NovelToon NovelToon
Restu Untuk Pengkhianat

Restu Untuk Pengkhianat

Status: tamat
Genre:Selingkuh / Cerai / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Tamat
Popularitas:598.3k
Nilai: 4.9
Nama Author: Linda manik

Indah berpikir jika rumah tangganya baik baik saja. Ternyata tidak. Sikap manis suaminya hanya untuk menutupi watak aslinya yang sudah mendua di belakang Indah.
Yang membuat Indah sangat sakit hati. Ternyata perselingkuhan Rama didukung keluarganya. Dan wanita selingkuhan itu juga sudah hamil.

Cerai adalah jalan terbaik tapi kehidupan Indah tidak tenang sampai disitu. Keluarga Rama terus meneror Indah seakan tidak ingin melihat wanita itu bahagia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda manik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penyesalan

"Mas, aku tidak mau tahu. Kita harus pindah dari rumah ini mas. Aku lelah. Aku sudah seperti pembantu di rumah ini. Mama Yanti dan adik adik mu tidak mempunyai perasaan sedikit pun," kata Giska dengan suara yang serak. Dia menahan tangis karena tidak diperlakukan seperti menantu. Dulu ketika dirinya masih berstatus selingkuhan Rama. Giska mengerjakan apapun di rumah itu karena keinginannya. Hal itu dia lakukan supaya terlihat baik di depan ibu Yanti.

Tapi setelah menjadi menantu, apa yang dilakukan di rumah mertuanya karena terpaksa. Semua pekerjaan dilimpahkan kepada dirinya sendiri.

"Suami kalau pulang kerja itu disambut dengan senyuman atau secangkir kopi. Bukan curhatan tak berguna seperti itu. Kamu kira hanya kamu yang lelah. Aku juga di kantor sangat lelah. Penuh tekanan lagi dari bos. Kamu sungguh jauh berbeda dengan Indah."

Giska tidak dapat lagi menahan tangisannya. Niat hati curhat untuk melegakan hati, yang ada dirinya mendapatkan ceramah dan dibandingkan dengan Indah.

Sikap Rama tidak semanis sebelum menikah. Rama sering diam dan bahkan enggan memeluk dirinya ketika tidur. Padahal di saat hamil muda seperti ini, Giska ingin disayang dan dimanja tapi dia tidak mendapatkan itu dari Rama. Sungguh, nasibnya tidak seberuntung selingkuhan lain.

"Mengapa kamu berubah mas?" tanya Giska sedih. Dia merindukan Rama yang dulu. Walau hanya hitungan jam bertemu tapi dirinya dipuja dan dicintai. Bukan seperti sekarang ini. Sepanjang malam bersama tapi dirinya seakan tidak dibutuhkan lagi.

"Jangan terlalu sensitive kamu Giska. Banyak yang aku pikirkan tidak hanya menyenangkan hati mu saja."

"Bukan karena memikirkan bagaimana cara mendapatkan Indah kembali?" tanya Giska sinis.

"Dari awal kamu sudah tahu kan. Aku tidak ingin pisah dari Indah. Kalau tidak karena ancamannya. Aku dan Indah tidak di tahap sekarang ini. Jadi, harap mengerti dengan posisi mu yang kedua Giska. Jangan mengeluh dengan keadaan ini. Karena hubungan kita terjadi karena kamu yang lebih menginginkan. Dan bodohnya aku bisa tergoda."

Giska terisak, jawaban Rama terdengar sangat menyakitkan. Meskipun dalam hati, Giska mengakui apa yang dikatakan oleh Rama tapi dia tidak terima dengan semua perkataan suaminya itu. Giska memendam sakit hatinya sendiri. Tidak ada yang pro kepada dirinya di rumah ini. Intan memang tidak pernah menyuruh atau bertindak sesuka hati kepada dirinya. Tapi Giska bisa merasakan jika Intan sangat tidak menyukai dirinya bahkan sebelum pernikahan itu terjadi.

