NovelToon NovelToon
Kultivator Tingkat Dewa

Kultivator Tingkat Dewa

Status: tamat
Genre:Fantasi Timur / Dikelilingi wanita cantik / Anak Yatim Piatu / Kebangkitan pecundang / Spiritual / Iblis / Tamat
Popularitas:108.9k
Nilai: 5
Nama Author: Abi Kusumah

Arya, seorang pemuda berusia 16 tahun, hidupnya sebatang kara. Setelah kematian kedua orang tuanya, Arya mulai dikucilkan oleh sanak saudaranya. Bahkan saudara-saudaranya, mempengaruhi penduduk kampung untuk membencinya, karena dia dianggapnya sebagai pembawa sial, sampai-sampai kedua orang tuanya meninggal.

Meskipun banyak hinaan dan cacian dari penduduk kampung, dia tetap berusa sabar dalam menjalani hidupnya, yang sangat memprihatinkan.

Setelah sekian lama hidupnya tak tentu arah, dia bertekad untuk pergi ke hutan larangan, dengan harapan dapat menemukan sebuah keberuntungan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abi Kusumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35. Bermunculan Berandalan Kota

Tampak Arya berjalan kaki menyusuri jalan utama perkotaan, mengenakan jubah hitam dan caping, serta kumis palsu bertengger di atas bibirnya. Dia terus melangkah menuju kesebuah rumah makan, yang ramai dikunjungi oleh para pengunjung.

Ada beberapa orang yang mengantri, menunggu giliran untuk mendapatkan tempat duduk didalam rumah makan, karena kota Metropolitan itu dibanjiri oleh pengunjung dari berbagai benua, sehingga semua restoran, rumah makan, hotel serta penginapan penuh.

Arya pun ikut mengantri, ingin berbaur bersama mereka, dia kebagian antrian di deretan kedua dari belakang.

Ditengah-tengah orang pada mengantri, tiba-tiba datang sekelompok pemuda, berpenampilan bangsawan menyeruak masuk kedalam tanpa mengantri, dan langsung membuat keributan didalam rumah makan.

"Hai, kalian semua dengar, bagi kalian yang sudah pada makan, silahkan keluar, giliran kami yang duduk ditempat ini," ucap salah seorang pemuda bangsawan, yang ranahnya berada ditingkat Pendekar Dewa Surga tahap puncak, sambil mengeluarkan ranah kekuatannya, untuk menindas para pengunjung agar segera keluar.

Bagi mereka yang ranahnya dibawah, langsung berlutut menahan kekuatan yang menerpa dirinya, tak sedikit orang yang muntah darah.

Arya yang melihat hal itu, langsung menghardik sekelompok pemuda tersebut.

"Hai, kalian jangan berbuat onar di kota ini, jika kalian masih sayang dengan diri kalian. Silahkan tinggalkan kota ini, kecuali jika kalian sudah tidak sayang lagi, akan aku hancurkan kekuatan ranah kalian semua," hardik Arya, menatap mereka semua.

"Oh ternyata disini ada seorang pahlawan. Baiklah, kalau kamu juga ingin merasakan kekuatanku," balas pemuda bangsawan, mengeluarkan kekuatan ranahnya bermaksud menindas Arya.

Dengan gerakan cepat yang tak dapat dilihat oleh mata, Arya memukul pemuda bangsawan itu tepat dibawah perutnya. Menghancurkan basis kultivasinya, hingga pemuda itu menjerit kesakitan.

"Bagaimana sekarang, rasanya kamu setelah menjadi sampah? Apa kamu masih ingin menindas orang lain, tanpa memiliki kekuatan?" Tanya Arya, menatap pemuda itu yang duduk berlutut menahan rasa sakitnya.

Sekelompok pemuda bangsawan itu terkejut, melihat temannya sudah tak berdaya lagi.

"Apakah kalian masih ingin jadi jagoan di kota ini?" Tanya Arya, menatap mereka satu persatu. "Kalian semua berasal darimana?" Tambah Arya lagi.

Mereka semua menggigil ketakutan, dengan sorot tajam tatapan mata Arya, yang mengandung kekuatan mistis, seakan mereka diserang penyakit demam tinggi.

"Ampuni kami, Tuan Muda. Kami dari kota Metropolitan ini," ucap salah seorang pemuda, gemetar ketakutan.

"Apakah di kota ini sekarang sudah banyak berandalan?" Tanya Arya lagi.

"Tidak tau, Tuan Muda. Kami hanya mengawal putra bangsawan nomor satu di kota ini," jawab pemuda itu, semakin ketakutan.

