Spin Off Guardian Flower, kalau mau tahu awalnya kenapa Baron dan Delila bisa menikah yuk baca Bang Simba sama Dahliara di cerita mereka dulu😘😘😘
Baron Gunadi, pria pendiam, kaku, bertemu dengan seorang gadis tengil yang suka memaksakan keinginannya dengan cara apa pun, hingga akhirnya satu insiden nahas membuat Baron tersudut dan tidak bisa lagi mengelak.
"Nikahi Putriku, atau ku sunat dua kali tangkai latto latto mu!"
Apakah hubungan keduanya akan berbuah manis? atau malah berakhir buruk?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Defri yantiHermawan17, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Halangan Dan Sambutan
Baron menghirup napasnya dalam sembari menatap pantulan dirinya di cermin lemari. Pria itu sudah siap sejak pukul 4 sore selepas pulang dari bengkel, ralat bahkan sebelum bengkel tutup saja dia sudah ketat ketir sendiri. Hingga akhirnya membuat rasa penasaran Maman timbul dan menyuruh pria itu pulang setelah tahu masalahnya.
Dan sekarang Baron sudah siap, kali ini dia memakai kemeja batik pendek dan celana bahan berwarna hitam yang sudah lama tidak di pakainya. Sekitar empat tahun yang lalu saat dirinya melamar seseorang tapi tidak berhasil menikahinya.
Dan sekarang dia kembali memakainya kembali dengan tujuan yang sama, Baron berdoa semoga kali ini pernikahannya bisa dia selamatkan, tidak ada kejadian yang mampu membuatnya hilang akal seperti dulu.
Baron keluar dari kamarnya, dia harus segera pergi lebih cepat agar tidak terjebak macet dan masalah yang tidak diduga.
Motor milik Maman sudah siap dihalaman kontrakannya, senyuman tipisnya mengembang saat membayangkan Delila menyambutnya. Namun senyuman tipis Baron perlahan hilang saat melihat sebuah mobil mendekat ke arah kontrakannya dan berhenti tepat didekat motornya.
Pria itu kian terdiam saat melihat siapa yang keluar dari dalam mobil, tubuhnya membeku dan tertanam di tempat-tempat kedua matanya menatap lurus terlihat datar dan juga dingin.
"Bang, a-aku mau bicara sama kamu sebentar saja. Tolong aku sekali ini saja!"
Baron tidak menjawab, pria itu masih terdiam ditempat, kedua tangannya terkepal erat dan menatap datar pada wanita yang terlihat menghina kepadanya.
Sementara disisi lain, Delila terlihat mengigit bibir bawahnya saat Davyn sama sekali tidak mengeluarkan suaranya ketika dia memberitahu kalau Baron akan datang ke rumah ini, malam ini juga.
"Papa kenapa diam a-,"
"Bukain pintu lebar lebar kalo dia memang mau kesini. Papa bakalan menyambutnya, siapin makanan yang enak Ma buat MENANTU KITA!"
Delila makin tegang saat Davyn menekan kata MENANTU KITA diakhir kalimatnya, karena dia yakin kalau sang Papa masih kesal atau bahkan tidak menerima kedatangan Baron nanti. Soal perjodohan yang Delila katakan waktu itu bukanlah bualan semata, Davyn memang berniat untuk mengenalkan dirinya dengan seorang pria.
Pria yang ternyata dia kenal, dan ya benar pria itu adalah Gading- kakak tingkatnya di kampus. Orang selalu menanyakan Dahliara setia harinya, Delila tidak menyangka kalau orang tuanya mengenal orang tua Gading.
Tapi maaf, biarpun Gading tampan, anak orang kaya, memiliki banyak yang dan beberapa persen saham di perusahaan orang tuanya, hati dan otak Delila tetap pada Mas Baron seorang. Montir kamu yang sudah berhasil mengobrak abrik dan membongkar hati serta perasaannya.
Si tukang derek jutek yang berwajah lusuh serta lelah tapi tetap saja enak untuk dipandang, begitulah yang selama ini Delila pikirkan walaupun terus saja diabaikan.
"Tapi Papa mau kan ketemu sama Mas Baron nanti? Dia berniat memperbaiki hubungan kita, katanya gak bisa menuhin permintaan Papa. Sekali seumur hidup buat nikah, Mas Baron gak bisa cerein aku, itu prinsipnya!"
Delila berbicara pelan tapi sangat dalam, kepalanya menunduk- dia memilih jari jemari lentiknya yang sudah kembali terawat dan cantik. Davyn yang sedari tadi diam mendengarkan terlihat menghela napasnya pelan, tanpa bicara dia berlalu pergi meninggalkan Delila dan Kirana istrinya.
"Ma-,"
"Biar Mama yang bicara sama Papa. Sekarang kamu mandi, dandan, pakai baju yang bagus. Sambut suami kamu datang nanti."
Kirana mengusap pucuk kepala Delila dan segera menyusul Davyn, sepertinya sikap keras kepala pria itu tengah datang menghampiri disaat tidak tepat.
Ditempat yang berbeda, Baron terlihat perlahan mendekat ke arah motornya. Otomatis dia juga mendekat pada wanita yang masih menatap penuh harap padanya, tatapan dingin yang Baron tunjukan saat ini sama sekali tidak mampu membuatnya mundur.
"Bang, aku-,"
"Minggir!" tugas Baron tanpa basa basi.
Pria itu segera memakai helmnya dan menaiki motor trail hitam yang malam kemarin terpisah dengannya gara gara ada orang gila yang merampas nya secara tiba tiba tanpa izin.
"Bang, aku gak tau harus minta tolong sama siapa lagi. Cuma kamu yang aku kenal dan yang aku percaya, jadi-,"
"Tapi gue gak kenal sama lo! Jadi minggir atau gue tabrak!"
Baron mulai emosi, dia segera menyalakan mesin motornya dan bersiap menjalankannya tidak peduli dengan wanita yang ada dihadapannya saat ini.
"Aku mohon sebentar saja, tolong bantuin aku buat ngambil anak-,"
"Gue bilang minggir, lo gak budeg kan?" tukasnya lagi kali ini Baron tidak main main, dia memutar gas dan melepaskan kopling hingga membuat motornya melaju dan hampir saja menabrak wanita dihadapannya kalau saja sang wanita tidak mengelak, pasti tubuhnya sudah menimpa kerasnya tanah berbatu.
NENG DEMPLON SIAP MENYAMBUT KEDATANGAN MU MAS SAYANG😘😘😘🙈🙈
oh bapak Davyn yang terhormat...
anak satu2nya itu loh masih ngerasa trauma 🤣
kalau denger bapaknya ngomong gitu bisa ngomel2 panjang kali lebar kaya sungai nil gk sih
kaya si anu, siapa itu ya...
yg nangis habis gituan 🤣🤣🤣
udah punya bini, dipeluk cewe lain bukannya nolak malah diem2 aja 😭
kalau aku yg jadi Lila, udah aku jeburin kamu Baron ke dasar selokan
kan gk ada yg tahu 🤭
terimakasih untuk tulisan indah mu thor