NovelToon NovelToon
AFTER MARRIAGE

AFTER MARRIAGE

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Single Mom / Selingkuh / Pengganti / Cerai
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Ana_nanresje

Terkejut. Itulah yang dialami oleh gadis cantik nan jelita saat mengetahui jika dia bukan lagi berada di kamarnya. Bahkan sampai saat ini dia masih ingat, jika semalam dia tidur di kamarnya. Namun apa yang terjadi? Kedua matanya membulat sempurna saat dia terbangun di ruangan lain dengan gaun pengantin yang sudah melekat pada tubuh mungilnya.

Di culik?

Atau

Mimpi?


Yang dia cemaskan adalah dia merasakan sakit saat mencubit pipinya, memberitahukan jika saat ini dia tidak sedang bermimpi. Ini nyata!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana_nanresje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35_Kehilangan

Hari ini tiba, hari dimana Rai bisa bertatap muka langsung dengan seorang Caramondy si pria brengsek yang sudah menghancurkan hidup wanitanya. Pria yang membawa kabur pujaan hatinya, merebut Aya dari tangannya lalu membuangnya layaknya sampah. Dan tanpa malu pria itu ingin kembali mengambil Aya yang sudah dia buang layaknya barang yang bisa dia daur ulang. Sungguh Rai ingin sekali menghantamkan kepalan tangannya pada wajah pria dihadapannya itu, tapi Rai berusaha bersikap tenang karena tujuan dia berada disini sekarang yaitu untuk mengakhiri semuanya.

Mengakhiri hubungan Ramon dan Aya!

" Aya sudah menandatangani nya. Kau hanya perlu duduk manis dan datang ke persidangan saat perceraian kalian nanti." Rai melemparkan amplop berwarna cokelat keatas meja. Dia membuang muka, tidak sudi melihat wajah Ramon yang sudah membuat Aya terluka.

Ramon mengambilnya tanpa membuka dan melihat isi amplop itu, Ramon merobeknya menjadi dua bagian. Melihat tindakan Ramon membuat Rai mengetatkan rahang, matanya menyipit namun menghunus dan tajam " sampai kapanpun saya tidak akan pernah melepaskan Aya. Apapun yang terjadi Aya tetap akan menjadi istri saya."

" Jangan gila!" Hardik Rai " Apa kau pikir dengan mempertahankan Aya hidupnya akan bahagia? Perlu ku ingatkan, karena dirimu Aya kehilangan janinnya."

" Apa kau pikir hanya Aya yang kehilangan huh?! Saya pun merasakannya. Dia darah daging saya!"

" TAPI KAU YANG MEMBUNUHNYA!" habis sudah kesabaran Rai saat ini. Beraninya Ramon bicara seperti itu seakan akan semuanya segera membaik dalam waktu yang dekat. Dia terlalu menganggap sepele masalah ini, dia tidak memperdulikan kondisi Aya yang sekarang. Saat ini wanita itu sedang terguncang tapi Ramon tidak mau melepaskan Aya dari genggamannya. Akan seperti apa Aya jika satu lingkungan dengan orang yang sudah membuat dia keguguran? Apakah semuanya akan baik-baik saja? Tentu saja tidak! Rai tahu betul seperti apa wanitanya itu.

" Aku sudah memintanya baik-baik. Lepaskan Aya maka kau akan hidup tenang."

" Mengancam ku huh?" Ramon menarik punggungnya dari sandaran sofa lalu menatap mata jernih milik Rai " Aya istriku. Dan tetap akan menjadi istriku. Sampai kapanpun saya tidak akan pernah melepaskannya."

" Apa alasanmu untuk mempertahankan Aya? Janjimu pada kak Azka? Atau apa? Ingat Ramon, hubungan kalian bersatu dengan cara yang tidak baik dan inilah akibat yang sudah kalian sebabkan. Kalian menarik Aya kedalam lingkaran yang kalian ciptakan sendiri. Jangan egois Ramon Aya berhak bahagia, tapi bukan dengan dirimu. Kau membuangnya bahkan memilih wanita lain dibanding dengan istri sah mu, kau membunuh calon anak kalian juga. Apa kau pikir Aya akan baik-baik saja hidup bersamamu setelah semua penderitaan yang kau beri padanya? Apa yang akan terjadi padanya nanti jika terus bersamamu huh?  Apa kau yakin bisa membuatnya bahagia?!"

" Tidak. Semua itu tidak akan terjadi. Dan aku tidak akan membiarkan Aya kembali padamu." Ucap Rai penuh penegasan " Zahra akan segera bercerai dengan Kavin, berbahagialah bersamanya dan didik anakmu itu dengan baik agar tidak menjadi seperti ibunya. Berbahagialah bersama keluarga kecilmu itu, jangan pikirkan Aya lagi karena Aku akan membuatnya bahagia dan tidak akan pernah membuatnya menderita seperti yang kau lakukan padanya."

Ramon menggebrak meja setelah Rai keluar dari ruangannya. Dia merasa kesal pada dirinya sendiri, merutuk bahkan menyumpah serapahi dirinya sendiri. Brengsek dan bajingan masih belum cukup untuk menggambarkan betapa pengecutnya dia. Jujur diapun sangat menyesal atas apa yang terjadi pada Aya, bahkan Aya keguguran pun karena dirinya sendiri. Perkataan Rai memang benar, dia tidak pantas untuk menjaga Aya kembali tapi dia tidak bisa melepaskan Aya dari status istrinya itu.

