NovelToon NovelToon
Takdir Gelap Huang

Takdir Gelap Huang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:10.7k
Nilai: 5
Nama Author: Zerro One

Kisah ini adalah perjalanan pilu seorang anak yang ditempa oleh kehilangan. Huang adalah perwujudan dari ketabahan dalam kesunyian, dipaksa dewasa oleh kematian tragis orang tuanya. Pohon beringin menjadi saksi bisu atas kesedihan abadi, sementara tidur enam tahun di dasar kolam adalah simbol kematian masa kecilnya dan kelahiran kembali sebagai seseorang yang sama sekali baru. Huang melangkah bukan hanya untuk mencari pembunuh, tetapi juga untuk menemukan arti dari hidup yang tersisa.

Tema pembalasan dendam, kesepian, dan keinginan untuk menjadi kuat demi melindungi yang tersisa... menjadi nyawa dalam cerita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zerro One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4. Jalan yang Terbuka

Huang membuka matanya tiba-tiba sambil menarik napas panjang.

Tubuhnya langsung bergerak mundur di dalam air. Matanya membelalak lebar. Kedua tangannya memegang lehernya sendiri karena panik. Dalam ingatannya yang terakhir, dia sedang tenggelam dan kehabisan napas di dasar kolam.

Namun...

Tidak ada rasa sesak. Tidak ada rasa terbakar di dada. Dia justru bisa bernapas dengan tenang di dalam air seolah sedang berdiri di daratan biasa.

"Apa... apa yang terjadi...?"

Suaranya keluar jelas. Huang langsung semakin terkejut. Dia melihat gelembung kecil keluar dari mulutnya, tetapi dia tetap bisa berbicara dan bernapas tanpa kesulitan.

Tatapannya bergerak cepat ke sekeliling. Dasar kolam masih sama. Batu-batu besar. Air jernih kebiruan. Cahaya redup yang masuk dari permukaan.

Lalu matanya berhenti pada sosok tua di depannya.

Pria tua itu masih duduk bersila di atas batu besar. Tatapannya tenang saat melihat Huang.

Huang buru-buru menangkupkan kedua tangannya dengan sopan, seperti yang diajarkan Haoshu sejak kecil.

"Senior... apakah Senior yang menyelamatkan saya?"

Pria tua itu tidak langsung menjawab. Tatapannya justru memperhatikan Huang dari atas hingga bawah.

Huang ikut menunduk melihat dirinya sendiri. Matanya langsung melebar.

Tubuhnya... telah membesar. Tangannya lebih panjang. Bahunya lebih lebar. Rambut hitamnya bahkan sudah mencapai pinggang. Pakaiannya juga bukan lagi baju lusuh yang dulu dia kenakan saat masuk hutan, melainkan pakaian abu-abu sederhana yang bersih.

Huang memegang wajahnya sendiri dengan bingung.

"Aku... kenapa tubuhku jadi seperti ini...?"

Pria tua itu akhirnya membuka mulut.

"Kau tidur cukup lama."

Huang berkedip beberapa kali.

"Lama...?"

Belum sempat dia bertanya lagi, pria tua itu mengibaskan lengannya.

WUSSH!

Seluruh dasar kolam langsung berubah. Air menghilang. Batu-batu lenyap. Cahaya redup tenggelam menjadi kegelapan pekat.

Huang tersentak kaget. Tubuhnya refleks mundur beberapa langkah. Kini dia berdiri di sebuah ruang hitam tanpa ujung. Tidak ada langit ataupun tanah. Hanya kegelapan luas yang membuat dada terasa kecil.

Namun anehnya, Huang tidak merasa takut seperti sebelumnya.

Pria tua itu masih berdiri di hadapannya. Jubah hitamnya bergerak perlahan tanpa angin.

"Senior... tempat apa ini?"

"Tempat untuk berbicara."

Huang menelan ludah pelan. Dia masih belum memahami apa pun. Semua yang terjadi terasa terlalu aneh baginya. Namun dia tahu satu hal... sosok tua di depannya bukan orang biasa.

Pria tua itu melangkah perlahan mendekati Huang. "Kau ingin tahu kenapa tubuhmu berubah?"

Huang langsung mengangguk cepat.

"Ya, Senior."

"Kau telah tidur selama enam tahun."

Mata Huang membelalak.

"Apa...?"

Tubuhnya langsung membeku. Otaknya terasa kosong beberapa saat.

"Enam... tahun...?"

Suaranya bergetar pelan.

Pria tua itu mengangguk tipis.

