NovelToon NovelToon
Haruskah Seperti Ini

Haruskah Seperti Ini

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:840
Nilai: 5
Nama Author: Pengamat Senja

​Di balik apron Cafe Nuansa, Alan hanyalah mahasiswa biasa berpesona luar biasa. Ia berjuang menopang keluarga, tanpa menyadari cinta tulus Rahmi, sang pewaris properti yang selalu menjadi pelindungnya. Namun, saat takdir mempertemukan Alan kembali dengan Bunga, primadona masa SMA, persahabatan dan cinta pun mulai diuji. Di antara pengorbanan tersembunyi, patah hati yang bisu, dan garis takdir yang membingungkan, kepada siapakah hati Alan akan berlabuh? Rahasia besar menanti untuk segera terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Realita yang Mengetuk

​Duduk di pinggiran kasur tipisnya yang seprainya sedikit kusut, Alan menghela napas panjang untuk kesekian kalinya. Kamar kosan berukuran tiga kali tiga meter itu terasa begitu hening, menyisakan gema suara alarm yang baru saja ia matikan beberapa menit lalu. Pemuda itu mengusap wajahnya yang masih lembap oleh sisa keringat dingin. Bayangan lorong kosan penuh kabut perak, serta sosok Rahmi yang berjongkok menangis dalam keputusasaan yang sunyi, masih tercetak begitu jelas di balik kelopak matanya. Mimpi itu terasa terlalu pekat untuk sekadar dianggap hembusan angin lalu.

​Namun, dunia nyata tidak memberikan ruang terlalu lama bagi Alan untuk tenggelam dalam labirin mimpinya. Sinar matahari pagi yang semakin terang merangsek masuk melalui celah-celah ventilasi, menyinari layar ponsel pintar di genggamannya. Di sana, deretan notifikasi dari Bunga seolah menuntut perhatian penuh darinya. Tujuh belas pesan teks dan delapan panggilan tak terjawab—sebuah rentetan kepedulian yang luar biasa masif dari seorang primadona kampus.

​Alan mengatur napasnya, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya yang belum sepenuhnya stabil. Ibu jarinya perlahan bergerak di atas kibor virtual, mengetikkan untaian kata permintaan maaf dengan sangat hati-hati.

​[Maaf Bunga, tadi malem aku kecapean banget setelah kelar shift kerja di kafe, jadi gak sadar langsung ketiduran. Maaf ya udah bikin kamu nungguin balesan semalaman.]

​Alan menekan tombol kirim. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding semen kosan yang terasa sedingin es, menduga bahwa Bunga mungkin baru akan membaca dan membalas pesannya satu atau dua jam lagi ketika gadis itu terbangun dari tidurnya. Namun, dugaan Alan meleset total.

​Hanya dalam hitungan detik setelah pesan itu terkirim, lambang centang abu-abu di pojok bawah gelembung teksnya seketika berubah menjadi dua garis biru pekat. Di bagian atas layar, tepat di bawah nama kontak Bunga, langsung muncul status tulisan hijau berkedip: sedang menulis...

​Alan tertegun. Apakah Bunga sengaja terjaga semalaman, atau ia memang sudah memegang ponselnya sejak fajar menyingsing hanya untuk menunggu kabar darinya?

​Tak lama kemudian, sebuah pesan balasan masuk.

​[Iya gak apa-apa kok, Alan... 😊 Aku paham kamu pasti capek banget kerjanya. Yang penting kamunya udah bangun sekarang dan bisa istirahat yang cukup.]

​Sebuah balasan yang teramat manis, lengkap dengan sebuah emotikon senyum yang memancarkan kehangatan. Namun anehnya, pagi ini kehangatan itu tidak mampu mencairkan sisa-sisa hawa dingin yang ditinggalkan oleh mimpi buruk tentang Rahmi. Alan hanya menatap layar itu dengan pandangan datar, lalu mengetikkan ucapan terima kasih singkat sebelum mengunci ponselnya kembali dan beranjak dari kasur.

​Alan melangkah keluar kamar sambil menyampirkan handuk abu-abu di pundaknya. Kamar kosannya berada di lantai dua, bangunan yang dihuni khusus oleh mahasiswa. Di lantai ini sebenarnya fasilitas kamar mandi cukup memadai; ada dua bilik kamar mandi yang letaknya berdampingan di ujung lorong, dipisahkan oleh sebuah wastafel kecil.