Semuanya tidak sesuai harapan. Giska pernah berpikir dengan menjadi istri satu satunya Rama dirinya bisa membeli apapun yang dia mau. Dia akan mempunyai perhiasan perhiasan seperti yang dimiliki oleh Indah.

Saat pertama kali bertemu dengan Indah. Giska sudah menyukai apa yang melekat pada tubuh Indah. Pakaian, sepatu, tas bahkan perhiasan perhiasan Indah adalah hal yang sangat dia sukai.

Sebagai mahasiswa perantau, tentu saja Giska tidak bisa memiliki barang barang tersebut. Giska lupa jika tujuan ke kota untuk mencari ilmu bukan untuk bergaya. Giska menduga jika Indah bisa memiliki barang barang itu karena dana dari suaminya.

Sifat serakah mengantarkan Giska pada pernikahan ini. Tapi sayang semua yang diinginkan satu pun belum ada yang terwujud. Semua mendadak berubah setelah Indah menggugat cerai. Bermimpi tinggal di rumah yang mewah, yang ada kini dirinya tersiksa di rumah mertuanya.

"Sudah jangan menangis Giska. Secepatnya kita akan mencari rumah kontrakan," kata Rama membuat Giska merasa sedikit lega. Giska mengusap air matanya.

"Kita cari sama sama nanti ya mas. Aku mau rumah seperti yang aku inginkan."

"Harus disesuaikan dengan kantong Giska. Kita tidak perlu rumah yang besar. Tidak apa kecil yang penting bisa berteduh dari hujan dan panas."

Giska mengerucutkan bibirnya. Walau mengontrak, Giska ingin rumah yang besar dan mewah kalau bisa seperti rumah yang dijual oleh Indah. Giska ingin memamerkan rumah itu kelak kepada teman temannya.

"Kenapa harus mencari kontrakan. Buang buang duit saja. Tinggal di rumah ini saja."

Suara ibu Yanti yang tiba tiba muncul di depan pintu kamar Giska membuat Rama menoleh ke arah wanita itu. Sedangkan Giska sengaja membuang pandangannya. Giska tahu, ibu Yanti menginginkan mereka tinggal disana supaya ada yang beres beres rumah.

"Sepertinya kami lebih baik mengontrak rumah ma. Aku pusing tiap mendengar mama bertengkar dengan tetangga. Aku malu ma. Seharusnya mama tidak perlu menanggapi mereka supaya tidak memperpanjang masalah. Dengan mama selalu menanggapi mereka semakin lama mereka mengingat masalah kita Ma."

Rama menunjukkan kekesalan hatinya. Sejak ibu Yanti menanggapi sindiran para tetangga. Sudah berkali kali juga Rama mengingatkan sang mama supaya diam saja. Dan saat ini, Rama sangat berharap ibu Yanti mendengar perkataannya.

"Mama ke kamar ini bukan untuk membahas itu. Mama mau minta uang dua juta lagi. Tadi Giska hanya memberikan tiga juga kepadaku."

"Mama, untuk saat ini hanya segitu yang bisa kami berikan ma. Pengeluaran banyak, dan hanya tersisa lima juta di tangan Giska."

"Pengeluaran apa Rama. Kalian makan di rumah ini. Bayar listrik dan air juga mama. Jadi pengeluaran apa lagi yang kamu maksud kan?" tanya ibu Yanti sengit. Amarahnya tersulut ketika uang dua juta sepertinya tidak akan dia terima saat ini.

"Kami akan cari kontrakan ma. Tahu sendiri kan uang kontrakan di kota ini Mahal. Belum lagi untuk makan. Jangan jangan Lima juta itu masih kurang untuk kami."

Giska mendadak melemas. Uang lima juta yang di tangannya saat ini bukan untuk kebutuhan dirinya dan Rama saja ternyata untuk biaya kontrakan juga.

"Tidak bisa. Jatahku tidak bisa dikurangi."

"Tidak bisa ma. Tolong mengerti keadaan ku. Tidak mungkin kami tidak makan kan?"

"Kan mama bilang tadi tidak perlu mengontrak rumah."

"Jika mas tetap tinggal disini. Aku tidak mau mas. Aku bisa ngekost."

