pemuda biasa
semua tentang reno
romansa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon anable, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35
Di kelompok Reza dan yang lainnya, mereka akhirnya menghentikan pencarian ketika hari sudah mulai Sore dan langit sudah mendung, mereka kembali ke kamp untuk berlindung dari hujan.
"Udah sore, terus mendung lagi, tapi kita masih belum punya petunjuk tentang kakak" ujar Amelia semakin cemas.
"Lo harus tenang Mel, hujan gak akan bisa bikin Reno tumbang, dan juga firasat gue bilang kalo Reno bertarung lagi pasti ketemu" ujar Reza terus menenangkan Amelia yang dari tadi merasa khawatir.
Lalu tiba tiba Hary menghampiri mereka.
"Ayah,..Ayah ngapain ke sini" tanya Reza.
"Ayah mau pamitan sama kalian, ayah akan kembali ke Jakarta sebentar lagi, besok ayah harus melakukan sesuatu yang penting di kantor" ujar Hary kepada mereka.
"Tapi soal keluarga Wijaya sama Reno yahh" ucapan Reza tergantung.
"Kamu tenang aja, pak Boby bukan orang yang picik, tidak ada bukti bahwa Reno yang melakukan penculikan terhadap nona keluarga Wijaya" ujar Hary menenangkan Reza.
Reza menganggukan kepalanya mengerti, dia merasa lega ketika mendengar ucapan ayahnya.
"Baiklah Yah" jawabnya.
"Kamu adiknya Reno?" Tanya Hary kepada Amelia.
"Iya om, saya adiknya kak Reno, nama saya Amelia, makasih udah mau bantuin Kakak saya." jawab Amelia sopan sambil sedikit membungkuk.
Melihat Amelia yang hendak membungkuk, Hary segera menahan tubuhnya.
"Heyy, jangan seperti itu, kakakmu sudah om anggap sebaiknya Anak om sendiri, jadi sudah sewajarnya im ngebantuin kakak kamu" ujar Hary sembari tersenyum.
"Terimakasih banyak om, ternyata sifat baik kak Reza itu menurun dari om" Amelia memuji.
"Hahaha, kamu bisa aja, kamu gak usah cemas soal Reno, dia anak yang kuat, tidak mungkin dia bisa kalah sama hutan ini" ujar Hary mengelus kepala Amelia.
"Iya om, Amelia juga yakin, kak Reno pasti baik baik aja" ujar Amelia tersenyum.
"Nah gitu, kamu harus terus senyum ya" ujar Hary masih mengelus rambut Amelia.
"Baik om" Amelia merasa sedikit tenang.
"Kalo gitu kalian om tinggal ya. Reza, Joni, kalian harus jagain Amelia dan yang lainnya" ucap Hary.
"Baik Yah" ujar Reza.
"Om Hary tenang aja, kita pasti jagain mereka om" sahut Joni.
"Kalau begitu om pamit" ujar Hary lalu dia mulai berjalan keluar tenda.
"Hati hati Yah/Om" ujar mereka kepada Hary. Hary membalasnya dengan melambaikan tangannya.
Setelah Hary pergi, Nina langsung menatap Reza.
"Mal, ko Lo gak kenalin gue ke bokap lo Sih" kesal Nina.
"Bokap gue lagi ada urusan Nina, jadi dia buru buru, Ntar gue bawa Lo kerumah, kalo kita udah resmi pacaran" ujar Reza menghampiri Nina lalu mengelus kepalanya.
"Terus kapan kita bakal pacaran" rengek Nina.
"Sekarang aja" bukannya Reza yang menjawab tetapi Amelia.
"Ayo kak, tembak kak Ninanya" Amelia mulai memanasi manasi Reza.
Nina merona ketika Amelia berkata begitu, dia juga berharap kalau Reza akan menembaknya secepatnya.
"Tapi, ini kecepatan Amelia" ujar Reza.
"Tapi kalian udah saling suka, jadi gak papa dong" balas Amelia.
"Gak, gue gak mau nembak Nina sekarang"ujar Reza tegas.
Nina merasa sedih ketika mendengar ucapan Reza.
"Gue bakal nyatain perasaan gue pas udah balik dari sini, gue bakal nembak dia pake cara yang paling romantis" lanjut Reza sembari tersenyum ke arah Nina.
Nina langsung sumringah ketika mendengar perkataan Reza, dia sangat suka ketika Reza mengatakan jika dirinya akan mengakui perasaannya dengan cara yang romantis.
