DISCLAIMER : Ini bukan kisah tentang sweet romance tetapi DARK ROMANCE...
Jadi bersiap-siap menjadi tegang dan gemas
Berawal dari kisah cinta semanis madu, pasangan Aris-Ana menikah. Dengan berjalannya waktu kisah manis cinta mereka berubah menjadi semakin pahit dan mencekam.
Ana dibuat hancur berkeping-keping karena pernikahannya. Semakin hari semakin mencekam dan tidak masuk akal.
Apakah yang harus Ana lakukan? Bertahan dia akan hancur. Berpisah ibu dan anaknya lah yang hancur. Adakah pilihan lain baginya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Frans Lizzie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 - Makin mengerucut
Usaha pelacakan keberadaan Andi membutuhkan waktu lebih dari sebulan.
Bapak Jayanto sudah berumur 75 tahun, tak bisa segesit dulu lagi.
Fisiknya yang menua, juga karena posisinya di kepolisian sudah tidak aktif lagi, menjadi halangan untuk bisa lebih cepat menemukan. Namun berkat insting dan pengalamannya, ia berhasil juga menemukan Andi.
Andi, papa kandung Ana berada di Klaten. Tinggal di rumah warisan mertuanya bersama istri keduanya, mereka hidup berdua saja. Anak mereka yang juga tunggal, sudah menikah dan tinggal bersama suaminya.
Seperti masa mudanya, Andi tetap bermalas-malasan bekerja. Untung istrinya mewarisi bisnis batik dan lurik dari almarhum orang tuanya. Walau keadaan hidup mereka belum bisa dikatakan mapan, tapi cukuplah untuk hidup mereka berdua.
Tak seperti Sherly, mama Ana, yang selalu menuntut agar bisa hidup berkecukupan, istri kedua Andi seorang wanita yang legowo. Jadi mereka bisa hidup damai bahagia dengan kehidupan mereka yang sederhana ini.
“Bapak sudah berbicara tentang niat kita untuk menikah kepada Papa Andi, Ana,” cerita Aris sambil mengiris-iris steak sapi menjadi potongan-potongan kecil sebelum memberikan kepada Ana. Ia lakukan itu agar Ana lebih mudah untuk menyantapnya.
“Tetapi tampaknya Papa Andi tidak terlalu antusias mendengar kabar ini,” sambung Aris lagi. “Memang sih, kehadiran Papa Andi tidak terlalu krusial, karena yang bisa menjadi wali nikah haruslah umat Muslim. Sedang Papa Andi bukan Muslim. Tapi setidaknya, Papa Andi diharapkan bisa hadir saat pernikahan putrinya.
Tetapi tetap belum bisa dipastikan apakah Papa Andi mau datang atau tidak.”
Ana diam mendengarkan cerita Aris. Walau sudah tahu karakter pengecut papanya, tetap saja teriris hati Ana. Kehadirannya tidak dianggap penting bagi papanya. Bahkan untuk urusan pernikahannya pun tak dianggap serius.
“Apa kalau orang tuaku tidak ada, kita tidak bisa menikah?” tanya Ana. Dia memang belum tahu apa-apa soal seluk beluk urusan pernikahan ini.
Pernikahan tidak pernah masuk dalam prioritas hidupnya.
“Nanti akan dicarikan wali untuk Ana. Jadi tidak ada masalah,” jawab Aris sambil mengelus-elus punggung Ana. “Tapi yang pasti Mama Sherly bersedia hadir. Ibuku sudah memberi uang saku untuk perjalanan. Kendaraan PP nanti akan diatur kemudian. Mama Sherly hanya perlu hadir, itu saja. Lainnya akan diurus oleh ibuk.”
Ana merasa tidak enak hati. Ia sangat malu dengan keadaan keluarganya yang menyedihkan. “Eh, aku harus kembalikan berapa ya buat ganti uang Ibuk?”
Aris kembali mencubit hidung Ana pelan. “Ck, masih saja sungkan kepadaku. Aku ini calon suamimu lho. Hal begitu sudah menjadi tanggung jawabku.”
PLONG!
Sungguh melegakan, menemukan pria yang tepat.
Sudah ada yang menggantikan dia untuk memikul beratnya beban hidup.
____________________
Dua Minggu kemudian terjadi sesuatu yang membuat rencana yang sudah sebagian diatur berantakan lagi.
Hotel Atlantic terpilih jadi tempat penyelenggara pertemuan petinggi kemaritiman se Asia Tenggara. Karena sesuatu dan lain hal, event internasional itu dipindahkan ke Batam karena suatu halangan terjadi pada negara tuan rumah dimana seharusnya acara itu semula diselenggarakan.
Karena itu tamu dari berbagai negara akan datang menginap di hotel Atlantic selama 5 hari lengkap dengan fasilitas banquet, conference room dan ballroom.
Tingkat hunian full 100%.
Sangat banyak yang harus disediakan hotel. Sehingga semua staff penting hotel harus standby di tempat untuk memastikan event internasional ini berjalan lancar. Jangan sampai mencoreng nama baik negara Indonesia, dan juga nama hotel pada khususnya.
Dan tentu saja, seperti sudah suratan.
Event itu bertepatan dengan hari pernikahan Aris dan Ana yang sudah disiapkan jauh lebih lama.
