Bagaimana jika seorang pemuda yang setiap harinya hanya menjadi anak seorang supir didalam keluarga kaya dan dia harus menerima untuk dinikahkan dengan Nona Muda mereka yang tidak bisa bicara.
"Nak, Ibu dan Bapak ingin berbicara serius dengan kamu" ucap Pak Budi pada putranya.
"Bicara apa Pak? Bicara saja" tanya Adji yang sudah duduk dihadapan kedua orang tuanya.
"Begini nak, tadi siang Bapak dan Ibu diundang kerumah Tuan Nadi dan kami disana membahas masalah perjodohan untuk kamu. Bapak tidak bisa memutuskan nya sendiri, karena Bapak tidak mungkin memutuskan. Bapak ingin membicarakan ini dengan kamu dan jika kamu menerimanya, Bapak dan Ibu akan membalasnya lebih dalam lagi dengan keluarga beliau" jelas Pak Budi dengan panjang lebar.
Penasaran apa jawaban Adji pada kedua orang tuanya???
Yuk baca dan ramaikan setiap babnya dengan like, komen, vote dan hadiahnya ya....
Jangan lupa subscribe juga pollow akun Othor ya...
Terimakasih dan selamat membaca 🤗🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atikah syarif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cincin
"Kenapa kamu diam? Apa ada yang kamu sembunyikan dari aku?" tanya Fania yang menatap kearah Adji.
"Ah, nggak kok. Hanya sedikit lelah saja, karena kemarin seharian dalam pesawat" jawab Adji sedikit gelagapan saat mengatakan nya.
"Oh, aku kira kamu menyembunyikan sesuatu yang sangat besar dari aku. Jika kamu masih lelah, lebih baik istirahat saja. Kamu juga pasti merasa jet lag sekarang, istirahat saja dulu, kita kan bisa bertemu lagi lain waktu" ucap Fania dengan senyuman nya yang sangat manis.
"Tapi aku masih sangat merindukan kamu sayang. Aku masih bisa menahan rasa jet lag aku ini dibandingkan dengan menahan rindu aku pada kamu" ucap Adji yang malah menggoda Fania.
"Kamu ini. Malah menggombal lagi, oh iya. Aku sampe lupa bertanya, kamu akan berapa lama disininya?" tanya Fania menatap wajah pria yang sudah sejak dulu bertahta dihatinya.
"Mungkin satu bulan. Karena aku kesini memang ada urusan bisnis, jadi sekalian menemui kamu. Ya, sambil menyelam minum air lah" jawab Adji tersenyum sangat bahagia bisa bertemu dengan Fania.
"Lumayan lama juga. Tapi itu bagus, aku akan selalu merepotkan kamu selama disini" ucap Fania yang sangat bersemangat mengatakan nya.
"Dengan senang hati Nona Fania Putri, saya akan siap kemanapun dan kapanpun anda butuhkan" jawab Adji langsung berdiri dan sedikit membungkukan tubuhnya dihadapan Fania.
"Baiklah, sekarang ajak saya kesuatu tempat yang sangat indah" ucap Fania mengatakan nya sambil menahan senyuman nya.
"Mari Nona" ucap Adji yang mempersilahkan Fania berjalan lebih dulu didepan nya.
Mereka berdua bercengkrama hingga sampai didepan sebuah apartment tempat tinggal Fania. Dia begitu sangat bahagia beberapa jam ini berjalan-jalan dengan kekasih hatinya. Baik Fania maupun Adji, keduanya sampai lupa waktu dan selalu melemparkan senyuman juga candaan-candaan ala mereka berdua.
Saat Adji kembali kedalam apartment Clarissa, dia masih tidak bertemu dengan Clarissa. Dia merasa bingung akan keberadaan Clarissa sekarang. Bahkan Adji berfikir jika Clarissa meninggalkan nya disini sendiri. Tapi sesaat fikiran itu ditepis akan adanya berbagai macam makanan yang tersaji disana.
"Sepertinya Nona Clarissa sudah pulang dan sudah makan malam juga. Huh, pantas saja. Ini sudah larut malam ternyata" gumam Adji saat melihat piring bekas makan Clarissa.
Adji makan malam sendirian. Karena sejak sore dia tidak makan apa-apa, jalan dengan Fania juga hanya berjalan-jalan saja tanpa membeli apa-apa. Bukan dia pelit atau tidak ingin membelikan makanan atau apapun untuk Fania. Karena mereka sudah sangat lama tidak bertemu jadi dengan bertemu dan berdekatan juga banyak mengobrol, sudah sangat membuat mereka bahagia hingga lupa. Jika mereka berdua belum makam malam.
Adji masih sangat bahagia saat mengingat kejadian tadi. Tapi saat dia melihat jarinya yang tersemat cincin pernikahan nya dengan Clarissa, membuatnya terlihat tidak bersemangat dan malah terlihat sangat sedih.
