karya Pertama Author 😊
Reynard Aethelred adalah pewaris tunggal Aethelred Group, raksasa bisnis energi. Reynard, yang selalu memberontak, menolak pernikahan perjodohan dengan Annelise Vanya, seorang gadis yatim-piatu yang dibesarkan di panti, pilihan terakhir almarhum ayahnya. Ia justru memilih Seraphina Valerius, tunangannya, yang ia yakini adalah cinta sejatinya. Selama pernikahan yang dingin, Reynard acap kali meremehkan Annelise, memprioritaskan Seraphina yang ambisius dan haus harta.
Pada hari ulang tahun Annelise yang ke-25, di tengah sebuah pesta, Reynard baru menyadari kebenaran pahit. Seraphina adalah mata-mata yang bekerja sama dengan kekasih rahasianya untuk merebut seluruh aset Aethelred Group dan menghabisinya. Annelise, yang diam-diam telah mengandung anak mereka, mengetahui rencana itu dan bergegas menyelamatkan Reynard. Dalam kekacauan, Annelise dan bayi dalam kandungannya tewas setelah melindungi Reynard dari tembakan mematikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putryy01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebangkitan dalam Penyesalan
__________________________________
DOR!
Rasa sakit yang membakar di kepala sirna, digantikan oleh keterkejutan. Reynard terbangun dengan napas memburu, jantungnya berdegup kencang seolah baru saja menyelesaikan maraton. Kegelapan total yang menelannya perlahan memudar, digantikan oleh cahaya pagi yang lembut menembus celah gorden tebal.
Ia mengerjap. Pandangannya menangkap langit-langit berukir kamarnya, bukan lantai marmer dingin yang seharusnya menjemputnya. Jendela-jendela yang megah, kasur king size yang empuk, dan selimut sutra yang melilit kakinya. Kamar tidur utama Aethelred Mansion tempat yang ia tempati sendirian tanpa Annelise selama 3 tahun .
Mustahil.
Reynard langsung melompat duduk. Ia menyentuh kepalanya tidak ada luka tembak. Ia menyentuh bahunya luka dari tembakan Seraphina pun tidak ada. Semua terasa nyata, kulitnya mulus, tubuhnya bugar.
Ia menoleh ke samping. Di ranjang yang sama, terbaring sosok yang selama ini menjadi penyesalan abadinya.
Annelise.
Gadis itu tidur meringkuk, punggungnya menghadap Reynard. Rambut cokelat gelapnya yang indah menutupi bantal, dan bahunya yang polos terekspos karena selimut yang melorot. Pagi itu, dia mengenakan kemeja putih Reynard yang kebesaran.
Semua kembali berkelebat di benaknya, aroma mesiu, darah , lolongan putus asa , dan janin dua bulan yang ikut terenggut. Ia ingat sumpah yang ia bisikkan sebelum kegelapan merenggutnya.
‘’Aku bersumpah… Jika ada kesempatan lagi… aku akan mencintaimu, Annelise. Aku akan memilihmu.’’
Dan sekarang, dia ada di sini.
Annelise ada di sampingnya. Dia masih hidup.
Reynard mengangkat tangan yang gemetar dan menyentuh punggung Annelise dengan hati-hati, seolah takut sentuhannya akan membuatnya menghilang. Napasnya tersengal, dan ia merasakan air mata panas mengalir di pipinya. Ini adalah dua bulan sebelum ulang tahun Annelise yang ke-25. Dua bulan sebelum Annelise mendengar rencana Seraphina dan mengorbankan diri demi dirinya. Ini adalah titik balik sebuah kesempatan kedua yang secara ajaib diberikan oleh takdir.
Namun, momen kebahagiaan itu dengan cepat digantikan oleh penyesalan yang tajam.
Malam sebelumnya bukanlah malam romantis. Malam sebelumnya, setelah kembali dari pesta bisnis dengan kondisi mabuk parah dan tidak sadar bahwa minumannya dicampur obat perangsang, Reynard masuk ke kamar Annelise dan menyeretnya ke kamar utama. Ia memaksa, ia melukai. Ia mengambil paksa kehormatan Annelise, semua karena pengaruh obat yang membuat akal sehatnya hilang dan hasratnya liar.
Reynard menarik selimut yang melorot, menutupi punggung polos Annelise. Ia melihat leher Annelise yang terdapat bekas kemerahan dan gigitan kasar yang ia tinggalkan dalam keadaan tidak sadar. Perbuatannya di kehidupan sebelumnya membuatnya menyesal, dan perbuatannya tadi malam di kehidupan ini membuatnya merasa seperti bajingan dua kali lipat.
