Musim semi tiba, tapi Xiao An hanya mengeluh. Di dunia kultivator perkasa, ia malah dapat "Sistem" penipu yang memberinya perkamen dan pensil arang—bukan ramuan OP! "Sistem scam!" gerutunya. Ia tak tahu, "sampah" ini akan mengubah takdir keluarga Lin yang bobrok dan kekaisaran di ambang kehancuran. Dia cuma ingin sarapan enak, tapi alam semesta punya rencana yang jauh lebih "artistik" dan... menguntungkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MishiSukki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Gengsi yang Terkoyak di Tangga Batu
Setelah Pengajar Kekaisaran mengangguk, Kakek Zhou menoleh ke arah Lin Cheng dan mengisyaratkan padanya untuk berbicara. Kemudian, Kakek Zhou kembali menghadap Zhang Yi, tatapannya serius.
"Ini bukan tentang seni lukis biasa, Tuan Pengajar Kekaisaran," Kakek Zhou memulai, suaranya pelan tapi tegas.
"Ini tentang sebuah keberadaan yang tak terduga. Di balik desa yang hancur ini, tersembunyi sebuah bukit kecil. Dan di bukit itu, tinggallah seorang murid dari pakar sejati, bernama Xiao An."
Kakek Zhou kemudian menunjuk Lin Cheng, memberi isyarat padanya untuk melanjutkan. Lin Cheng, dengan ekspresi sedikit canggung, mulai menceritakan kronologi pertemuannya dengan Xiao An dan bagaimana lukisan itu berpindah tangan.
Kemudian Lin Cheng menjelaskan dengan singkat.
Pengajar Kekaisaran Zhang Yi mengangguk pelan, seulas senyum tipis terukir di bibirnya. Ia melihat raut wajah serius Kakek Zhou dan kejujuran polos dari Lin Cheng. Dia memeriksa ulang kata-kata mereka, menganalisis setiap detail kecil. Dalam benaknya, ia yakin bahwa perkataan kakek tua ini tentulah tidak bohong.
Ia tahu persis bagaimana keluarga Lin, meskipun kini dalam keadaan terpuruk dan hidup di antara reruntuhan, pastilah masih menjunjung tinggi nilai-nilai lama seperti kejujuran dan kehormatan. Sebuah warisan yang, ironisnya, membuat mereka terjebak dalam kemiskinan namun juga mempertahankan integritas mereka.
"Antarkan aku ke sana."
Tanpa basa-basi lebih lanjut, Pengajar Kekaisaran Zhang Yi memberi perintah. Lin Cheng mengangguk. Ia kini tahu siapa pemuda rupawan berbusana mewah di hadapannya ini dari percakapan sebelumnya. Ini bukan sekadar kolektor seni biasa, melainkan seseorang dengan otoritas tinggi.
Lin Cheng pun segera membimbing Pengajar Kekaisaran. Langkahnya mantap, membawa Zhang Yi melewati sisa-sisa desa yang hancur, menuju ke arah bukit yang menjulang. Ia menunjuk ke puncak bukit.
"Xiao An berada di puncak bukit ini, Guru Kekaisaran," jelas Lin Cheng.
Zhang Yi menatap ke atas. Bukit itu tidak terlalu tinggi, namun puncaknya selalu diselimuti kabut tipis, memberinya kesan misterius. Sebuah jalur tangga batu kuno terlihat samar-samar menanjak menuju puncak.
Pengajar Kekaisaran menggumam pelan, lebih kepada dirinya sendiri.
INI
"Puncak berkabut dan tangga batu... Huh, masalah sepele."
Senyum tipis kembali merekah di wajahnya, menunjukkan kepercayaan diri yang sedikit berlebihan. Misteri lukisan itu akan segera terungkap.
Dengan gerakan yang begitu anggun, Pengajar Kekaisaran Zhang Yi memutar kipasnya, seolah meremehkan tangga batu di depannya. Ia melonjak, berniat melewati keberadaan anak tangga satu per satu dengan penerbangan kultivasi yang biasanya mudah baginya.
DAH!
APA!
