[Apakah anda ingin sembuh dan mengangkat semua rasa sakit di tubuh anda?]
"Apa kau mampu melakukannya?"
[Sistem bisa melakukannya. tapi anda harus menerima persyaratan dari Sistem.]
"Apa persyaratan yang harus ku penuhi?"
[Jadilah seorang Host!]
Demi mengangkat rasa sakit yang di alami Damar pasca kecelakaan, pria yang saat itu masih berusia 11 tahun membuat sebuah pilihan yang sangat serius. yaitu mempercayai Sistem yang muncul bagaikan halusinasi.
Dengan Sistem di dalam tubuh Damar, bagaimana dia akan tumbuh Dewasa?
Tertarik? Gas langsung baca!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BlackRoby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
wibawa seorang Tuan Muda
Sebelumnya...
[Target yang memiliki Tag Nama mulai memikirkan identitas Kandidat, pola pikir Target akan tergantung dari bagaimana dia memandang Kandidat.]
[Tunjukkan pada Target yang memiliki Tag Nama bahwa anda memiliki wibawa sebagai seorang Tuan Muda, buat dirinya terkejut sampai Target akan berpikir dua kali agar dirinya tidak pernah menyinggung Kandidat di masa depan.]
“Kalau begitu... Cara terbaik untuk menunjukkan wibawaku adalah dengan menentang kelompok Borkar sampai akhir, aku tidak boleh menerima tawaran 6 juta dari mereka.”
Karena hal itu Damar menolak tawaran dari Sung, semua itu dia lakukan untuk menarik Haris Rudyanto ke sisinya.
Sebab keberanian sang Anak Muda untuk menentang kelompok Borkar sampai akhir, semua orang yang hadir di sana tanpa terkecuali sudah mengkonfirmasi identitasnya, sekarang Damar telah dikenal sebagai seorang Tuan Muda yang tegas.
Walaupun julukan itu dia dapatkan dari bersandiwara. Bahkan sekarang Sung sendiri diliputi oleh rasa cemas, dia takut perbuatannya itu berakhir menyinggung orang yang salah.
“Dia akan mengingat kejadian hari ini? Apa itu maksudnya kami telah ditandai? Kalau benar seperti itu maka...,”
“Kau dalam masalah,” kata Tandur kepada pria yang telah diliputi oleh perasaan cemas.
“Mari angkut kembali barang dagangan kita, sambutan disini membuatku muak. Di tempat seperti inilah aku paling enggan menjalankan bisnis.”
Ucapan Damar membuat kedua sesepuh Toramin kebingungan, keduanya saling melirik satu sama lain.
“Mengangkut kembali barang dagangannya? Apa kita tidak akan mendapatkan keuntungan apapun setelah sampai di tempat ini?” bisik Pak Puseli.
“Lakukan saja! Ini adalah ide kita untuk membiarkan Damar berpura-pura sebagai Tuan Muda, dia sekarang menunjukkan wibawanya pada peran yang dia ambil... Dan karena inilah kita bisa menakuti kelompok preman pasar itu.”
“Ini kesempatan kita untuk keluar dari masalah, mungkin anak muda itu telah memperkirakannya. Jadi pada kesempatan ini, mari lakukan saja apa yang dikatakan oleh Nak Damar,” sahut Pak Suyono yang juga berbisik.
Kedua orang tua itu sepakat untuk ikut bermain peran, dengan begitu alami mereka bersandiwara sebagai pengikut Damar. Baik Pak Suyono ataupun Pak Puseli membungkuk di hadapan Damar seolah tunduk terhadap perintahnya.
Semua orang yang menyaksikan pun semakin yakin.
“Hari ini kalian membuat suasana hati Tuan Mudaku menjadi buruk, sebaiknya kalian berdo'a agar di masa depan kita tidak saling bertemu. Jika saja hari itu terjadi maka kalian...,”
Tandur menatap tajam ke arah Sung dan juga Donu.
“Tandur, sudah cukup dengan mereka. Sebaiknya kau datang untuk membantuku agar kita bisa segera pergi dari sini,” kata Damar.
“Ba-baik Tuan Muda!” Tandur pun langsung menyahut dan melakukan apa yang diperintahkan.
“Dengan satu perintah dari anak muda itu seorang ahli bela diri mau menundukkan kepalanya,” kata seorang pengunjung pasar.