Maka tak ada pilihan lain, Aris memutuskan untuk merubah tempat pernikahan mereka, dari Kediri ke Batam. Sehingga ia dan Ana bisa secepatnya balik ke hotel setelah pernikahannya.
Bisa dibilang keputusan Aris itu sangat ekstrem. Sudah ada sejumlah uang yang dikeluarkan untuk mempersiapkan pernikahan itu. Pembatalan itu jelas membuat sejumlah uang hangus tidak bisa diminta kembali.
Tetapi Aris tetap teguh pada pendiriannya.
Hotel dan pekerjaan adalah tanggung jawabnya. Dia sedang bertugas atau dia sedang tidak bertugas, adalah suatu keharusan memastikan bahwa semua listrik dan fasilitas hotel harus berfungsi prima.
“Banyak yang seharusnya sudah diganti baru, Ana,” jelas Aris kepada Ana. “Hanya karena target revenue kita dari owner belum tercapai, sehingga budget untuk penggantian beberapa komponen barunya ditunda dulu. Makanya harus aku yang incharge, untuk jaga-jaga kalau ada masalah. Belum ada yang benar-benar mampu untuk mengatasi, selain aku.”
“Oh begitu.”
Mas Arisnya begitu hebat dan jadi andalan di hotel Atlantic, pikir Ana kagum. Tanpa dia, bisa kacau nanti keadaan hotel.
“Karena terlanjur banyak uang yang keluar tanpa bisa ditarik lagi…,” kata Aris sambil menjeda kata-katanya. “Ga apa-apa kan kalau pernikahan kita tanpa ada resepsi. Cukup ijab kabul di KUA lalu makan-makan di rumah Mbak Yati, malam harinya. Kita undang teman-teman hotel. Tentu Mama Sherly dan Papa Andi akan aku terbangkan ke Batam dan kupesankan kamar di hotel. Bukan hotel Atlantic tapi, sebab hotel kita sudah fully booked.”
Ana maklum. “Iya. Tidak apa-apa.”
Aris melumat bibir Ana beberapa saat. “Yang penting kita sah, iya kan. Sudah halal buat…,”
Ana tersenyum malu-malu.
Aris yang semakin gemas dengan tingkah Ana semakin bergerak maju untuk memeluk erat-erat. Diangkatnya tubuh Ana ke meja kerjanya yang lebar.
Lalu diciuminya bibir, muka sampai ke leher Ana.
TOK! TOK! TOK!
Pintu kantor Chief Engineering di ketuk beberapa kali.
Terdengar suara-suara dari luar.
“Kantornya dikunci gini lho.”
“Woy, Pak Aris tidak ada di kantor. Mana itu Tedi, ah ngaco aja omong.”
“Hei, Ted, Tedi, mana… bos nggak ada di sini.”
Lalu terdengar suara yang agak jauh.
“Ada lah. Sedari Pak Aris ada di kantor.”
“Mana buktinya? Ini tengok, kantornya aja dikunci. Pak Aris nggak ada.”
Suara yang agak jauh.
“Masa sih. Kantor bos tak pernah dikunci. Kecuali nanti jam 11 atau 12 malam.”
CEKLEK!
Aris membuka pintu kantor.
“Ada masalah apa? Kalian ribut sekali.”
Ada seorang carpenter yang berdiri dekat kantor office, sementara 3 orang kru engineering lainnya berdiri terpencar agak ke belakang.
“Wah, tumben dikunci, Pak. Lapor Pak, ada kerusakan di.. ,” kata-kata Carpenter tadi menghilang ketika matanya melihat Ana yang beringsut-ingsut keluar dari kantor.
“Ooooo…” Terdengar suara panjang seragam para kru engineering di belakang.
Ana tersenyum sambil melangkah menjauh dengan menahan perasaan malu.
“Miss, ini silahkan duduk dulu.” Seorang kru engineering mengangsurkan sebuah kursi plastik.
“Tidak perlu, terima kasih. Saya pergi dulu,” tolak Ana sopan.
“Pantes dikunci.”
Terdengar bisik-bisik.
“Sampe jendelanya ditutup lagi.”
Bisik-bisik lagi.
“Lihat, lipstiknya sampe hilang lho.”
Ada celetukan lagi entah dari arah mana yang membuat Ana semakin menciut malu.
Aris setelah selesai berbicara dengan carpenter nya, ia berdiri menghadap semua krunya,” “Semuaaa… ada yang lapar tidak?”
Kru engineering langsung riuh.
“Lapar Pak. Haus juga, di atas panasss banget.”
“Sudah pengin makan apa, order sana. COD, nanti saya yang bayar.”
“Hore!”
“Pizza! Pesan pizza, boleh Pak?”
“Woi, gayamu pizza, pizza. Biasanya juga gorengan.”
Aris mengeluarkan dompetnya, mengeluarkan sejumlah uang dan memberikan kepada salah satu krunya. “Ini setengah juta. Kalian pilihlah. Ingat jangan lupakan yang kru malam juga, jangan kalian habisin semua.”
“Kalau sama buat evening shift, ya kuranglah,” celetuk seseorang lagi.
Aris mengeluarkan 5 lembar uang bergambar Soekarno-Hatta lagi dari dompetnya.
“Makan yang akur. Abis makan kerja lagi.”
Lalu ia berjalan sambil menggamit lengan Ana, mengajaknya pergi sebelum wanitanya itu lenyap masuk ke bumi, karena malu.
“Ayo Ana, kuantar sampai ke sales.”