Ardan, seorang dosen tampan yang menjadi penerus keluarga Adinata sedang menatap pada seorang gadis yang tengah berbaring di atas tempat tidurnya.
Gaun yang dikenakan olehnya menunjukkan bahu dan leher jenjang milik Sasha, membuat jiwa lelaki Ardan meronta. Namun ia harus menahan segala hasrat yang sedang mencapai puncaknya, karena mengingat akan kontrak pernikahan yang membatasi sentuhan fisik diantara mereka.
Pernikahan mereka yang akan berlangsung dalam beberapa hari tersebut diakibatkan kebohongan yang dilakukan Ardan dan membuat seluruh keluarganya percaya bahwa Sasha adalah kekasihnya.
Bagaimana kisah mereka dimulai?
Happy reading guys
follow ig author
@kak.ofa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Ulsyah Musyarofah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dilema Ardan
"Halo, iya waalaikumsalam," sahut Ardan langsung menjawab salam.
"Dia kecelakaan, lalu masuk rumah sakit, sampai saat ini ia belum sadarkan diri dan terus menyebut namamu." Suara di seberang terdengar panik.
"Siapa?"
"Sania!"
Ardan membanting dan memutar setir begitu tau Sania dirawat di rumah sakit. Setelah Darius memberikan alamat tempat Sania dirawat, Ardan tanpa pikir langsung untuk menghampirinya.
"Bagaimana keadaannya?" Ardan langsung bertanya tanpa basa-basi begitu melihat Darius di depan sebuah ruang rawat.
"Dia sudah melewati masa kritisnya, namun dia masih belum sadar," jawab Darius yang juga memasang wajah serius.
"Apa aku sudah bisa ke dalam?" tanya Ardan ragu.
"Tentu saja! Dia bahkan memanggilmu terus selama dia tidak sadar," sahut Darius. "Jangan sampai hatimu goyah!" lanjut Darius mengingatkan Ardan.
Ardan tak berkata apa-apa, dia hanya langsung masuk dan menuju ke tempat Sania.
"Daaann ... Ar ... dann," rintih Sania dalam lelapnya. Gadis di hadapannya masih tak sadar, namun ternyata gadis itu malah menyebut namanya.
Ada rasa pilu dan sedikit sedih saat melihat kondisi Sania yang seperti ini. Ardan benar-benar merasa tidak tega melihat Sania yang terbaring sambil terus menggumamkan namanya.
"Bagaimana kau bisa seperti ini?" Ardan meraih salah satu tangan Sania yang terpasang jarum infus.
"Dia terjatuh saat mengedarai sepeda motor tapi warga bilang, ada yang sengaja menabraknya, aku tidak tau bagaimana kronologisnya. Polisi masih melacaknya," jelas Darius yang tiba-tiba berada di belakang Ardan.
Ardan hanya menoleh sedikit ke sumber suara, lalu kembali menatap gadis yang sedang terbaring lemah dengan balutan perban di kedua kakinya.
***
"Ibu, Pak, Nih teh nya, minum dulu aja ya, jangan pulang, temenin Sasha," ungkap seorang gadis dengan rambut hitamnya yang bergelombang sepinggang.
Kedua orang tua paruh baya itu saling berpandangan. "Tasya hanya berdua dengan Fahri, kami tidak tega meninggalkan mereka." Ibunya mencoba memberi penjelasan pada Sasha.
Sasha pun merenung, memang kasian jika adiknya, Tasya, harus ditinggal oleh ibu. Meski ada kakak tirinya, Fahri, namun bujang itu adalah seorang karyawan kantor sekaligus mahasiswa S2, tidak mungkin bisa sepanjang hari menemani Tasya.
"Baiklah," ujar Sasha sambil menunduk.
"Memangnya Ardan kapan pulang, kenapa sampai jam segini masih belum datang?" tanya Ahmad pada putrinya.
"Mas Ardan sepertinya sedang banyak urusan, makanya sampai jam segini masih belum datang juga." Sasha tidak ingin terlihat sebagai istri yang diacuhkan suami. Meski sebenarnya, sejak tadi sore panggilan maupun pesan Sasha seperti diabaikan oleh Ardan.
Sasha dan kedua orang tuanya masih lanjut mengobrol, hingga jam sudah menunjukkan pukul dua puluh.
"Sasha, sepertinya kami harus pulang sekarang ya," pamit Yati pada anak tirinya. "Kami sebenarnya masih ingin bertemu Ardan, tapi sepertinya dia tidak akan pulang dengan cepat sekarang," lanjut perempuan itu.
"Baiklah, saya juga tidak bisa menahan ibu dan bapak lebih lama. Terima kasih ya, sudah menemani dan membantu Sasha pindahan," jawab Sasha sambil memeluk ibu dan bapaknya bergantian.
Setelah ibi dan bapaknya pulang, Sasha pun sendirian hanya ditemani oleh para pelayan yang sudah berada di ruangannya masing-masing.
Kini Sasha pun, duduk di ruang tengah sambil menonton tv.
[Mas, mau pulang ke rumah baru hari atau tidak?]
Pesan itu pun terkirim pada laki-laki yang berstatus sebagai suaminya tersebut.
