Bim kecewa berat, istri yang dikasihi selingkuh dengan sahabatnya sendiri.
Disaat Bim kecewa berat, ia hampir saja terjerumus pada minuman keras. Disaat yang tepat, Bim bertemu dengan Nana yang ternyata gadis cantik berwajah oriental, yang ketika kecil, suka ia ganggu karena terpesona dengan kecantikannya.
Bim tidak perduli dengan kelamnya kehidupan Nana. Cinta yang dulu pernah singgah di hatinya, akan Bim raih kembali walau Nana ragu dengan kesungguhannya.
Bim harus berjuang sekuat tenaga untuk memulihkan kepercayaan dan kesungguhan cintanya terhadap Nana.
Apakah Nana menerima cinta Bim? Apakah Nana bisa bangkit dari keterpurukannya?
untuk endingnya seperti apa, baca saja keseruannya ..
Jangan lupa ya, kasih dukungan agar saya semangat untuk menulis novel berikutnya.
Saya menunggu komentar dan saran yang membangun untuk meningkatkan kualitas tulisan novel saya di kemudian hari.
terima kasih kakak- kakak yang sudah mampir😘😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SINUH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35. Kehebatan Nana
Nana mengundang Lina yang sebelumnya sudah disetujui Bim tentunya, untuk melihat bakat Enggar yang baru terlihat. Tentu saja Lina menyambut hangat undangan itu.
Dari Jakarta Lina telah menyiapkan oleh oleh untuk anak anaknya, juga untuk anak anak yang lain di sana. Sebelum Lina ingin berkunjung, Enggar telah memberi tahu lewat VC siapa siapa yang ada disana.
Lina ingin kehadirannya kali ini disambut hangat oleh semua orang.
Akhirnya tamu istimewa di sambut Enggar dan Muti anaknya. Dipeluk erat mamanya dan isak tangis yang menyayat dari Muti dan Enggar. Mereka adalah anak anak kecil yang tak pernah tahu apapun tentang persoalan kedua orang tuanya.
Setelah tangis reda, Lina mengeluarkan oleh olehnya. Lina memberikan satu persatu hadiah, bahkan untuk mbok Nah maupun Sari. Semua tak ada yang terlewat.
"Mbok kebagian juga nih bu," sambil mengucap terima kasih.
"Masa sih saya lupa dengan mbok yang sudah merawat anak anak saya," jawab Lina.
"Ini boneka barbie buat Sari," sambil menyodorkan boneka itu. Sari bukan main senangnya dapat hadiah itu. Mungkin itu hadiah terindah yang sari dapat dari orang lain.
"Terima kasih tante, cantik sekali bonekanya," kata Sari polos.
"Sama sama sayang."
Hadiah terakhir yang Lina bawa adalah untuk Nana, sebuah cincin berlian mungil, pas sekali di jari Nana. Nana pun sangat senang menerimanya. Bagi Nana, ini hadiah terindah dari seseorang yang dulu akan ia benci. Tapi ternyata perkiraan Nana yang salah.
Dipeluknya Lina, sambil mengucapkan kata maaf dan terima kasih pada pemberiannya.
Tentu semua orang bersuka cita dengan semua ini dan mereka telah berubah sikap dengan Lina. Yang tadinya berprasangka negatif, kini mulai berprasangka positif.
Setelah semua yang diberi hadiah selesai, Enggar menunjukan mamanya tentang keahliannya menabuh dram. Diajaknya mama Lina ke atas dimana dram itu diletakan.
"Ma coba tebak, Enggar membawakan lagu apa," tantang Enggar pada mamanya.
"Balonku," tebak mamanya, setelah Enggar selesai main dram. Mama Lina pun mengapresiasi dengan bertepuk tangan.
"Kerennya anak mama," sambil bertepuk tangan sekali lagi.
Setelah lagu ke 3 selesai, Enggar merasa lelah, ia sudahi permainan dram nya. Lina menggendong menurunkan Enggar dari tempat duduknya.
"Hebatnya anak mama," sambil menjawil pipi Enggar, Lina tak putus memuji anaknya. Tentu ini membuat Enggar senang dan bersemangat.
"Mama sering sering lihat Enggar latihan ya," kata Enggar memelas.
"Mama akan kesini, tapi jika pekerjaan mama sudah rampung sayang," Lina memberi pengertian Enggar. Anggukan Enggar menandakan dia paham jika mamanya sibuk.
"Enggar nanti akan kasih unjuk teman teman di sekolah juga bu guru, kalau Enggar bisa main dram." Lina mengangguk setuju.
"Nana, terima kasih ya, sudah menemukan bakat Enggar, kamu memang benar benar wanita hebat," puji Lina pada Nana.
"Yang hebat itu Enggar, dia punya kemampuan yang luar biasa. Yang lalu itu, saya hanya miris melihat anak anak hanya menghabiskan waktu dengan main game di hp, waktu saya alihkan perhatiannya dan saya tanyakan keinginannya, mereka memilih apa yang mereka inginkan dan hebatnya mereka sudah tahu kemampuan mereka masing masing," penjelasan Nana panjang lebar.
" Tuh kan, jika tidak ditangani orang hebat, mana bisa anak anak tahu bakatnya, paling hari ini pun mereka masih main game," puji Lina pada Nana. Nana hanya tersipu, Nana memang punya impian mencetak anak anak hebat. Bim tak salah pilih mencari calon istri.
cuss baca jan lupa tinggalkan jejaak🤗
tkn prfil aq aja yaa😍
vielen danke😘
seeruuu nih ... semangat kak😊
saling menjejak kita yak💪😊
Mmpir balik ya, biar aki rajin datang kesini. Semangat!!
Hai kak, aku dah mampir. Ditunggu feedback nya ke ceritaku yg judulnya "If You Hate Me So" ya 💖 Terus semangat berkarya💖
semangat terus buat up lagi 😍
owwh ya udah aku tambah ke favorit biar bisa bekerjasama.
mampir juga kak
salam I LIKE ROSE