Giska merasa perlu bersuara. Itu sudah tekadnya. Andaikan di rumah itu saling bekersama. Giska akan bertahan. Tapi selama satu minggu ini dirinya benar benar seperti pembantu.

Ibu Yanti menatap Giska dengan tajam. Giska semakin berani dan bukan itu yang membuat ibu Yanti menatap Giska seperti itu. Tapi karena marah jatahnya di kurangi.

Di tahap ini, ibu Yanti benar benar merasakan kebaikan Indah dia saat wanita itu menjadi menantunya. Keterangan dari mulut Rama akan gaji dan pengeluaran tiap bulan membuat ibu Yanti sadar jika selama ini, dirinya dan keluarganya sudah banyak menghabiskan uang pribadi milik Indah.

Penyesalan selalu terlambat. Itulah yang dirasakan oleh ibu Yanti saat ini. Dia dulu pernah berpikir jika Giska menjadi menantunya. Maka ibu Yanti bisa menyetir Giska dan semua gaji Rama. Dia akan mendapatkan lebih dari Lima juta. Tapi ternyata tidak. Kenyataan demi kenyataan tentang siapa sebenarnya Indah mengantarkan ibu Yanti ke jurang penyesalan yang sangat dalam.

"Menyesal aku menjadikan kamu menantu ku Giska. Ternyata sifat penurut mu hanya sementara saja. Setelah menikah kamu menunjukkan asli mu," kata ibu Yanti marah Kata kata penolakan Giska akan mempengaruhi keputusan Rama apakah tetap tinggal di rumah itu atau tetap mencari kontrakan.

"Mama menyesal karena mengetahui Indah kaya kan?.

"Diam Giska. Bukan karena itu tapi karena sifat mu."

"Bisa diam sih ma, Giska. Aku pusing," kata Rama. Rama tidak ingin ada perdebatan di kamar itu karena sifat Giska dan ibu Yanti tidak jauh beda. Jika berdebat, selalu ingin menjadi pemenang sehingga tidak ada yang mau diam.

"Rama antarkan aku ke swalayan bahagia," kata ibu Yanti membuat Giska semakin panas.

"Untuk apa ke Sana ma?" tanya Rama.

"Kita harus menemui Indah. Sebelum sidang putusan hakim. Kamu dan Indah sudah harus sepakat untuk rujuk. Mama akan melakukan apapun yang penting Indah bersedia kembali kepada mu. Mama akan mengakui jika hubungan kamu dan Giska karena desakan mama. Mama akan mengatakan jika kamu tidak pernah mempunyai niat untuk berhubungan dengan Giska."

Bukan hanya gelisah. Giska marah mendengar perkataan mama mertuanya. Dirinya benar benar tidak dihargai. Jika menginginkan Rama dan Indah rujuk tidak seharusnya terang terangan di hadapannya.

"Tega mama?. Aku hamil muda ma. Seharusnya aku tidak memikirkan yang berat berat," kata Giska dengan raut wajah yang hendak menangis.

"Kamu tidak tahu apa apa Giska. Jika Rama rujuk dengan Indah.. Kamu juga akan mendapatkan manfaat nya. Keuangan mu terjamin."

"Tidak ma. Aku tidak mau," kata Giska. Jika satu tahun ini menderita karena membayar cicilan. Giska rela. Karena tahun depan tujuh juta yang membayar cicilan akan menjadi miliknya.

"Siapa yang meminta pendapat mu. Jika kamu tidak menginginkan Rama dan Indah rujuk. Mengapa tidak kamu saja yang pergi dari hidup Rama. Jika kamu tidak jadi istri rama. Mama yakin, Indah akan senang hati rujuk dengan Rama. Tentang anak yang ada di kandungan mu itu. Kamu tidak perlu khawatir. Jika kamu mau mengurusnya silahkan.. Tapi jika kamu tidak mau mengurusnya. Mama siap mengurus anak itu.'

"Tidak ma. Aku tidak mau berpisah dari mas Rama. Aku sangat mencintai mas Rama."

