Seorang Punggawa mengharapkan sebuah arti kehidupan rakyanya yang penuh dengan kemakmuran. Banyak bahaya dan intrik di sana.
Simak ceritanya......Petuah Tanah Leluhur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Artisapic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB XX RAIBNYA SELENDANG PRANAWATI
Di balong Bakung itu, Anggapala duduk bersilah , diam tak bergeming, walau gangguan dan cobaan silih berganti. Malam itu ke 40, selepas ular besar tadi hilang yang ada hanyalah sebuah air yang diam tanpa bergeming. Setelah itu air yang tenang tadi bergelombang lalu bergulung-gulung kemudian bergolak, hingga deburan ombaknya menghantam tepian balong dengan suara gemuruh. Anggapala hanya terdiam, setelah bergolak lalu dari dalam air itu tiba-tiba muncul sosok seperti kepala ular, sosok itu muncul dan terus ke atas, kemudian kepala ular itu mendekati sesaji yang berada di depan Anggapala. Dalam diri Anggapala apakah akan memakan dirinya, sementara dirinya sudah berani membuka matanya.
Alangkah kagetnya ketika melihat sosok itu, lalu ular itu kembali ke tengah balong, selanjutnya keluarlah asap tipis lalu membesar dan terus membesar hingga membentuk sosok wanita yang rupawan, namun tubuh wanita itu hanya sebatas perut, sedangkan ke bawahnya berwujud ular, setelah melihat tubuh Anggapala, lalu sosok itu berkata ; " Anggapala, engkau telah lulus dalam ujianmu, engkau telah berhasil dalam tapamu, apa yang kau pinta ?" katanya.
Karena gemetar, begitu ia menundukkan kepalanya, tak terasa selendang yang dipakai menutup kepala itu merosot , lalu jatuh ke air, sementara untuk meraih selendang itu, Anggapala sudah lemas dan lunglai, hilang sudah selendang itu. Sambil gemetar, ia menjawab, " Ampun Dewi, saya hanya menginginkan keturunan bersama Nyi Kalis, sebagai penerus kami ," tuturnya.
" Untuk syaratnya, kalian berdua sebaiknya perbanyak makan dengan lauk ikan gabus atau boncel dan untuk minumnya harus dengan air kelapa degan atau kelapa muda, lakukan selama 100 hari," tutur wanita yang dipanggil Dewi.
" Baik Dewi akan saya jalani bersama istri, semoga lelaku saya ini tidak mengganggu Dewi," jawab Anggapala.
Setelah itu sosok wanita tadi menghilang tanpa ada suara dan wujud. Saat itu, tubuh Anggapala roboh dan terbaring di tepi balong.
Sementara itu di pendopo Cikeusik, merasa bahwa malam itu malam ke 40, Nyi Kalis menyuruh Pandanala dan juga santrinya, serta ki Demang bersama ki Luwih. Mereka berjalan di tengah malam. Selama beberapa saat, rombongan itu sampai juga di lokasi balong Bakung. Mereka mengamati situasi di tempat itu. Setiap sepasang mata memandang sekeliling. Lalu tampak sosok yang sedang terbaring di tepi balong, dialah sosok Anggapala.
" Saya rasa Angger Anggapala sudah selesai , ini sudah melewati tengah malam, sebaiknya kita jemput dia," kata ki Luwih.
" Iya ki, nanti kita cari dimana melakukan ritual itu," jawab Pandanala.
" Apakah itu Ki," kata ki Demang sambil menunjuk ke arah sosok putih.
Akhirnya mereka menuju ke sosok putih tadi, dan apa yang dilihat itu benar, tubuh Anggapala yang terbaring. Sambil mengangkat kepala Anggapala ke pangkuan Ki Demang, beliau memberi minum seteguk demi seteguk. Tubuh Anggapala lalu bergerak lemah, wajahnya pucat dan tubuhnya kurus, sementara matanya begitu cekung dan tampak seperti orang mati.
Kemudian beberapa saat setelah itu, tubuh Anggapala dibawa pulang dengan tandu. Dalam perjalanan pulang, mereka bergantian membawa tubuh yang lunglai itu.
Akhirnya mereka sampai juga ke pendopo, dan kehadiran mereka itu disambut isak tangis atas kondisi Anggapala. Banyak di antara mereka yang menangis sampai terseduh-seduh. Banyak pula yang membawa makanan dan juga minuman segar, bahkan ada yang membawa tumpeng, pekakak ayam, juga makanan lainnya.
