"Baiklah saya langsung saja, saya Dean D, umur sembilan belasa tahun saya cerdas dan cantik, saya juga orang yang setia." gadis itu memperkenalkan dirinya sambil tersenyum lembut dan suarah yang mantap, Hermawan mengangguk sembil menahan senyumnya karena gadis itu sangat percaya diri.
'Apa hubungannya denganku?' pikir Hermawan, mencoba bersikap biasa saja, walau sebenarnya dirinya ingin tertawa sekeras-kerasanya, gadis kecil itu sangat mengemaskan.
"Saya datang kesini untuk melamar anda Hermawan untuk menjadi suami saya." gadis itu tersenyum setelah mengatakan hal itu senyum yang sangat lembut.
Hening sesaat.
'Apa aku di lamar gadis ini?' Hermawan melongo sesaat kemudian tertawa lepas. "Hahahah, anda salah orang nona, saya tidak mengenal anda dan saya tidak tertarik pada anda." Jawab Hermawan sambil tertawa bahkan memengangi perutnya, yang mulai terasa sakit, beberapa cairan keristal mulai muncul di sudut mata Hermawan, laki-laki itu tertawa sambil mengelap air matanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka July, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 35 Kencan?
“Hari ini kamu ingin apa?” Hermawan bertanya sambil mengendarai mobilnya, mereka sudah beranjak dari rumah sakit sejak sepuluh menit lalu.
“Aku ingin jalan-jalan, nonton, makan es krim, kemudian makan malam romantis, lalu pulang.” Dean tersenyum dengan ceria membayangkan jika hal itu benar-benar kan terjadi, sudah lama rasanya ia tidak nonton di bioskop, bahkan sejak menikah ia tidak pernah melakukan itu.
“Lalu setelah pulang?” Hermawan bertanya, berharap Dean mengatakan hal lain.
“Setelah pulang, aku akan mandi kemudian tidur.” jawab wanita itu polos “Hanya itu?” Dean mengangguk cepat.
“Baiklah tuan putriku, hambamu akan mengabulkan pertintaan mu.” Hermawan tersenyum lembut sambil mengedipkan mata kirinya, Dean tertawa melihat tingkah konyol suaminya.
Sebenarnya Hermawan berharap lebih saat mereka pulang, bukan hanya mandi dan tidur, laki-laki itu membayang bisa mengobrol panjang lebar bersama Dean di tempat tidurnya, tapi ‘Apa yang kamu pikirkan Hermawan, ingat Dean masih kecil, dia tidak akan mau di paksa seperti itu!’ gumamnya dalam hati.
Ia tidak ingin diangap seorang pedofil yang memaksa anak di bawah umur untuk melayani nafsunya. Walau sebenarnya Dean bukan anak di bawah umur, tapi tetap saja kadang pikiran itu terlintas begitu saja di benaknya.
***
“Film ini saja.” Dean menunjuk sebuah poster Animasi 3D, film itu baru keluar dalam minggu ini, Hermawan mengangguk tanda setuju, Dean memang suka menonton film animasi. Laki-laki itu juga mulai tahu kalau istrinya tidak suka film bertemakan kekerasan, semua koleksi dvd milik Dean semuanya Animasi, komedi, romantis atau sebuah petualangan, tapi setiap adegan sedih di dalamnya, ia selalu mempercepat adegan itu, ia tidak akan menontonya.
“Aku akan beli minuman dan popcorn.” Hermawan pergi meninggalkanya, hanya dalam beberpa menit ia sudah membawa dua gelas muninan dan dua kotak pop corn besar, ”Ayo masuk!”
Suasana di dalam teater tampak ramai, mereka duduk di tengah-tengah, Dean mulai mengunya popcorn yang di letakan di atas pahanya. Tampak di sebelah Hermawan adalah seorang ibu-ibu berbadan tambun berumur sekitar empat puluh tahun, dan di sebelah Dean adalah laki-laki tampan berumur sekitar dua puluh lima tahun, laki-laki itu tersenyum kepada Dean dan wanita itu membalasnya.
Hermawan mulai tidak suka dengan laki-laki itu dari tadi dia hanya memandang Dean yang sedang meonton sambil tertawa, walau Dean tidak memperdulikannya.
Beberapa kali Hermawan melihat laki-laki itu berusaha mengajak Dean bebicara, tapi Dean berpura-pura tidak mendengarnya dan lebih memilih fokus pada filmnya.
“Wan cobah lihat.“ Dean kembali tertawa sambil menunjuk layar besar di hadapan mereka. Laki-laki yang berada di samping Dean itu terus tersenyum melihat Dean bahkan Hermawan yakin laki-laki itu tidak mengikuti alur film.
Hermawan mulai berdehem, ia menarik kepala Dean untuk di sandarkan di bahunya.
