Aciel Lutherford datang ke panti asuhan itu dengan segala janji palsu yang ia berikan kepada si lugu Eden yang kala itu tidak tahu apa-apa. Pria itu mengadopsi Eden tanpa alasan yang jelas dan membiarkan Eden hidup tanpa status yang jelas di rumahnya hingga enam tahun lamanya. Setelah enam tahun berlalu, Eden perlahan-lahan mulai berubah menjadi sosok wanita dewasa yang mengagumkan. Usianya yang mulai menginjak dua puluh tahun membuat Aciel yang sebelumnya tidak pernah memperhatikan wanita itu, mulai berbalik untuk mengintai wanita itu dari kejauhan. Hingga suatu hari sebuah peristiwa buruk mengubah segalanya. Wanita polos itu tidak lagi menjadi sesosok angsa putih yang lembut, melainkan telah berubah menjadi sesosok angsa hitam yang selalu memancarkan luka dan lara di kedua mata bulatnya. Dan kini ia pun mulai memiliki ambisi untuk menghancurkan pria bermata coklat itu, pria yang telah membawanya pada penderitaan yang tak bertepi, Aciel Lutherford!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chalista saqila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
First Meet (Thirty Five)
“Mommy...”
“Ayo kita masuk Ciara.”
Dengan buru-buru Eden segera membawa Ciara masuk sambil berusaha mendorong Aciel agar pria itu tidak
menahan pintu apartemennya. Sayang, tenaganya benar-benar sama sekali tak seimbang hingga akhirnya pria itu dapat membuka pintu apartemennya paksa sambil menatap manik bulatnya tajam.
“Kenapa kau ketakutan Ed? Aku tidak akan melakukan apapun padamu atau Ciara. Aku hanya bercanda. Jika ia bukan putriku, kenapa kau harus setakut itu?”
“Aku hanya ingin melindungi putriku dari pria brengsek sepertimu.” balas Eden tajam. Aciel tampak gusar melihat sikap Eden yang terus menerus memasang tameng tebal di depannya. Padahal ia tidak ingin melakukan apapun. Ia hanya ingin melihat bagaimana Eden dan keluarga kecilnya karena tadi orangnya tidak bisa membekukan passport atau visa milik Zyan.
“Apa Zyan ada?”
“Zyan tidak ikut dengan kami, ia berada di Perancis.” bohong Eden cepat. Ia tahu, Aciel menanyakan hal itu karena pria itu tidak bisa membekukan dokumen-dokumen milik Zyan. Sedangkan dokumen dokumen miliknya dan Ciara pasti telah dibekukan oleh orang-orang suruhan Aciel yang handal. Sial!
“Halo gadis manis, siapa namamu?” tanya Aciel ramah sambil berjongkok di depan Ciara. Ciara yang sebelumnya sedang bersembunyi di belakang tubuh ibunya dengan malu-malu segera mendekati Aciel sambil tersenyum manis khas seorang anak kecil.
“Ciara. Paman siapa?” tanya Ciara polos. Tangan mungilnya perlahan-lahan menyentuh telapak tangan Aciel yang lebar, lalu mereka bersalaman dengan Eden yang hanya mematung di tempatnya berdiri sambil memasang wajah kaku. Entah mengapa ia merasa aneh dengan interaksi sederhana yang terjadi antara Ciara dan Aciel, mereka terlihat sangat manis. Dan ini adalah momen-momen yang sebenarnya sangat ingin dilihat oleh Eden sejak. Momen antara ayah dan juga anak.
“Namaku Aciel Lutherford, aku dulu teman tidur ibumu.”
Eden seketika membulatkan matanya sambil berdecak sebal kearah pria itu. Bisa-bisanya ia memperkenalkan diri seperti itu pada seorang anak kecil yang belum mengetahui dunia orang dewasa. Eden rasanya benar-benar ingin menjauhkan Aciel dari Ciara sekarang juga.
“Ciara masuklah, mommy sudah membuatkan susu untukmu.”
Mendengar nada perintah dari ibunya yang cukup tegas, Ciara segera masuk ke dalam apartemen sambil melompat-lompat lucu. Ia selalu senang saat ibunya membuatkan susu untuknya, karena rasa susu buatan ibunya selalu enak dan manis.
“Kenapa namanya Ciara? Kau tidak menggunakan nama lain yang tidak berhubungan dengan masa lalu kita?” tanya Aciel penuh selidik. Eden tanpa sadar berdeham gugup sambil memandang kearah lain. Cepat atau lambat semuanya akan terungkap. Bahkan dalam hal namapun, Aciel telah menaruh curiga padanya. Jelas kebohongannya tidak lama lagi pasti akan terungkap. Hanya tinggal menunggu Aciel memerintah anak buahnya untuk mencari tahu, maka semua kebenaran pasti akan segera terungkap.