Ia menundukkan kepalanya, menatap Annelise yang tidur sangat pulas, kelelahan setelah kejadian traumatis semalam.
Annelise menggeliat pelan, mengerang tertahan. Matanya yang cokelat madu terbuka perlahan, masih dipenuhi kelelahan. Ketika pandangannya bertemu dengan Reynard, ketenangan tidur itu langsung lenyap, digantikan oleh ketakutan dan mata yang sedikit berkaca-kaca.
“Reynard…” bisiknya, suaranya parau.
Reaksi itu menghantam Reynard seperti pukulan godam. Ia bukan suami yang dicintai, ia adalah monster yang ditakuti.
Tanpa berpikir panjang, Reynard merangkul Annelise, memeluknya dengan erat namun hati-hati . Ini adalah sentuhan penuh penyesalan, bukan gairah. Ini adalah pelukan yang terlambat tiga tahun dan satu kehidupan.
“Maaf,” bisik Reynard, suaranya pecah. Ia memeluk kepala Annelise dan mencium puncak kepalanya berkali-kali. “Aku minta maaf, Annelise. Untuk semalam. Untuk tiga tahun yang sudah berlalu. Aku minta maaf.”
Annelise menegang di pelukannya. Otaknya yang lelah berusaha memproses keadaan yang ada. Reynard suami yang selalu dingin, yang selalu menghindarinya, yang bahkan tidak pernah melihatnya sebagai seorang istri kini memeluknya erat, menciumnya, dan meminta maaf.
“A-ada apa, Reynard?” tanya Annelise, mendorong pelan dada Reynard dengan tangannya. “Apakah kau sakit?”
Reynard menggeleng, melepaskan pelukan itu sejenak, menatap mata Annelise dengan mata yang memerah karena air mata penyesalan. “Aku tidak sakit. Aku hanya… sadar. Aku sadar betapa buruknya aku selama ini, Annelise.”
Ia memegang kedua tangan Annelise. “Aku adalah suami yang bejat. Aku memperlakukanmu seperti pajangan. Aku selalu meninggikan mu demi Seraphina yang munafik, sementara berlian sejatiku ada di sini. Aku melakukan kesalahan besar, Annelise, sangat besar.”
Reynard tidak bisa menceritakan tentang pengulangan waktu. Siapa yang akan percaya? Dia tidak ingin membebani Annelise dengan kebenaran yang tidak masuk akal. Ia hanya perlu membuktikannya.
“Aku ingin meminta maaf secara tulus atas apa yang terjadi tadi malam. Aku minum terlalu banyak, dan… aku tidak tahu apa yang merasukiku,” Reynard berbohong setengah-setengah, tidak ingin menyebutkan obat perangsang itu agar Annelise tidak merasa jijik. “Aku janji, hal itu tidak akan pernah terjadi lagi. Aku tidak akan menyakitimu lagi.”
Annelise menatapnya dengan pandangan campur aduk. Terkejut, bingung. dan tidak Percaya.
“Reynard, ini… ini aneh,” kata Annelise, nadanya dipenuhi kehati-hatian. “Kau tidak pernah bicara seperti ini. Apakah ada masalah di kantor? Atau… Seraphina?”
Seraphina. Nama itu kini terasa seperti racun di telinga Reynard.
“Tidak ada hubungannya dengan dia,” jawab Reynard tegas. “Dan tidak ada masalah di kantor yang membuatku berpura-pura baik padamu. Ini adalah kejujuran. Aku lelah bersikap bodoh dan dingin. Aku ingin memulai lagi, Annelise.”
Reynard menghela napas. “Tolong, izinkan aku memperbaiki semuanya. Dimulai dengan hari ini.”
Ia menarik selimut yang menutupi bagian bawah tubuh Annelise. Annelise meringis kesakitan saat mencoba menggerakkan kakinya. Wajahnya yang pucat dan kelelahan semakin memperparah penyesalan Reynard.
“Kau tidak bisa berjalan,” bisik Reynard, rasa bersalah itu mencekiknya. “Aku akan membantumu.”
Sebelum Annelise sempat menolak, Reynard menyelipkan tangannya di bawah lutut dan punggungnya. Ia mengangkat Annelise dari kasur dengan hati-hati. Annelise secara naluriah melingkarkan tangannya di leher Reynard, terkejut dan sedikit malu dengan kedekatan yang tiba-tiba ini.
“Reynard, aku bisa sendiri,” bisik Annelise, wajahnya bersemu merah.
