Mata elang Layla mengamati pria yang akan menjadi suaminya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Tindikan di telinga, tato di lengan, dan aura berbahaya yang terpancar, adalah definisi seorang badboy. Layla mendesah dalam hati. Menikahi pria ini sepertinya akan menjadi misi yang sangat sulit sepanjang karir Layla menjadi agen mata-mata.
Tapi untuk menemukan batu permata yang sangat langka dan telah lama mereka cari, Layla butuh akses untuk memasuki keluarga Bagaskara. Dan satu-satunya cara adalah melalui pernikahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alisha Chanel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
Nadin menatap ponselnya dengan mata berbinar, jari lentiknya mengusap lembut layar sentuh yang menampilkan angka yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya, "500 juta ini akhirnya menjadi milikku." gumam Nadin.
"Ternyata segampang ini mencari uang, dengan uang ini aku pasti bisa kuliah ke luar negeri dengan segera." Udara di sekitarnya seolah berhenti ketika Nadin tersenyum puas, senyum yang penuh kemenangan dan juga harapan.
"Harusnya kau tidak melakukan semua ini Nadin, jika kau butuh uang, kau bisa memintanya padaku."
Nadin masih terbenam dalam kegembiraan ketika suara seseorang yang sangat dikenalnya membuat Nadin terkejut. Nadin menoleh ke arah sumber suara, dan senyumnya seketika meremang. Di hadapannya berdiri Layla, sang kakak tiri, wajahnya tampak serius.
"Apa yang kau lakukan, Layla? Apa kau mengikuti aku?" tanya Nadin dengan nada sinis, tubuhnya sedikit condong maju seolah ingin menantang.
"Yang kau lakukan selama ini adalah salah, Nadin! Papa Indra dan Mama Mita pasti akan hancur melihat kelakuan putri kesayangan mereka jadi wanita murahan yang tidur dengan banyak pria hanya demi uang." ucap Layla.
Layla tidak mundur. Matanya menatap langsung ke mata Nadin, suara yang keluar tegas namun penuh perhatian.
Nadin menghela nafas dalam, wajahnya memerah antara malu bercampur dengan amarah.
"Jangan ikut campur dalam urusanku, Layla!" teriak Nadin, jari telunjuknya menunjuk tepat ke arah wajah sang kakak tiri. "Aku tahu apa yang aku lakukan, dan ini adalah jalan ku untuk meraih impianku." lanjut wanita cantik itu.
"Aku lakukan semua ini karena aku peduli pada mu, Nadin. Aku tidak ingin kau salah jalan dan menyesal nantinya. Walau bagaimanapun kau adalah adikku." Layla menggeleng perlahan dengan mata yang mulai berkabut.
"Peduli? Atau cuma iri?" Namun kata-kata Layla seolah terbuang sia-sia di telinga Nadin.
"Aku disukai banyak pria dan sebentar lagi akan kuliah ke luar negeri. Tidak seperti kamu yang cuma tamatan SMA saja dan nemiliki suami yang kasar seperti adrian. Hahaha..." ucap Nadin penuh dengan nada hinaan.
"Uang yang dicari dengan cara tidak halal tidak akan membuat mu bahagia, Nadin. Ingat itu." peringati Layla, hinaan Nadin tak berarti sedikitpun untuk Layla.
Nadin hanya mengangkat bahu, matanya kembali menatap ke layar ponselnya yang menampilkan saldo 500 juta. Senyumnya kembali muncul, Nadin sama sekali tidak perduli dengan kata-kata Layla.
***
Beberapa hari kemudian...
Dengan penuh percaya diri, Nadin mengundang seluruh keluarga besarnya makan malam di rumah, termasuk Layla.
Malam ini adalah momen yang sudah Nadin tunggu-tunggu sejak lama sekali, ia akan membacakan hasil pengumuman penerimaan dirinya di universitas design perhiasan ternama di Prancis. Amplop berwarna putih tersebut masih tersegel rapat di tangannya. Nadin ingin membukanya di hadapan semua orang, karena sudah yakin ia akan diterima.
"Kau hebat banget, Nadin! Kau adalah satu-satunya orang di keluarga kita yang bisa kuliah sampai ke luar negeri!" kata Paman Joko sambil memukul pundak nadin. Paman Joko adalah adik dari mama Mita.
Semua orang sibuk memuji Nadin, senyum bangga dan bahagia terpancar di wajah setiap anggota keluarga, terutama papa Indra dan mama Mita. Layla hanya diam di sudut ruangan, mata memandang Nadin dengan rasa khawatiran yang tak terungkap.
"Cepat buka amplopnya Nadin, kami sudah tidak sabar ingin mengetahui isinya." Desak Nala sepupu Nadin.
"Baiklah, aku akan membuka amplopnya sekarang." balas Nadin.
Jantung Nadin berdetak sangat kencang kala merobek amplop tersebut. Jari jemarinya menyentuh kertas putih di dalamnya kemudian membaca isinya dengan perlahan, dan seketika wajah Nadin memucat.
"Ada apa Nadin? Kenapa kau diam saja? Ayo bacakan suratnya! Kami juga ingin dengar." pinta om Joko tidak sabaran.
"Mungkin Nadin gugup, biar aku saja yang bacakan untuk kalian." Nala merebut kertas putih tersebut dari tangan Nadin, kemudian membacakan isinya.
"Jangan..." Nadin mencoba menahan Nala, tapi sudah terlambat.
"Kami menyesal memberitahu bahwa Anda ditolak karena hasil tes kesehatan menunjukkan Anda mengidap penyakit AIDS." ucap Nala dengan lantang, membuat semua orang di ruangan tersebut bisa mendengar suara Nala dengan jelas.
Semua orang yang tadinya riuh seketika berubah menjadi senyap, fokus mereka kini tertuju pada Nadin yang hanya diam mematung.
"A-AIDS?" ucap Nala dengan suara gemetar.
Kata itu seperti bom yang meledak. Semua orang yang tadi memuji Nadin mulai mundur perlahan, karena takut tertular penyakit wanita itu.
Beberapa orang mulai berbisik-bisik, yang lain malah langsung berdiri dan berusaha pergi tanpa membuat kegaduhan. Nadin hanya bisa diam tanpa kata, tangannya menggenggam gelas wine hingga pecah dan membuat tangan Nadin berdarah, air mata mulai membanjiri wajahnya yang pucat.
Bersambung...
Layla akan kembali pada Joshua atau tetap bersama Adrian?