“Aku sengaja melakukannya karena Zyan setuju dengan nama itu. Lagipula nama Ciara tidak harus berhubungan denganmu, tapi karena kami menyukai artinya.”
“Dan kau menggunakan nama Ciara, nama yang dulu pernah ingin kuberikan pada putriku.”
Eden melihat ada gurat-gurat kekecewaan di wajah Aciel. Namun ia memilih acuh tak acuh sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Mungkin saja itu hanya akal-akalan Aciel untuk membuatnya merasa bersalah karena telah membohongi pria itu selama ini. Tapi ia cukup puas dengan hasil kebohongannya, karena Aciel sepertinya terlihat sangat kecewa dengan kegagalannya menjadi seorang ayah.
“Aku menggunakannya karena aku ingin. Setidaknya meskipun sekali, kau pernah bersikap baik padaku. Keputusanku untuk memberikan nama putriku dengan nama pemberianmu adalah agar aku tidak hanya mengingat sifat licikmu, tapi agar aku juga mengingat sedikit sikap baikmu di masa lalu.”
Untuk kali ini Eden benar-benar mengatakannya dengan sungguh-sungguh. Salah satu kenangan manisnya bersama Aciel yang tidak pernah bisa ia lupakan adalah saat pria itu mengusulkan nama untuk calon anaknya. Saat itu Eden melihat sisi lain dari seorang Aciel yang selama ini belum pernah ia lihat. Malam itu Aciel seperti seorang calon ayah yang benar-benar sangat mengharapkan kelahiran anaknya dengan selamat. Ia masih ingat, malam dimana Aciel mengatakan padanya jika pria itu hanya ingin ia dan anaknya selamat tanpa mempermasalahkan jenis kelaminnya. Itu sungguh... kenangan yang sangat manis dan yang paling tidak bisa dilupakan Eden hingga detik ini. Andai kebenciannya pada pria itu tidak sebesar ini, mungkin ia akan memilih untuk menyerah dan hidup apa adanya bersama Aciel. Sayangnya saat itu tekadnya untuk balas dendam lebih besar dan lebih mendominasi, sehingga suka atau tidak suka ia tetap harus menjalankan rencananya hingga akhir dan membuat pria itu sakit karena ditinggalkan begitu saja dengan banyak harapan semu.
“So touched. Lalu dimana ayah biologis Ciara sekarang?”
“Siapa? Anthony Adams?” tanya Eden berpura-pura linglung. Andai ia bisa, ia ingin berteriak di hadapan Aciel jika pria itulah ayah biologis Ciara!
“Apa kau tidak pernah membawa Ciara pada Anthony?”
“Tidak, untuk apa? Bahkan jika kau tidak tiba-tiba datang ke apartemenku, aku juga tidak akan mengenalkan Ciara padamu. Kuharap kau tidak mengusik ketenangan anakku Aciel. Urusanmu hanya denganku.”
Aciel menatap Eden sekilas dengan tatapan kosong, dan sedetik kemudian ia mengalihkan tatapannya kearah Ciara yang sedang memainkan boneka beruang di ruang tamu Eden yang kosong. Sepertinya Eden memang tidak berencana untuk tinggal terlalu lama di Las Vegas, ia seperti hanya singgah untuk sementara karena tidak banyak barang-barang yang terlihat di dalam ruang tamu Eden. Bahkan foto-foto ataupun hiasan dinding yang bisanya tergantung di dinding ruang tamu juga tidak ada di sana. Tanpa sadar Aciel mendesah berat dalam hati karena kali ini ia harus benar-benar ekstra mengancam Eden agar wanita itu tidak cepat-cepat meninggalkan Nevada. Ia masih penasaran dengan kehidupan misterius wanita itu selama empat tahun ini, dan juga putrinya yang menggemaskan.
“Boleh aku masuk ke dalam?”
“Untuk apa?”
“Berbicara denganmu. Aku datang ke sini karena aku ingin membicarakan sesuatu denganmu.”
“Tentang apa? Jika itu tidak terlalu penting, lebih baik kita mengobrol di sini.”
Eden benar-benar masih memasang pertahanan yang cukup tinggi untuk Aciel. Terlalu banyak permainan kotor yang dimainkan pria itu di masa lalu hingga mereka tidak pernah bisa benar-benar saling mempercayai satu sama lain. Hanya disaat terdesak saja mereka akan bersatu menjadi satu tim yang solid. Namun dilain kesempatan, mereka akan kembali menjadi dua individu dengan tujuan hidup yang berbeda.
