Menghindar dari pernikahan dengan healing ke timur tengah, siapa sangka justru ia membuat sang pangeran jatuh cinta dan menikahinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Nova, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 35
Rania berusaha menghubungi Sena. Tadi setelah mengungkapkan keinginannya kepada Zayn, akhirnya Zayn meminta Rania untuk menelpon Sena dan meminta Bi Umi agar membuatkan rendang sesuai keinginannya. Dan Zayn akan meminta orangnya untuk mengambil makanan tersebut dengan armada pribadinya.
" Halo... Kakak ? " tanya Rania saat panggilannya tersambung.
" Iya, Rania. Maaf kakakmu sedang berbaring... "
" Kak Sena kenapa Kak ? Kak Sena baik-baik saja kan ? " cecar Rania khawatir.
" Kakakmu baik-baik saja. Hanya saja dia perlu banyak beristirahat karena... "
" Karena apa, Kak ? " sela Rania tak sabaran.
Terdengar kekehan pelan Nicko dari balik telpon.
" Kamu itu sabar sedikit dong " seru Nicko.
" Mama bisa sabar kalau Kak Sena kenapa-kenapa. Jadi tolong kasih tahu Rania, sebenarnya ada apa sama Kak Sena ? " tanya Rania penasaran.
Jujur saja, Rania sangat khawatir karena hanya Senalah satu-satunya keluarga yang masih tersisa. Dan Rania merasa sedih karena tidak dapat bertemu langsung dengan sang kakak.
" Kakakmu baik-baik saja. Itu hal biasa untuk wanita yang sedang hamil muda " ucap Nicko.
" Apa ? Kak Sena hamil ? " tanya Rania tak percaya.
" Syukurlah ! Selamat ya, Kak ! Semoga Kak Sena selalu diberikan kesehatan sampai nanti melahirkan. Mudah-mudahan, Rania secepatnya menyusul " harap Rania.
" Aamiin... " sahut Nicko.
" Eh, kamu ada perlu apa ? " tanya Nicko kemudian.
" Em, itu Kak. Sebenarnya Rania mau minta tolong. Tolong minta Bi Umi buatin rendang buat Rania " jawab Rania jujur.
" Oh, itu... Kakak pikir kamu mau bilang kalau kamu lagi hamil juga terus ini tuh ngidam ceritanya " celetuk Nicko
" Apaan sih, Kak... Rania belum hamil, tahu ! " sahut Rania dengan kesal.
" Iya, iya... Kak Nicko minta maaf ya ! Nanti Kak Nicko minta Bi Umi, supaya buat rendang untuk kamu " ucap Nicko.
" Ya, sudah. Kapan-kapan kalian datang ya ke sini. Berhubung Kak Senanya sudah hamil, jadi kalian datangnya nanti saja sekalian babby moon " seru Rania.
" Sepertinya itu ide bagus ! " timpal Nicko.
" Kalau begitu, Rania tutup dulu ya Kak. Nanti Rania telpon lagi. Jangan lupa bilang sama Bi Umi buat rendang. Nanti diambil sama orang suruhannya Zayn kalau sudah selesai. Salam buat Kak Sena, sama Om dan Tante juga ya, Kak ! " ucap Rania sebelum mengakhiri panggilan telpon.
Nicko menatap layar ponsel milik Sena yang kini telah mati. Ia menatap ke arah Sena yang terbaring lemah di atas tempat tidur pasien.
Jika saja Nicko tidak bergerak cepat menyelamatkan Sena, entah apa yang terjadi kepada istri dan juga calon anaknya itu.
Sena menggerakkan kepalanya, ia juga nampak mencoba membuka matanya yang terasa berat.
Nicko bergegas mendekati Sena lantas menggenggam tangan Sena. Sebelah tangannya yang lain mengusap kepala Sena.
" Kamu sudah sadar, sayang " ucap Nicko sambil mengecup punggung tangan Sena.
" I...ni dimana ? " tanya Sena saat melihat sekeliling.
" Di rumah sakit. Beruntung kamu dan anak kita baik-baik saja " jawab Nicko menghembus nafasnya dengan lega.
" Anak ? Anak kita ? " tanya Sena sambil mengernyitkan keningnya.
Nicko tersenyum dengan lembut. Tangannya yang semula mengusap kepala Sena, kini beralih mengusap perut sang istri.
" Iya, sayang... Disini ada anak kita. Dia sudah berada disini 4 minggu lho, sayang " jawab Nicko antusias. Wajahnya dihiasi senyuman bahagia.
Tangan Sena terulur menyentuh perutnya.
" Maaf, maafkan mama karena tidak menyadari kehadiranmu disini " ucap Sena lirih sambil ikut mengusap perutnya.
