Jalan Kehidupan yang tak pernah Terduga seakan membuatku mendapat kenyataan Yang Tak pernah aku sangka.
pertemanan yang ku kira Biasa, nampak berbeda kala Cinta hinggap diantara kita.
sialnya aku tak pernah menyadari dan baru ku ketahui kala kau telah pergi.
dulu aku tak pernah memikirkan akan hadir cinta diantara kita, dengan status kita yang berbeda.
kau seorang gadis manis se elok bunga, sedang aku seorang Duda yang terluka.
dinama kala ketulusan menghancurkan segalanya. terombang - ambing sendiri dalam sepi hingga aku berjumpa seorang wanita yang setara. lalu singgah dan ingin menetap, namun memudar kala suatu fakta yang membuat semua sirna.
semua salahku, dan semua karenaku.
aku yang larut dalam kecewa pada diri ini, memilih pergi meninggalkan rumah yang selama ini menemani lukaku seorang diri.
akan tetapi dari tempat baru inilah semuan berawal, dari sebuah kota di pulau seberang.
cinta yang dulu belum selesai, kini harus bertemu meminta pertanggung jawaban.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Author_Karbitan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terkejut
Aku dan Candra berbincang banyak hal seputar kehidupan kita.
Membicarakan tentang masa lalu saat ada di dalam satu naungan yang sama, kala setiap saat bersama selayaknya kakak beradik dengan usia yang sama.
Tanpa terasa banyak hal yang kita bahas, Hingga sampai pada Pembahasan tentang Dea yang baru saja terucap dari mulut Candra.
" Ngomong - ngomong.... kamu pernah berkomunikasi dengan Dea selama ini Yok ? "
Tanya Candra yang membuatku seketika cukup terkejut dengan pertanyaan darinya.
Sama seperti teman - teman sekampung. Semua Rekan kerja di dalam Pabrik sebelumnya memanggilku dengan sebutan Yoyok, Nama ini aku dapatkan karena mendiang orang tua ku yang memanggil dengan nama sebutan itu.
Hingga melekat sampai saat ini.
Aku hanya menyahuti dengan bilang sudah tidak berhubungan lagi dengannya.
" Apa kamu sudah dengar kabar kalau dia sedang ada di rumah Alea sudah beberapa hari "
Ujar Candra yang bilang kalau Dea sedang ada di kota ini dan sekarang berada di rumah sahabatnya di kota ini.
Mendengar ucapan dari Candra, Rasanya seketika pikiranku menjadi Panik dan kacau, Namun aku mencoba tenang dan santai.
Sebab tak ingin terlihat gerak - gerik mencurigakan dariku, Agar tidak ada yang tahu selain teman dekatku kalau saat ini aku sedang di landa masalah atas kekacauan yang terjadi dalam kehidupan rumah tangga Dea.
" Ngapain dia ke rumah Alea ? sejak kapan dia ada disana ? "
Aku bertanya kepada Candra, yang mungkin saja dia mempunyai informasi tentang Dea saat ini.
" Ya mana aku Tahu Yok, aku denger kabar dari Alea, Aku juga sungkan yang mau bertanya dia ngapain kesini, kemarin Dia mengirim pesan padaku, dan dia bertanya tentangmu Yok "
Ujar Candra dengan menceritakan jika Dea menanyakan ku melalui Candra.
" Menanyakan ku? bertanya tentang apa dia "
" Tentang kabarmu, dan juga saat ini kamu ada dimana "
" Terus ? kamu jawab apa Ndra ? "
" Aku kan gak pernah ketemu kamu Yok, dan juga sudah lama aku gak kerumahmu, jadi aku jawab aja kalau aku sudah lama gak komunikasi sama kamu, gitu aja yang aku jawab "
Aku hanya mengangguk mendengarkan ucapan dari Candra tentang Jawaban yang dia katakan kala Dea bertanya tentangku.
Dari informasi yang aku dapat, Sudah tiga hari dia ada di rumah temannya, dan wajar jika suaminya mencari dan tujuan utamanya adalah aku, sebab dia mendengar sendiri kala dia meneleponku dengan membahas keinginannya.
Aku cukup merasa was - was mendengar Dea ada di kota ini, dimana tebakanku sepertinya Benar, jika dia akan datang kerumah untuk menemui ku.
Pembahasan kita berlanjut hingga banyak Hal, Aku mencoba membahas hal lain selain tentang Dea.
Upaya ini aku lakukan agar rasa khawatirku tak terlalu berlebihan tentang Dea.
Kopi di gelas plastik sudah habis tak tersisa, meninggalkan ampas kopi yang larut dalam gelas.
Hari semakin malam, senja telah pergi meninggalkan sebuah petang yang akan berganti dengan gelap malam, lantunan adzan Isyak telah berkumandang, dan seketika itu Candra pamit untuk pulang duluan.