Ibu Yanti benar benar keterlaluan. Dia tidak menjaga perasaan Giska sedikit pun. Tidak seharusnya ibu Giska berkata seperti itu di usia pernikahan Rama dan Giska masih satu minggu.

Rama yang sejak tadi terdiam tidak ada niat untuk membela siapa pun. Karena Rama sendiri sangat menginginkan Indah kembali pada dirinya. Walau hal itu tidak mungkin. Sejak mengetahui Indah pemilik swalayan bahagia. Entah sudah berapa kali dia kesana. Jangankan berbicara dengan Rama. Indah tidak menyapa seperti tidak kenal.

"Kalau begitu diam dan jangan berpikir untuk mencari kontrakan rumah. Kecuali jika Indah bersedia rujuk dengan Rama. Tidak apa apa kamu mengontrak rumah. Karena tidak mungkin kalian bertemu nantinya."

Giska menangis. Yang ada di pikiran mertuanya hanya memikirkan bagaimana cara membuat Indah bisa menerima Rama kembali.

"Mama punya cara supaya Indah bersedia rujuk dengan kamu Rama," kata ibu Yanti. Wanita itu mendapatkan ide cemerlang.

"Bagaimana caranya ma?" tanya Rama bersemangat. Semangat yang ditunjukkan oleh Rama sangat menghancurkan hatinya. Dengan sangat lancar, ibu Yanti membeberkan cara yang ada di pikirannya.

"Ide yang bagus ma," kata Rama setelah mendengar ide yang disebutkan oleh ibu Yanti.

Mereka bertiga tidak tahu dan tidak sadar jika pembicaraan mereka sudah direkam oleh Intan. Intan pergi keluar rumah dan tujuannya adalah swalayan bahagia.

"Ada apa Intan?" tanya Indah. Intan bersikeras meminta bertemu dengan Indah lewat panggilan suara dari ponselnya.

"Mbak aku di swalayan bahagia saat ini. Bisa bertemu dengan mbak sekarang."

"Tapi mbak sudah di jalan menuju pulang Intan. Ada apa?" tanya Indah.

"Ada sesuatu hal yang ingin aku katakan mbak. Penting. Ini tentang mbak Indah sendiri."

"Oke, kalau begitu. Tunggu di situ ya. Mbak akan putar balik."

Intan merasa was was menunggu kedatangan Indah. Dia takut, Rama dan mamanya yang terlebih dahulu tiba di tempat itu. Samar samar, sebelum Intan berlalu dari depan kamar Giska tadi. Malam ini, ibu Yanti dan Rama akan menjalankan rencana itu.

Beberapa menit kemudian. Intan merasa lega. Dia melihat sebuah mobil masuk ke parkiran swalayan dengan kaca yang terbuka memperlihatkan wajah Indah.

"Intan, kemari," panggil Indah. Sejak mengetahui perselingkuhan Rama hanya Intan yang membela dirinya. Intan berlari ke arah mobil itu.

"Masuk Intan," perintah Indah. Intan membuka pintu belakang mobil setelah mengagumi mobil itu terlebih dahulu.

"Vin, kenalkan Intan. Adiknya mas Rama."

Alvin yang sedang menyetir hanya tersenyum sebentar tanpa menyebutkan namanya. Dia hendak protes mengapa Indah bersedia menemui Intan tapi Alvin mengurungkan protes itu.

"Intan ini berbeda dengan ibu Yanti, Vin. Intan tahu apa yang dilakukan mas Rama dan ibu Yanti itu kesalahan."

Indah seperti bisa melihat raut wajah Alvin.

"Intan, ada apa. Mengapa kamu meminta k

untuk bertemu," tanya Indah lembut.

"Mbak aku sudah mengirimkan video ini ke nomor mbak tapi masih centang satu. Lihat ini Mbak."

"Aku sudah ganti nomor, Intan," jawab Indah sambil menunggu video itu diputar. Indah memang sudah ganti nomor karena muak dengan pesan pesan yang dikirimkan Rama kepada dirinya.