"Oh gitu, yaudah deh kalau itu mau kakak,..tapi jangan lama lama loh kak, kasian kak Nina nya kalau dia digantung terus" ujar Amelia menasehati.
"Iya bawel" cibir Reza.
Setelah puas menggoda Reza dan Nina, kini Amelia mulai menatap ke arah Joni dan Fani.
"Kalau kak Joni, kapan kakak mau nembak kak Fani" tanya Amelia. Sedikit polos.
Joni dan Fani langsung malu mendengar perkataan Amelia.
"Apaan sih Mel" malu Fani.
Joni menatap Fani intens.
"Ke..kenapa Lo natap gue kaya gitu?" Ujar Fani gugup.
"Gue mau ngomong sesuatu sama Lo" ajak Joni menarik tangan Fani untuk menjauh dari sana.
Wajah Fani memerah ketika tangannya digenggam dan ditarik oleh Joni.
"Cie ciee, cepet jadian ya kak" Amelia menggoda mereka berdua.
Reza tersenyum ketika melihat Amelia, dia meresahkan lega, karena Amelia sepertinya mulai tidak terlalu mengkhawatirkan Reno.
**
**
Sekarang Reno dan Reva sedang berada di halaman sebuah rumah sederhana, rumah itu sangat bersih, meskipun rumah itu hanya terbuat dari papan kayu dan anyaman bambu, tetapi hal itu lah yang membuat Reno merasa nyaman berada disana.
Rintik hujan mulai turun, Asep menyuruh Reno untuk masuk kedalam rumah.
"Nama kalian teh Siapa?" Tanya Asep sopan.
"Nama saya Reno pak, dan dia bernama Reva" jawab Reno sama sopannya.
"Aduhh jangan panggil pak terus, saya jadi gak enak, panggilnya kang aja. kalau nama saya Asep. Yaudah Sini masuk kedalam Rey no, teh Reva" ajak Asep.
"Gapapa pak..ehh kang, kita disini aja" tolak Reno segan.
"Eh jangan, disini mah kalau hujan anginnya suka gede, nanti kalian basah" ujar Asep.
Reva memegang lengan Reno, memberi tatapan memerintah Reno untuk setuju dengan ajakan Asep.
"Baiklah kang, maaf kami ngerepotin" ujar Reno.
Lalu mereka semua pun masuk kedalam rumah, rumah panggung yang berlantai papan kayu.
"Ati, Kadie sakedap (Ati, kesini sebentar)" Asep sedikit berteriak.
Lalu Seorang gadis muda yang sepertinya sebaya dengan Reno dan Reva datang menghampiri mereka.
Gadis itu berpenampilan sederhana, wajahnya yang natural tanpa make up yang terlihat sangat cantik, kulitnya putih bersih, dan rambut hitam yang diikat.
"Kulan kang, Aya naon? ( iya kak, ada apa?)" Jawab gadis Itu.
"Iyeu Aya tamu (ini ada tamu)" ujar Asep kepada gadis itu.
"Kenalin ini adik saya, namanya Wati, biasanya dipanggil Ati" Asep memperkenalkan gadis itu.
"Oh, ini adik kang Asep" Reno menyapa Ati.
"Cantik ya, hehe kenalin nama saya Reno" ujar Reno mengulurkan tangannya sedikit menggoda.
Wati merona ketika mendengar ucapan Reno, dia tidak biasa digoda oleh seorang lelaki.
"A Reno mah tiasa wae (kak Reno mah bisa aja)" Wati membalas uluran tangan Reno.
Reva menatap tajam ke arah Wati.
'cewe ini..beraninya dia tebar pesona di depan Reno,,dasar cewek kampung' rutuknya dalam hatinya.
"Ati, mereka gak ngerti bahasa Sunda" ujar Asep kepada adiknya.
Wati pun menatap heran kepada mereka. Wati menoleh ke arah Reva, dia tidak mengerti dengan tatapan yang diberikan oleh Reva, jadi dia hanya bisa menyapanya.
"Emangnya kalian teh orang mana?, kenapa gak bisa pake bahasa Sunda" tanya Wati.
"Mereka dari Jakarta Ati, Dari Kota" jawab Asep.
"Hah?, jauh pisan dari jakarta" Wati kaget.
Asep pun menceritakan tentang Reno dan Reva yang tersesat kepada Adiknya.
Bersambung