​Namun, pemandangan menggelikan langsung menyambut kedatangan Alan di ujung lorong. Ardi tampak berdiri bersandar di dinding dengan melipat kedua tangannya di dada, wajahnya ditekuk kesal. Dari dalam bilik kamar mandi nomor satu, terdengar suara gemercik air yang sangat berisik disertai suara cempreng Randi yang sedang bersenandung tak jelas.

​"Woy, Ndi! Buruan napa! Lu mandi apa lagi semedi di dalem? Kulit lu udah bersisik ntar kelamaan kena air!" teriak Ardi sambil menggedor pintu kayu kamar mandi itu dengan kepalan tangannya.

​"Sabar, kampret! Gue lagi sabunan nih! Tanggung, dikit lagi kelar!" sahut Randi dari dalam, suaranya teredam oleh dinding pembatas.

​Alan menghentikan langkahnya di belakang Ardi, menatap sahabatnya itu dengan dahi mengkerut. Ia melirik ke arah pintu kamar mandi nomor dua yang berada tepat di sebelah mereka. Slot kuncinya menunjukkan warna hijau, menandakan bahwa bilik tersebut kosong melompong tanpa penghuni.

​Tiba-tiba, pintu kamar kosan nomor empat terbuka. Yogi, salah satu penghuni kosan lantai dua yang terkenal dengan ketegasannya, melangkah keluar sambil membawa segelas kopi hitam. Yogi menghentikan langkahnya, menatap Ardi dan pintu kamar mandi dengan pandangan jengah.

​"Dasar dua curut yang tidak bisa dipisahkan," cibir Yogi, menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menyesap kopinya perlahan. "Kamar mandi aja harus samaan jalurnya, harus antre kayak antrean sembako. Padahal yang di sebelah masih kosong melompong tuh, bersih gak ada orang. Kenapa lu gak masuk ke situ aja sih, Di?"

​Ardi menoleh ke arah Yogi, wajahnya memerah karena malu sekaligus kesal karena dituduh yang tidak-tidak.

​"Eh, kampret lu, Gi! Sembarangan aja kalau ngomong!" balas Ardi, menunjuk pintu tempat Randi berada dengan gusar. "Sabun batangan gue ketinggalan di dalem pas kemarin sore mandi! Dibawa masuk sama si Randi! Daripada gue mandi gak pake sabun cuma dapet basah doang, ya mending gue tungguin tuh bocah keluar!"

​Alan yang mendengar perdebatan itu tidak bisa menahan diri untuk tidak ikut menyudutkan sahabatnya. Sebuah senyum jahil muncul di wajah kaku Alan.

​"Alasan lu, Di," timpal Alan dengan nada menyindir yang sengaja dibuat lempeng. "Bilang aja lu emang pengen di kamar mandi yang sama. Biar bisa dengerin si Randi nyanyi secara live, kan? Bilang aja lu kangen."

​Ardi langsung membalikkan badannya menghadap Alan, matanya melotot tajam. "Sialan lu, Lan! Ikut-ikutan aja lu kayak si Yogi! Sumpah demi apa pun, gue normal!"

​Alan tertawa lepas—sebuah tawa renyah yang jarang ia perlihatkan di depan orang asing, namun selalu keluar dengan mudah saat ia berada di sekitar para sahabatnya. Tanpa mempedulikan omelan Ardi yang masih berlanjut, Alan melangkah maju, membuka pintu kamar mandi nomor dua yang kosong, dan masuk ke dalam untuk membersihkan diri, meninggalkan Ardi yang kembali menggedor-gedor pintu kamar mandi Randi dengan frustrasi.

​Tiga puluh menit kemudian, deru mesin sepeda motor membelah kesibukan jalanan Kota Bandung menuju area kampus. Alan, Ardi, dan Randi akhirnya tiba di area parkir fakultas yang sudah mulai dipenuhi oleh ratusan kendaraan roda dua milik mahasiswa lain.

​Setelah memarkirkan motor tuanya dengan rapi, Alan turun dari jok. Ardi yang memarkirkan motornya di sebelah Alan langsung membuka helmnya, lalu menatap Randi yang sedang sibuk merapikan jaketnya.