"Silahkan kalian bawa pemuda bangsawan itu, dan laporkan kepada orangtuanya. Aku tunggu kehadiran orangtuanya disini sekarang juga," ucap Arya, menekan mereka untuk segera melaporkan kepada orangtuanya.

Sekolompok pemuda itu bergegas pergi dari hadapan Arya, sambil membawa pemuda bangsawan, yang sudah dihancurkan basis kultivasinya,

"Maaf tuan-tuan, sedikit terganggu," ucap Arya, sambil keluar lagi kembali mengantri menunggu giliran, diikuti oleh semua mata yang menatap kearahnya.

Arya kembali ketempat semula mengantri, dibelakang Seorang pria setengah baya, yang sama-sama menunggu giliran untuk mendapatkan tempat duduk.

Arya sebenarnya bukan hanya sekedar ingin mengantri, tapi dia ingin tau pengamanan di dalam kota ini, dan ingin tau sampai sejauh mana tingkat kepedulian mereka terhadap kota Metropolitan Garuda Kencana, yang telah susah-susah dia bangun.

Baru dia menyadarinya, setelah dia terjun langsung memantau situasi keamanan di kotanya, ternyata didalam kotanya sendiri banyak bercokol para berandalan, dari keluarga bangsawan.

"Ini tidak boleh dibiarkan, harus segera ditindaklanjuti. Karena kalau terus dibiarkan, lama kelamaan kota ini sama dengan beberapa kota lainnya, akan selalu diganggu oleh orang-orang didalam kotanya sendiri," ucap batin Arya.

Diapun keluar dari deretan antrian, lalu duduk di bawah sebuah pohon besar, yang berada didepan rumah makan.

Arya bermaksud menunggu kedatangan orangtua pemuda bangsawan, yang ranah kultivasinya dihancurkan.

Beberapa waktu berjalan, tampak dari kejauhan, rombongan bangsawan itu datang menuju kearah rumah makan, dan langsung menghampiri Arya, yang sedang duduk di bawah pohon besar.

"Nah, ini orangnya, Tuan," ucap salah seorang pria, yang mengawal pemuda bangsawan itu, menunjuk kearah Arya.

"Oh, inikah orangnya yang telah menghancurkan ranah kultivasi anakku itu," kata seorang pria setengah baya, menatap kearah Arya. "Kamu di kota ini mau mencari mati. Apakah kamu tidak tau, bahwa kota ini sangat kuat daripada kota-kota lainnya," tambah pria setengah baya itu.

"Sebuah kematian itu tidak usah dicari, nanti juga akan datang sendiri untuk menjemputnya," balas Arya, menatap bangsawan itu. "Kalau kota ini kuat, memangnya kenapa?  Apakah kalian berlindung di bawah kekuatan kota ini, untuk menindas yang lemah. Ataukah benar-benar kalian sudah tidak punya rasa malu, tinggal di kota yang dibangun dengan susah payah, seenaknya menindas orang-orang yang tidak memiliki kekuatan," tambah Arya, menyindir mereka.

"Bajingan....! Kamu tau apa dengan kota ini, hah," ucap marah pria bangsawan, sambil mengarahkan kekuatan ranahnya khusus kearah Arya, agar yang lainnya tidak tertindas.

Arya hanya tersenyum tenang, menatap pria bangsawan itu.

"Hanya segitukah kekuatan orang yang sok jagoan, dan menjadi benalu di kota ini," balas Arya, balik menekan kekuatan pria bangsawan.

Tentu saja pria bangsawan itu terlempar beberapa ratus meter, hingga menabrak sebuah bangunan, terkena dampak tekanan dari kekuatan yang dikeluarkan oleh Arya.

Arya melesat menyusul pria bangsawan, yang terlempar itu kesebelah utara, direruntuhan sebuah bangunan yang tertabrak.

"Apakah kamu sudah tidak betah lagi tinggal di kota ini? Tanya Arya, setelah berada didekatnya. "Kalau kamu sudah tidak kerasan lagi tinggal di kota ini, biar aku sendiri yang akan membuangmu dari kota ini," tambah Arya mengancamnya.

"Bajingan kamu....! Berani mengancam keluarga bangsawan nomor satu di kota ini," hardik pria bangsawan.

"Mau keluarga bangsawan kek, mau keluarga gelandangan kah, bila melanggar aturan kota ini, tentunya akan dilemparkan ke alam lain, agar tidak kembali lagi ke Kota Metropolitan ini," ancam Arya tegas.

Tak lama kemudian, dua orang komandan kota dengan ranah Maha Penguasa tahap menengah, yang diikuti oleh puluhan prajuritnya, tiba di hadapan Arya, dan langsung ingin menangkapnya.

