Di suatu malam yang kelam, pria bernama Fierce De Lance Tanson mendapati dosennya diperkosa. Wanita muda itu meringkuk sambil menangis, sementara pelaku telah kabur.
Karena perasaan cinta yang sudah cukup lama terpendam, Fierce membawa sang dosen ke rumah sakit dan berjanji akan bertanggung jawab.
Akan tetapi niat baik tak selalu membuahkan hasil. Tawaran Fierce ditolak mentah-mentah oleh wanita bernama Yuna, karena merasa tak pantas bersanding dengan muridnya itu. Terlebih Fierce masih sangat muda, masa depannya masih sangat panjang.
Namun, siapa sangka? Yuna harus menerima kenyataan pahit ketika dirinya dinyatakan hamil. Hingga akhirnya dia bersedia menerima lamaran Fierce.
Bagaimana kehidupan pernikahan mereka? Akankah berjalan mulus, sementara di hati Yuna hanya ada perasaan bersalah? Dan apa yang akan terjadi ketika identitas si bayi terkuak?
Jangan lupa follow Ig @nitamelia05
Salam anu👑
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34. Ungkapan
Jam 7 pagi Baby Junior sudah diambil alih oleh Anna. Dan hal tersebut dimanfaatkan oleh Fierce untuk mengajak Yuna mandi bersama, ketika wanita itu baru saja turun dari ranjang Fierce langsung menggendong Yuna bak pengantin baru.
"Fierce, kamu mau apa?" tanya Yuna yang terkejut dan sontak mengalungkan tangan di leher suaminya.
Seringai kecil kembali menghiasi bibir Fierce, seolah tak pernah puas untuk memadu kasih dengan Yuna, dia selalu menginginkannya lagi dan lagi.
"Kita akan mandi bersama," jawab Fierce dengan nada yang terdengar ambigu.
"Tapi—"
Terlambat, karena Fierce langsung memotong ucapan Yuna dengan menyesap bibir wanita itu. Akhirnya Yuna hanya bisa bungkam, dan menikmati setiap sapuan hangat yang suaminya berikan.
Fierce menurunkan Yuna di bawah shower, lalu menyalakan air hingga rintik-rintik itu mulai berjatuhan. Yuna mengangkat wajah, melihat Fierce yang menatapnya intens, membuat dia selalu merasa waspada.
"Hanya mandi 'kan?" tanya Yuna dengan ragu, karena sebenarnya dia tidak percaya dengan pertanyaannya.
Fierce menyibak rambut panjang Yuna yang menutupi wajah. Lalu mengangkat dagu wanita itu, hingga mereka saling bersitatap. "Aku tidak mungkin bisa melepaskanmu begitu saja. Satu kali lagi untuk pagi ini."
"Fierce, tapi kalau kamu terlambat kerja bagaimana? Aku tidak yakin akan selesai dengan cepat," balas Yuna, lalu menggigit bibirnya. Dia tidak tahu, kalau hal itu malah membuat Fierce semakin bernafsuu padanya.
"Aku bersedia terlambat untuk hal yang satu ini," jawab Fierce diiringi senyum nakal, lalu dengan cepat pemuda itu melakukan serangan terhadap tubuh Yuna.
Awalnya Yuna sedikit memberontak, tetapi lama-kelamaan dia mendesaah juga. Karena tak bisa bohong, sentuhan Fierce selalu membuatnya tak berdaya.
Setelah menghabiskan waktu untuk bercinta di dalam kamar mandi, akhirnya mereka keluar dengan handuk kimono di tubuh masing-masing. Fierce dengan wajahnya yang puas, sementara Yuna mencebikkan bibir.
Melihat itu, Fierce terus terkekeh. Rasanya dia telah mendapatkan sumber kehidupan yang begitu besar dari tubuh Yuna.
"Sayang, aku belum sempat bilang padamu tentang pekerjaanku di perusahaan," ujar Fierce mengajak Yuna bicara.
"Apa?!" ketus Yuna, karena pagi-pagi seperti ini dia sudah merasa lemas. Rasanya dia tidak ingin keluar dari kamar, dia butuh istirahat.
Hahaha. Fierce malah tertawa mendapati respon Yuna yang seperti itu, dia langsung memeluk tubuh istrinya dari belakang. "Maaf ya, aku terlalu bersemangat dari semalam."
Yuna terdiam sesaat, dia bisa memaklumi itu. Namun, dia akan sangat malu, karena tidak sarapan bersama keluarga, sementara lehernya dipenuhi bercak merah, tanda kepemilikan yang Fierce buat semalam.
"Hem, aku tahu kamu sudah lama menantinya. Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan?" Yuna mengalihkan topik, dia membalas pelukan Fierce, dengan mendekap lengan pemuda itu.
"Karena aku bekerja dengan baik selama hampir satu tahun, Kak An mempromosikanku sebagai wakil direktur. Jadi, hari ini aku akan naik jabatan," ujar Fierce, yang membuat Yuna cukup terperangah.
Bahkan dia langsung memutar badan, hingga membuat mereka saling berhadapan. "Benarkah?"
"Tentu saja benar, ini semua berkat kamu dan Junior. Bagaimana denganmu? Apakah kamu akan kembali mengajar?" Fierce balik bertanya tentang planning Yuna ke depannya. Sebenarnya dia ingin Yuna berhenti, tetapi dia tidak bisa melakukan itu, dia tidak ingin membatasi istrinya.
Yuna langsung tersenyum sumringah, bahkan tanpa diminta dia mengecup bibir Fierce sekilas, ikut merasa bahagia. "Selamat ya, Sayang. Aku bangga sekali padamu. Dan untuk masalah mengajar, aku masih memikirkan bagaimana baiknya. Jadi, aku masih butuh waktu."
"Baiklah kalau begitu, apapun itu aku akan mendukungmu. Lakukan apa yang membuatmu senang."
Yuna langsung tersenyum lebar, karena dia benar-benar beruntung memiliki suami yang sangat pengertian.
"Kalau begitu, mulai hari ini kamu jangan pakai motor lagi, pakai saja mobilku. Pak Wakil Direktur harus keren," ujar Yuna sambil menangkup kedua sisi wajah Fierce.
Dan pemuda itu langsung mengangguk patuh. "Aku akan mengikuti saran istriku. Aku mencintaimu, Yuna."
"Aku juga mencintaimu, Fierce."
Mendengar ungkapan itu, jantung Fierce langsung berdebar keras, akhirnya apa yang dia usahakan menjadi kenyataan. Yuna membalas cintanya.
Tanpa ba bi bu Fierce langsung memajukan wajah, tetapi Yuna segera menahan dada pemuda itu. Dia tahu Fierce akan kembali menciumnya. "Kamu sudah terlambat, Sayang."
Fierce melirik ke arah nakas, dan ternyata benar apa yang dikatakan Yuna. Dia langsung berubah cemberut, sementara Yuna terkekeh dengan keras.