Seorang gadis polos/biasa (kemungkinan Tika) secara tidak sengaja terlibat dengan seorang bos mafia atau pria berkuasa yang kejam/dingin (kemungkinan Robert).
Keterlibatan ini bisa karena hutang, perjodohan paksa, atau insiden tertentu.
Awalnya, Robert bersikap kasar, kejam, atau dingin, namun seiring berjalannya waktu, sifat polos Tika meluluhkan hati Robert, dan ia mulai memanjakan Tika habis-habisan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elizabeth antika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 35 jarak yang terhapus
Di dalamnya, ada foto seorang wanita tua berwajah hangat dan seorang anak laki-laki kecil dengan mata kelabu yang sama persis dengan Robert.
Saat kotak musik itu berbunyi, Robert terbangun. Matanya langsung membelalak kaget.
"Tutup itu," perintahnya, suaranya tajam dan segera kembali ke nada Mafia yang mengintimidasi.
Tika buru-buru menutupnya. "Maaf. Aku hanya... aku menemukannya." Ia memegang kotak musik itu di pangkuannya. "Siapa mereka?"
Robert memalingkan wajahnya. "Masa lalu. Jangan pernah menyentuhnya lagi."
"Tapi dia ibumu, kan?" Tika bertanya, menunjuk foto itu. "Dan anak kecil itu, kau?"
Robert terdiam lama. Ia mengatur napasnya yang tegang. Kemudian, dengan suara yang hampir tidak terdengar, ia berkata, "Ibuku... dia adalah orang yang paling lembut di dunia. Dan karena kelembutan itu, dia... dia pergi."
Mata Robert tampak berkaca-kaca, sebuah emosi yang Tika yakini belum pernah dilihat orang lain. Ia mengerti. Robert menolak kelembutan karena ia takut kehilangan.
Tika perlahan meletakkan kotak musik itu kembali di meja nakas. "Tidak semua kelembutan berakhir dengan kematian, Robert. Kadang, kelembutan adalah satu-satunya hal yang membuat kita tetap hidup."
Untuk pertama kalinya, Robert tidak membantah Tika. Ia hanya memejamkan mata, membiarkan keheningan yang penuh makna menyelimuti mereka.
Setelah seminggu berlalu, luka Robert mulai pulih. Ia sudah bisa berjalan, meskipun masih pincang. Tika juga kembali bekerja paruh waktu dari kamar, menggunakan koneksi internet Robert yang super cepat.
Saat Tika sedang meeting virtual, Robert sedang memeriksa sistem keamanan apartemen yang rusak dari laptopnya. Tiba-tiba, ia membanting tutup laptopnya dengan keras.
"Sial," Robert mengumpat.
Tika, yang sedang berbicara dengan rekan kerjanya, langsung mematikan mic dan menoleh. "Ada apa?"
"Mereka tahu," katanya dingin. Wajahnya kembali ke topeng baja yang Tika kenal. "Mereka tidak menemukan apa-apa di apartemen, tapi mereka memasang chip pelacak di salah satu bingkai foto. Mereka sekarang tahu aku terluka, dan aku masih di gedung ini."
"Bagaimana kau tahu?"
"Mereka mengirimkan pesan," Robert menunjuk layar. Hanya ada satu gambar: mug kopi bergambar kucing milik Tika, yang ia tinggalkan di dapur.
Seketika, semua darah meninggalkan wajah Tika. Itu bukan hanya ancaman. Itu adalah pesan yang sangat pribadi. Mereka tahu tentang Tika.
"Apa yang akan kita lakukan?" tanya Tika, suaranya tercekat.
Robert bangkit, mengambil pistol berbalut beludru dari laci dan memasukkannya ke balik celananya. Ia bergerak dengan kecepatan yang mengejutkan, meski masih sedikit menahan sakit.
"Kita akan pergi," kata Robert. "Sekarang. Pintu belakang."
"Tapi kemana?"
Robert menatapnya dengan tatapan yang penuh perhitungan. "Ke tempat yang bahkan tidak pernah mereka pikirkan. Mereka tahu aku bersembunyi di tempat mewah. Mereka tidak akan pernah menduga aku akan pergi ke... dunia biasa."
Tika segera mengemasi barang-barang pentingnya: ponsel, dompet, dan resep kue favoritnya. Robert mengambil tas kecil berisi uang tunai dan identitas palsu.
Saat mereka melangkah keluar melalui pintu belakang, Robert menoleh ke Tika.
"Dengarkan baik-baik. Dari sini, kau bukan lagi Tika, karyawati kantor. Kau adalah tunanganku. Nama kita ada di dokumen-dokumen ini. Kita baru pindah, sedang mencari ketenangan."
"Tunanganmu?" Tika memaksakan senyum tegang.
"Ya," Robert menatap Tika, tatapan intens yang membuat Tika merasa seolah-olah dia benar-benar tunangannya. "Ini bukan akting. Ini adalah cara kita bertahan hidup. Kau harus terlihat takut, tapi jangan panik. Kau harus bergantung padaku. Dan... jangan pernah menanyakan namaku lagi di depan umum."
Tika mengangguk, napasnya tersengal.