Intan sengaja mempercepat video itu hingga ke rencana yang dikatakan oleh ibu Yanti dan Rama supaya Indah bersedia rujuk dengan Rama.

"Kurang ajar," kata Alvin geram. Dia juga bisa mendengar suara dari ponsel Intan. Sedangkan Indah semakin merasa kecewa dengan Rama. Di video itu sangat jelas terdengar untuk menjebak Indah dan Rama menjalani malam yang panas supaya perceraian itu bisa dibatalkan.

"Terima kasih ya, Intan," kata Indah tulus. Sungguh dirinya bisa saja terjebak dengan rencana itu jika tidak melihat video yang ditunjukkan oleh Intan.

"Mbak, aku tahu kak Rama sangat salah. Dan Mbak pasti tidak mau lagi sama kak Rama. Tapi aku mohon mbak, maafkan mama dan kakakku ya. Semoga mereka bisa cepat sadar dari kesalahan kesalahan yang mereka perbuat."

Sebagai seorang anak dan adik. Intan sangat ingin mamanya dan Rama bisa berubah.

Indah hanya menganggukkan kepalanya tapi otaknya cepat berpikir. Jika Intan bisa berpikir untuk merekam pembicaraan ibu dan kakaknya. Bukan tidak mungkin, Intan juga menunjukkan rasa tidak sukanya kepada ibu Yanti, Rama dan Giska. Selama menjadi kakak ipar Intan. Tentu saja, Indah mengetahui sedikit watak adik iparnya itu. Intan akan selalu menunjukkan rasa tidak suka jika dia tidak menyukai seseorang atau sesuatu.

"Intan, mbak mau tanya. Jawab yang jujur ya dek," kata Indah sangat lembut. Alvin yang duduk di sebelah Indah semakin mengagumi sifat Indah.

"Tanya apa Mbak?"

"Apa kamu yang mengirimkan papan Bunga berisi ucapan tidak wajar itu dek?"

1
Surati
bagus
Luchi Chipoedanz Sihite
Luar biasa
ros
kenapa x sambung thor
Putu Suciptawati
sebulan lbh nunggu kelanjutan cerita ini, mandeg ya kak thor😭
Syafira Putri
ntar kapan up nya ini
Putyy
next Thor
Yuki Oktayani Aritonang
lagian ni ya thor, jgn krna uda cerai masa gk bisa menjalin silahturahmi sma keluarga mantan,

banyak kok yg begitu thor
Yuki Oktayani Aritonang
kalau bisa ni thor buat siintan bisa bekerja,

atau ksh pekerjaan di tmpt orng tua indah thor kasian intannyaa dia gk prnh makan nangka tapi dia yg kena getahny , gk lucu kan thor
Isabell Serinah
up lagi banyak 2 plseeee 👍
Uthie
Salah satu ciri cerita yg bisa bikin saya langsung jatuh hati adalah saat awal mampir sy bisa langsung ngebut diujung penantian nya, dan cerita ini adalah salah satunya 👍👍👍
berarti kelanjutan nya juga menjadi yg sangat saya nantikan kehadiran nya 👍👍🤗
Uthie
Yaaa ampun.... ternyata ngebutnya saya baca cerita ini dari awal semalam sampai lanjut pas bangun tidur tadi, udah mentok aja di ujung penantian 😂😂👍

kalau sy ngebut baca kaya gini, berarti cerita ini sangat-sangat udah bikin saya tertarik banget bacanya 👍👍👍🤗

ditunggu kelanjutannya 👍😘💞💞💞
Uthie
puassssss dehh tuhhh
Uthie
sukurin 😝😝😝
Uthie
sukurin 😝
Uthie
Wah..wahhhh.. si Giska emang murahan banget 😏
Uthie
dasar manusia mata duitan
Uthie
bagus 👍😏
Uthie
Semua kehancuran si Rama emang si Giska... istri istri pembawa sial boleh tuhh di sematkan 😜😄
Uthie
Nice ☺️
Uthie
Apa rahasia yg dipegang tante Ellis itu adalah bahwa si Rama yg mandul 😜😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!