“Tidak, kau tidak bisa,” balas Reynard lembut, “dan aku tidak akan membiarkanmu kesakitan lagi karena perbuatanku.”
Reynard menggendongnya menuju kamar mandi utama yang luas. Aroma shower gel Annelise memenuhi indra penciumannya aroma yang sederhana, tapi kini terasa lebih berharga daripada parfum termahal milik Seraphina.
Ia menurunkan Annelise perlahan di tepi bak mandi. Setelah memastikan Annelise duduk dengan nyaman, Reynard mulai mengisi bak mandi dengan air hangat, menuangkan bubble bath beraroma vanilla.
“Kau mandi air hangat. Itu akan membantu mengurangi rasa sakitmu,” kata Reynard, tatapannya terfokus pada air, berusaha keras mengendalikan hasrat yang sempat muncul sesaat tadi. Ia tidak akan pernah menyentuh Annelise lagi tanpa seizin dan cintanya.
Annelise menatap punggung Reynard. Ia melihat bahu Reynard yang tegap dan garis rahangnya yang tegas. Pria itu tampan , arogan, dan dingin. Melihatnya berdiri di sana, sibuk menyiapkan bak mandi untuknya, adalah pemandangan yang paling surealistik dalam hidupnya.
“Reynard, aku bisa mandi sendiri,” kata Annelise lagi, lebih tegas.
Reynard menoleh, menghela napas, dan menatapnya dengan tatapan lembut, bukan tatapan dingin yang biasa ia lihat. “Aku tahu, tapi aku ingin membantumu. Izinkan aku mencucikan rambutmu, Annelise. Anggap saja sebagai… permintaan maaf yang tulus.”
Annelise terdiam. Ada kehangatan dan ketulusan yang belum pernah ia lihat di mata Reynard. Setelah semalam, setelah rasa sakit fisik dan emosional yang ia rasakan, perlakuan ini membuat dinding pertahanannya sedikit melunak.
“Baiklah,” bisik Annelise, menyerah.
Reynard tersenyum lega, senyum yang entah mengapa membuat jantung Annelise berdebar kencang. Ia membantu Annelise masuk ke dalam bak mandi. Dalam prosesnya, pandangannya tidak sengaja jatuh pada tubuh Annelise yang berendam di air. Memar-memar samar terlihat di kulitnya, bukti kekejiannya semalam. Reynard memejamkan mata sejenak, memaki dirinya sendiri dalam hati.
Ia mengambil sampo dan dengan gerakan lembut, mulai memijat kepala Annelise.
“Aku tidak tahu betapa berharganya dirimu sampai aku… hampir kehilangan segalanya,” bisik Reynard, suaranya rendah dan penuh penyesalan. Ia tahu bahwa ia tidak bisa menceritakan kebenaran soal kematian, tetapi kata-katanya penuh kebenaran.
Annelise memejamkan mata, menikmati pijatan yang sungguh lembut dan menenangkan. “Kau tidak akan pernah kehilanganku, Reynard. Aku… aku adalah istrimu.”
Ya, istriku yang kutinggalkan dan rela mati demi diriku , batin Reynard, jiwanya meronta.
“Aku tahu,” jawab Reynard, mengambil handuk dan membungkus rambut Annelise. “Dan aku berjanji, mulai sekarang, aku akan menjadi suami yang layak kau banggakan, Annelise. Aku bersumpah. Aku akan memilihmu. Hanya kau.”
Ia mengangkat Annelise lagi, menggendongnya ke kamar ganti. Reynard mengambil kaos miliknya dan memberikannya pada Annelise karna di kamar utama belum ada pakaian milik Annelise.
“Aku akan panggil dokter kemari. Kau butuh diperiksa. Setelah itu, kita akan sarapan” ujar Reynard.
Annelise hanya bisa mengangguk, masih terlalu terkejut untuk berkata-kata. Perubahan Reynard dalam semalam adalah misteri yang tidak terpecahkan. Namun, di balik keanehan itu, ada secercah harapan yang mulai muncul di hatinya. Harapan yang selama tiga tahun pernikahan ia paksa untuk mati, kini bangkit kembali.
Reynard meraih ponselnya dan menelepon dokter pribadi keluarganya. Saat dia kembali, dia menatap Annelise dan berkata, “Sambil menunggu dokter, aku ingin kau tahu satu hal. Aku akan memutuskan pertunangan dengan Seraphina.tapi tidak bisa saat ini karena masih ada rencana yang harus ku jalani. Tapi aku berjanji tidak akan membuat mu kecewa.”
orang kaya mereka harus membusuk