Dean terkejut, hatinya sangat senang melihat Hermawan melakukan itu, tapi tetap saja itu terasa aneh baginya, Hermawan tidak pernah melakukan itu di depan umum.
“Kenapa?” bisik Dean saat tangan Hermawan mulai melingkarkan tanganya ke perut Dean.
“Tidak apa-apa, aku suamimu. Dan aku ingin semua orang tahu kalau kamu isrtiku!” jawabnya tegas tanpa melihat Dean, wanita itu mulai tersenyum ia tidak menyangkah akan melakukan ini di tengah orang banyak.
Apakah sekarang Hermawan mulai mengakui dirinya sebagai istri secara terbuka?
Apapun itu, Dean ingin menikmati saat-saat ini, ia benar-benar menyukainya, dari dulu Dean selalu membayangkan bahwa ia bisa menonton di bioskop dengan kekasihnya suatu saat nanti, ternyata ia salah sekarang Dean bahkan menonton di bioskop bersama suaminya.
“Hei, mengapa memakan pop corn ku?” Dean memukul tangan suaminya yang masuk ke kotak pop corn miliknya.
“Karena aku lapar.”
“Tapi Wan, dari tadi kamu tidak memakan pop corn mu?” Dean mulai protes, tangan kiri Hermawan mulai mengelus puncak kepalanya membuat Dean nyama, ini yang paling ia suka ketika suaminya mengelus puncak kepalanya, membuat ia seakan terbang. Dean juga tidak protes lagi saat laki-laki itu terus memakan popcorn miliknya.
Hermawan terus mengelus puncak kepala Dean bahkan sampai film itu selesai di putar.
“Apa kita akan menginap di dalam bioskop ini?” Dean bertanya saat semua pengunjung telah keluar dan penjaga Bioskop mulai memperhatikan mereka.
Hermawan hanya bisa tertawa dan berkata “ Maaf! Ayo kita keluar.”
***
“Es krim.” Dean berbisik sambil menarik lengan suaminya, keduanya telah selesai menonton film dan sekarang mereka sedang berjalan mengelilingi Mall itu.
“Ingat tidak boleh belepotan.” Hermawan menginggatkan terakhir waktu Dean makan es krim denganya, mulut wanita itu penuh eskrim, membuat ia ingin menciumnya.
“Janji.” Dean mengangguk sambil mengarahkan jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk tanda V.
Inilah yang selalu Hermawan sukai saat melihat Dean makan eskrim, dia mirip anak kecil yang mendapatkan balon, Dean sangat gembira dan lahap menyantap ekrimnya, bahkan saat Hermawan mencobah meminta eskrim milik Dean, dengan cepat tangan mungil itu, memukul sendok Hermawan menggunakan sendoknya.
Lalu Dean mamanyuncungkan mulutnya. Sungguh Hermawan tidak akan pernah marah karena itu, ia malah merasa sangat gemas pada istrinya ini.
***
Hermawan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju restoran yang Dean inginkan, ia segera memberhentikan mobilnya saat tiba di depan sebuah restoran mewah di tempat itu.
“Aku merasa tidak asing dengan tempat ini,” gumam Hermawan
“Kamu sering kesini?” Dean bertanya.
“Entahla aku lupa, aku hanya merasa pernah kesini.”
Mereka segera memesan makan malam mereka, Dean memesan pasta begitu juga dengan Hermawan. Hanya beberapa menit seorang pelayan datang membawakan pesanan.
“Silakan di nikmati nona Dean dan tuan...” tampak pelayan itu bertanya? “Wawan.” jawab Dean cepat.
“Tuan Wawan, semoga kalian menyukainya, saya permisi dulu.” pelayan itu pamit.
“Sepertinya dia mengenalmu?” Wawan bertanya sambil menatap istrinya, mengapa semua orang selalu mengenal Dean?
“Aku sudah sering datang kesini, dulu kalau liburan sekolah aku dan Dad akan datang kesini.” Dean menjelaskan sambil mengunya pastanya, laki-laki itu mangangguk kemudian menyantap pastanya. ‘Selain itu juga restoran ini milik Dad dan sekarang menjadi milik ku.’ tambah Dean dalam hati.
***
“Aku sangat lelah.” Dean bergumam saat memasuki apartemen suaminya, kemudian pergi ke kamarnya.
Hermawan hanya tersenyum lembut menatap punggung Dean sampai Dean menghilang dari balik pintu kamarnya “Aku sangat senang, Cher.” gumam laki-laki itu.
Entah sejak kapan pastinya ia sudah mulai ia jatuh cinta pada istrinya, walau ia sudah mengatakanya, tapi jauh sebelum itu rasa itu sudah ada dalam dirinya, ia tidak ingin kehilangan istrisnya, ia sangat mencintai dan menyangi istrinya.
From Wawan
Selamat tidur istriku.
From Istriku
Selama tidur suamiku.
Terimakasih kencanya
Dean