“Apa kau keberatan mengijinkanku masuk ke dalam? Oh, jangan terlalu berburuk sangka padaku Eden, atau aku akan semakin lama menahanmu di Las Vegas dan membuatmu tidak bisa bertemu dengan Zyan selamanya.”
“Huh, hanya pria pengecut yang menggunakan ancaman untuk menekan seorang wanita.”
“Dan sayangnya kau memang lebih jinak jika diberikan ancaman.” bisik Aciel intim tepat di depan wajah Eden. Refleks Eden langsung memundurkan wajahnya ke belakang sambil menggeser tubuhnya sedikit ke kanan agar Aciel dapat masuk ke dalam apartemennya yang kosong.
“Apartemenmu sangat kosong, kau tidak berencana untuk tinggal terlalu lama di Las Vegas?”
“Tidak! Tidak ada apapun yang penting di sini. Aku hanya sekedar datang untuk peragaan busana dua hari yang lalu. Dan sialnya, aku harus bertemu denganmu lagi. Tak bisakah kau melepaskanku lagi?” tanya Eden frustrasi. Ia sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya membujuk Aciel agar tidak mengganggu hidupnya yang telah berjalan tenang selama empat tahun ini.
“Kurasa tidak. Kau sendiri yang membuatku tidak bisa melepaskanmu lagi, terutama karena kau memiliki banyak list kejahatan yang perlu kuluruskan.”
“Jangan bersikap seolah-olah kau juga tidak pernah melakukan kejahatan Aciel, kau bahkan jauh lebih parah. Aku bisa saja menuntuntmu karena telah melecehkanku dan bersikap kasar padaku.”
“Oya? Kau memiliki bukti?”
“Ciara buk...”
Aciel dan Ciara langsung menoleh bersamaan kearah Eden dengan tatapan penuh ingin tahu yang menelisik. Sedangkan Eden, ia langsung membungkam bibirnya rapat sambil menyibukan diri dengan memunguti mainan-mainan Ciara yang berserakan.
“Ada apa dengan Ciara?”
“Bukan apa-apa.” jawab Eden cepat. Ia hampir membongkar rahasianya mengenai asal usul Ciara. Mulut bodohnya memang akan sulit dikendalikan jika itu menyangkut kebenciannya pada Aciel.
“Paman... paman bisa membuat rumah barbie?”
Aciel menoleh sekilas kearah tumpukan lego-lego milik Ciara yang berserakan di atas lantai. Haruskah ia menemani gadis kecil itu bermain?
“Sepertinya paman tidak bisa bila menggunakan lego.” jawab Aciel ringan sambil berjongkok di sebelah gadis kecil itu. Ingatannya kemudian terlempar ke peristiwa bertahun-tahun yang lalu ketika di posisi yang sama seperti ini ia sedang berbicara dengan Eden kecil di rumahnya. Eden dan Ciara memiliki wajah yang hampir mirip, bibir tipisnya itu sangat khas seorang Eden. Namun kemudian Aciel mengernyit dalam saat ia menemukan sesuatu yang terlihat sedikit mirip dengannya berada di wajah Ciara.
“Kenapa?” Suara melengking Ciara kemudian menyadarkan Aciel dari lamunan panjangnya mengenai Eden. Dengan angkuh ia kemudian bangkit berdiri sambil melangkahkan kakinya menjauh dari Ciara untuk duduk di salah satu sofa kosong di ruang tamu milik Eden.
“Karena paman tidak suka bermain lego.” jawab Aciel dingin. Ingin rasanya Eden mencemooh Aciel yang tampak kaku di hadapan Ciara. Pria itu seperti sedang menghindari sebuah wabah penyakit dengan duduk cukup jauh dari tempat Ciara berdiri. Namun di sisi lain, Aciel seperti ingin mendekati Ciara dan bermain bersama gadis kecil itu.
“Mommy... aku ingin membuat rumah barbie...” rengek Ciara manja. Dan saat melihat Ciara yang merengek-rengek seperti itu membuat Eden mau tidak mau harus mengikuti kemauan Ciara dan menemani gadis kecil itu bermain. Lagipula itu jauh lebih menyenangkan daripada harus berurusan dengan Aciel keparat di depannya.
“Kemarilah, bawa legomu ke sini.”
Semua gerak gerik Eden dan Ciara itu tak luput dari tatapan tajam Aciel. Melihat mereka yang terlihat akrab satu sama lain membuat hati Aciel menghangat entah karena apa. Tapi ia tidak bisa menyusup masuk ke dalam lingkaran wanita-wanita itu karena sikap kakunya yang sangat mengganggu. Bahkan kesan pertama yang diberikan pada Ciara justru membuat gadis itu ketakutan. Bagaimana mungkin ia akan menjadi ayah jika sikapnya seperti ini? Bodoh!