Hingga kemudian Sena mengingat sesuatu.
" Lalu... Gita ? Bagaimana dengan Gita, Mas ? " tanya Sena khawatir.
Senyum di wajah Nicko perlahan surut saat mendengar nama Gita disebut.
" Kau masih mengingat wanita jahat itu setelah apa yang dilakukannya padamu ? " tanya Nicko kesal. Sikapnya berubah menjadi dingin.
" Dia hanya kebingungan, Mas. Aku tahu, dia melakukan hal itu karena ia tidak ingin kehilangan suaminya " jelas Sena.
" Karena takut kehilangan suaminya, dia rela mencelakakan kamu. Coba kamu bayangkan jika aku tidak segera datang, apa dia akan menolongmu ? Tidak, Sena... Dia memang ingin mencelakakanmu. Dia ingin membuat suaminya itu hanya melihat ke arahnya dan caranya adalah dengan menyingkirkanmu " sanggah Nicko.
" Tidak... Mana mungkin Gita seperti itu, Mas ? Gita dan Pram sudah menikah, bahkan mereka sedang menantikan kelahiran anak mereka. Aku juga sudah tidak memiliki perasaan apapun pada Pram. Jadi untuk apa Gita ingin menyingkirkanku ? " sahut Sena.
Nicko berdecak, istrinya ini terkadang terlalu naif.
" Kau tidak memiliki perasaan lagi kepada mantanmu itu. Tapi apakah itu berlaku juga untuk Pram ? Aku yakin dia masih sangat mengharapkanmu. Karena itu dia menemuimu kan ? " tebak Nicko membuat Sena terkejut.
Bagaimana mungkin Mas Nicko tahu jika Pram menemuiku ?
" Kenapa ? Kamu heran bagaimana aku bisa tahu ? Sena... Sena... Kau meremehkan suamimu ini rupanya " celetuk Nicko menggeleng-gelengkan kepalanya.
" Maaf, Mas... Aku memang bertemu dengan Pram. Tepatnya dia yang meminta kami bertemu. Tapi aku pergi bersama Vanya untuk menemaniku " jelas Sena. Ia tidak ingin Nicko salah paham.
" Lalu ? " tanya Nicko datar.
" Dia minta maaf untuk semua yang pernah dilakukannya. Dia juga mengatakan akan berpisah dengan Gita setelah anak mereka lahir " jawab Sena.
" Hanya itu ? Aku yakin, dia menginginkan kamu kembali kepadanya " pancing Nicko.
Sebenarnya Nicko tahu semuanya, ia hanya ingin tahu apakah Sena akan berkata jujur atau tidak kepadanya.
Sena menghela nafas dalam-dalam. Menurutnya hal itu, tak perlu dibicarakan karena hanya akan menambah ruwet hubungan diantara mereka. Tapi, Sena pun tak ingin menyembunyikan apapun dari Nicko, apalagi ini menyangkut pria di masa lalunya.
" Iya... Dia mengatakan jika dia masih mencintaiku dan berharap aku mau kembali bersamanya " jawab Sena lirih.
Meskipun ia sudah tahu, tapi mendengar sendiri dari mulut Sena, Nicko rasanya tak terima. Ia segera menarik tangannya dan melipatnya di depan dada.
Sena sudah bisa menebak sikap yang akan diberikan Nicko. Sena berusaha untuk bangkit dari tempatnya berbaring. Melihat hal itu, Nicko dengan sigap membantu Sena.
" Tidur saja ! Kamu tidak boleh banyak bergerak. Ingat, ada dia disana ! " titah Nicko.
Sena menyunggingkan senyum, kemudian mengecup pipi Nicko membuat Nicko menatapnya.
" Kamu tidak mau tahu jawaban apa yang aku sampaikan pada Pram ? " tanya Sena.
Nicko mengalihkan tatapannya, jika terus menatap Sena ia pastikan akan kalah.
" Apa ? "
Sena meletakkan kedua telapak tangannya di pipi Nicko, lalu memaksa Nicko untuk kembali menatapnya.
" Aku mencintai suamiku dan aku mau menghabiskan seluruh hidupku bersamamu. Pram itu hanya masa lalu, tapi kamu masa depanku " tegas Sena dengan senyuman paling manis.
" Kamu yakin dengan ucapanmu itu ? Karena setelah ini, aku akan memaksamu untuk memenuhi ucapanmu itu " selidik Nicko.
" Yakin. 1000 persen aku yakin dengan ucapanku. Aku mencintaimu, Nicko ! " ucap Sena.
" Aku juga mencintaimu. Sangat mencintaimu ! Terima kasih sudah memilihku sebagai masa depanmu. Aku akan selalu membuatmu bahagia"