"Aku menempah tubuhmu selama itu."

Wajah Huang langsung pucat. Dadanya mendadak terasa berat. Dalam pikirannya langsung muncul rumah bambu kecil di desa. Kuburan ayah dan ibunya. Pohon beringin tua.

"Ayah... Ibu..." napasnya menjadi kacau.

Kedua tangannya mengepal kuat sampai gemetar. "Aku... meninggalkan mereka selama itu..."

Pria tua itu menatap Huang cukup lama sebelum berbicara lagi.

"Kesedihan tidak akan membuatmu hidup lebih lama."

Huang menunduk diam.

"Kau masih kecil saat itu. Jika aku tidak menarikmu ke sini, kau sudah mati dimakan beruang."

Huang menggigit bibirnya pelan. Dia tidak bisa membantah kata-kata itu.

Pria tua tersebut mengangkat tangan perlahan. Tiba-tiba cahaya redup muncul di ujung jarinya.

"Kau tidak memiliki kekuatan. Orang tuamu juga tidak memilikinya."

Tatapan Huang perlahan terangkat.

"Itulah sebabnya mereka mati."

Kata-kata itu terasa seperti pisau dingin menusuk dada Huang. Namun dia tahu itu benar. Ayahnya hanya pemikul air biasa. Ibunya hanya peracik ramuan sederhana. Mereka tidak mampu melawan siapa pun.

Pria tua itu melanjutkan dengan nada datar.

"Di dunia ini, belas kasihan hanya muncul pada mereka yang cukup kuat untuk mempertahankan hidupnya sendiri. Orang lemah hanya bisa diinjak."

Huang terdiam.

Ingatan tentang batu yang dilempar Keng. Tatapan hina warga desa. Tubuh ayah dan ibunya yang bersimbah darah. Semua kembali muncul di kepalanya.

"Aku... ingin menjadi kuat." ucap Huang sangat pelan, tetapi jelas.

Pria tua itu memandangnya tanpa perubahan ekspresi.

"Menjadi kuat bukan perkara sederhana. Kau akan melihat pengkhianatan, tipu muslihat, juga pembantaian. Orang membunuh hanya demi sepotong keuntungan kecil. Kau bisa kehilangan dirimu sendiri."

Huang menunduk beberapa saat. Lalu dia kembali mengangkat kepalanya perlahan.

"Tetapi kalau aku tetap lemah... aku bahkan tidak bisa melindungi makam Ayah dan Ibu."

Ruang gelap itu menjadi sunyi.

Untuk pertama kalinya, mata tua pria tersebut menunjukkan sedikit perubahan.

"Bagus."

Lalu tiba-tiba, pria tua itu mengangkat dua jari dan menekannya ke dahi Huang.

Mata Huang langsung membelalak. Kepalanya terasa seperti dihantam banjir besar. Ribuan kata, gambar, dan pemahaman asing masuk ke dalam pikirannya secara brutal. Jalur-jalur energi dalam tubuh. Cara mengatur napas, cara menyerap energi langit dan bumi, dan cara merasakan aliran kekuatan di dalam tubuh.

Huang jatuh berlutut sambil memegang kepalanya.

"AARGHH...!"

Rasa sakit itu begitu hebat hingga urat di lehernya menegang.

Namun perlahan, rasa sakit mulai mereda. Napas Huang menjadi lebih stabil. Matanya perlahan berubah. Jika sebelumnya dia benar-benar buta terhadap dunia ini, sekarang pikirannya seperti seseorang yang telah membaca banyak kitab selama bertahun-tahun.

Dia akhirnya mengerti. Mengerti kenapa pria tua ini begitu kuat. Mengerti bahwa di luar desa kecilnya, ada dunia luas yang dipenuhi orang-orang mengerikan. Dan mengerti bahwa jalan menuju kekuatan dipenuhi darah dan kematian.

Huang terdiam cukup lama. Lalu dia menangkupkan tangan dengan sangat dalam.

"Senior... terima kasih."

Pria tua itu mengibaskan lengan bajunya.

"Aku tidak membutuhkan rasa terima kasihmu. Aku membantumu karena kau layak dibantu. Mungkin ini memang bagian dari takdir."

Huang perlahan menurunkan tangannya.

Pria tua itu membalikkan badan.

"Aku sudah memberikan dasar yang cukup untukmu. Selebihnya... tergantung langkahmu sendiri."

Huang buru-buru bertanya.

"Senior... bolehkah saya mengetahui nama Senior?"

Pria tua itu diam beberapa saat. Kemudian dia menjawab tanpa menoleh.