Mereka menyelinap keluar melalui gudang bawah tanah. Robert dengan cekatan merampas kunci sebuah mobil biasa di parkiran layanan dan memanaskannya.
Saat mereka melaju pergi, meninggalkan apartemen mewah itu dalam kegelapan malam, Tika melihat ke kaca spion. Ia melihat gedung pencakar langit yang menjulang tinggi, penuh rahasia dan ancaman.
"Ke mana kita pergi?" tanya Tika.
Robert memegang erat setir, matanya fokus. Ia mengeluarkan peta usang.
"Kita akan ke pinggiran. Ke tempat di mana tidak ada yang mencariku," jawabnya. "Aku akan mengajakmu ke tempat yang tidak kuinginkan sejak aku meninggalkannya bertahun-tahun yang lalu. Sebuah tempat yang hanya aku, ibuku, dan kotak musik itu yang tahu."
"Dan aku," bisik Tika, membalas genggaman tangan Robert yang bebas di kursi penumpang.
Robert tersenyum tipis lagi, senyum yang sama sekali tidak dingin. "Dan kau, Tika."
Malam itu, Tika tidak hanya melarikan diri dari bahaya, ia juga melarikan diri dari kehidupan lamanya. Ia kini berada di kursi penumpang, bersama seorang Mafia yang sedang terluka, menuju sebuah tujuan yang tidak ia ketahui, namun dengan perasaan yang tak lagi cuek.
Perjalanan mereka memakan waktu berjam-jam. Robert mengemudi dengan waspada, selalu memperhatikan spion, menghindari jalan tol utama, dan mengganti pelat nomor mobil curian itu dengan plat cadangan yang ia siapkan di bawah jok.
Menjelang subuh, mereka tiba di sebuah kota kecil di Jawa Barat, tersembunyi di antara perbukitan yang diselimuti kabut pagi. Kota itu terasa tenang, jauh dari hiruk pikuk dan kilau berbahaya Jakarta.
Robert memarkir mobil di pinggir sebuah jalan tanah yang sepi. Di depan mereka berdiri sebuah rumah kayu sederhana, tampak tua namun terawat, dengan halaman yang ditumbuhi bunga-bunga liar.
"Ini... di mana?" tanya Tika, matanya melebar. Ia membayangkan rumah persembunyian Robert adalah bunker mewah, bukan pondok sederhana ini.
"Rumah masa kecilku," jawab Robert, menatap rumah itu dengan ekspresi campuran antara nostalgia dan sakit. "Sebelum... sebelum aku dibawa oleh pamanku, dan menjadi seperti sekarang."
Robert mematikan mesin. Ia menoleh ke Tika, wajahnya serius. "Ingat, nama kita adalah Alex dan Risa. Kita adalah pasangan dari kota yang pindah ke desa untuk mencari ketenangan. Aku bekerja sebagai konsultan online. Kau... kau tinggal di rumah dan membuat kue."
"Membuat kue?" Tika tersenyum kecil. "Itu yang kupinginkan."
"Bagus," Robert membuka pintu mobil, meraih tas kecilnya yang berisi uang dan senjata. "Tunjukkan pada dunia betapa normalnya kita, Risa."
Keesokan harinya, sandiwara itu dimulai.
Robert, atau kini Alex, mengenakan kaus oblong dan celana jins usang. Pakaian yang membuat aura berbahayanya sedikit mereda, meskipun matanya tetap waspada. Tika, atau Risa, segera membersihkan rumah itu, mengatur barang-barang seadanya, dan mulai memanggang.
Aroma manis adonan kue yang dipanggang Tika segera mengundang perhatian warga sekitar. Seorang ibu-ibu yang ramah, Bu Siti, datang membawa sayuran dan bergosip.
Saat Bu Siti bertanya tentang hubungan mereka, Tika harus merangkul lengan Robert dan tersenyum malu-malu.
"Alex ini orangnya pendiam, Bu," kata Tika, pura-pura menyenggol Robert. "Tapi hatinya lembut. Kami ingin memulai hidup baru di sini."
Robert, yang terbiasa memberi perintah, kini harus menahan diri dan mengeluarkan senyum kaku. Setiap kali Tika merangkulnya, tubuhnya menegang, tetapi Robert membiarkannya. Ia tahu, di dunia ini, keintiman palsu mereka adalah perisai terbaik.
Namun, lambat laun, sandiwara itu mulai terasa aneh.
Suatu malam, saat Tika sedang sibuk membuat catatan resep, Robert duduk di teras kayu, membersihkan pistolnya di bawah cahaya rembulan yang samar.
"Kau berlebihan hari ini," kata Robert tanpa menoleh. "Aku hampir tersedak saat kau memanggilku 'Sayang' di depan Bu Siti."
Tika tertawa pelan. "Itu tuntutan peran, Robert. Kau harus lebih santai. Tadi kau terlihat seperti ingin menembak Bu Siti saat dia bertanya tentang cincin pertunangan kita."
Robert meletakkan pistolnya. Ia menatap Tika di balik rembulan. "Aku tidak pernah melakukan hal normal seperti ini, Tika. Aku tidak tahu bagaimana menjadi 'normal'."
"Kau hanya perlu bernapas dan diam. Aku yang akan memimpin sandiwara ini," ujar Tika, ia merasa sedikit berkuasa.