" kayaknya hari sudah semakin malem Yok, Aku mau pulang duluan, soalnya sejak tadi belum pulang ke kost an "
Ujarnya sambil mengambil jaket lalu memakainya,
Lalu dia berdiri dan bersalaman denganku sebagai tanda perpisahan sejenak setelah pertemuan singkat yang tak pernah di rencanakan sebelumnya.
" Hati - hati di jalan Ndraa, sukses untuk mu kedepannya, main - main ke rumah kalau waktumu senggang "
" Nomor HP mu berapa? aku beberapa kali WA malah centang satu yang tak kunjung dua "
" Sorry..... Ndra... aku berganti nomor soalnya, nantilah Aku Wa kamu "
" oke.... oke, Aku duluan Yok "
lantas dia memakai kembali Helmnya lalu naik ke atas motor kemudian berlalu meninggalkanku sendiri yang duduk di taman ini masih dengan terpaku.
Padahal tujuanku adalah untuk menenangkan diri tanpa mendengar tentang Dea yang sudah aku jeda dari pikiranku sejenak.
Namun bukan sebuah ketenangan seperti yang aku harapkan, Malah mendapatkan kabar bahwa Dea ada di kota ini yang mana pasti akan datang untuk menemui ku beberapa hari kedepan nanti.
Rasanya aku semakin bingung saja, di tengah gelisah tentang kehidupan yang tak kunjung juga mendapat sebuah titik terang.
Malah terseret dalam konflik yang tak aku inginkan.
Hhhhhhhh....... aku benar-benar lelah dengan semua ini.
Pikiranku sangat kacau, dan gejolak dalam hati seakan membuat risau, tatapanku seakan kosong, lantas ku tundukkan kepala dengan lelah yang tidak bisa aku mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi.
Rasa ketakutan yang belum terbukti, dan rasa khawatir yang tidak pasti, seakan menjadi doktrin yang harus aku hadapi.
Sebenarnya yang harus aku lawan adalah logikaku yang mengada - ada, yang mana menimbulkan rasa cemas yang terlalu berlebihan dimana membuatku seakan lupa.
Bahwa saat ini aku tak bersalah dengan hadirnya cinta Dea yang tumbuh dalam dirinya.
Belum sempat aku bertanya pada diriku harus bagaimana, dari kejauhan aku melihat sesuatu yang rasanya tak asing dalam ingatan.
Seorang lelaki sedang menelpon seseorang di seberang jalan, terlihat santai dengan duduk di motornya yang di parkir depan pertokoan.
Sebentar..... sepertinya aku ingat dengan Helm dan jaket itu, outfit yang masih sama seperti malam itu.
Tak salah lagi.... itu orang yang dulu pernah menghajar ku.
Namun mau apa dia sekarang? apakah sedang mencari ku atau ada urusan lain.
Rasa takut seakan kembali melanda diriku, yang aku pikirkan saat ini adalah orang tersebut pasti sedang mencari keberadaan ku, apalagi Dea kabur dari rumah seperti yang aku duga.
Mereka pasti ingin mencari ku untuk menanyakan keberadaan Dea, Seperti mendayung dua pulau terlampaui, Dia mencari Dea sekaligus dengan diriku yang mungkin bisa mereka dapatkan.
Tak berselang lama, nampak seseorang temannya Datang menemuinya, pakaian mereka masih seperti dahulu kala terakhir kita bertemu, dan kali ini tak salah lagi, Mereka beraksi atas sebuah perintah dari tuan mereka sendiri.
Gegas aku pakai jaket dan helm seperti semula, dengan gerakan cepat, aku naik ke atas motor lalu mencoba menyalakannya.
Sialnya motorku malah susah menyala, hingga beberapa kali aku sela, tak kunjung jua mengeluarkan bunyinya.
mereka bergerak dan tanpa sengaja melihatku di ujung seberang jalan. kemudian mereka mendekat kala motor yang aku gunakan tak kunjung juga hidup.
" jiampuuuuttt...... ayolah cukkk "
Aku mengumpat kala motor ini tak kunjung juga hidup.
Dengan terpaksa aku dorong cukup keras di jalan yang cukup landai, lalu gigi persneling ku injak dua kali, setelah itu baru kopling ku lepas dan motor pun menyala dengan raungan mesinnya.
Aku tarik gas secara dalam - dalam, dan dengan cepat aku bermanuver di jalanan yang cukup padat namun tak rapat.
Aku terus berjalan menyusuri jalanan, kali ini tujuanku menghindar dulu sejauh mungkin sebelum mereka sempat mengejar.
jalanan gelap dan terang aku trabas dengan kecepatan cukup kencang.
kali ini aku tak peduli dengan apa yang terjadi, karena dalam pikiranku, aku harus menghindari mereka sebelum menyusul ku lalu terulang kembali peristiwa yang dulu pernah menimpaku hingga aku tepar tak berdaya.