Ketika hidup tak lagi memberi ruang bernapas—diusir dari kos, ditolak pekerjaan, dan janji keluarga di kampung tak kunjung ditepati—Cika memilih langkah paling nekat: menawarkan pernikahan kontrak.
Al, CEO muda dan dingin, tak mencari cinta. Tapi ia butuh istri, cepat dan tanpa drama. Tawaran Cika datang di saat yang tepat—meski ia yang menentukan semua syarat dan batasannya.
Mereka hanya sepakat satu hal: tak melibatkan perasaan.
Namun, siapa yang bisa mengatur hati?
Ketika peran pura-pura perlahan terasa nyata, dan rumah yang dingin mulai hangat oleh tawa, benarkah mereka masih bisa berpura-pura?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asni Diyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelan-Pelan Jadi Orang Tua
Hari-hari pertama bersama Nara terasa seperti hidup di dunia yang baru. Setiap pagi, suara tangis lembutnya menjadi alarm alami. Setiap malam, detak napasnya yang pelan menjadi nyanyian tidur bagi Cika dan Al. Mereka tidak lagi menghitung waktu dengan jam, tapi dengan momen: kapan Nara bangun, kapan ia menyusu, kapan ia buang air, kapan ia tersenyum.
Cika masih beradaptasi dengan tubuhnya yang pulih perlahan. Rasa nyeri, kantuk, dan kelelahan tak terelakkan. Tapi semua terbayar saat ia memeluk Nara dan mencium kening mungilnya.
“Aku baru benar-benar paham kenapa orang bilang ibu itu kuat,” kata Al suatu malam saat melihat Cika menyusui sambil nyaris tertidur.
Cika tersenyum samar. “Aku kuat karena kamu di sini. Karena kita ngelewatin ini bareng.”
---
Mereka mulai belajar ritme baru. Al mengatur jadwal kerja agar bisa lebih sering di rumah. Di sela rapat online, ia mengganti popok atau mengayun Nara sampai tidur. Ia mencatat setiap perkembangan kecil: suara gumaman pertama, gerakan tangan yang refleks, tatapan mata yang mulai mengenal wajah. Ia bahkan membuat folder khusus di ponselnya berisi foto-foto harian Nara, diberi label tanggal dan keterangan kecil seperti, “senyum pertama pagi,” atau “ngucek mata lucu.”
Suatu sore, saat Nara tertidur di pelukannya, Al membisikkan, “Dulu aku takut jadi ayah. Takut nggak cukup baik. Tapi sekarang aku cuma pengen jadi cukup hadir.”
---
Cika juga mulai menulis blog kecil tentang hari-harinya sebagai ibu baru. Ia menamai blog itu "Hari-hari Nara", berisi catatan jujur tentang rasa lelah, bahagia, cemas, dan syukur. Tulisan pertamanya mendapat banyak respons dari ibu-ibu muda lainnya. Komentar dan dukungan mengalir, membuat Cika merasa tidak sendiri.
Ia menulis:
“Menjadi ibu bukan hanya tentang tahu semua hal sejak awal. Tapi tentang memilih untuk belajar. Pelan-pelan. Hari demi hari.”
Blog itu berkembang pesat. Beberapa tulisan bahkan dibagikan ulang oleh akun parenting besar. Cika mulai menerima undangan wawancara daring dan tawaran menjadi pembicara kecil-kecilan. Ia sempat ragu. Ia merasa belum cukup ahli. Tapi Al menggenggam tangannya dan berkata, “Kamu cukup. Karena kamu jujur. Dan kejujuran kamu nyembuhin banyak hati.”
---
Suatu hari, Cika mendapat undangan dari komunitas parenting yang dulu ia ikuti saat hamil. Mereka ingin Cika membagikan pengalamannya tentang perjalanan dari kehilangan hingga akhirnya melahirkan Nara. Cika ragu di awal, tapi Al mendukung penuh.
“Kamu bisa bantu banyak orang lewat cerita kamu. Cerita kita.”
Dan Cika pun berbicara di hadapan puluhan ibu muda lainnya. Dengan suara bergetar tapi penuh keyakinan, ia menceritakan betapa cinta bisa tumbuh bahkan dari rasa takut dan kehilangan.
Ia cerita tentang malam-malam sunyi di awal pernikahan, tentang rasa sepi meski hidup berdua, dan bagaimana Nara menjadi terang di ujung gelap yang dulu sempat membuatnya nyaris menyerah.
Setelah acara itu, beberapa ibu menghampirinya, memeluknya, bahkan menangis bersama. Cika pulang ke rumah malam itu dengan hati penuh.
---
Malam itu, saat mereka duduk di ruang tamu yang kini penuh mainan bayi, Al memeluk Cika dari belakang.
“Pelan-pelan, kita jadi orang tua, ya,” bisiknya.
“Pelan-pelan. Tapi bareng. Selalu bareng,” jawab Cika.
Dan dalam keheningan malam yang lembut, mereka tahu: menjadi orang tua bukan soal tahu semua jawaban. Tapi soal tidak pernah berhenti hadir untuk mencari jawabannya—bersama. Dalam bising tangis, dalam tawa kecil, dalam pelukan diam, mereka sedang menulis bab baru kehidupan.
Nara mungkin belum bisa bicara, tapi lewat tatapan matanya yang jernih dan genggaman kecilnya yang erat, ia seolah berkata, “Terima kasih karena memilihku. Karena tetap memilih satu sama lain.”
Bersambung....