Arini harus menjalani hidup sebatang kara ketika di tinggal neneknya untuk selamanya.
Rintangan untuk bertahan hidup di kota Jakarta yang besar, ditambah dengan rumitnya kisah cinta segi tiga membuat Arini harus menguatkan hatinya.
Kisah masa lalu yang kelam membuat Arini trauma akan percintaan. Namun Radit dan Bayu sepertinya berusaha sekuat tenaga mereka untuk menghancurkan sebuah dinding pembatas di hati Arini.
Lalu pada siapakah hati Arini akan berlabuh nantinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @pelipena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34
Ketiga kawan Arini tengah sibuk membersihkan toko saat mereka terkejut melihat Arini bersama dengan pria lain.
"Kenapa rin?" tanya Vina khawatir.
Radit menurunkan tubuh Arini perlahan agar ia tak terlalu merasakan sakit di kakinya.
"Dia jatuh tadi." jawab Radit.
Kawan-kawan Arini saling memandang satu sama lain. Mereka tentu kebingungan dengan perlakuan pria yang baru mereka lihat namun sudah terlihat akrab dengan Arini.
"Saya ayahnya Chika."
"Oh ayahnya Chika. Pantas terlihat akrab dengan Arini." celoteh Vina.
Radit tersenyum mendengar pernyataan Vina yang begitu nyablak.
"Ada yang punya balsem atau sejenisnya? kaki Arini terkilir dan harus segera di urut. Atau kakinya akan tambah bengkak nanti."
Mira bergegas mengambil minyak urut di kamarnya dan memberikan pada Radit.
"Kamu itu lho rin, hobi banget si bikin orang ganteng khawatir." canda Vina.
"Emangnya ada ya yang mau dapet musibah begini." Arini merajuk.
"Jangan cemberut gitu ah, tambah cantik tau. Ya nggak mas?" Dea ikut-ikutan meledek Arini.
"Dia memang sudah cantik dari dulu." balas Radit membuat Dea dan Vina berbalas pandang.
Radit mengoleskan minyak urut yang di berikan oleh Mira dengan perlahan di kaki Arini. Memijatnya dengan selembut mungkin.
Kreeekkkk... Bunyi tulang yang begitu nyaring.
"Aaaaaa....." Arini spontan menjerit.
Jeritan Arini terdengar dari luar toko, sampai membuat Bayu yang baru turun dari mobilnya merasa panik.
"Arini!!"
Bayu tentu paham betul jika yang menjerit adalah Arini, dia bergegas masuk ke dalam. Dan sangat terkejut ketika melihat Radit tengah memegangi kaki Arini.
"Apa yang kau lakukan?" Bayu mendorong tubuh Radit hingga terjerembab.
"Mas" Arini ingin menggapai tubuh Radit yang hendak terjatuh namun ia tak berhasil.
"Rin!!" Bayu menatap kesal pada Arini.
"Mas Radit cuma membantu memijat kaki Arini yang terkilir."
Arini mencoba untuk membangunkan Radit.
"Kau tak apa mas?" tanya Arini pada Radit.
"Tak apa dek."
"Kau!!" Bayu kesal pada mereka berdua.
"Mas, lihatlah kakiku bengkak." Arini menunjukan kaki kanannya yang sedikit membiru itu.
Dengan tatapan yang memelas, tentu saja Arini berhasil membuat Bayu iba dan tak tega untuk meneruskan kemarahannya.
Tanpa basa-basi Bayu meraih tubuh Arini dan menggendongnya untuk di bawa ke kamarnya.
"Apa yang kau lakukan?" Radit menahan Bayu.
"Lepaskan tanganmu itu. Aku akan membawa Arini untuk beristirahat. Toko akan buka sebentar lagi. Kau pulang saja sana."
"Tapi.. hei tunggu!!"
Bayu tak menghiraukan panggilan Radit, dengan cuek Bayu tetap membawa Arini untuk menjauh dari laki-laki itu.
...