​"Tumben banget ya, Di... nih bocah berangkat bareng kita ke kampus," ucap Ardi sambil menyenggol lengan Randi, matanya melirik ke arah Alan yang sedang melepas sarung tangan kulitnya. "Biasanya kan dia udah nongkrong dari jam tujuh subuh, kalau gak di perpus ya di ruang BEM. Hari ini bisa barengan gini kayak anak TK mau karyawisata."

​Randi terkekeh, meletakkan helmnya di atas spion motor. "Bener banget, Di. Langka nih kejadian kayak begini."

​Randi tiba-tiba menghentikan tawa kecilnya, matanya menyipit seperti sedang menganalisis sesuatu di udara. Ia memajukan wajahnya, mengendus-endus udara di sekitar mereka dengan gaya yang sangat teatrikal.

​"Tapi, Di... firasat gue sebagai ahli nujum mengatakan... bakal ada makanan gratis lagi nih hari ini," bisik Randi dengan nada misterius, matanya melirik ke sudut parkiran.

​Ardi mendengus, menoyor kepala Randi pelan. "Emang lu dukun? Sok-sokan pakai firasat segala. Paling juga lu laper karena tadi pagi cuma dapet sisa sabun mandi doang, gak sempet sarapan."

​Randi tidak membalas hantaman Ardi. Ia justru menjulurkan lehernya, mengarahkan pandangannya dengan fokus penuh ke arah jalur pejalan kaki yang menghubungkan area parkir dengan gedung utama fakultas. Di sana, seorang mahasiswi berambut sebahu tampak berjalan dengan langkah ragu-ragu. Di kedua tangannya, gadis itu mendekap sebuah kotak bekal makanan berwarna merah muda dengan sangat erat, seolah benda itu adalah harta karun yang paling berharga.

​Gadis itu adalah lena, mahasiswi dari fakultas sebelah yang sudah sejak lama menaruh hati pada Alan, namun selalu terlalu malu untuk mendekat secara terang-terangan.

​Sementara Randi dan Ardi sibuk dengan obrolan absurd mereka, Alan yang tidak mempedulikan celotehan kedua temannya itu memilih untuk fokus pada penampilannya. Ia membuka helm halfface hitamnya. Angin pagi kampus yang sejuk berhembus, menerpa helaian rambut hitam Alan yang sedikit berantakan akibat tekanan helm.

​Alan mengangkat kedua tangannya, menyisir rambutnya ke belakang menggunakan jari-jari jemarinya dengan gerakan yang sangat kasual, lambat, dan alami. Ia hanya ingin merapikan penampilannya sebelum masuk kelas. Ia tidak menggunakan cermin, tidak juga berniat tebar pesona.

​Namun, efek dari gerakan sederhana itu ternyata luar biasa masif bagi sekitarnya.

​lena yang sedang berjalan mendekat tiba-tiba menghentikan langkahnya di tempat. Ia terpaku, matanya menatap lurus ke arah Alan tanpa berkedip. Ia seolah terhipnotis melihat bagaimana jemari tangan Alan bergerak menyisir rambutnya, bagaimana rahang tegas pemuda itu mengatup kokoh di bawah siraman cahaya matahari pagi yang keemasan, dan bagaimana kaos polo hitam yang melekat di tubuh atletis Alan mempertegas karisma maskulin yang begitu kuat.

​Bukan hanya lena. Beberapa mahasiswi dari fakultas lain yang kebetulan sedang berjalan melintasi area parkiran pun mendadak kehilangan fokus mereka. Tatapan mata mereka berubah menjadi pandangan memuja yang terang-terangan.

​Bruk!

​"Aduh!" seorang mahasiswi berambut panjang tersandung pembatas semen tempat parkir karena matanya sibuk memandang Alan saat berjalan.

​Gubrak!

​Di sudut lain, dua orang mahasiswi yang sedang asyik berjalan sambil berbisik-bisik dan menatap ke arah Alan malah saling bertabrakan bahu dengan keras hingga buku-buku diktat yang mereka bawa nyaris terjatuh ke lantai aspal. Wajah mereka memerah menahan malu, namun mata mereka tetap mencuri pandang ke arah pemuda yang menjadi pusat gravitasi pagi itu.