“Eden, bisa kita bicara sebentar?”
Eden seketika mendongakan kepalanya kearah Aciel, dan sedikit berbisik pelan di telinga Ciara untuk menunggunya sebentar.
“Apa? Sebenarnya apa tujuanmu menahanku di sini?”
“Apa Ciara benar-benar anak Anthony? Bukan putriku?”
“Bukankah aku telah memberikan hasil tes DNAnya padamu empat tahun yang lalu. Hasilnya negatif, kau bukan ayah biologis Ciara.”
“Benarkah? Tapi kapan kau mengambil sample jaringan tubuhku? Kau tidak bisa melakukan tes DNA jika kau tidak memiliki sample jaringan tubuhku untuk dilakukan perbandingan. Aku curiga, kau sebenarnya telah menipuku selama ini.”
“Ck...”
Eden berdecak kesal untuk menyembunyikan kegugupannya. Ia tahu, pria itu memang terlalu cerdas untuk dikelabuhi. Dan untuk mengelebahui pria secerdas Aciel, maka ia harus lebih cerdas daripada pria itu.
“Mengambil
salah satu sample jaringan tubuhmu itu sangat mudah. Bukankah kau sering menyelinap masuk ke dalam kamarku, kau sering memelukku saat tidur, dan kau
sering bercinta denganku. Saat kau tidur aku mengambil sample rambutmu.”
“Hmm.. aku masih belum sepenuhnya percaya. Aku mencintaimu Eden.”
Eden mematung di tempat sambil mengalihkan tatapan matanya kearah lain. Pria itu benar-benar gila. Dengan mudahnya ia mengatakan kata-kata cinta di depannya, seperti hal itu tidak akan memberikan efek apapun pada dirinya.
“Sudah terlambat untuk sebuah kata-kata cinta Aciel.”
“Tidak pernah ada kata terlambat dalam hidupku. Aku tahu kau masih memiliki perasaan yang sama untukku.”
“Huh, kau terlalu percaya diri.” dengus Eden sinis.
“Akan kubuktikan.”
Tiba-tiba saja Aciel telah menarik tengkuk Eden, dan pria itu dengan penuh paksaan langsung ******* bibir Eden yang tidak siap. Seketika Eden menjadi marah sambil meronta-ronta ribut di dalam dekapan Aciel. Ia tidak menyangka jika pria itu akan melakukan hal senekat ini padanya, dan membuat kinerja jantungnya menjadi tidak normal seperti ini.
“Kau masih memiliki getaran itu untukku.”
Dengan kurangajarnya Aciel menyentuh dada kiri Eden untuk merasakan detak jantung Eden yang memang sedang berdegup kencang.
“Apa yang kau lakukan!”
Eden berteriak tertahan sambil menyingkirkan tangan Aciel dari dadanya. Pria itu benar-benar gila karena telah melecehkannya di hadapan anaknya.
“Ssshh... jangan berteriak jika kau tidak ingin Ciara melihatnya. Asal kau tahu Eden, dulu aku melepaskanmu karena aku ingin memberimu kesempatan. Dan aku juga telah bersumpah pada diriku sendiri jika kau tidak akan pernah bisa lepas lagi dari genggamanku saat kau memutuskan untuk kembali ke Las Vegas. Jadi terima saja semua ini, karena mulai sekarang kau akan selalu di bawah pengawasanku.”
“Kau gila! Aku sudah menikah dengan Zyan.” bentak Eden marah. Ia sudah tidak peduli lagi pada Ciara yang sedang bermain lego di ruang tamu. Hatinya terlalu sakit dan sesak karena perbuatan tidak bertanggungjawab Aciel yang terus menarik ulurnya seperti ini.
“Zyan adalah urusanku. Aku bisa melakukan apapun agar Zyan segera menceraikanmu dengan suka rela.”
“Tidak, Zyan tidak akan pernah menceraikanku. Aku tidak mencintaimu. Sekarang pergilah, aku tidak mau melihat wajahmu lagi!”
Dengan kasar Eden mendorong tubuh Aciel keluar, dan ia sedikit menyentak punggung pria itu saat mereka telah berada di ambang pintu. Tidak ada perlawanan apapun dari Aciel saat Eden mengusirnya keluar dari apartemen miliknya. Namun dibalik semua itu Aciel sebenarnya sedang memikirkan rencana selanjutnya untuk merebut kembali Eden dari Zyan. Apapun caranya ia pasti akan mendapatkan Eden kembali.
ah iya, dapat salam dari Mitsuki nih, jangan lupa mampir yaa
JUST THREE DAYS : MITSUKI
sabar ya Ed...
penting babang Ace tetep sayang...