"Kenapa kau bisa bersamanya?" tanya Bayu sesaat sampai di kamar dan menurunkan Arini dari gendongannya.
"Tadi tak sengaja bertemu saat jalan pagi." jawab Arini takut dengan tatapan tajam Bayu.
"Benarkah?"
"Tentu saja, kalau tak percaya tanya saja pada Dea."
"Hemm baiklah. Coba lihat mana yang sakit." Bayu berlutut untuk melihat kaki Arini. Posisinya sekarang Arini duduk di tepi ranjang dan Bayu berlutut di hadapannya.
"Ini yang sakit?" Bayu sengaja memencet kaki Arini.
"Aaarrrghh.."
Bayu hanya cengengesan saat melihat Arini yang begitu menderita di hadapannya.
"Makanya jangan coba-coba dekat dengan pria lain."
"Kenapa?"
"Ya nggak boleh."
"Kenapa?"
"Aku bilang nggak boleh ya nggak boleh. Titik."
"Kenapa?" kali ini Arini berbisik di telinga Bayu.
Sekali lagi Bayu memencet kaki Arini, bukan karena kesal tapi karena gemas.
"Kau jahat sekali. Lihat kakiku makin bengkak."
"Makanya nurut kalau di bilangin."
"Seorang karyawan pasti nurut sama bosnya kok mas."
"Bukan sebagai seorang bos aku bicara."
"Lalu?"
"Sebagai seorang pria." Bayu bergumam.
"Kau bilang apa mas?"
"Pokoknya kamu nggak boleh dekat-dekat dengan pria lain, atau aku kan marah padamu!!"
Setelah berkata seperti itu Bayu bergegas meninggalkan Arini.
Arini tentu tahu apa maksud dari Bayu, namun ia sepenuhnya tak yakin jika Bayu mengatakan itu dengan sungguh-sungguh. Lagi pula Arini tentu merasa takut untuk mencoba menaruh hati pada orang yang kelas sosialnya lebih tinggi.
...
Bayu baru saja keluar dari toko ibunya ketika melihat Radit tengah menunggu kedatangannya di depan mobilnya.
"Mau apa kau?" tanya Bayu ketus.
"Bagaimana sekarang keadaan Arini?"
"Kau tak perlu tahu."
Bayu hendak menaiki mobilnya namun Radit malah pasang badan di depannya.
"Apa dia sudah lebih baik?"
"Kau sepertinya punya masalah pada pendengaran mu itu. Pergilah. Dan ya, jangan dekati Arini lagi. Kau sudah berjanji waktu itu." Bayu memperingatkan Radit.
"Janji? bahkan kesepakatan kita tak pernah terjadi, kau ingat? aku akan berhenti mengejar Arini jika kau mendonorkan ginjal mu pada Chika. Bahkan kau tahu jelas, kau belum sempat mendonorkan nya."
"Salahkan saja anakmu mengapa ia meninggal sebelum aku mendonorkan ginjal ku."
Radit menggelengkan kepalanya, tak habis pikir dengan perkataan yang baru saja Bayu ucapkan.
"Kau gila!" umpat Radit.
"Kau lebih gila!" balas Bayu.
"Aku tak akan menyerah, aku yang mengenal Arini lebih dulu." ucap Radit dengan percaya diri.
"Siapa cepat dia dapat. Minggir!"
Dengan sinis Bayu meninggalkan Radit yang sepertinya sangat kesal.
...
"Mas Ardan nyari Arini?" tanya Dea ketika melihat Ardan tengah duduk di meja kasir.
"Iya, dimana dia?"
"Hari ini mas Bayu menyuruhnya untuk beristirahat, tadi pagi dia sempat terjatuh dan kakinya terluka."
"Benarkah? sepertinya kakakku benar-benar serius padanya." gumam Ardan.
"Tentu saja, lima tahun aku bekerja disini baru pernah melihat mas Bayu yang begitu hangat."
"Syukurlah jika begitu."
"Mas Ardan tak cemburu?"