" Bagaimana keadaannya?" Zain dan Mian berkunjung ke apartemen milik Azka, tempat yang Aya dulu tempati. Wanita itu mengurung diri disebuah kamar yang terdapat di apartemen itu, ruangan yang penuh dengan pernak pernik bayi. Ada mainan gantung, baju, roda bayi, dan mainan yang lainnya.

Sakit itulah yang mereka rasakan. Aya memeluk erat baju bayi berwarna putih dengan motif beruang, dia mengusapnya beberapa kali lalu memeluknya. Tangannya beralih pada mainan lainnya, matanya menyapu ke setiap sudut, kini ruangan itu tidak akan berpenghuni " Aya membelinya bersamaku. Dia memang sengaja membeli satu persatu barang untuk menyambut anaknya. Tapi, semuanya sangat menyakitkan saat melihat ini semua." Vallen tak kuasa menahan genangan di pelupuk matanya. Dia segera menengadah menghalau air mata yang ingin kembali jatuh " Dia membelikan mobilan, dia juga menyiapkan beberapa mainan berwarna biru. Aya memiliki firasat jika anaknya itu seorang jagoan!"

Daren merangkul bahu Vallen menepuknya beberapa kali untuk memberikan kekuatan " kenapa tuhan mengambil calon bayinya? Ini tidak adil! Aya sudah menderita dan lagi dia harus menderita. hiks!"

" Jika kamu rapuh lalu siapa yang akan menguatkan Aya?"

" Tapi Darren ini sungguh menyakitkan. Jangankan Aya aku saja merasakan kehilangan calon keponakanku itu. Hiks. Aku tidak bisa lagi merasakan detak jantungnya, aku tidak bisa lagi merasakan kehadirannya. Hiks"

" Bukan kamu saja, kamipun sama. Tapi kita tidak bisa berbuat apa apa selain mensupport dan memberikan dukungan untuk Aya." Zain berusaha untuk tetap tegar, di dalam lubuk hatinya dia pun tengah menangis seperti sebuah pisau sedang mengiris hatinya.

Azka duduk bersimpuh bersama Aya, pria itu setia menemani adiknya yang tengah terpuruk itu. Seperti mayat hidup itulah gambaran Aya saat ini. Kantung matanya hitam, hidungnya merah karena tidak berhenti menangis seperti orang yang tidak terurus " Kanaya?" Aya tidak merespon saat Azka memanggilnya. Dia hanya menatap pada sepasang baju yang kini tengah dia pegang.

" Kanaya," Azka tetap berusaha memanggil adiknya itu. Kali ini berhasil, Aya menoleh kearahnya kedua sudut bibirnya tertarik kearah berlawanan tersenyum tipis kearah mereka " Lihat baju ini sangat indah bukan? Sangat cocok untuk putra Aya." Aya menunjukkan nya pada mereka, baju biru bermotif gajah dan jerapah itu terlihat lucu dan menggemaskan.

" Ini. Aya juga membelikan dia mobilan, Aya yakin dia pasti suka." Pecah. Tangisan Vallen sudah tak bisa dia tahan, wanita itu pergi dari sana menjauh dari ruangan itu berharap bisa menenangkan pikirannya.

Azka dialah orang yang paling terluka diantara mereka. Jika bukan karena keegoisannya, bukan karena obsesinya untuk balas dendam mungkin Aya tidak akan seperti ini " maaf. Maafkan kakak. Hiks. Ini semua salah kakak. Kakak minta maaf. Hiks!" Air mata itu tumpah, Azka membawa Aya kedalam pelukannya. Bukan fisik tapi batin Aya yang sedang terluka parah. Penyesalan itulah yang saat ini Azka rasakan.

" Kenapa kak Azka minta maaf? Apa putra Aya membuat masalah?"

" Tidak Ay tidak. Hei liat kakak," Azka menangkup wajah Aya lalu mengarahkan kearahnya " Dia sudah pergi, dia sudah bahagia. Dia memilih tempat yang bagus dari semua tempat yang ada di dunia ini. Dia sudah tenang Ay!"

" Kakak ngomong apa sih? Dia baik-baik aja dia masih disini bersama kita." Mian dan Zain tidak kuat lagi melihat kondisi Aya seperti ini. Sungguh ini membuat hati mereka terluka berkali-kali lipat.

" Kanaya dengerin kakak," Azka berusaha tidak menangis di hadapannya, dia berusaha untuk kuat menerbitkan senyum di bibirnya yang tengah menahan tangis " Dia sudah pergi jauh tapi tetap hidup bersama kita. Kamu keguguran Ay, kamu keguguran."

Genangan air itu membuat penglihatan Aya terganggu. Telinganya masih berfungsi dengan baik. Bibir Aya pun sudah bergetar kembali, di detik berikutnya Aya menangis dalam diam. Dia membekap mulutnya sendiri dengan setelan baju yang dia belikan untuk calon anaknya itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!