedua?"
"Aku tidak berniat menikah lagi dengannya, bukankah aku sudah menjawabnya dengan jelas? Dan kamu kalau terjadi sesuatu bagaimana?"
Serina terdiam. Dia menatap suaminya aneh, tidak biasanya Cristian bertindak seperti itu.
Cristian mengembuskan napas pelan sebelum kembali berbicara. "Setidaknya tinggalkan pesan, agar aku tidak perlu keluar mencarimu."
"Aku tidak minta untuk di cari."
Nada suara Serina tetap dingin, tetapi ada sedikit ketegasan yang sulit disembunyikan.
"Aku mencarimu hampir setengah jam, meski kamu tidak meminta tapi kamu masih istriku."
Olivia yang berdiri di samping Serina langsung menangkap maksud ucapan pria itu. Dia sedang khawatir. Hanya saja... gengsi Cristian terlalu tinggi untuk mengakuinya.
Serina menatap suaminya beberapa saat. "Maaf."
Cristian mengalihkan pandangannya. "Aku tidak sedang menuntutmu minta maaf."
"Lalu?"
"Aku hanya tidak ingin Arcelio kenapa-kenapa."
Olivia hampir terkekeh mendengarnya, pria ini benar-benar keras kepala. Jelas-jelas yang dicarinya adalah istrinya, tetapi yang disebut justru putranya.
Serina menahan senyum. "Baik. Lain kali aku akan membawa ponsel."
Cristian hanya mengangguk singkat. "Terserah."
Padahal, dalam hati dia merasa lega karena akhirnya menemukan Serina dalam keadaan baik-baik saja.
Ting!
Suara mekanis tiba-tiba bergema di dalam kepala Serina. Tubuhnya sedikit menegang.
[Sistem Mochimochi berhasil terhubung.]
Seekor kucing putih gemuk dengan pita biru di lehernya tiba-tiba melayang di hadapan Serina. Tentu saja hanya Serina yang bisa melihat makhluk itu.
Mochimochi melambaikan kedua kaki depannya dengan wajah ceria.
[Halo, Tuan Rumah! Mochimochi datang membawa misi baru!]
Serina mengembuskan napas pelan. "Kamu muncul lagi, dari tadi kamu ke mana sih?"
[Tentu saja. Sistem tidak pernah meninggalkan tuan rumah yang rajin, dan tadi sistem sedang memperbaharui perangkat.]
"Kamu muncul setiap kali aku mulai tenang."
[Karena ketenangan adalah musuh utama perkembangan cerita.]
Serina memijat pelipisnya. "Sesukamu saja."
Mochimochi tersenyum lebar. Lalu sebuah panel transparan muncul di depan mata Serina.
[MISI UTAMA]
Perankan istri yang tersakiti oleh sikap dingin Cristian.
Target:
Menangis di depan Cristian. (+20 poin)
Meminta Cristian memelukmu. (+30 poin)
Mengucapkan kalimat, "Kenapa kamu selalu menyakitiku?" (+50 poin)
Hadiah: +100 poin sistem.
Hukuman jika menolak: Pengurangan 50 poin.
Sudut bibir Serina berkedut. "...Apa ini harus aku kerjakan sekarang?"
Mochimochi mengangguk penuh semangat.
[Ayo! Ini kesempatan bagus! Tinggal menangis sedikit, lalu sandarkan kepala ke dada Cristian. Sangat mudah!]
Serina menatap layar itu tanpa ekspresi. "Lalu harga diriku?"
[Harga diri bisa dibicarakan nanti. Poin lebih penting.]
"Tidak."
Mochimochi membeku. [Eh?]
"Aku tidak akan menangis hanya demi memenuhi skenario seperti itu."
[Tapi kalau misi gagal, poinmu berkurang! Dan Tuan rumah bisa terkena pinalti.]
Serina mengangkat bahu. "Kalau memang aku terluka, aku akan mengatakannya. Tapi aku tidak akan berpura-pura menjadi wanita lemah hanya agar seseorang merasa bersalah."
Mochimochi langsung panik.
[Tuan Rumah! Jangan melawan alur terlalu jauh! Kamu bisa didiskualifikasi!]
Serina tersenyum tipis. "Aku tidak melawan."
[Lalu?]
"Aku hanya mengubah caranya."
Dia menoleh ke arah Cristian yang sedang membuka pintu mobil untuk mereka. Sorot matanya melembut.
"Cristian."
Pria itu menoleh.
"Terima kasih karena sudah mencariku."
Cristian sedikit tertegun, lalu menjawab. "Aku hanya kebetulan lewat."
Serina mengangguk pelan. "Lain kali aku akan memberi kabar. Aku tidak ingin orang yang peduli kepadaku menghabiskan waktu mencariku."
Deg.
Tangan Cristian yang hendak menutup pintu mobil berhenti sesaat, tatapannya beralih kepada Serina. Ada sesuatu dalam kalimat sederhana itu yang membuat dadanya terasa aneh.
Sementara di sisi lain... Mochimochi memandangi panel sistem yang tiba-tiba berkedip-kedip.
[Mendeteksi penyimpangan karakter...]
[Tuan Rumah tidak memerankan istri yang rapuh...]
[Namun... berhasil memunculkan respons emosional target.]
[Penilaian ulang...]
[Misi disesuaikan.]
Mata Mochimochi membelalak.
[Hah?! Misi bisa berubah?]
Panel transparan itu berganti dengan tulisan baru.
[Progres misi: 42%.]
[Peringatan: Tuan Rumah berhasil mempertahankan karakter asli tanpa melanggar batas aturan sistem. Tetap berhati-hati. Penyimpangan yang terlalu besar tetap berpotensi menyebabkan diskualifikasi.]
Mochimochi menatap Serina dengan wajah bingung. [Tuan Rumah... kamu benar-benar sulit diatur.]
Serina tersenyum tipis. "Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri... selama sistem masih mengizinkannya."