"Nama hanyalah sesuatu yang akhirnya dilupakan waktu."

Setelah itu, ruang gelap mulai retak.

CRAKK!

Cahaya terang muncul dari segala arah. Tubuh Huang terasa ringan. Sebelum penglihatannya memutih sepenuhnya, dia mendengar suara tua itu sekali lagi.

"Hiduplah lebih lama dari penyesalanmu."

BRUSSH!

Tubuh Huang muncul kembali di tepi kolam. Dia langsung jatuh berlutut di atas tanah hutan sambil batuk keras.

"Huk... uhukkk...!"

Kabut tipis menyelimuti permukaan kolam jernih di belakangnya. Namun sosok pria tua itu sudah tidak ada.

Huang berdiri perlahan, tubuhnya terasa sangat ringan. Bahkan suara dedaunan yang bergesekan terdengar sangat jelas di telinganya. Dia menatap tangannya sendiri cukup lama.

Lalu tanpa membuang waktu, Huang berlari menuju desa. Langkahnya sangat cepat. Pepohonan berlalu seperti bayangan. Kakinya hampir tidak terasa menyentuh tanah.

Tidak butuh waktu lama sampai rumah bambu kecil itu terlihat dari kejauhan.

Namun...

Rumah itu sudah rusak. Dinding bambunya sebagian roboh. Halaman dipenuhi rumput liar tinggi. Atapnya bahkan telah berlubang di beberapa bagian.

Huang berdiri diam. Dadanya terasa sesak.

Enam tahun... benar-benar telah berlalu.

Langkah Huang perlahan bergerak menuju pohon beringin di halaman depan. Dua gundukan tanah masih ada di sana.

Tubuh Huang langsung gemetar. Dia jatuh berlutut di depan makam itu.

"Ibu... Ayah..."

Air matanya akhirnya jatuh lagi. Huang menundukkan kepalanya sangat dalam sampai dahinya menyentuh tanah.

"Maafkan Huang... Huang baru kembali sekarang..."

Bahunya bergetar pelan.

"Ayah... Ibu... Huang sudah tidak lemah lagi."

Tangannya mengepal kuat di atas tanah.

"Huang bersumpah... siapa pun yang membunuh Ayah dan Ibu... Huang akan menemukan mereka. Aku akan membuat mereka membayar semuanya."

Angin sore berembus pelan melewati pohon beringin tua. Daun-daunnya bergesekan lembut di atas kepala Huang.

1
yos helmi
tamat.. jgn tunggu up.. thornya dah modaaar 🤣🤣🤣
yos helmi
💪💪💪💪
yos helmi
👍👍👍👍👍
yos helmi
😄😄😄😄
yos helmi
🤣🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍👍👍
yos helmi
💪😄😄😄💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣
yos helmi
😄😄😄😄👍👍👍
yos helmi
💪💪💪💪
yos helmi
🤣🤣🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍🤣🤣🤣
yos helmi
🤣🤣🤣😄😄
yos helmi
yg anehnya ko lan dong bisa di murid dalam.. ??? thor jgn terlalu tolol buat cerita..
Tinta Abadi: Ini komentar nya juga aneh. Padahal udah ada narasi. Huang heran mengapa Lan Dong yang murid luar bisa ikut eksplorasi murid dalam. Kau tolol, tapi ngatain orang tolol. Padahal cerita pengenalan Dhu Yan udah dijelaskan. kalau dhu yan itu orang yang memiliki banyak koneksi.

ngakak banget bro ini salah mulu🤣
kok bisa ya kek gitu. bacanya di lompat lompat kah?
total 1 replies
yos helmi
banyak yg ketinggalan dlm cerita ini.. ilmu dari org misterius..
Tinta Abadi: Otak bro yang ketinggalan. Literasi minus. Jadi pembaca itu yang teliti sedikit bro. Jangan dungu.

Saran: Baca ulang bab 4 berulang-ulang sampai paham. Mungkin anda sudah tua, jadi otaknya lemot, saya memahami🙏

Kasihan authornya ditanya mulu. Kebiasaan baca novel warisan, jadi beberapa pembaca nganggep warisan itu kekuatan sakti. Padahal pemahaman dasar loh tentang kultivasi.
total 1 replies
yos helmi
👍👍👍💪💪
yos helmi
😄😄😄😍😍😍
yos helmi
😄😄😄😄😄💪💪💪👍👍
yos helmi
🤣🤣🤣🤣
yos helmi
👍👍👍👍🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!