​Seketika, Alan yang menyadari keributan kecil di sekitarnya hanya bisa menghela napas panjang dan menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pasrah. Ia merasa risih dengan perhatian yang berlebihan seperti itu.

​Sementara itu, Ardi dan Randi yang berdiri di sampingnya langsung tertawa tipis, berusaha menahan tawa terbahak-bahak agar tidak membuat suasana semakin canggung. Mereka sangat menikmati tingkah konyol para wanita di kampus ini jika sudah berhadapan dengan Alan.

​Padahal, jika dilihat secara objektif, wajah Alan tidak bisa dibilang terlalu tampan seperti para aktor drama Korea atau model majalah pria. Wajahnya tergolong biasa saja, dengan garis-garis wajah khas pemuda daerah yang tegas dan cenderung kaku karena jarang tersenyum. Namun, entah kenapa... ada sesuatu di dalam diri Alan—sebuah kombinasi antara tatapan matanya yang tajam namun teduh, pembawaannya yang tenang, kemandiriannya yang kokoh, dan aura misterius yang pekat—yang membuat karismanya meluap-luap secara berlebihan di mata para wanita. Alan seperti sebuah magnet yang kuat, menarik perhatian tanpa pernah meminta untuk diperhatikan.

​lena akhirnya berhasil menguasai dirinya kembali. Ia menarik napas dalam-dalam, meneguhkan hatinya yang berdegup kencang, lalu kembali melangkah mendekati Alan. Langkah kakinya terdengar pelan di atas aspal.

​"A... Alan," panggil lena dengan suara yang sedikit bergetar karena gugup saat ia sudah berdiri di depan pemuda itu.

​Alan menghentikan gerakan tangannya, menurunkan kedua lengannya, lalu menatap Helena dengan pandangan sopan. "Iya, ada apa, Len?"

​lena menundukkan kepalanya sedikit, tidak berani menatap langsung ke dalam manik mata Alan yang terlalu tajam. Ia menyodorkan kotak bekal berwarna merah muda yang sedari tadi didekapnya ke arah dada Alan.

​"I-ini... aku buatin sarapan buat kamu, Lan," ucap lena dengan nada suara yang semakin mengecil di ujung kalimat. "Kata Ardi kemarin pas di kantin... kamu suka lupa sarapan kalau jadwal kuliahnya pagi banget. Jadi... aku kepikiran buat masakin ini sebelum berangkat tadi."

​Mendengar nama Ardi disebut sebagai dalang di balik situasi ini, Alan langsung mengalihkan pandangannya, melirik tajam ke arah samping kanannya, siap untuk memberikan teguran keras pada sahabatnya yang bermulut lemes itu.

​Namun, Alan tertegun. Ardi sudah tidak ada lagi di posisi semula.

​Pemuda bermulut ember itu telah lenyap dari samping motornya dalam sekejap mata. Dan sebelum Alan sempat mencari keberadaannya, tanpa ia sadari, Ardi ternyata sudah berpindah posisi dengan sangat mulus, kini berdiri tepat di hadapan lena dengan senyum lebar yang sangat mencurigakan.

​"Waduh, lena! Baik banget sih lu jadi cewek!" seru Ardi dengan nada suara yang dibuat-buat ramah, langsung memotong pembicaraan. Ia menoleh ke arah Alan yang menatapnya dengan pandangan membunuh. "Si Alan mah emang gitu, Len! Dia suka malu-malu kucing kalau dikasih sesuatu sama cewek cantik kayak lu. Gengsinya gede banget anak kampung satu ini. Sini, sini, titipin sama gue aja, Len! Biar gue yang pastiin kotak bekal ini sampai ke dalam perutnya dengan selamat tanpa sisa!"

​Ardi dengan gerakan kilat mengulurkan tangannya, bersiap untuk menyambar kotak bekal merah muda itu dari tangan lena, membayangkan betapa nikmatnya sarapan gratis menu rumahan pagi ini bersama Randi yang sudah ikut mendekat dengan mata berbinar-binar seperti serigala kelaparan.

​Namun, lena dengan cekatan menarik kembali kotak bekalnya sedikit, menghindar dari jangkauan tangan jahil Ardi. Mata lena menatap lurus ke arah Alan, mengabaikan gangguan dari dua makhluk ajaib di sekitarnya. Ada binar harapan yang tulus di dalam matanya.