“Sangat arogan dan juga tegas, sosok di belakangnya mungkin lebih berkuasa dibandingkan Kelompok Borkar,” sahut pengunjung lain.
Haris menjadi sedikit was-was mendengarnya, “Kalau benar seperti itu, bagaimana cara aku agar dapat mendekatinya? Aku takut salah bicara dan malah membuat Tuan Muda ini tersinggung, haa...”
[Target yang memiliki Tag Nama berada dalam kondisi bingung, keinginan untuk melakukan kontak dengan Kandidat berada dalam persentase naik turun.]
“Sistem usang..., dalam hal ini apa yang harus aku lakukan?”
[Pertanyaan dikonfirmasi, Kandidat hanya perlu melakukan kontak dengan Target lebih dulu. Dan ingatlah untuk selalu menjaga wibawa anda saat berkomunikasi dengan target.]
“Baiklah, aku mengerti!”
“Tuan!” tegur Damar.
Haris terkejut oleh nada tegas yang keluar dari mulut anak muda itu. “Apakah anda memanggil saya?”
“Ugh.., tanpa sadar aku langsung bicara dengan sopan padanya. Padahal dia tidak lebih dari seorang bocah berusia sebelas sampai dua belas tahun,” dalam hati Tuan Rudyanto.
“Terimakasih karena anda mau angkat bicara tadi.”
“Ah..., itu..., anda tidak perlu terlalu memikirkannya,” sahut Haris sembari terkekeh dengan kaku.
“Sepertinya anda mengerti sesuatu tentang bisnis, ingin melakukan sedikit pembicaraan?”
Haris terdiam mendengar tawaran Damar, sang Pebisnis handal merasa terkejut karena kesempatan yang dia inginkan datang begitu saja tanpa bisa ia sadari.
“Saya akan menunggu anda selama dua puluh menit di depan gerbang, jika anda tidak datang, saya akan menganggap bahwa anda tidak tertarik.”
“Kalau begitu sampai jumpa,” imbuh Damar, anak muda itu berlagak dengan elegan.
Setelah semua dagangannya dinaikkan ke bak belakang mobil, orang-orang dari Toramin itu pun pergi meninggalkan pangkalan mereka. Damar meminta Pak Puseli untuk memarkirkan mobil pick up nya di depan gerbang pasar.
“Entah aku berhasil membuat Tuan Haris Rudyanto tertarik atau tidak, aku masih belum tahu. Yang pasti aku sudah melakukan kontak dengannya sesuai arahan dari Sistem. Berikutnya aku hanya perlu menunggu pria itu membuat keputusan.”
Selain memikirkan hal itu pikiran Damar jadi teralihkan sebab wajah murung yang ditunjukkan oleh kedua Sesepuh Toramin.
Pak Puseli duduk menatap setir dengan wajah kecewa. “Apa yang harus kita katakan pada penduduk desa? Tidak satupun dari sayuran yang kita bawa laku terjual.”
“Sayuran kita laku, hanya saja dengan harga yang tidak sesuai. Mungkin jika kita pergi ke tempat lain, kita masih bisa menjualnya. Lagipula kita percaya diri dengan hasil panen dari desa kita.”
“Tidak sedikit orang yang akan menginginkannya,” imbuh Pak Suyono.
Damar tersenyum ringan mendengarnya. “Aku sangat menghormati Kepala Desa, dia selalu berpikir positif terhadap situasi yang dialaminya. Jelas tidak salah menjadikan orang yang bijak sepertinya sebagai figur pemimpin.”
“Pak Kepala Desa, anda tenang saja. Saya pastikan untuk tidak membuat anda kecewa hari ini,” teguh Damar dalam hatinya.
“Emm..., ngomong-ngomong..., kenapa kita berhenti disini? Apa ada sesuatu yang harus kita tunggu?” tanya Pak Puseli.
Dari kejauhan akhirnya terlihat, sosok Tuan Haris Rudyanto yang berjalan tergesa-gesa untuk menghampiri Damar. Anak muda itu pun menyeringai, kemudian dia jawab pertanyaan Pak Puseli dengan penuh percaya diri.
“Benar, kita menunggu seorang pelanggan.”
“Pelanggan besar yang akan membeli semua barang dagangan kita!”