Namun, di tengah udara, sebuah kekuatan tak terlihat dan tak terduga menghantamnya. Gravitasi kuat tangga itu seolah hidup, menariknya dengan paksa ke bawah, seolah menolak kehadirannya yang angkuh. Tubuh Zhang Yi terasa berat dalam sekejap, kultivasinya yang megah seolah terisap habis, dilucuti hingga angka nol.
Dengan suara gedebuk yang tidak elit sama sekali, Pengajar Kekaisaran, yang sedetik lalu masih melayang anggun, kini terdampar begitu saja di salah satu anak tangga itu. Rambutnya sedikit berantakan, dan jubahnya yang mewah sedikit kotor karena debu.
Kipasnya terlepas dari genggamannya, tergeletak tak jauh darinya. Ekspresi terkejut dan sedikit panik jelas terpampang di wajahnya yang kini pucat.
INI
"I-ini... pematerian tingkat dewa..." gumam Pengajar Kekaisaran Zhang Yi, sedikit linglung saat ia mencoba memahami apa yang baru saja terjadi. Kekuatannya, kebanggaannya, lenyap begitu saja, disedot oleh tangga batu yang tampak biasa.
"Pengajar Kekaisaran! Anda baik-baik saja?!"
Suara cemas Lin Cheng, yang kini menyusulnya, menaiki tangga dengan napas terengah-engah, membangunkannya dari kebingungan. Zhang Yi menoleh, wajahnya masih menunjukkan jejak keterkejutan. Untuk pertama kalinya, ia tampak begitu rentan.
Pengajar Kekaisaran segera berdiri, gerakan awalnya memang sedikit canggung, namun ia cepat menguasai diri demi menjaga citra kewibawaannya. Dengan cekatan, ia merapikan jubah dan rambutnya, lalu mengambil kipas lain dari penyimpanan rahasianya—kipas pertama tampaknya sudah tak penting lagi setelah insiden memalukan tadi—dan mengibaskannya dengan anggun, seolah tidak ada yang terjadi.
Wajahnya yang pucat kini kembali menunjukkan ketenangan, meskipun ada sedikit kepanikan yang tersembunyi jauh di balik matanya.
"Adik Cheng, pimpin jalan," ujar Pengajar Kekaisaran, suaranya terdengar lembut namun memiliki kharisma yang sangat memukau, membuat Lin Cheng seolah terhipnotis untuk menurut.
Lin Cheng “...”
Lin Cheng hanya menggelengkan kepalanya perlahan, seolah mencoba mengusir pesona suara itu, lalu melangkah naik. Pengajar Kekaisaran mengikutinya dari belakang, kipasnya kembali terayun santai.
Namun, tidak butuh waktu lama. Setelah beberapa lama menanjak, suara 'ngos-ngosan' mulai terdengar jelas. Tubuh Pengajar Kekaisaran yang semula tegap dan anggun, kini condong ke depan dengan keringat yang bercucuran deras di pelipisnya. Ia berhenti sejenak, terengah-engah, menatap Lin Cheng yang sudah beberapa langkah di depannya.
INI
"Bukit ini... tidak tinggi," gumam Zhang Yi, napasnya terputus-putus.
"Tapi kenapa... kenapa tidak sampai-sampai puncak?!" Tubuhnya yang biasanya ringan kini terasa seberat batu, dan setiap langkah di tangga batu itu seolah menguras seluruh energi fana yang tersisa.
Lin Cheng menoleh ke belakang, melihat Pengajar Kekaisaran yang terengah-engah dengan keringat bercucuran. Ia tersenyum geli.
"Apa Pengajar Kekaisaran lelah?" godanya, sedikit jahil.
"Aku membuka jasa gendong sampai puncak lho, hehe..."
Pengajar Kekaisaran bimbang. Tawaran Lin Cheng terasa seperti sebuah hinaan bagi statusnya, namun logika berkata lain. "Ini demi misi," batinnya. Mengandalkan tenaga dari tubuh fananya yang kini tak berdaya, rasanya tak mungkin sampai pada puncak yang tak kunjung muncul ini. Ia melirik ke bawah, dan yang ia lihat hanyalah kabut tebal yang menelan segalanya.