​"Dimakan ya, Lan... Tolong jangan ditolak," ucap lena lembut, suaranya mengandung permohonan yang mendalam.

​Alan menatap kotak bekal itu, lalu beralih menatap wajah lena yang terlihat sangat berharap. Sebagai pria yang memiliki prinsip kuat, Alan sebenarnya paling tidak suka menerima pemberian yang didasari oleh perasaan romantis yang tidak bisa ia balas. Ia tidak ingin memberikan harapan palsu. Namun, melihat pengorbanan gadis ini yang rela bangun subuh demi memasak untuknya, ditambah situasi di parkiran yang mulai ramai oleh mahasiswa yang memperhatikan mereka, Alan merasa tidak memiliki pilihan lain. Ia tidak ingin mempermalukan lena di depan umum.

​Dengan helaan napas berat yang tertahan di tenggorokan, Alan mengulurkan tangan kanannya, mengambil kotak bekal itu dari tangan lena dengan gerakan yang terpaksa.

​"Ma... makasih ya, Len," ucap Alan, nada suaranya terdengar kaku dan canggung. "Makasih udah repot-repot masakin buat gue. Nanti pasti gue makan kok."

​Mendengar jawaban Alan dan melihat kotak bekalnya akhirnya berpindah tangan, wajah lena seketika merona merah padam bagaikan buah tomat yang matang. Sebuah senyum bahagia yang sangat tulus merekah di bibir manisnya. Rasa gugupnya menguap, digantikan oleh rasa lega yang luar biasa.

​"Iya, sama-sama, Alan! Aku seneng banget kalau kamu mau makannya," ucap lena dengan suara riang. Ia menangkupkan kedua tangannya di dada. "Kalau gitu... aku duluan ya, Lan! Takut telat masuk kelas!"

​Tanpa menunggu balasan Alan lagi, lena membalikkan badannya lalu berlari-lari kecil meninggalkan area parkiran dengan langkah yang terasa sangat ringan, sesekali ia menoleh ke belakang sambil melambaikan tangannya dengan wajah yang masih memerah bahagia.

​Alan menatap punggung lena yang menjauh, lalu beralih menatap kotak bekal di tangannya dengan pandangan rumit. Ia membalikkan badannya menghadap Ardi dan Randi yang kini sedang ber-tos ria, merayakan keberhasilan mereka mendapatkan jatah sarapan gratis lagi hari ini.

​"Woy, Ardi! Maksud lu apa-apaan hah—"

​Alan baru saja membuka mulutnya, bersiap untuk menegur dan mengomeli Ardi atas kelancangannya menyebarkan informasi pribadi tentang dirinya. Namun, kalimat Alan seketika terputus di tengah jalan.

​"Sarapan gratis lagi nih!"

​Sebuah suara akrab bernada sinis tiba-tiba mengudara dari arah belakang tubuh Alan. Suara itu tidak keras, namun memiliki intonasi yang sangat tajam, sanggup menembus kebisingan suara mesin motor di parkiran.

​Seketika itu juga, seluruh tubuh Alan menegang. Jantungnya melewatkan satu detakan. Kalimat omelan yang sudah berada di ujung lidahnya menguap begitu saja. Alan terdiam seribu bahasa, matanya membelalak kecil saat ia perlahan memutar tubuhnya ke arah sumber suara.

​Di sana, hanya berjarak dua langkah dari tempatnya berdiri, Rahmi tampak sedang bersandar pada pilar beton pembatas parkiran. Gadis tomboi itu berdiri dengan melipat kedua tangannya di dada. Ia mengenakan jaket jeans kebesaran dan celana denim hitam, penampilannya tetap kasual seperti biasa. Namun, tatapan matanya... menatap lurus ke arah Alan dengan pandangan yang sangat dingin dan menusuk, seolah bilah pisau kasat mata yang siap merobek apa saja.

​Alan mematung. Tatapan matanya terkunci rapat pada wajah Rahmi.

​Di dalam kepala Alan, rentetan memori dari mimpi buruknya semalam seketika berputar kembali dengan kecepatan kilat, bergulung-gulung bagai ombak badai yang menghantam pantai. Ia kembali mengingat bagaimana wajah Rahmi yang hancur oleh air mata di dalam lorong berkabut itu... bagaimana Rahmi berteriak frustrasi memanggil namanya tanpa suara yang bisa terdengar... dan bagaimana gadis itu akhirnya ambruk berjongkok memeluk lututnya sendiri dalam kehampaan perak.