"Apa Fania melihat ini? Jika dia sudah melihat, pasti dia akan bertanya-tanya dan tidak berani menanyakan nya langsung padaku. Huh, apa yang akan aku katakan padanya jika dia bertanya masalah ini?" gumam Adji yang menatap jarinya dan kembali meletakan sendoknya. Dia menjadi tidak berselera lagi untuk makan.
"Lepaskan saja. Bila perlu kau buang saja, karena tidak ada gunanya juga itu berada dijari kamu" tulis tangan Clarissa yang menyodorkan sebuah kertas pada Adji.
"Maksud anda apa Nona?" tanya Adji dengan tatapan tidak mengerti.
"Sudah jelas. Jika itu akan membuatmu tidak bisa leluasa bertemu dan berdekatan dengan wanita mu itu" ucap Clarissa menggunakan bahasa isyaratnya lalu dia berbalik.Barusaja aja akan pergi dari sana, Clarissa berbalik kembali kearah Adji.
"Satu lagi. Kau besok siang bersiaplah menggunkan pakaian kerja mu dan kita akan bertemu klien yang ada disini. Kebetulan saya bertemu dengan nya tadi siang, dan dia ingin bertemu untuk membahas masalah pekerjaan" ucap Clarissa lagi, dan dia segera pergi dari sana.
"Akan saya lakukan Nona" jawab Adji setelah Clarissa pergi dari sana dan sudah masuk kedalam kamarnya.
"Huh, ternyata memang benar. Jika aku ini akan bekerja selama disini, untung saja aku membawa laptop ku kemarin. Jika tidak, sudah dipastikan Nona Clarissa akan sangat marah padaku" gumamnya yang segera membereskan sisa makanan dan mencuci semua piring juga gelas kotornya.
.
Keesokan harinya, sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Clarissa semalam. Clarissa sudah berpakaian sangat rapih, begitu juga dengan Adji. Dia sudah berpenampilan seperti CEO muda pada umumnya.
Karena Adji memang sudah ditunjuk menjadi CEO pemgganti Papa Nadi. Clarissa sama sekali tidak protes akan hal-hal itu, toh itu semua memang miliknya. Clarisa hanya mengumpulkan uangnya yang dia dapatkan dari perusahaan selama dia bekerja disana dengan baik. Dia hanya berjaga-jaga jika suatu saat dia akan benar-benar pergi dan keluarganya yang sekarang bukanlah keluarganya.
"Sebenarnya kita akan bertemu dimana Nona? Karena kota sudah sangat jauh dari tempat kita sebelumnya" tanya Adji menatap kearah Clarissa yang sedang fokus dengan laptopnya.
"Sebaiknya kau diam dan kerjakan apa yang memang pekerjaan mu. Dan satu lagi, jika didepan klien nanti jangan memanggil saya Nona. Karena kau adalah CEO nya, bukan aku. Faham?" ucap Clarissa yang menggunakan bahasa isyaratnya dan dia kembali fokus pada laptopnya lagi.
"Baik Nona" jawab Adji mengangguk setuju dan dia masih belum melepaskan cincin nya. Lalu dia memutar-mutar cincin nya.
Sedangkan Clarissa tidak pernah menggunakan cincin itu semenjak pertama kali mereka menikah. Hanya Adji yang masih gamang dan akan seperti apa kehidupan nya dan pernikahan kontraknya ini. Adji merasa dadanya seperti dihantam oleh batu besar yang menindihnya, sehingga kesulitan bernafas.
"Kenapa kau belum melepaskan itu? Apa kau berharap pernikahan ini akan berlanjut dan tidak akan pernah ada perpisahan? Jika itu fikiran mu, kau salah besar. Karena saya tidak mau melakukan itu dan menyiksa diriku sendiri dengan ini semua" ucap Clarissa menggunakan bahasa isyaratnya dan dia sama sekali tidak menginginkan pernikahan ini dan tidak pernah menganggap Adji.
"Maaf Nona, saya tidak bermaksud untuk itu semua. Karena memang ini hanya pernikahan kontrak saja, saya akan menyimpan ini dan akan memakainya jika ada dirumah saja. Takutnya Mama dan Papa akan bertanya macam-macam" jawab Adji yang segera melepaskan cincin dari jari manisnya.
"Saya tidak perduli akan itu semua. Yang jelas, saya sudah mau menuruti keinginan mereka dan melakukan apa yang mereka mau, jadi semuanya terserah padaku" ucap Clarissa yang menutup laptopnya dengan keras dan membuat Adji merasa tidak enak dan salah bicara pada Clarissa.
Baik Clarissa maupun Adji. Mereka sama-sama saling diam dan tidak ada yang mengatakan apa-apa satu sama lain. Apa lagi Adji yang memang sangat pendiam dan jarang sekali bicara. Jika Clarissa memang sengaja tidak memberitahukan jika dia sudah bisa bicara kembali. Suaranya hanya dia berikan dan dia serahkan pada Varaz saja.
dan semoga sehat selalu buat penulis nya❤️
gk tahu krn sikapmu membuat ortumu khawatir n km jg jd menderita di luar sana
ortu mu pasti akan mengerti keputusan mu