"Tangkap bajingan yang bikin rusuh itu!" Seru salah seorang komandan kota, memberi perintah kepada prajuritnya.

"Menyerahlah anak muda, sebelum kami bertindak tegas," ucap komandan kota.

"Apakah kalian juga sama sudah pada bosan jadi komandan kota?" Tanya Arya, menatap dua komandan kota.

"Apa hubungannya kamu dengan kota ini, beraninya kamu mengancam kami," jawab komandan kota.

"Baiklah, jika kalian semua sudah pada bosan tinggal di kota ini," balas Arya, sambil mengunci pergerakan mereka dengan jurus Dewa Rajawali Mengunci Lawan.

Arya pun segera memanggil jenderal Bayu Amarta dan Jenderal Adiwiyata, melalui telepati jarak jauh, tidak lama kemudian, kedua jenderal bawahannya datang. Arya menjelaskan semua permasalahannya kepada kedua Jenderal itu.

"Penguasa Agung, apakah mereka akan dibuang ketempat lain?" Tanya Jenderal Bayu Amarta.

"Bawa mereka semua ke tahanan prajurit di Hutan Larangan," jawab Arya, sambil menarik pengaruh jurus Dewa Rajawali Mengunci Lawan.

"Baik Penguasa Agung," balas kedua Jenderal bersamaan.

Mereka semua terkejut, setelah mengetahui bahwa yang mereka hadapi adalah Penguasa Agung. Namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa, nasi sudah menjadi bubur. Kini tinggal menunggu nasibnya, karena berani berbuat, maka harus berani bertanggung jawab.

"Kalian beraninya menentang Penguasa Agung Seluruh Alam," ucap Jenderal Bayu Amarta. "Ayo kalian ikuti aku," tambahnya tegas.

Kedua Jenderal bawahan Arya, membawa mereka ketempat tahanan sementara di Markas Komando Pasukan Gabungan Garuda Kencana, sebelum dipindahkan ketempat tahanan khusus prajurit nakal di Hutan Larangan.

"Benar-benar masalah keamanan ini harus segera dibereskan, sebelum aku meninggalkan alam ini, agar penduduknya merasa tenang dan nyaman," ucap batin Arya, yang ingin membenahi sistem keamanan di seluruh benua alam ini. Dan memberikan penegasan kepada seluruh pasukannya, untuk menindak semua orang yang berbuat keributan dan kekacauan, tanpa adanya pengecualian.

Terutama segala bentuk penindasan terhadap orang-orang lemah, harus segera cepat ditindaklanjuti, agar tidak terjadi lagi, tindakan kekerasan dan penindasan terhadap orang-orang yang tidak memiliki kekuatan.

Arya, ingin meninggalkan alam ini, dalam keadaan semuanya sudah dibenahi, termasuk membenahi sistem keamanan disetiap yang dinilainya rawan, dengan kejahatan dan keributan, agar semua warganya mersa aman, tenang dan nyaman.

Bersambung....

1
JJ opa
Luar biasa
Qim
kakeknya bukannya SDH meninggal..??
Qim
😂😂😂
Mansyur Syah
lanjut, semakin seru 👍
jeck
tak adakah bekal perjalanan dari gurunya (cin-cin ruang)
swek lord
Udah bagus2 alurnya ehhh malah dibawa ke bumi cok-cok
Simon Tambun
Memang masyarakat yang masih terbelakang mereka itu ya Thor
Simon Tambun
Itulah ya berfikir 2 kali dulu untuk memutuskan hal yang besar dan rumit
Simon Tambun
Ki longgogeni mau lapor sama Raja Ular hitam...belum tau Diaa ya Thor
Simon Tambun
Bakalan cinta nggak ya jagoan kita sama Dewi Angraini
Simon Tambun
Syukurlah...masyarakat disekitar bukit Lodan jadi bisa bertani mereka itu karna efek dari pertempuran Arya sehingga danau disekitar nya jadi terbendung dan bisa mengaliri air ke sawah-sawah disekitar situ
Simon Tambun
Kenapa nggak langsung buat jembatan layang aja Thor
Simon Tambun
Hebat sekali Arya nya Thor
Simon Tambun
Dapat kapal pesiar gratis dong Arya kita ya Thor... 2 buah lagi
Simon Tambun
Unggul terus ya Thor Arya kita... belum ada yg menandingi nya
Simon Tambun
Hebat sekali Thor ya
Simon Tambun
seperti bukan didalam air aja ya Thor
Simon Tambun
Hehehe
Simon Tambun
Jadi nggak asyik cerita nya Thor... dari cerita Dewa koq ada cerita Dealer mobil dan perusahaan pengelola Emas dan Berlian
Simon Tambun
Gacel bangat ya Thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!