Dia berpikir sejenak, menimbang-nimbang. Digendong pun tak ada salahnya. 300 bawahannya tak akan bisa melihatnya dari balik ketebalan kabut ini. Gengsinya memang terkoyak sedikit, tapi misi harus tetap berjalan. Ini adalah pengorbanan kecil demi kepentingan yang lebih besar.
HUH
"Baiklah," jawab Pengajar Kekaisaran Zhang Yi, suaranya sedikit tertahan, wajahnya yang biasanya tenang kini sedikit memerah. Kipas di tangannya sesaat berhenti berayun, seolah ia sedang menelan gengsinya bulat-bulat.
"Tapi... jangan sampai cerita ini bocor ke siapa pun."
"Ada dua syarat," Lin Cheng tersenyum lebar, tatapan jahilnya kembali.
"Selama kugendong, aku boleh bertanya apa saja kepadamu, sebagai rujukan bangsa Kekaisaran untuk pengetahuan."
Pengajar Kekaisaran Zhang Yi, dengan wajah yang masih sedikit merah, menghela napas.
"Selama itu hal umum," jawabnya, sedikit terpaksa.
"Jika memasuki pertanyaan dengan ranah rahasia, aku tidak berhak menjawabnya."
Lin Cheng mengangguk setuju, senyumnya semakin lebar.
"Sepakat!" katanya riang.
"Lalu, syarat kedua..." Ia menjeda, menatap Zhang Yi dengan mata berbinar.
Lin Cheng tak menunggu jawaban Pengajar Kekaisaran. Ia justru mulai memuji dengan berlebihan, membuat Pengajar Kekaisaran terkejut dan sedikit salah tingkah.
"Oh, Tuan Pengajar Kekaisaran! Anda adalah sosok yang begitu sempurna, perwujudan kebijaksanaan yang tiada tara! Kecerdasan Anda melampaui bintang-bintang, keanggunan Anda membuat bunga-bunga malu untuk mekar! Mengajariku pengetahuan, itu adalah kehormatan tertinggi yang bisa didapatkan seorang fana sepertiku! Pasti sentuhan ilmu Anda akan mengubahku menjadi pahawan terhebat sepanjang masa, saingan Dewa Perang sendiri!"
Pengajar Kaisaran “...”
Lin Cheng memuji setinggi langit, seolah Zhang Yi adalah dewa yang turun ke bumi.
Setelah jeda sejenak untuk mengambil napas, Lin Cheng menambahkan syarat kedua dengan senyum polosnya yang menyebalkan.
"Dan untuk syarat kedua, Tuan Pengajar Kekaisaran yang mulia dan maha kaya raya... satu keping emas tiap anak tangga!"
Pengajar Kekaisaran berkedut-kedut lagi, kali ini lebih parah dari sebelumnya. Matanya menyipit tajam menatap Lin Cheng. Bocah ini! Setelah pujian selangit yang memuakkan, kini ia mengajukan syarat satu keping emas tiap anak tangga? Ini jelas pemerasan terang-terangan!
KAMU
"Benar-benar mewarisi klan Lin," batin Zhang Yi, menahan desakan untuk menjitak kepala Lin Cheng.
"Diperas oleh seorang rubah kelicikan... sudah jatuh tertimpa tangga, eh, digendong pakai tarif selangit pula!"
"Ayolah, naik," ujar Lin Cheng, tersenyum jahil melihat keraguan di wajah Pengajar Kekaisaran. Ia kemudian bergerak seolah hendak turun.
"Tidak mau? Oke, aku turun saja." Lin Cheng bahkan mulai melangkah mundur, menuruni beberapa anak tangga.
"Tunggu, tunggu...!" Pengajar Kekaisaran segera memekik, wajahnya makin merah padam. Ini benar-benar memalukan, tapi dia tidak punya pilihan lain.
"Bah! Dasar rubah kecil keluarga Lin!" terpaksa Pengajar Kekaisaran menyetujui.
Senyum merekah lebar di wajah Lin Cheng.
"Aku terbiasa mendaki dengan ransel batu yang sangat berat, kurasa tubuh Anda tidak seberapa dibandingkan dengan batu-batu itu." Lin Cheng menunduk, menawari punggungnya yang kokoh.