Sepuluh menit
Dua puluh menit
Satu Jam
Dua Jam
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, namun masih belum ada balasan. Sasha pun mondar mandir, sebelum ia akhirnya memutuskan untuk pergi ke kamarnya.
Sasha pun melihat ke arah meja rias, dia menatap sebuah loker kecil pada meja tersebut, cukup lama.
Perlahan gadis itu berjalan, dengan ragu dia memegang pegangan loker. Tangannya agak bergetar, namun ia memutuskan untuk menariknya.
Ketika loker putih itu tertarik dan menunjukkan isinya. Sasha mengambil sebuah map coklat yang langsung terpampang paling atas.
Dengan hati pilu, dia masih benar-benar ingat bagaimana isi dalam dokumen tersebut. Hatinya berdebur saat ia membuka map tersebut dan mengeluarkan isinya.
Berulang kali Sasha membaca dokumen yang isinya tidak mencapai seribu kata tersebut. Ia sedang mencari celah kecacatan dokumen itu, untuk memberi kelonggaran pada perasaannya.
Tak terasa, bulir pertama pun menetes. Sasha segera mengusapnya. "Kenapa aku seperti ini?" Sasha benar-benar ingin mengingkari perasaannya, kontrak ini ia sendiri yang buat bersama Ardan, mana mungkin ia harus melanggarnya sendiri.
"Aku tidak boleh, tidak boleh." Sasha kembali meneguhkan hatinya. "Aku harus fokus melanjutkan studi dengan beasiswa yang diberikan pak Ardan. Aku tidak boleh melibatkan perasaan semacam ini sebelum cita-citaku tercapai," lanjut Sasha seorang diri.
***
Tiit ... tiit .
Suara dari elektrokardiograf menunjukkan denyut jantung orang yang menggunakannya. Perlahan tangan yang punggungnya tertusuk jarum infus itu menggerakkan jari tengahnya.
"Ar ... dan," rintih perempuan yang baru saja membuka matanya.
Pria yang sedang tertunduk menungguinya pun mengangkat kepalanya dan mengerjap-ngerjapkan matanya untuk membenarkan apa yang dia lihat.
Ardan menatap jemari Sania yang bergerak perlahan, kemudian ia melihat ke arah matanya, yang sontak membuat Ardan terperanjak.
"Sania kau sadar?" Ardan langsung bertanya namun Sania sama sekali tak menjawab, bagaimanapun juga gadis itu baru saja pingsan seharian.
Ardan langsung menghubungi dokter yang sedang berjaga dan juga para perawat.
"Bagaimana keadaan teman saya dok?" Ardan memasang wajah khawatir.
"Kondisi vitalnya, baik-baik saja. Dia masih belum sadar sepenuhnya, apakah anda yang akan menemaninya?" tanya dokter tersebut.
Ardan pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia tidak berniat untuk menunggu Sania semalaman. Tapi selain dirinya, siapa lagi yang ia harus mintai pertolongan. Karena Darius punya seorang anak yang tidak mungkin ditinggal untuk merawat orang sakit.
Sementara Sania adalah anak angkat dari sebuah keluarga, namun setelah Sania beranjak dewasa gadis itu memilih untuk meninggalkan keluarganya dan berusaha menghidupi dirinya sendiri, hingga kejadian saat pernikahan Darius dan ia kabur. Keluarganya pun kehilangan kontak dengan Sania hingga saat ini.
Dengan terpaksa Ardan menganggukkan kepalanya di hadapan dokter tersebut.
"I-iya, saya yang akan menunggunya," jawab Ardan ragu.
Dokter tersebut pun menjelaskan makanan apa yang dianjurkan dan dilarang untuk Sania, lalu ia juga menjelaskan aturan pemberian obat yang harus diminum oleh Sania pada Ardan. Tak lupa Ardan juga diingatkan untuk segera menyelesaikan urusan administrasi untuk perawatan Sania.
"Ar ... dan," panggil Sania lirih setelah dokter pergi.
Pria berwajah tampan itu pun langsung menghampiri Sania yang masih berbaring.
"Kau memanggilku?" tanya Ardan yang dijawab dengan anggukkan lemah oleh Sania.
"Terima kasih sudah berada di sini," ujar gadis itu dengan suara yang pelan. "Seharian aku mengingatmu, maafkan aku yang egois, tapi sekarang, aku merasa jika aku benar-benar mencintaimu," lanjut Sania dengan air mata terurai yang membasahi bantal.
"Apa aku masih memiliki kesempatan untuk memilikimu?"
***
Bersambung ...
Doakan semoga author bisa double up yaaa....
penokohannya jg pas.
walaupun ini karya perdana sang author,tp novel ini bgs menurut sy.
semoga utk ke depannya KK author lebih sukses lg dgn menghasilkan karya2 trbaiknya.
𝘁𝗲𝗿𝘂𝘀 𝗯𝗲𝗿𝗸𝗮𝗿𝘆𝗮 𝗱𝗮𝗻 𝘀𝗲𝗵𝗮𝘁 𝘀𝗲𝗹𝗮𝗹𝘂..