​Rasa takut, bersalah, dan kebingungan yang ia rasakan di dalam mimpi itu mendadak bermanifestasi ke dunia nyata, membuat Alan hanya bisa menatap Rahmi dalam diam yang teramat panjang. Matanya menelisik setiap inci wajah sahabatnya, mencari tahu apakah ada luka nyata yang tersembunyi di balik riasan tipis wajah Rahmi pagi ini. Tatapan mata Alan kali ini terasa sangat dalam, sangat intens, dan sarat akan emosi yang sulit didefinisikan—sebuah tatapan yang belum pernah ia berikan pada Rahmi sebelumnya.

​Ditatap sedemikian rupa oleh Alan di tengah keramaian parkiran kampus membuat pertahanan Rahmi goyah di dalam.

​Di balik penampilannya yang terlihat tenang, sinis, dan angkuh, kenyataannya jantung Rahmi saat ini sedang berdetak dengan ritme yang sangat tidak beraturan, berdegup bertalu-talu di dalam rongga dadanya hingga ia merasa sesak napas. Tatapan mata Alan yang terlalu lama dan penuh dengan misteri itu seakan menelanjangi seluruh rahasia hati yang selama ini ia kubur rapat-rapat di bawah topeng persahabatan mereka. Rahmi merasa gugup luar biasa, takut jika Alan akhirnya bisa membaca bahwa di balik matanya yang galak, ada sebuah hati yang sedang berdarah-darah karena luka patah hati yang disebabkan oleh pemuda itu sendiri.

​Untuk menutupi kegugupannya yang nyaris runtuh, Rahmi buru-buru membuang mukanya sekilas, lalu kembali menatap Alan dengan mendelikkan matanya tajam.

​"Ngapain lu natap gue kayak gitu, bego?!" semprot Rahmi dengan nada ketus yang sengaja ia buat sekeras mungkin, berusaha memecah keheningan yang mengintimidasi di antara mereka. "Biasa aja kali liatnya! Gak usah kayak liat hantu pagi-pagi! Apa lu terpesona sama kegalakan gue hari ini, hah?!"

​Mendengar semprotan kasar khas Rahmi, Alan tersentak kecil, seolah baru saja ditarik paksa keluar dari sisa-sisa mimpinya. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, menyadari bahwa ia telah menatap sahabatnya terlalu lama hingga membuat suasana menjadi canggung.

​Alan berdeham pelan, berusaha mengembalikan ekspresi wajahnya menjadi datar dan dingin seperti biasa, meskipun di dalam hatinya ganjalan misterius dari mimpi buruk itu kini justru terasa semakin berat dan nyata.

​"Gak... gak ada apa-apa," jawab Alan pelan, mengalihkan pandangannya dari wajah Rahmi menuju kotak bekal di tangannya. "Gue cuma... cuma kepikiran sesuatu aja tadi."

​Rahmi hanya mendengus mendengar jawaban kabur Alan, meskipun di dalam lubuk hatinya, ada rasa perih yang kembali menusuk menyadari bahwa pikiran pemuda itu mungkin saat ini sedang dipenuhi oleh nama wanita lain—Bunga—bukan dirinya, meskipun ia berdiri tepat di hadapan pria itu. Topeng persahabatan ini kembali menyelamatkannya dari kehancuran di depan umum, namun di saat yang sama, topeng itu juga yang terus mengikis jiwanya perlahan-lahan hingga tak tersisa.

1
Reza Reva
kasihan Rahmi cinta tak terbalas
Yuni Uni
paling ga suka baca novel on going,,,capek nungguh up nya tp tetep nungguin kapan up nya thor
falea sezi
lanjut Thor q ksih Hadiah
falea sezi
pindah kuliah rahmi🤣 laki g tau diri emank sih dia g tahu siapa yg bantu dia kira hendri tp dia uda buang berlian demi jalang🤣
falea sezi
pergi jauh rahmi pengorbanan mu g di hargai
falea sezi
kacian bgt rahmi klo lu lebih milih bunga lu salah besar alan🤭ada yg tulus nrima lu apa adanya loh malah lirik bunga bangke
Reza Reva
lanjut Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!