"Untuk apa? aku akan mengalah jika memang kakakku itu memang menginginkannya. Kau tahu sendiri dia sudah berumur. Sudah waktunya dia untuk menikah."
"Ku kira mas Ardan menyukai Arini. Hehehe."
"Awalnya aku menyukainya, namun karena ku lihat kak Bayu amat perhatian padanya. Ya sudah lebih baik aku yang mundur. Kalau bersama gadis baik seperti dia aku juga setuju."
Ardan dan Dea tenggelam dalam perbincangan mereka, Ardan sudah mulai bisa berpikir dewasa. Dia bukan lagi anak manja yang selalu harus menang. Sekarang dia sudah bisa mengalah demi kepentingan orang lain.
"Mas Bayu tahu nggak ya kalau lusa adalah hari ulang tahun Arini."
"Apa kau bilang? lusa ulang tahun Arini?"
Dea mengangguk mengiyakan. Ardan yang senang mendengar itu memutuskan untuk segera mencari kakaknya.
....
Ardan mencari kakaknya sampai pergi ke perusahaan milik keluarganya. Memang perusahaan ini tak sebesar milik perusahaan Radit namun bukan berarti Bayu tak memiliki kemampuan sebesar Radit dalam berbisnis. Lambat laun di bawah kepemimpinannya, perusahaan yang dulu hampir pailit kini mulai berangsur berkembang dengan pesat.
"Kak..."
Ardan nyelonong masuk ke ruang kerja Bayu tanpa permisi. Ternyata di sana Bayu tengah rapat dengan seorang klien wanita.
"Kau ini, apa tak bisa mengetuk pintu terlebih dahulu." Bayu menegur adiknya.
"Sudahlah mas, nggak papa. Lagian kita juga sudah selesai." wanita itu mencoba menengahi.
"Maaf mel, adikku memang belum dewasa."
Ardan menggaruk rambut kepalanya yang tiba-tiba saja merasa gatal. Dia merasa kikuk karena memergoki kakaknya dan wanita lain berdua saja di ruangan pribadi Bayu.
"Dia siapa kak?" tanya Ardan tepat ketika wanita itu baru saja keluar dari ruangan itu.
"Mela."
"Mela?"
"Iya Mela."
"Hah.. jangan bilang dia Mela yang waktu kuliah jadi pesaing kak Zahra?"
Bayu membungkam mulut Ardan dengan menggunakan tangannya.
"Kalau ngomong pelan-pelan, kau ini." Bayu memarahi adiknya.
"Sorry, tapi aku benarkan? dia kak Mela yang itu?" tanya Ardan meyakinkan.
"Iya."
"Sedang apa dia disini? apa kakak sudah berpaling dari adik manis ku? tega sekali dikau."
"Apaan sih, orang cuma ngomongin bisnis."
"Tapi mengapa cuma berdua?"
"Memangnya harus mengajakmu gitu."
"Ah aku akan memberi tahu Arini jika kau selingkuh."
"Kau!! bagaimana aku selingkuh jika aku saja belum meresmikan hubunganku dengannya?"
"Hemm benar juga sih."
Mela Ayunda, teman kuliah Bayu yang hingga saat ini masih melajang. Sibuk dengan karirnya sebagai model. Wajahnya yang cantik dengan tinggi semampai tentu akan mudah baginya untuk mendapatkan hati pujaan hatinya. Namun ia justru harus kesulitan untuk hanya sekedar masuk di dalam kehidupan Bayu. Mela belum menyerah, meskipun dahulu harus kalah dari Zahra. Sekarang ia sangat bertekad untuk mendapatkan hati Bayu. Bahkan dengan karir model profesionalnya ia rela membanting bayaran serendah-rendahnya untuk bisa bekerja sama dan mulai memasuki ranah kehidupan yang sama dengan Bayu.
Mela sudah mencintai Bayu lebih dari sepuluh tahun. Namun cintanya masih belum bersambut, hati Bayu terlalu sempit untuk di lalui wanita sekelas dirinya.