Malam itu di pendopo begitu dikerumuni banyak warga, semua menyampaikan ucapan selamat atas kedatangan Anggapala yang telah mendapat petunjuk atau pesan. Bahkan seluruh warga sudah banyak yang mengetahui keluhan pasangan ketua mereka.
Pagi sudah hampir tiba, namun banyak warga yang sengaja tidak pulang, semua berharap bisa bersalaman dengan Anggapala. Betapa sayang dan perhatian warga kepada para pemimpin yang sudah mampu memakmurkan warga.
" Sebaiknya sampeyan tidur saja Ki, masih ada yang lebih muda, biar mereka yang membantu di sini, " kata Nyi Kalis kepada para sepuh.
" Biar saja Nyi, masih betah di sini, kasihan Angger Anggapala, sampai seperti itu demi anak dan keturunan," jawab Ki Luwih.
Dalam situasi seperti itu sebagai seorang aji linuwih dan berbudi luhur , kedua orang berpengaruh yakni Ki Sawerga dan juga Ki Luwih melakukan macapat kanuragan dan kasembadan.
" *Sun angarep aji mantra ing si badan nira, wujud maring suci, kawujud ing jalma ingkang luwih, tan ana jembaran nira, kawedar dening lampah ing suci, mujud siji sawiji ing si badan, gesang ingkang kawujud, ing dalem luhur ingkang budi, wiwit ing data ingkang pitana, samiya wujud dening badan nira, mijil ing sukma kalebu ing jasad ira, tirta ingkang suci, sucine tirta ingkang mulya* "
Setelah itu tubuh Anggapala kembali seperti sedia kala seperti sebelum melakukan ritual di balong Bakung. Sementara di pendopo Cikeusik, orang-orang merasa bangga atas semua yang terjadi.
" Syukurlah Ngger, sudah kembali seperti semula, semoga mantra aji tadi sebagai bangkitnya kekuatan kita semua, dan membawa keberkahan sampai anak cucu", kata Ki Sawerga.
" Terima kasih paman, semoga paman juga selalu memperjuangkan tujuan dari pedukuhan ini, dan menjadi sebuah kebanggaan anak cucu paman," kata Anggapal.
Tak terasa pagi pun menyambut dalam kebahagiaan seluruh warga Cikeusik dan seluruh daerah Cikeusik, semua terbalaskan dengan usaha dari Anggapala. Untuk menyambut kebahagiaan itu , maka di siang harinya diadakan sebuah pesta, berbagai kesenian tampil di alun-alun Sapta Raga.
Dalam pesta itu seluruh warga saling bahu membahu meramaikan acara itu, ada yang memasak, ada yang ikut pesta sebagai penari, pemain,dan juga berbagai atraksi diperagakan. Hingga malam hari acara terus berlansung bahkan sebagai penutup acaranya diadakan wayang beber dengan dalang Ki Demang.
Kebahagiaan warga Cikeusik dihadiri juga oleh tamu undangan, yang menjadi kebanggan warga waktu itu adalah kehadiran kakak kandung Nyi Kalis yaitu Ki Soleh.
Dalam kesempatan itu Ki Soleh yang sudah menganut Islam berkata " Bahwa sesungguhnya setiap apa yang kita harap, apabila dilakukan dengan sungguh-sungguh, maka akan terkabul atas kehendaknya, dan itulah sebuah keyakinan, agar kalian berfikir," kata Ki Soleh.
Waktu itu Panunggul sedang membantu Ki Demang memainkan wayang beber, dan tak disangka, ia saat memberikan wayang beber itu , melihat cahaya terang di atas sana, sambil bergumam " itu lintang pulung ". Hal itulah yang membuat cerita wayang menjadi sebuah cerita yang bermakna dengan mengambil judul yaitu Pulung Dewanata.
Perayaan itu berlangsung hingga jelang fajar, semua warga merasa bangga atas pemimpinnya.
*Sukma jati sikma ingkang dumadi, kaciptaning rasa ing pepada, harja ingkang pundut samiya mundut, kerta ing ngadeg dening jaya, kairing tetembang suci pinasti , kawedar ing dalem macapat ira.*
*GEGESIK CIREBON*
*Q.SAMBLING*
gawe akur bari makmur
--------------------------------------